Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Sepi


__ADS_3

Raffa


"Terlambat Raf! Kamu udah bikin semua kepercayaan aku ke kamu luntur! Aku nggak tahu apa bisa percaya kamu lagi atau Nggak!"


Hati saya kembali terasa sesak mendengar ucapan Aline, segitu dalam kah rasa sakit Aline. Saya lega bisa menemukan Aline yang berada di rumah Tantenya.


"Lin, tolong kali ini kamu mengerti. Saya menemui Alesa karena rasa bersalah saya pada dia. Saya hanya nggak mau nantinya terjadi apa-apa dengan Alesa yang berakibat pada rumah tangga kita."


"Kamu juga nggak menolak ketika dia minta kamu untuk tinggal Raff!" Aline berhasil melepaskan diri dekapan saya saat sedang melemah.


"Lin,"


"Kamu nggak mikirin gimana perasaan aku sama sekali Raf! Dari situ aku bisa melihat mana yang lebih penting di hidup kamu istri kamu atau perempuan itu!"


Aline menutup wajahnya terseduh, baru kali ini saya melihat Aline yang berbeda. Ia menangis begitu keras sampai saya bisa mendengar isakannya dari balik tangan yang menutupi wajahnya.


Saya peluk lagi Aline, saya tidak peduli dia yang meronta meminta saya melepaskan.


"Maafkan suami ini Lin, maaf. Ayo kita pulang. Saya janji nggak akan pernah sakiti kamu lagi."


"Aku ragu Raf! di hari pertama pernikahan kita saja, kamu bisa kembali pada perempuan itu, bagaimana hari-hari pernikahan selanjutnya."


Saya melepaskan pelukan saya dan memegang kedua pipi Aline, perih saya melihat air mata yang berikan pada Aline.


"Lin, saya hanya ingin kamu, saya hanya mau kita selalu bersama."


"Ya Raf kamu hanya ingin bersama aku sebagai istri yang dijadikan pelampiasan hasrat kamu saja kan, hanya sebatas itu! Aku dengan tangan terbuka menerima perjodohan ini, aku berusaha menjalankan terbaik menjadi seorang istri, dengan harapan seiring dengan berjalannya waktu kita bisa saling mencintai seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Tapi kenyataannya nggak Raf! Hanya aku yang cinta sama Kamu. Tapi kamu nggak pernah mencintai aku! Kamu menikah sama aku hanya memenuhi keinginan orang tua kamu, tapi hati kamu masih untuk perempuan lain, hati kamu masih terpaut untuk perempuan itu!'


"KAMU SALAH LIN!" saya bentak Aline karena tuduhannya yang menyakitkan.


"Saya memang pernah menaruh hati pada Alesa, sebelum saya tahu kita akan di jodohkan! Tapi setelah saya menjadi suami, saya nggak pernah menaruh hati pada perempuan manapun, saya menjalani apa adanya supaya menjadi suami yang baik! Tolong suami meminta kali ini, Kita pulang Sayang, maafkan suamimu yang pernah berbuat dosa ini. Kita benahi semua yang terjadi dengan lembaran yang baru. Saya dan kamu." Saya meraih tangan Aline dan menciumnya berkali-kali.


"Sekarang aku juga minta izin sama kamu Raf, izinkan aku sendiri dulu untuk sementara waktu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri beberapa saat. Aku tidak bisa berpikir jernih jika dekat kamu, aku harus jauh dari kamu."


"Berapa lama?" tanyaku. Saya akan memberi kesempatan sendiri pada Aline meskipun saya tidak tahu akan bisa atau tidak tanpa istri saya.


Aline menggeleng, "Aku akan pulang jika memang aku harus pulang Raf."

__ADS_1


Saya tarik lagi dia dalam pelukan, kali ini saya tidak ingin mencegah keinginan Aline jika memang hal itu bisa membuat hubungan kita kembali lagi.


"Jangan terlalu lama Lin, saya enggak tahu akan sanggup atau tidak!"


