
Ditengah suasana hatinya yang buruk semalam, dia pulang lebih cepat dari kantor hari ini. Ervan tidak mau menyerah dengan keadaaanya ia melajukan kendaraannya kerumah yang baru ia dapatkan alamatnya. Rumah sederhana yang terletak tak jauh dari rumah Riri. Dia turun dari mobil dan mengetuk beberapa kali. Tak lama seorang yang diharapkan oleh Ervan muncul dibalik pintu.
"Mas Ervan, mas kok tahu rumah aku." Kata Rika yang terkejut melihat Ervan sudah ada didepan rumahnya masih memakai coverall kerjanya.
"Rika, bisa minta waktu bicara sebentar aja." Kata Ervan memohon.
"Iya mas, mau masuk." Balas Rika.
"Disini aja, saya hanya mau tanya sama kamu."
Rika keluar menuju teras rumahnya bersama Ervan.
"Rika, saya hanya mau tanya sama kamu, kenapa Riri ingin mejauhi aku, kamu tolong jawab yang jujur, aku janji kalau memang alasan Riri tepat, aku akan jauhin dia sejauh-jauhnya seperti yang dia mau."
Jadi mas Ervan udah ketemu Riri, aku jawab apa ini, apa aku jujur aja biar Riri bisa bebas dari ancaman tuh kuntilanak dan mendapat kejelasan dari semua ini tapi nanti kalau jadi tambah parah gimana.kamu harus jujur Rika demi Riri Sabahat kamu. Rika
"Rika, Rika tolong jawab aku." Kata Ervan membangunkan lamunan Rika yang diam dari tadi.
"Ri..ri sebenarnya, di ancam seseorang untuk jauhin mas." Kata Rika pelan dan ragu.
"Apa! Siapa yang berani ngancam Riri untuk jauhin aku." Kata Ervan marah dan kesal.
"Si Kun.... Maksud saya Bu Ti..a.ra mas." Balas Rika terbata-bata.
Deg. Rasanya dunia terasa terhenti Ervan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rika.
"Nggak mungkin Rika, Tiara nggak mungkin melakukan hal seperti itu." Balas Ervan menatap tajam ke arah Rika.
"Saya yang lihat sendiri mas malam itu." Balas Rika sedikit ketakutan melihat ekspresi Ervan.
__ADS_1
Kamu keterlaluan Tiara ini sudah diluar batas. Ervan
"Abel juga mas, tadinya Riri mau berhenti ngajar Abel, tapi Abel chat nggak mau sekolah kalau Riri nggak ngajar dia les lagi, jadi Riri binggung dia harus apa?" Sambung Rika lagi.
"Abel juga ikut-ikutan ngacam Riri, ya ampun apa yang sebenarnya terjadi, pasti Riri merasa tertekan." Desis Ervan.
"Di sisi lain dia harus jauhin mas Ervan demi kebaikan, disisi lain dia nggak bisa jauh dari Abel. Mas, buat Riri kayak dulu lagi, kembalikan Riri yang aku kenal mas." Sahut Rika.
"Terima kasih Rika atas waktu kamu, ini semua salah aku, insyaallah aku akan akhiri semua ini." kata kata Ervan yang pamit untuk pulang, dan Rika menggangguk.
"Mas tunggu sebentar." Rika menghalangi Ervan yang hendak masuk ke dalam mobil. Seketika Ervan menoleh menghadap ke arah Riri.
"Seandainya Riri nggak jatuh cinta sama mas Ervan, mungkin dia nggak akan seterluka sekarang mas." kata Rika berat mengatakannya tapi dia merasa Ervan harus tahu untuk selanjutnya tinggal menunggu takdir. begitu kiranya pikiran Rika.
Rika mulut kamu gatel banget sih, setelah ini kamu bunuh aku, aku siap ri, gatel mulut aku kalau sampai aku nggak bilang. Rika
Mendengar perkataan Rika, Ervan terdiam membeku seolah ada air hujan yang mengguyur dari atas langit sedikit meredamkan amarah Ervan tadi. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rika, Riri juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Bagaimana bisa? ia merasa tersenyum penuh kemenangan dihatinya.
*****
Ervan menaiki tangga dengan cepat, membuka pintu kamar Abel dan didapat Abel yang berbaring sambil memainkan HP nya diatas tempat tidurnya.
"Mana HP kamu, papa mau lihat!" kata Ervan sedikit keras, berharap Abel tidak menghapus pesan yang dikirim untuk Riri.
"Papa kok udah pulang." terkejut melihat papanya yang ada dikamarnya. Ervan tidak menjawab dan mengulurkan tangannya meminta apa yang diinginkan.
Abel yang melihat nada bicara ayahnya yang tidak seperti biasanya merasa takut, bangkit dan langsung memberikan HP nya. Ervan memeriksa pesan Abel satu persatu nampak pesan atas nama Riri. Ternyata benar apa yang diinformasikan oleh Rika.
"Apa ini, sejak kapan anak papa berani mengancam orang lain. Apa pernah papa mengajarkan begitu." kata Ervan melempar HP kearah Abel yang jatuh ke kasur.
__ADS_1
Abel mengambil HPnya dan melihat pesan yang di maksud ayahnya. Abel mengerti maksud papanya dan panik tidak berani bicara sama sekali.
"Minta maaf sama Riri, dan jangan pernah memaksa kehendak orang lain!." kata Ervan dengan nada tinggi.
"Enggak mau pa, Abel nggak mau nanti Bu Riri jauh-jauh sama Abel." Balas abel sedikit merasa takut.
"Abel! sekarang berani ngebantah ya, Apa papa terlalu memanjangkan kamu!." kata Ervan yang masih berdiri dihadapan.
"Papa nggak ngerti, Abel mau Bu Riri yang gantiin Mama. Abel mau Papa sama Bu Riri. tapi papa nggak mau ngerti, papa pacaran terus sama Tante Tiara." Abel memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya.
Ervan memijat kepalanya, binggung bagaimana menjawab perkataan anaknya. ia duduk disebelah anaknya memeluk Abel yang sekarang menangis.
"Ya sayang papa ngerti, Bu Riri nggak akan kemana - mana, tapi memaksa kehendak orang lain itu tidak boleh." Kata Ervan memeluk anaknya.
"Pa, Abel cuma mau Bu Riri yang jadi mama Abel bukan Tante Tiara atau siapapun." Abel bangkit dari pelukan ayahnya.
"Ya sayang, kamu berdoa aja ya, semoga apa yang kita inginkan dikabulkan sama Allah." Ervan menjawab Kalimat pamungkas karena tidak bisa memberi kepastian pada anaknya.
Setelah berdebat dengan anaknya. Dia masuk ke dalam kamarnya, didalam kamar mandi ia menguyuri tubuhnya dibawah shower sedikit menenangkan pikiran mencoba memastikan keputusan yang akan dibuatnya benar.
ini semua harus diakhiri sekarang juga, aku tidak sanggup lagi seperti ini. Ervan.
NEXT...
**TERIMAKASIH PEMBACA, JANGAN LUPA PASANG JEMPOLNYA DITUNGGU LIKE KOMENT APALAGI VOTE NYA BUAT SEMANGAT AUTHOR.🙏🙏🙏🙏
untuk visual author pengen nya AIMAN HAKIM setuju nggak ya, soalny author suka doi**.
__ADS_1