Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 96 Panti Asuhan (Cowok Reseh)


__ADS_3

Keluarga Ervan kini sampai di salah satu panti asuhan pilihan Abel yang di tempuh 20 menit dari rumahnya. Mobil yang membawa catering dan goodie bag juga sudah sampai dibelakang mereka.


Dari depan panti mereka sudah disambut beberapa pengurus panti.


"Assalamu'alaikum, " Sapa Riri dan Ervan bersamaan.


"Wa'alaikumusalam..." Jawab beberapa pengurus panti.


Mereka mempersilakan masuk Riri, Ervan dan Abel serta Rena yang membawa kamera Abel.


Mereka diarahkan disebuah aula yang nampak sudah dipenuhi puluhan anak dari berbagai usia. Sepertinya pengurus panti sudah menyiapkan semuanya karena sebelum kedatangannya, Ervan sudah menghubungkan pihak panti terlebih dahulu lagi tadi.


Keluarga Ervan yang masuk ke aula di sambut anak-anak panti dengan Riu dan sorak Sorai. Riri merasa terharu juga senang, terharu karena semua anak-anak panti nampak senang dengan kedatangannya keluarganya, seolah dari senyum mereka tidak ada kesedihan tentang takdir yang di alaminya. Disisi lain Riri merasa senang melihat anaknya Abel yang bisa berpikir di hari bahagianya untuk berbagi pada anak-anak yatim daripada berfoya-foya diresto mahal dengan teman-temannya, bahkan dia memakai uang tabungannya sendiri dari uang saku untuk berbagi dengan teman teman barunya tanpa menerima bantuan dari Papanya.


Abel juga nampak semangat menyapa teman-teman barunya, saling berinteraksi dengan anak-anak yang dibawah usianya yang juga menyukai Abel seolah seperti kakaknya.


Mudahan sifat kamu akan seperti ini terus ya Cantik sampai dewasa meskipun nantinya kamu tahu kalau kamu seorang milyader mudahkan kamu akan tetap rendah hati. Riri.


Salah satu pengurus panti menggunakannya pengeras suara menyuruh anak-anak yang gaduh untuk tenang dan kembali duduk ke tempatnya. Dengan cepat anak-anak kecil duduk manis dan mendengarkan arahan Ibu panti, ibu panti memberi tahukan maksud dan tujuan Abel dan keluarganya datang ke panti.


"Anak-anak, kakak kita, ingin berbagi dengan kalian di usianya yang ke tiga belas tahun. senang nggak ada kakak Abel..." Tanya ibu panti.


"Seneng..... Seneng!!!" Balas adik-adik panti bersautan.


Ibu panti mempersilahkan Riri untuk berbicara sebagai perwakilan Abel.


"Adik-adik, ibu sebagai orang tua kakak kita, kakak Abel, menyampaikan terima kasih atas kehadiran adik-adik yang ikut berbahagia bersama kita. Kita doakan ya untuk kakak Abel dipertambahan usianya yang semakin dewasa menjadi anak yang semakin taat kepada Allah." Ucap Riri.


"AMINN..!!" teriak anak-anak panti.


"Berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi agama, nusa dan bangsa"


AMINN..!!" teriak anak-anak panti.


"Menjadi anak yang sholehah"


"Bisa sukses menggapai cita-citanya didunia dan utamanya di akhirat"


AMINN..!!" teriak anak-anak panti.


"Mungkin itu saja adik-adik yang ibu sampaikan, kita kasih kakak Abel sepertinya dia mau ngomong sesuatu..." Ujar Riri.


Abel menerima mic dari Riri, Riri tahu Abel Anggota OSIS yang lebih banyak bicara dibandingkan dengan ketua OSISnya, Riri yakin Abel sudah terbiasa bicara didepan umum.


"Adik-adik, senang nggak, ada kakak cantik main kesini," Kata Abel yang penuh semangat.


"Senang Kak...." Jawab anak-anak.


"Adik-adik ku yang cantik dan ganteng imut-imut kayak marmut." Canda Abel semuanya anak-anak tertawa senang.


