
Mila tidak ikut berwisata ke kota Garut ketika kakaknya mengajaknya.
Dia menemui kakaknya sambil membawa beberapa cemilan untuk di perjalanan dan juga memberikan kenang-kenangan untuk Retno, Stella dan Nancy berupa dompet kosmetik yang terbuat dari rajutan yang merupakan usaha barunya untuk dijual secara online dan juga menerima pesanan untuk kegiatan atau cindera mata.
Mila dan suaminya sangat rajin selain mereka mempunyai usaha home industri furniture dan toko furniture, mereka juga mengembangkan usaha furniturenya secara online.
Calon pembeli bisa minta dibuatkan kursi, meja, lemari atau apapun sesuai keinginan.
Dan sekarang mencoba membuat dompet kosmetik dari bahan benang rajutan dan diberi merk "TanMar Collection" sesuai nama kedua anak mereka.
"Mila..semalam mertua ganjenmu datang kesini, tahu darimana dia aku ada disini. Bukannya aku sudah mewanti-wanti kamu yah," Yohan bertanya dengan sedikit kesal kepada adiknya.
"Wah, Mila sama Ridwan engga bilang kok, mungkin anak-anak cerita kemarin sore ... hahahahha....maaf aku engga tahu dia datang kemari ".
"Hahahahahah... unik yah mbak mertuaku," seru Mila dan dia menatap Retno.
Retno juga jadi tertawa mengingat kejadian semalam.
"Dia itu ibu tirinya Ridwan mbak, tapi yah begitu orangnya seperti orang stress. Sudah dinasehati dan dibilang jangan dandan aneh, tapi yah seperti itulah dia kadang jadi membuat kami juga malu loh," Mila melanjutkan penjelasannya.
"Iya mbak paham kok Mila, sesungguhnya kasihan juga orang seperti dia yah, tapi bersabar saja tetap mengingatkan walau bagaimana juga kalian ada keterikatan dengannya," Kata Retno kepadanya dan Mila membenarkan apa kata Retno.
Kebetulan ada Mila, kemudian Yanes mengajaknya menemui Yohan untuk meminta ijin kepada Yohan," Ko begini, ini rumah kan besar sementara yang tinggal disini Yanes sendiri".
"Jadi kemarin berunding dengan Mila, kebetulan ada sedikit uang, lalu kami mau bergabung merenovasi rumah jadi tempat kost juga".
"Nanti toko juga direnovasi mau bikin seperti rumah ko Yohan, toko dibawah dan rumahku di atas," Yanes mengutarakan rencananya.
Dan nanti Yanes dan Mila akan berbagi hasil usaha.
Menurut Yohan silahkan saja yang penting antara adik kakak nanti jangan sampai ribut soal uang.
Harus ada keterbukaan soal pendapatan. Dan yang penting harus sedekah, menyantuni orang tidak mampu.
Memang Yohan selalu berusaha bijak dalam berpikir dan melakukan segala hal, dan itu yang membuat Retno semakin jatuh hati kepadanya.
Kedua adiknya mendengarkan dan akhirnya sepakat dengan apa yang dipesankan kakaknya.
Rombongan Yohanpun pamit kepada Mila, nanti setelah wisata ke kota Garut akan langsung kembali ke kota Bandung
Rencananya Yanes nanti kembali sendiri naik bis.
Kemudian merekapun melaju menuju kota Garut.
Selagi Mila menutup pagar rumah, tiba-tiba datang sepeda motor yang di bagian depannya ada keranjang berisi anjing puddle dan tampak Aling menggendong ransel juga mengenakan kacamata hitam.
"Mama Aling mau kemana?" tanya Mila.
"Idih.. Mila yah..aku mau jalan-jalan sama koko Yohan tercinta," jawabnya sambil bergaya genit.
Sambil tersenyum dan juga menahan tawa Mila berkata,
"Mama Aling, sepuluh menit lalu koko sama rombongan sudah kembali ke kota Bandung loh".
Nico memang pengemudi yang handal, dari awal perjalanan sampai sekarang dia selalu setia di balik kemudi.
Dan Randi bak Co Pilot, aktif mengarahkan jalan sambil mengaktifkan GPS.
Yohan saat awal berangkat duduk paling belakang bersama Nancy.
Seharian kemarin di kota Tasikmalaya berjalan- jalan dia duduk dibelakang bersama Yanes adiknya.
Khusus hari ini dia ingin di belakang bersama Retno.
"Neno dibelakang yuk, males aku duduk sama Yanes. Sepet rasanya," ajak Yohan kepada Retno dan diiyakan oleh Retno.
Maka dibagian tengah posisi duduk adalah Yanes dan Stella masing-masing dipinggir pintu kiri dan kanan, sementara Nancy diantara mereka berdua.
