Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP17-S2// Menusuk


__ADS_3

"Ya udah bareng aja, biar adil...." Kata Davin mengeluarkan ponsel. Nolan mengiyakan ia pun meraih ponselnya di meja.


"Hitungan ketiga, satu, dua, tiga....." Davin menunjukkan dilayar ponselnya menampilkan swafoto dirinya dan Abel saat di resto.


"Oh sial ..." Umpat Nolan menunduk saat ponselnya tergelincir licin dari tanganya jatuh ketika akan menunjukkan foto Abel di gazebo.


"Pakai jatuh lagi Hpnya..." Ujar Davin.


Dengan cepat ia raih ponselnya di karpet, "Sorry Bang,"


Tapi betapa terkejutnya ia ketika bangkit dan melihat foto yang ada di layar ponsel Davin. Jantungnya terasa nyeri seperti ada yang menombak dari belakang. Sekarang yang Nolan rasakan hanya rasa sakit yang teramat sakit lebih sakit berkali lipat dari pada dipukul tongkat polisi ketika ia demo. Nolan meremas ponselnya, seolah jangan sampai Abangnya tahu kalau foto yang akan ditunjukkan pada adalah foto wanita yang sama.


"Nolan, Kenapa bengong, cantik 'kan calon Kakak iparmu sampai terkesima gitu," Ujar Davin bangga menunjukan foto dirinya dan Abel sambil terus terkekeh.


"Nolan kenapa diam, mana foto cewek itu," Kata Davin menepuk paha Nolan yang masih mematung.


"Maaf bang, aku lupa belum pindah fotonya dari kamera, aku mau ke kamar dulu, perutku mendadak sakit." Kata Nolan bangkit dari sofa dan bergegas menuju tangga.


"Hei Nolan! kenapa kau curang pada Abangmu, apa kau malu karena cewek Abangmu jauh lebih cantik." Teriak Davin melihat Nolan yang terus menaiki tangga dengan cepat tanpa mengubris ocehan Davin.


Huh. Davin membiarkan saja, mungkin adiknya memang benar sakit perut dan harus ke toilet. Ia melihat foto Abel dari ponsel, merasa gemas dan mencium layar ponselnya.


"Abang akan segera miliki kamu cantik...." Ujar Davin berbicara sendiri pada layar ponselnya.


"Permisi Tuan, ini kopi Tuan Nolan...." Kata salah satu pelayan takut-takut yang membangunkan lamunan Davin.


"Antar aja ke kamarnya...." Balas Davin kesal karena membuyarkan lamunannya. Kini Ia juga beranjak dari sofa menuju kamarnya.


******


Di dalam kamarnya, Nolan menatap gelap langit kamarnya, perasaan terasa perih. Bagaimana bisa ia juga mencintai wanita yang juga dicintai kakaknya.


Jangan Nolan, jangan sampai Bang Davin tahu, kalau wanita itu adalah Abel. Jika tidak Bang Davin pasti akan melakukan hal sama dengan apa yang aku lakukan sekarang, mengalah. Bang Davin akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarganya. Untuk pertama kalinya bang Davin merasakan cinta yang sebenarnya, untuk pertama kalinya aku lihat sebahagia itu ia ketika bersama seseorang. Bang Davin terlalu banyak mengorbankan harga dirinya demi keinginan Papa dan keuntungan perusahaan. Ini saatnya ia bahagia dengan Abel wanita yang memang dicintainya, bagaimana aku? kenapa aku harus bertemu dengannya sebelum aku tahu kalau dia adalah wanita yang dicintai bang Davin. Gerutu Nolan dalam hati menahan perasaan menusuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Drrrrtt. Bunyi pesan dari ponselnya, dengan cepat Nolan membuka pesan setelah tahu siapa pengirimnya.


Abel : Nolan besok aku tunggu di CFD. Aku bawa banyak barang bekas.


Membaca pesan Abel saja Nolan merasa senang, tapi rasa senangnya itu langsung ia hempaskan dari kepalanya.


Jangan Nolan berhenti memikirkan dia, dia wanita yang juga di cintai Bang Davin. Begitu yang ada diisi kepala Nolan.


Ia pun membalas singkat pesan dari Abel.


Nolan: Y


Kini Nolan berusaha memejamkan matanya ditengah keadaan hatinya yang porak poranda. Ia berharap bisa secepatnya menyingkirkan bayangan dan perasaan pada Abel dari ingatannya.


*******


Keesokan harinya di rumah keluarga Ervan. Keluarga ini menikmati sarapan pagi dengan tenang. Senyum juga tak lepas dari wajah bahagia Abel. Rencananya pagi ini Abel akan pergi ke CFD untuk menyerahkan barang bekas yang layak pakai pada Nolan yang akan menyelenggarakan garahe sale bersama komunitas Mahasiswanya.

__ADS_1


"Pa, Abel mau ke CFD sama Rena," seru Abel pada Ervan.


"Ya, hati-hati, sebentar lagi Papa juga mau berangkat sama Mama dan adik-adik kamu ke rumah Omah." Seru Ervan.


Yessss, hari ini aku bebas dari adik-adik tapi nggak seru juga ke CFD tanpa mereka. Abel.


"Assalamu'alaikum," Suara Rena nampak dari balik pintu.