Saya merasakan tangan Aline meraba punggung saya, dia membalas memeluk tubuh ini. Saya yakin kamu juga tidak bisa jauh dari saya. Hanya sekarang dia sedang emosi.


"Saya mencintai kamu Lin, Saya hanya mencintai kamu, istri saya." Saya mengeratkan pelukan ini, Tidak ada gengsi atau keraguan lagi. Kalimat itu keluar begitu saja karena itulah kenyataannya.


Saya mendengar lagi, isakan tangis Aline semakin kencang di dada saya.


"Aku masih butuh waktu sendiri Raf, please!"


"Baik Lin, saya mengerti. Tolong cepat pulang Lin, jangan buat kita berdua sama-sama menyesal."


Aline mengangguk, istri saya jadi berbeda 180 derajat. Saya tidak melihat, suara berisik yang saya rindukan. Saya tidak melihat tingkah konyol Aline seperti biasanya. Saya ingin Aline saya kembali.


"Lin, saya boleh cium kamu, setelah itu saya janji akan pergi dan membiarkan kamu sendiri beberapa waktu."


Aline mengangguk, saya mulai mencium lengkuk lehernya, kebetulan da tidak memakai kerudung, saya mulai menghirup aroma tubuh Aline yang mungkin beberapa saat tidak bisa saya rasakan. Saya bisa mendengar Aline menahan nafasnya berat. Saya tatap mata Aline yang terpenjam. Saya mulai mencium kening Aline turun kedua matanya, mengecup hidung yang lembab karena lelehan air mata. Saya belai bibir Aline yang akan sangat saya rindukan.


"Angkat tangan!" Suara Komando yang membangunkan ketenangan saya saat-saat intim bersama Aline. Saya refleks melepaskan pelukan dengan Aline.


"Kalian berdua melanggar peraturan dan berbuat mesum di depan anak-anak. Kita akan melapor pada Sersan."


"Ya ampun Sayang, sepupu kamu omongannya udah ternodai,"


"Emaknya aja begitu!" balas Aline dengan nada suara seperti biasanya.


"Nathan, Natalie, kalian sudah selesai makan tidur sudah malam."


"Tidak! Kita akan berjaga disini menjaga keselamatan paman tampan dari serangan ratu kegelapan!"


Saya jadi ingin ketawa melihat dua anak kembar ini.


"Yang ada kakak yang mau di serang sama orang ini." Aline menunjuk ke arah saya. "Raf sebaiknya kamu pulang, aku mau menemani Nathan sama Natalie tidur sebelum bunda sama ayahnya datang."


"Saya akan selalu siap jemput kamu pulang Lin,"

__ADS_1


Aline tidak menjawab dan pergi merangkul dua anak kembar tantenya menuju kamar sebelahnya.


...****************...


Saya sudah tiba di rumah. Sepi! itu hal pertama yang saya rasakan ketika tiba. Tidak ada sambutan berisik dari istri saya. Tidak ada yang melempar handuk menyuruh saya segera mandi ketika pulang dari kantor.


Air mata saya tiba-tiba jatuh, saya tidak pernah merasa sesakit ini karena perempuan.


"Aline," suara itu keluar begitu saja. Saya merangkul erat guling yang biasa di pakai Aline. Saya sangat merindukan Aline, kita baru berpisah satu jam. Bagaimana dengan satu hari, satu Minggu, saya pasti tidak akan sanggup.


Saya raih ponsel, berharap menemukan foto-foto saat berdua bersama Aline. Nyatanya tidak ada! Ya ampun! Selama kita menikah! tidak ada kenangan manis yang saya buat untuk Aline. Saya memandangi saja satu-satunya foto kita berdua yang terpasang besar di dinding. Ya, itu foto akad nikah kami.


"Saya hanya mau kamu pulang Lin," saya berbicara sendiri pada foto Aline yang terlihat sangat bahagia saat acara akad nikah kita.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ........


Ei jadi melow ...

__ADS_1


Ei up lagi reader terLhopku😘😘😘😘....


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2