" Pa..aku tuh males sebelah oom nih, rusuh orangnya," Nancy duduk sambil merengut manja.
" Oom kasih ketek juga nih kalo rewel," Yanes menggoda keponakannya dan Nancy auto tutup hidung.
Stella sangat senang dengan keakraban keluarga mereka, terbersit rasa ingin memiliki keluarga seperti itu.
Di sepanjang jalan Yanes mencoba mencari penginapan untuk di kota Garut dengan menggunakan salah satu aplikasi wisata melalui handphone nya.
"Saya engga paham loh aplikasi seperti itu, karena engga pernah wisata seperti ini. Dari Randi kecil sampai segede ini, engga pernah sekalipun wisata bareng sama keluarga".
"Dulu papihnya Randi kemana-mana pergi sendiri, sementara kami terkungkung di rumah," Stella menceritakan sambil seraya meratapi nasibnya.
Dan disambut oleh Nancy,
"Curhat bu...".
Stella terdiam sejenak dan akhirnya sadar Nancy sedang menggodanya, lalu dia menggelitik pinggang Nancy.
Sepanjang jalan ada saja kerusuhan blok tengah, yang pasti antara Yanes dan Nancy sehingga otomatis Stella juga jadi terbawa-bawa.
Seperti misalnya ketika Nancy merebahkan kepalanya di paha Yanes,
" Oom ngantuk jangan bergerak yah".
Lalu Yanes membuka-buka ruas rambut Nancy ," Amit-amit ih kamu perawan banyak kutu".
Lalu Nancy mencubit paha Oomnya, dan Oomnya mengaduh.
Lalu Nancy bangun terduduk, saat itu Stella juga jadi iseng,
" Aduh Nan..awas aah nanti kutunya kena tante".
Hahahah...semua tertawa dan Nancy kembali cemberut manja sambil kembali mencubit oom nya," Gara-gara oom nih".
__ADS_1
Randi melihat ibunya tertawa lepas sejak kemarin merasa bahagia, dia memang belum pernah melihat sang mamih begitu bahagianya.
Ada rasa iri juga di hatinya saat melihat betapa beruntungnya Nancy berada ditengah keluarga yang begitu saling menyayangi, walau mungkin mereka semua orang biasa saja.
Sementara dulu dia pernah menjadi anak orang berada bahkan memiliki segalanya tapi satu yang tidak pernah dimilikinya yaitu rasa bahagia.
"Nico, gantian dong biar oom saja yang nyetir, kamu duduk di sini deh," kata Yanes.
"Maaf oom saya sih sopir jadi nyetir saja oom," jawab Nico.
"Engga apa-apa gantian yuk, Oom juga pengen nyetir daripada duduk disini," Yanes berkata sambil melihat Nancy.
"Makasih oom, biar nyetir saja engga mau dekat Nancy takut naksir," jawab Nico lagi.
"Emang engga mau kamu naksir Nancy?"Tanya Yanes sambil tertawa.
"Engga oom makasih, galak soalnya," jawab Nico lagi sambil tertawa.
Dan tiba-tiba ada tangan dari belakang menjitak kepala Nico.
Semua pun tertawa melihatnya.
Melihat keramaian di kursi tengah dan depan, Yohan dan Retno hanya ikut tertawa saja melihatnya.
Mereka berdua menikmati perjalanannya, hati keduanya berbunga-bunga.
Retno menyandarkan kepalanya ke bahu Yohan dan tangan mereka berdua saling bergenggaman.
Lalu tangannya merengkuh pinggang Retno dan mendekatkan bibirnya ke telinga Retno, kemudian dia berbisik ," Aku jadi gemes pengen menerkam kamu, engga tahan rasanya".
Mendengar itu, Retno menyipitkan matanya sambil memandang kearah Yohan dan mencubit pelan pinggang Yohan sambil berbisik," Mesum deh mulai".
Dan Yohanpun meringis sambil tetap semakin mengencangkan pelukannya dipinggangnya Retno.
Tak lama sekitar satu jam perjalanan mereka tiba juga di kota Garut.
Sebelum ke penginapan mereka mencari rumah makan dulu untuk makan bersama.
Akhirnya mereka menuju rumah makan sunda, dan duduk di saung-saung.
Ikan bakar, ayam goreng, tahu, tempe, sayur asem dan tentu saja sambal lalab menjadi pesanan favorit.
Dan mereka semua makan dengan lahap, lalu mereka juga memesan kelapa muda, semakin lengkap nikmatnya makan siang hari itu.
Benar-benar puji Syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesehatan dan kebahagiaan senantiasa.
Stella sungguh merasa bahagia sekali, wisata yang sungguh belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Selesai makan Yanes yang mentraktir semuanya, Stella menjadi tidak enak dan dia menawarkan untuk berbagi.