Abel dengan cepat bangun dari kursi meja makan membukakan pintu. Sahabatnya sudah terlihat siap untuk berolahraga. Abel mengambil beberapa kantong plastik baju bekas yang layak pakai dan beberapa tas untuk di sumbangkan pada Nolan sebagai partisipasi. Berpamitan kepada kedua orangtuanya, Abel bersama Rena langsung masuk ke dalam mobil menuju lokasi CFD.


"Abelong, ajak dong cowok kamu ke CFD, aku penasaran lihat wujud aslinya anak pemilik Adiguna grup." Seru Rena kepo pada Abel.


"Aku nggak berani Rena, kalau bukan Bang Davin yang ngajak duluan."


"Ya kenapa, cowok cowok elu."


"Bang Davin kalau hari biasa sibuk mungkin kalau minggu pingin istirahat, Bang Davin belum ada hubungi aku," terang Abel.


"Abelong sempurna banget sih hidup kamu, calon suami tajir, ganteng, baik."


"Tapi tetap Rena, kata Mama Riri lihatlah dari kesholehan."


"Bang Davin Sholeh nggak."


"Sholeh dong InsyaAlloh, tadi malam sebelum tidur ingatin sholat isya." Seru Abel tersenyum senang.


Akhirnya mereka sudah sampai di area CFD. Setelah memarkir mobil Abel dan Rena menyusui area CFD yang sudah padat dipenuhi ribuan orang yang akan melakukan aktivitas olahraga.


"Nolan!" sapa Abel.


Dengan seketika hati Nolan berdesir mendengar suara yang orang yang memanggilnya. Ia menoleh pada seseorang yang membuatnya tidak bisa terlelap semalaman. Ia mendekati Abelia.


"Hai, Kak Nolan...." Sapa Rena yang memang mengenal Nolan adalah Kakak tingkatnya sekaligus mahasiswa aktivis di kampusnya.


Nolan hanya mengangguk dengan wajah kakunya.


"Nolan, ini semuanya masih layak pakai," Abel menyerahkan kantong plastik.


"Terima kasih partisipasinya, hasil dari garage sepenuhnya akan diserahkan komunitas untuk Keperluan sekolah anak-anak di pelosok daerah." Jelas Nolan bersikap biasa menyembunyikan kegundahan hatinya.


Abel dan Rena masih berdiri mematung.


"Tunggu apa, Nggak ada yang ngelarang kalian pergi kok." Seru Nolan dengan datar seperti biasa.


"Oh ya bener, ngapain kita disini, kita memang mau pergi kok, Assalamu'alaikum!" Balas Abel kesal, ya begitulah si songong selalu saja bikin orang kesal dengan kata-katanya yang kayak cabe.


Rena dan Abel pun pergi meninggalkan stan Nolan.


"Abelong gimana ceritanya kamu bisa kenal sama Kak Nolan, kayak udah akrab gitu, di kampus nggak ada loh yang berani ngomong sama tuh orang." Seru Rena.


"Ketemu di manapun, udah males bahas si songong mending kita bahas jodoh kamu aja." Jelas Abel.

__ADS_1


"Jodoh aku di tangan Allah Abelong, jodoh kamu yang didepan mata."


"Ya, sebentar lagi jodoh kamu datang, perantaranya aku." Jelas Abel. Sebelum Rena sempat membantah ponsel Abel berdering.


Drrrrtt. Abel melihat layar ponselnya, senyum mengembang dibibirnya melihat seseorang yang menelpon.


Davin : Kamu dimana cantik


"Abel lagi di CFD sama teman."


Davin : Sore nanti bisa ketemu nggak, Abang mau kenalin kamu sama adek Abang.


"Bisa, tapi nanti Bang Davin yang bilang sama Papa."


Davin : Pasti Sayang, kalau perlu bawa aja adek kamu dua-duanya, ada adek bang Davin yang jaga.


"Bang Davin bisa aja...." Abel tertawa


Davin : sampai ketemu, assalamu'alaikum. telepon terputus.


"Ayo pulang, sore nanti aku mau jalan sama Bang Davin." Seru Abel berjalan lebih cepat.


"Kita baru nyampe Abelong, lagi pula kamu jalannya masih sore." Protes Rena.


Tapi Abel terus saja melangkah ke area parkir mobilnya, Rena pun terpaksa mengekor Bosnya.


Disisi yang berbeda Nolan sudah tak berkonsentrasi lagi menjajahkan garage sale usai kedatangan Abel. Dia memilih duduk di belakang stan, matanya sesekali menyapu lapangan area CFD mencari sosok Abel yang ia usir. Sampai detik ini, Nolan masih belum menghilang Abel dari pikirannya. Pasti itu sangat sulit karena intensitas pertemuan mereka yang akan sangat sering karena satu tempat magang.


Drrrrtt. Dering ponsel membangun lamunan Gundahnya. Ia cepat membaca pesan dari kakaknya.


Davin : Nanti sore jangan ada kegiatan apapun, Abang mau kenalin kamu sama calon kakak iparmu.


Nolan memegang kepalanya yang terasa berat semakin prustasi usai membaca pesan dari Davin.


.


.


.


.


.


NEXT.............


Sori telat Up, team bang davin masih aman. Sekali lagi Team bang Nolan, masih kuat tolong botol plastiknya jangan dilempar ke author..😁😁😁


Terimakasih udah Sabar dan setia nunggu up dari author.


Beri semangat Thor mu pencet LIKE, ketik KOMENT, yang punya poin bisa bagi VOTE. loph u ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2