
Davin pun pergi ke masjid bersama Papa mertuanya usai membersihkan diri. Sedangkan Abel dan Riri menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Baru berapa minggu Abel sudah kangen dengan kebiasaan di rumahya ini. Selama di rumah suaminya, Abel hanya menjalankan tugas istri di kamar saja. Ia sebenarnya ingin menjadi istri seperti Mama Riri memasak untuk suaminya. Tapi lagi-lagi disana sudah memperkerjakan juru masak yang handal.
“Gimana Kakak rasanya jadi istri sekarang,” tanya Riri saat bersantai di meja makan.
“Seru Ma, ada suka dukanya,” jawab Abel.
“Masa Kakak baru nikah udah ada dukanya,” tanya Riri penasaran.
“Ada salah paham aja Ma,” balas Abel hampir keceplosan dirinya baru saja bertengkar dengan suaminya.
“Kakak, harus bisa bersikap dewasa, menjaga perasaan suami. Kalau ada masalah langsung di bicarakan dengan baik-baik dengan waktu yang tepat. Dan inget nasehat Mama, jangan sampai membawa amarah atau emosi di tempat tidur apalagi sampai keesokan paginya. Davin itu peneduh buat Kakak sebagai seorang suami, sedangkan Kakak selimut untuk Davin sebagai seorang istri.” Riri memberi pituah pada Abel.
“Ya Ma, Abel jadi inget nasehat ustad Anan dari sebuah hadis. Kalau setan akan menang dan mendapat penghargaan tertinggi, jika berhasil membuat pasangan suami istri saling bertengkar hingga berpisah. Nauzubillahmindzalik,” ucap Abel sambil meyeruput tehnya.
“Nah kan kakak tahu, jadi jangan mau kalah sama setan,” ucap Riri. “Papa sama Mama dulu waktu awal-awal nikah sama Papa juga begitu. Sering salah paham tapi setelah saling terbuka, semuanya beres. Mama beruntung punya suami yang pengertian seperti Papa meskipun Papa cemburuan.” Riri terkekeh, dia ikut curhat mengingat masa jadi pengantin baru.
“Cieh Mama, siapa dulu mak comblangnya,” goda Abel menyenggol Riri.
“Kakak juga harus bisa jadi menantu yang baik di rumah Davin, sayangi mereka semuanya seperti keluarga kakak sendiri.”
“Ya, Mamaku yang cantik…,” balas Abel.
“Papa sama anak-anak kok lama ke masjidnya Mama keburu lapar,” ucap Riri.
"Sabar Ma, sebentar lagi juga datang," kata Abel.
__ADS_1
***********
Di tempat yang berbeda. Davin masih menunggu Papa mertuanya yang mengobrol dengan seseorang di dalam masjid. Ya, Papa mertuanya menjadi salah satu pengurus masjid di perumahan ini. Ervan menyapa beberapa orang di masjid, kemudian keluar meninggalkan masjid menemui menantunya.
Dua laki-laki berjalan pulang beriringan usai sholat Magrib dan Isya berjamaah di Masjid. Dua bocah laki-laki kakak beradik Raffa dan Raydan berjalan di depan mereka dengan bercanda layakanya anak seusianya. Entah kenapa setelah menjadi menantu Davin jadi lebih tegang berhadapan dengan Ervan. Berbeda ketika saat ia menjadi teman dulu, Papa mertuanya bersikap jutek seolah dirinya seperti pencuri anaknya saja.
“Abel gimana Vin, apa kalian ada masalah,” tanya Ervan sekaligus membuka kebisuan keduanya.
“Nggak Pa, alhamdulillah kita baik-baik saja,” jawab Davin.
Ervan sangat mengenal putrinya, dia pasti ada apa-apa karena pergi mendadak ke rumahnya. Tapi mendengar jawaban Davin, ia berharap kecemasannya tak terbukti.
“Apa Abel manja dan merepotkan kamu Vin?” tanya Ervan lagi.
“Sama sekali nggak Pa, justru aku yang sering buat Abel repot,” balas Davin.
Davin lega sekarang suasana lebih santai.
“Vin, dari Abel kecil kita berdua sangat dekat. Sampai satu malam menjelang ulang tahunnya ibunya kecelakaan dan meninggalkan kita. Dia masih kecil waktu itu untuk harus kehilangan seorang ibu. Cukup lama membuat Abel meluapkan kesedihannya, membuatnya mengerti bahwa ibunya sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Aku selalu berusaha memberi limpahan kasih sayang dengan cara apapun pada Abel agar tidak bersedih lagi, menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk dia. Hingga Riri datang dan mengantikan peran seorang ibu dengan baik pada Abel.”
Davin masih jadi pendengar yang baik kisah masa lalu istrinya dari mertuanya.
“Kita menjaga Abel, menyayanginya, mendidik dengan baik hingga akhirnya ada waktunya kita harus melepaskan Abel pada suaminya sebagai penganti tanggung jawab kita sekarang. Aku bersyukur Abel terlihat bahagia saat bersamamu,” ucap Ervan mendadak matanya berkaca-kaca.
“Alhamdullillah Pa, Insya Allah aku dan Abel akan menjalani pernikahan ini dengan baik.”
__ADS_1
Tanpa terasa melangkah sambil mengobrol, mereka sudah sampai di halaman rumahnya. Anak-anak sudah masuk terlebih dulu ke dalam rumah. Ervan menghentikan langkahnya, menoleh kembali kearah Davin.
“Vin, jangan pernah kamu sakiti Abel, kalau sampai itu terjadi aku nggak akan segan – segan menyunat kamu yang kedua kalinya.” Nada ancaman sekaligus candaan Ervan.
“Tolong jangan Pa!” jerit Davin reflex memegangi yang di maksud Ervan. Ervan yang tadi berbiacara dengan serius menjadi terkekeh melihat ekspresi menantunya.
"Becanda Vin ...," balas Ervan.
Keduanya kini masuk ke dalam rumah dan disambut oleh istri-istri mereka. Semua orang menghabiskan waktu makan malam bersama keluarga kecil Ervan. Abel menyajikan di piring suaminya ikan bakar dengan sambal mata lengkap dengan sayur sebagai lalapan, makanan rumahan ala mama Riri yang mungkin jarang di temui di meja makan keluarga Adiguna.
"Sayang perut kamu nggak sakit?" tanya Davin menelan ludah Melihat Abel. Ini pertama kalinya ia melihat istrinya makan sambal begitu banyak. Pertama kalinya juga ia tahu istrinya suka makanan pedas.
"Udah biasa Bang," Jawab Abel.
Suasana hangat tercipta di sini, sesekali Davin juga ikut makan menggunakam tangan seperti istrinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next......