Namun ditolak oleh Yanes, sebenarnya Stella merasa tidak enak hati.
Dia memang menyediakan sarana mobil, tapi sejak kemarin yang mengisi bensin dari kocek Yohan, jalan-jalan dan makan dari Kocek Yohan.
Dompetnya benar-benar utuh, dan dia bisa menilai bahwa benar keluarga Yohan tidak memanfaatkan Retno sama sekali.
Menjelang sore mereka tiba di penginapan, Yanes memesan 1 unit Villa dengan 3 kamar tidur.
Ada 1 kamar besar dengan fasilitas 1 kasur ukuran king size dan 1 extra bed, untuk kedua ibu-ibu dan 1 gadis.
Sementara 2 kamar lainnya kasur twin bed untuk 2 pria kakak beradik dan 2 pria muda sahabat karib.
Di depan kamar ada kolam renang air hangat, mereka berencana nanti malam akan berendam di sana.
Pemandangan seputar Villa begitu indah sekali, mereka bisa melihat pegunungan dan hutan-hutan cemara.
Hawa dingin merambati kulit mereka , hembusan semilir angin menambah kenikmatan sore itu.
Di villa disediakan teh hangat dan cemilan sore, mereka semua berkumpul sambil menikmatinya di teras villa.
Yohan dan Retno berjalan-jalan di sekitar Villa dan sambil menikmati sang matahari yang akan terbenam Yohan memeluk pinggang Retno. " Sayang, lama-lama aku bener-bener engga tahan deh pengen cepet meremas-remas kamu," kata Yohan sambil memeluk gemas.
"Emangnya aku kerupuk di remas, enak saja," kata Retno sambil menggenggam tangan Yohan.
Lalu Yohanpun mengecup pipi Retno dan yang tercium wajahnya memerah.
Sejam setelah makan malam, merekapun menceburkan diri untuk berendam di air kolam air panas.
Hawa dingin di luar, lalu sambil berendam air panas terasa begitu nikmat.
Ditambah disisi kolam ada gelembung- gelembung air bertekanan tinggi membuat punggung serasa dipijat.
Randi, Nico, dan Oom Yanes berlomba berenang, sementara Nancy dan Stella menjadi juri dan juga juru teriak.
Memang Oom Yanes ada saja idenya, lomba renang, lomba tahan nafas di air dan yang paling parah lomba kentut di air.
Bahkan Stella dan Nancy juga ikut lomba-lomba konyol seperti itu.
Stella menikmatinya dengan bahagia.
Sementara di ujung lain kolam ada sepasang insan yang juga menikmati memadu kasih, berendam sambil ngobrol berbisik-bisik dari hati ke hati sambil saling menggenggam. (#authorjadipengenpacaranlagihihihihi)
Sesungguhnya ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Retno, dia bimbang ingin menyampaikan rahasianya tapi ragu takut Yohan akan kecewa dan meninggalkannya.
Tapi kalau tidak diungkapkan mungkin Yohan nanti tahu belakangan pasti akan lebih kecewa.
Maka dia memberanikan diri bicara kepada Yohan," Mas sayang, sebenarnya ada suatu hal yang ingin aku sampaikan. Tapi aku takut mas akan kecewa kepadaku".
Yohan memandang Retno lalu berkata," mau bilang apa, sampaikan saja soal aku kecewa atau tidak kan aku belum mendengar".
Sambil menghela nafas panjang akhirnya Retno bercerita, bahwa sesungguhnya suami Stella dulu adalah kekasihnya yang meninggalkannya.
__ADS_1
Dia juga bercerita saat ketemu Retno di kampus dan saat saling memaafkan diantara mereka karena memang Hendrico yang telah menjahati mereka berdua.
Yang terberat adalah saat harus mengatakan dengan jujur bahwa dia sesungguhnya sudah tidak suci lagi, Hendrico dulu merengutnya keperawanannya setelah bertunangan.
Waktu itu dia terpaksa karena Hendrico berjanji agar tidak usah khawatir karena mereka akan segera menikah.
Tapi ternyata Hendrico meninggalkannya karena telah menghamili Stella dan diam-diam menikahinya.
Kemudian Retno juga bercerita tentang kemungkinan dia tidak bisa mempunyai keturunan karena beberapa tahun lalu ada tumor ganas di rahimnya.
Sehingga rahim dan kedua indung telurnya harus diangkat.
Walau memang ada siklus bulanan tetapi tidak seperti wanita normal pada umumnya.
Itulah mengapa dia lama tidak menikah dan selalu menolak.
Karena merasa tidak mungkin menjadi istri yang sempurna bagi seseorang.
Lalu Yohan menarik pundak Retno dan mereka duduk saling berhadapan.
