Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Balas


__ADS_3

Aline


Aku senang sekali bisa ketemu Farel lagi di kafe ini. Setidaknya itu mengobati rasa kesal princess yang sudah di telantarkan sama calon suami.


Bagaimana princess enggak marah dan kesal banget sama Raffa. Perutku rasanya udah kembung minum lima gelas jus strawberry di kafe ini menunggu calon suami datang. Giliran princess udah putus asa, lelah dan merana, mau pergi saja dari kafe ini. Eh, si calon suami datang ke kafe sambil gandeng ukhti berkerudung merah.


Hati calon istri mana yang enggak melebur sahabat yang budiman!


Princess langsung pasang lampu sen putar balik samperin si Raffa mau ngamuk elegan. Untung ada sahabat dan kakak kelasku sewaktu SMA Farel. Amarah princess jadi menguap dan malah pingin dengan cara halus cari tahu siapa si kerudung merah.


"Lin, kita duduk disana saja gimana? Biar nggak nganggu mereka." Farel tunjuk dengan ekor matanya Raffa sama si ukhti yang terlihat kayak pasangan bahagia itu. Lah ... padahal yang calon istri kan princess. Disini!


Kalau dalam sinetron azab pasti saat-saat begini sudah di putar backsound lagunya Mbak Rosi. Calon istri yang terlantar seperti Princess, udah nangis - nangis di tengah jalan sambil di guyuri air hujan.


"Nggak usah Rel, kalian di sini aja, biar rame," Raffa nahan tangan Farel yang sudah bersemangat mau pindahan ke kursi sebelah.


"Ya udah deh kalau begitu!" Farel kembali duduk dan buka kursi dengan lemah lembut untuk princess.


"Oh ya Lin, kenalin ini teman aku Raffa dan yang sebelahnya kamu tanya sendiri deh siapanya Pak Bos," goda Farel pada calon suami princess dan si kerudung merah.


"Hai, aku Caroline, panggil saja Aline," sapaku melambaikan tangan ke arah dua orang di depanku.


"Lin, maksud kamu apa!" Raffa gebrak meja sambil ngomong kenceng banget sampai meja disebelah-sebelah ikut noleh. Si kerudung merah sama Farel juga ikut mengangga kayak kuda Nil lihat tingkah Raffa.


Nih calon suami nggak amnesia kan!


Raffa keliatan marah sama sikap princess. Ya, dari tadi aku ambil mode pura-pura enggak kenal seperti keinginan Raffa.


"Maaf! Memang kita kenal ya?" tanyaku pada Raffa dengan gaya santai ala Aline si jelita. Aku penuhi permintaan Raffa.


Tapi kenapa Raffa pasang wajah galak gitu sih! terus dia nggak jawab pertanyaan princess nahan malu, kayak serba salah sendiri.


Muka Raffa kelihatan bete banget, antara nahan mau marahin princess atau nahan kebelet BAB beda tipis.


"Tenang Raf, kamu kayaknya salah orang ya! Kamu kan baru ketemu Aline," ucap Farel yang mungkin heran sama tingkah Raffa.


"Sori," balas Raffa kembali diam, menunduk tanpa ekspresi.


"Hai Aline, saya Alisa karyawan bagian devisi keuangan di kantor ini," sahut si kerudung merah yang ternyata namanya adalah Alisa.


Princess hanya bisa balas dengan senyum elegan, meskipun hati princess mendadak nyeri-nyeri gimana gitu.


"Ehem ... ehem ... gebetan bos bukan," celetuk Farel.


Si Alisa hanya menjawab dengam tersenyum manis. Masih abu - abu nih, aku kan penasaran, apa bener nih kerudung merah wanita pilihan Raffa. Si Raffa masih mode diam tak mengeluarkan suara apapun, sambil sesekali melirik princess dengan tatapan tajam.


Kesel sih, Raffa masih juga belum mengakui princess, aku harus bisa kontrol diri sebelum semuanya jelas.


"Lin, kamu mau pesan apa?" tanya Farel bangunin lamunanku.


Farel lagi memilah-milah menu pada iPad. "Atau aku yang pesanin kamu? Aku tahu makanan kesukaan kamu?"


"Nggak usah Rel, aku udah kenyang?" jawabku. Itu fakta sahabat, perut princess udah penuh terisi air.

__ADS_1


"Cobain wafelnya aja Pak, enak loh. Aku sama Mas Raffa sering coba itu," usul di kerudung merah.


