
Siang ini di sebuah ruangan yang cukup besar di PT. PM reg**nal IV dengan desain elegan. Ada kursi kerja terhalang meja besar berhadapan dengan 2 kursi tamu di sudut terdapat juga sofa tamu. Ruang yang merupakan meja kerja wakil kepala devisi. Ervan masuk ke dalam memenuhi panggilan.
"Permisi Bu Tiara. Ibu memanggil saya."
"Van kita hanya berdua jadi biasa saja, Bagaimana keadaan kamu" balas Tiara bangkit dari kursi menghampiri Ervan yang berdiri di depannya.
"Alhamdulillah jauh lebih baik. Ada perlu apa?."
"Makan siang bareng disini ya." Kata Tiara lagi.
"Udah ada janji sama teman yang mau ngajak makan seafood, kamu bareng kita mau." Balas Ervan lagi.
"Ya udah aku ngalah, kalian pergi aja. Oh ya Van soal Abel, apa sebaiknya dia pindah lagi ke PM independen school." Ujar Tiara.
"Apa maksudnya?" Ervan terkejut mendengar ucapan Tiara.
"Abel akan bersekolah di PM independen school seperti anak pegawai yang lain. Sekolah kita sangat jauh lebih baik dari sekolah umum. Bahkan sekolah kita terbaik dikota ini. Dia tidak perlu lagi les karena kegiatan di sekolah sangat padat." Sambung Tiara lagi.
"Tiara. Mungkin kau bisa mengatur hidupku sesuka hatimu, tapi tidak dengan anakku, dia akan sekolah disekolah yang dia inginkan." Sahut Ervan berbicara pelan menahan kesal.
"Baik kalau begitu, kenapa kau begitu mendukung anakmu sekolah disana, apa ada sesuatu." Mendengar ucapan Tiara Ervan menggelengkan kepalanya.
"Dia hanya ingin sekolah yang berbeda seperti SD, dia ingin punya teman dengan latar belakang yang berbeda. Ibu Tiara yang terhormat, jika tidak ada pembiaran tentang perkerjaan, bisa kah saya pergi." Ervan langsung berpaling, keluar tanpa memperdulikan Tiara yang memanggil nya beberapa kali.
*****
Siang yang cerah berganti malam yang tenang.
__ADS_1
"Ya ampun..." Riri kesal melihat ban motornya yang kempes sedangkan tujuan tinggal beberapa meter lagi.
Dia mendorong pelan motornya berharap ada tukang tambal ban tak jauh dari tempat dia dan motornya sekarang.
Setalah berjalan beberapa langkah akhirnya yang diharapakan hadir. Riri memutuskan meninggalkan Motornya di tukang tambal ban dan berpesan akan mengambilnya nanti. Riri memilih ojek online untuk sampai di rumah Abel.
"Bu Riri." Sapa pak Rio yang tak lain pengemudi ojek online.
"Pak Rio." Riri langsung naik ke motor karena udah merasa terlambat.
Rio sering cerita kepada Riri kalau tidak ada kegiatan di malam hari dia berkerja sampingan jadi pengemudi ojek online. Riri juga kadang menceritakan kalau dirinya mengajar les privat, tapi dia tidak memberitahu kalau Abel adalah murid nya. Setelah beberapa menit mereka berdua sampai didepan rumah Abel. Ervan yang mendengar suara motor langsung Melihat dari atas balkon kamarnya.
Riri mengentok pintu beberapa detik Ervan sudah ada dibalik pintu.
"Mas, Gimana mas udah sehat." Kata Riri yang heran melihat Ervan, tumben yang membuka pintu bukan Bi Mina.
" motor kamu, kenapa naik ojek online." Tanya Ervan tanpa menjawab pertanyaan Riri.
"Tadi sebelum kesini ban nya kempes jadi aku tinggal. Nanti pulang nya Riri ambil." Jawab Riri sambil duduk di sofa.
"Kamu Kayaknya akrab banget sama pengemudi Ojol nya, dia ganteng ya atau dia yang genit sama kamu." Ervan terus mencercah pertanyaan.
"Tadi driver nya temen Riri disekolah. Dia guru Abel juga. Maka nya kita akrab." Balas Riri lagi bingung dengan sikap Ervan.
"Sering kamu minta antar sama dia." Tanya nya lagi tanpa ekspresi.
"Baru ini, itu juga kebetulan."
__ADS_1
"Kalau ngobrol disekolah sering sama dia." Masih tanpa ekspresi.
"Ya pasti kan kita satu kantor." Jawab Riri yang binggung dengan sikap orang didepannya ini.
"Kalau Chating an sering juga."
"Ya, kadang-kadang."
"Tunggu. kenapa sih mas banyak betul pertanyaan nya, mas udah kayak orang sensus." Kata Riri menghentikan Ervan yang akan tadi akan bicara lagi.
"Lain kali kalau begini lagi, kamu langsung hubungi aku dulu nggak boleh pikirkan yang lain. Aku nggak suka aja kamu Deket-deket sama pria lain." Kata Ervan yang dari tadi tanpa ekspresi meninggalkan Riri ketika melihat Abel Sudah ada tempat yang sama.
'Sial kenapa aku kesal dengan pria itu' kata Ervan meggerutu sambil menaiki tangga.
Riri hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Sikap Ervan yang aneh dengan mengomelinya dirasa seperti orang tua melihat anaknya yang ketahuan melakukan kesalahan.
'Apa maksud kamu Mas nggak suka kalau aku dekat pria lain. Bagaimana dengan mata aku yang sakit liat kamu bermesraan terus sama Bu Tiara' batin Riri heran dengan sikap anehnya Ervan hari ini.
Setalah pukul setengah sembilan Riri mengakhiri kegiatan belajar nya hari ini.
"Ibu Minggu ikut ya, kita mau outbond ke bukit ben***rai, please, please... nanti kita pakai sepatu kembaran." Kata Abel memohon-mohon sambil menyatukan kedua tangannya.
"Boleh, Ibu bisa ajak teman nggak?" Kata Riri semangat karena dia senang kegiatan di alam.
" Bisa dong Bu, Asyik.. Yes, yes...!!" Kata Abel senang bertepuk tangan.
Tak lama kemudian Ervan turun dari tangga dan memaksa mengantar Riri ke tukang tambal ban tempat dimana Riri meninggalkan motornya.
__ADS_1
Next....
MAKASIH UDAH SUPPORT LEWAT LIKE, KOMENT DAN VOTE YANG BIKIN SEMANGAT AUTHOR.