"Kakak minta doa ya buat adek bayi kakak sama Mama Riri supaya lancar nanti keluarnya, ntar kalau udah lahir kakak aja main kesini ya..."


"Amin..." Sahut anak-anak riang.


"Kakak mau kasih tebakan boleh ya, nanti kakak kasih hadiah..."


Anak-anak bersahutan semangat.


"Siap... hewan apa yang hobi berenang." Seru Abel.


Anak-anak bersahutan menjawab.


"Ikan kak..."


"Buaya kak..."


"Kadal kak..."

__ADS_1


"Ikan Kak "


"Ikan Ka...."


"Salah semuanya jawabannya, nyerah aja ya..." Seru Abel.


"Apa dong Kak," Kata salah satu anak yang dibarisan depan.


"Jawabannya bebek kalau ikan nggak hobi berenang tapi hobi menyelam hahaha..." Celetuk Abel.


"Ih kakak...." protes anak-anak.


Riri dan Ervan saling memandang begitu senang melihat Abel yang nampak bahagia dengan puluhan anak-anak yatim yang rata-rata masih berusia sepuluh tahun.


Usai Abel bercanda dengan anak-anak, seorang ustadz pemuka agama di panti itu membaca doa untuk mendiang Amanda yang di Aminkan anak-anak yatim dan tak lupa membacakan doa juga untuk Riri dan bayinya agar nanti dalam proses persalinan diberikan kelancaran sesuai dengan permintaan Abel yang juga diaminkan anak-anak yatim.


Setelah pembacaan doa, anak-anak dibagikan box makanan dan goodie bag berisi alat tulis serta makanan ringan yang sudah disiapkan. Acara berlanjut dengan makan sore bersama puluhan anak-anak, pengurus panti dan pasti keluarga Ervan.


Menjelang senja keluarga Ervan berpamitan kepada anak-anak, anak-anak berbaris berurutan sesuai arahan pengurus panti untuk bersalaman pada keluarga Ervan dan Abel membagikan amplopn kepada setiap anak memberikan sedikit rejeki dari tabungannya pada anak-anak tersebut.


"Papa, Mama..." Kata salah satu anak perempuan Panti yang kira-kira berumur tiga tahunan menunjuk Ervan dan Riri.


Riri merasa terharu dan air matanya mulai mengenang melihat anak tersebut menunjuk dirinya dan Ervan, anak tersebut pasti tak seberuntung dirinya dan Abel yang mendapat kasih sayang lengkap dari kedua orangtuanya.


Ervan mengendong anak itu. "Ya cantik, ini Mama Riri ini Papa Ervan..." Kata Ervan. Riri juga ikut tersenyum.


"Siapa namanya adek cantik ini..." Ucap Riri dengan suara anak kecil.


Tidak menjawab anak itu malah mencium pipi kanan Riri dan lanjut mencium pipi Ervan terus meronta minta turun dari gendongan kemudian berlari.


"Kita bikin anak yang banyak ya sayang, lucu kayak anak tadi biar ramai rumah kita...." Goda Ervan berbisik ditelinga Riri.


"Bikinnya enak Mas, bawa sama ngerawatnya susah...." Balas Riri.


"Bercanda sayang..." Ervan terkekeh melihat ekspresi istrinya.


Abel berjalan terburu-buru usai dari toilet karena orang tuanya berpesan akan segera pulang sebelum senja. Karena berjalan cepat Abel tidak sengaja menabrak laki-laki yang mungkin tidak jauh beda diatasnya usianya.


Abel tersungkur jatuh tangannya menyentuh aspal, dia meringis Karena merasa sakit ditangannya.


"Jalan pakai mata! Bukan buat pajangan aja!"


Kata kasar remaja tanggung itu.


Abel kaget dengan ucapan kasar orang yang dihadapannya. "Bukannya nolongin malah ngomel." Balas Abel tak kalah kasar masih belum bangun dari aspal.


Laki-laki itu mengulurkan tangan, "Cepat bangun! Manja banget!"


Abel menepis tangan laki-laki itu dan bangkit sendiri, "Kamu siapa sih, penghuni panti ini kasar banget jadi orang...."