" Sayang, terima kasih kamu sudah jujur tentang kesucianmu, dan terima kasih juga sudah bercerita tentang rahimmu. Dan.... aku tidak peduli, aku ini duda bukan perjaka... hahahaha... ", Kata Yohan.
Lalu dia menarik dagu Retno mengarahkan ke Nancy yang sedang tertawa-tawa bersama yang lainnya.
Lalu jarinya menunjuk ke arah Nancy sambil berkata kepada Retno," itukan anak kita sayang".
Retno memandang Yohan dan menitikan air mata, Yohan mengusap air mata di pipinya lalu meraih Retno dalam pelukannya.
Dan auto terdengar teriakan,
" Woiiii belum sah Woiii ..!!! bahaya Woooiiiii..!!!.awas digerebek hansip wooiii....!!!
Dan komplotan yang berteriakpun tertawa beramai-ramai.
Hari ini senin pagi tapi hari ini libur nasional sehingga semua masih berbaring- baring di atas kasur di villa.
Tak lama Yanes menggebrak- gebrak semua, diajaknya jalan-jalan berkeliling Villa.
Akhirnya semua tim berangkat keluar Villa berjalan kaki.
Ternyata banyak penjual sarapan pagi, oleh-oleh dan juga sayuran segar.
Mereka terhenti di penjual surabi, dan mereka juga semangat memesan bermacam- macam rasa. Ada surabi telur, ada surabi oncom dan juga ada surabi manis.
Penjual juga menyediakan kopi hangat dan teh hangat.
Benar-benar merasa takjub Stella dengan perjalanan ini, dia luar biasa gembira hatinya, semua luka batinnya terobati.
Setelah puas berjalan-jalan dan berbelanja oleh-oleh mereka kembali ke villa.
Pria muda dan si gadis kembali berenang, sementara ibu-ibu mulai mandi dan mulai berkemas.
" Neno, aku senang sekali jalan-jalan ini, rasanya beban ini lepas dari pundak".
"Sungguh aku belum pernah merasakan seperti ini, anugerah buat aku ketemu kamu dan berkenalan dengan keluarga ko Yohan," ujar Stella sambil terlihat wajahnya begitu cerah.
Lalu Retno juga bercerita kepada Stella bahwa dia sudah jujur kepada Yohan dan bersyukur Yohan tidak mempermasalahkan.
Lalu bergiliran mandi dan berkemas.
"Jadi kapan rencana renovasinya Yan?" tanya Yohan sambil menghirup teh hangatnya.
"Dua atau tiga hari lagi, dan yang merenovasi juga masih temanku jadi harganya tidak mahal," jawab Yanes.
" Sebenarnya jangan asal murah juga Yan, tapi yang bisa membuat perhitungan yang tepat," kata Yohan lagi.
"Kalem bro, temanku insinyur dan sudah pengalaman bahkan dia yang memberikan saran agar nanti rumah kita bisa jadi lebih baik," kata Yanes dan Yohanpun mendukungnya.
Hari sudah menuju siang, dan mereka pun harus cek out.
Kemudian Yanes minta diantarkan ke terminal bis saja untuk kembali ke kota Tasikmalaya.
Sebelum pamitan mereka makan siang dulu, kali ini menunya nasi liwet, ikan asin, dan sambal tomat pedas.
Wah, kembali Stella merasa senang karena makan dengan suasana yang penuh keakraban dan keceriaan.
Dia makan lahap sekali, sampai anaknya geleng-geleng kepala keheranan melihat mamihnya begitu banyak makan dan terus ketawa ketiwi.
Biasanya mamih banyak diam, sensian dan sikapnya skeptis selalu mencurigai segala hal.
Tapi sekarang dia bebas banyak bicara dan bebas tertawa gembira.
Setelah makan merekapun menuju terminal bis, Yanes berpamitan kepada semuanya sebelum turun dia berkata kepada Stella," Nanti kabarin yah kalau jadi bisnis kainnya, nanti saya bantu".
"Bantu pemesanan, bantu pengiriman dan bantu mengisi hatimu".
Sontak Nancy yang duduk di sebelahnya menyahut," Wah ngarep oom sih".
Lalu Yanes pun mengusap wajah Nancy sambil turun dari mobil.
Dan Nancy bersungut-sungut mengomel atas tingkah Oomnya.
"Oom makasih yah sudah menemani dan mentraktir kami," kata Randi di depan mobil sambil menepuk bahu Yanes.
Lalu Yanespun menepuk balik bahu Randi dan Nico.
"Nanti kalau kalian liburan panjang main ke tempat oom, nanti ku ajak kalian kemping dan mancing".
Keduanya pun langsung mengiyakan,
" Siap Oom!!!"
__ADS_1
Dan merekapun saling menempelkan kepalan tangan bersalam tinju.