Wadidaw! panggilan si Alisa untuk Raffa buat hati princess makin teriris ya, sepertinya memang benar dugaanku kalau Alisa wanita yang di maksud Raffa.


"Kamu mau Lin?" tanya Farel, Aku ngangguk sajalah. Kali aja hati princess adem setelah makan yang manis-manis.


Drrrt, getar ponsel dari dalam tas, aku langsung ambil ponsel. Tumben calon suami kirim chat duluan.


Calon Suami Tersayang


Lin. Kamu pulang sekarang! tunggu aku di depan.


Princess langsung melihat ke arah Raffa, dia juga kasih kode di matanya agar princess turuti keinginannya.


Oke! Makin kesel kuadrat princess sama calon suami.


"Maaf kayaknya aku mau balik duluan." Princess berdiri nurut kan perintah calon suami.


"Lah Lin, kenapa buru-buru?" tanya Farel.


"Aku ada urusan," jawabku bangkit dari kursi.


Farel ikut berdiri, "Lin, kamu naik apa? aku antar pulang gimana?"


Princess melirik ke arah calon suami, Raffa pasang wajah garang dengan sedikit menggeleng.


"Boleh Rel," jawab Princess. Princess mau uji dan bangkitkan rasa cemburu calon suami.


"Kamu kerja di kantor Raffa Rel?" tanyaku pada Farel. Kini aku sudah di dalam mobil Farel pemirsa.


"Nggak, aku di perusahaan sebelahnya?"


"Kenapa nggak nerusin bisnis orang tua aja! menjanjikan hasilnya waw!"


Aku sahabatan sama Farel dari SMA kita hobi banget gambar bareng, memang lomba bareng, pokoknya yang berhubungan sama gambar kita selalu bareng. Makanya aku tahu bisnis keluarga Farel. Bisnis keluarga Farel mengelola kepiting dan hasil laut segar untuk kebutuhan ekspor. Perusahaan keluarga Farel cukup terkenal di kota ini karena banyak membantu dan memberdayakan masyarakat sekitar. Semenjak lulus SMA kita udah jarang kontak karena tempat perkuliahan kita yang berbeda negara.


"Aku hobi gambar Lin, nggak hobby ngurus bisnis. Biar adik aku aja yang kelola,"


"Aku juga nggak bisa jauh-jauh dari gambar?" balasku.


"Sekarang kegiatan kamu apa pulang dari Prancis?"


"Nunggu rejeki datang sendiri sambil nunggu calon suami?"


"What?" Farel pasang wajah aneh.


"Ya, aku kerja freelance di rumah, kalau ada pesanan desain aku gambar, aku nggak suka kerja di perusahaan terikat dan di bawah tekanan."


"Bukan itu Lin, calon suami? kamu udah mau nikah?"


"Iya Rel," jawab princess Jujur, mulut tadi susah di rem.


"Sama siapa? Memang kamu sudah di bolehkan dekat cowok sama papi kamu?" tanya Farel galak. Ia sangatl tahu kalau princess dilarang dekat sama cowok manapun.

__ADS_1


"Sama orang lah Rel? Jodoh pilihan papi."


"Kamu mau? memang dia siapa sih?" Farel jadi galak lagi.


"Mau! aku kan mau jadi anak berbakti. Aku juga udah suka pada pandangan pertama."


"Siapa sih?" tanya Farel lagi.


Aku hanya senyum, princess nggak mau ingkar janji sama Raffa. Biar Raffa sendiri yang tunjukkan pada dunia kalau aku calon istrinya.


"Nanti juga kamu juga tahu sendiri?"


"Aku kalah lincah dong Lin, kalau kamu berubah pikiran, kamu langsung lapor sama aku ya, aku siap nunggu janda kamu!" celetuk Farel.


"Tega kamu Rel! nikah aja belum masa di doain jadi janda!" balas princess.


"Biasanya janda lebih menggoda," ucap Farel terkekeh.


Tas princess melayang ke pundak Farel.


"Canda Lin," balasnya.


Tanpa terasa mobil udah berhenti aja di depan halaman rumah.


"Makasih ya udah antar aku pulang," aku lepas seat belt bersiap turun.


"Oke, sampai ketemu lagi ya," ucap Farel nggak sesemangat tadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Assalamu'alaikum reader, btw gimana menurut kalian pengunaan dua sudut pandang di cerita Ei ini.


kalau kalian ada masukan atau kritikan tulis di Kolom komentar ya.


salam Cinta,


Einaz๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2