"Bukan urusan kamu, kamu pasti anggota keluarga orang kaya itu kan, pantes manja..."


"Maksud kamu apa...." Jawab Abel kesal ala anak remaja tanggung.


"Orang kaya yang ke panti bawa kamera tujuannya bukan cuma mau bansos tapi juga mau pansos pamer di sosmed..."


"Heh Kak..."


"Aku bukan kakak kamu...!" Bentaknya kasar.


"Heh tukang somay, denger ya, nggak semua orang yang bawa kamera itu mau pamer..." Jawab Abel menyebutkan asal lelaki dihadapannya.


"Enak aja kamu panggil aku tukang somay..." balasnya dengan nada tinggi.


"Udah mau magrib setan mau berkeliaran, jadi BYE!!! tukang somay...." Jawab Abel ketus melangkah meninggalkan lelaki itu.


Di tempat yang berbeda Ervan menunggu Abel di taman Panti. Ervan melihat seseorang yang tidak asing keluar dari mobil yang parkir di samping mobilnya.

__ADS_1


"Mas Ervan..." Sapa laki-laki itu langsung menyalami Ervan.


"Davin, apa kabar sudah gede kamu..." Balas Ervan. laki-laki yang bernama Davin tersenyum terlihat tampan.


"Oh ya ini Riri, istriku...." Ervan menunjuk Riri, Riri menyatukan tangan tersenyum.


"Apa kegiatan sekarang, masih kuliah..." Tanya Ervan.


"Ya Mas, baru semester tiga, ngomong-ngomong lagi nunggu siapa Mas..." tanya Davin.


"Nunggu Abel anak Mas lagi ke toilet, kamu lagi ngapain disini cari siapa..."


"Oh, kalau aku jemput Nolan adekku pasti kalau lagi ngambek sama mama larinya kesini, biasa anak kelas tiga SMP masih labil..."


"Itu biasa anak Mas juga suka ngambekan, itu dia..." Kata Ervan menunjuk Abel yang berjalan mendekat.


"Itu anak Mas udah gede, cantik ...." Kata Davin terus melihat Abel.


Abel yang kesal langsung masuk kedalam mobil tanpa menegur orang tuanya. Riri dan Ervan yang melihat Abel masuk kedalam mobil pamit kepada Davin dan menyusul naik ke dalam mobil.


"Kamu kenapa sayang...." Tanya Riri melihat Abel yang cemberut.


"Ketemu cowok nyebelin, Reseh plus songong..." Kata Abel.


"Ganteng nggak abelong..." tanya Rena yang duduk disampingnya. Abel memukul Rena dengan tas dan tak menjawab.


Riri hanya tersenyum memaklumi problema remaja ini. Ervan menyalakan mesin mobil dan berlahan meninggalkan panti.


"Mas tadi siapa..." Tanya Riri.


"Anak teman bisnis Papa terakhir ketemu dia masih SMP...." Ujar Ervan


"Ganteng Mas..." Ucap Riri


"Kamu suka..." Balas Ervan dengan nada tinggi.


"Nggak lah Mas, Riri nggak suka brondong Riri sukanya yang mateng-mateng kayak Mas..." Balas Riri, Ervan langsung tersenyum mencubit pipi Riri.


Mobil terus melangkah menyusuri jalanan yang mulai sepi karena akan memasuki waktu Maghrib.


.


.


.


.


.


.


.


Next....


**Zen Thor mau kasih pengumuman


- Di Bab ini kasih Thor kasih bocoran untuk masa depan Abel kalo author diberi kesehatan, kesempatan dan kelonggaran akan buat squelnya.


- Bab berikutnya mungkin kita akan ngintip ke pasangan Adrian dan Tiara.


- Tinggal beberapa bab lagi novel ini akan Tamat ya😭.


Zen : Banyak amat Thor pengumumannya udah kayak undang-undang😁😁


Terima kasih udah sabar nunggu Up dari author.😘😘😘

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalkan jejak LIKE KOMENT VOTE nambah semangat author**.


__ADS_2