
Author POV
Papa Ervan mengajak anak dan istrinya menuju ruang keluarga. Suasana menjadi sedikit canggung. Raffa dan Mama Riri saling pandang mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Raffa mengangkat bahu menandakan dia juga tidak tahu papanya mau bicara apa.
"Pa, ada apa Pa?" tanya Mama Riri mendekati suaminya.
"Ma, tadi Papa dari omahnya Raffa. Keadaan Mama belum ada perubahan."
"Maaf Pa, tadi ada Mama nggak ikut kesana karena ada Aline mau kerumah," ucap Mama Riri.
"Nggak apa-apa Sayang." Ervan membelai pipi istrinya yang masih mulus di usia yang menginjak kepala empat.
"Terus keadaan omah gimana Pa?" tanya Raffa.
"Itulah yang mau Papa bicara dengan kalian," balas Ervan.
"Gimana Pa, gimana?" tanya Raffa semakin penasaran.
"Jadi tadi Papa, Mas Ervin dan Ervira sepakat untuk membawa omah berobat di Belanda terus menjalani pemulihan di Singapura."
"Omah dan opah kamu akan tinggal di Belanda sampai pengobatan selsai dan selanjutnya akan menjalani pemulihan di Singapura."
"Papa sama Mama akan menemani omah ke Belanda?" tanya Raffa.
"Nggak Nak, omah sudah punya perawat pribadi. Mungkin Papa dan yang lain akan berkunjung ke Belanda sebulan sekali."
Raffa mengangguk mencoba memahami, apa hubungan semua ini dengan rencana pernikahannya?
"Raf, omah bilang sama Papa, omah tidak mau melewatkan pernikahan kamu dan Aline. Sebelum omah kamu berangkat ke Belanda dia ingin lihat kamu menikah terlebih dulu."
"Pa, rencana pernikahan Aline dan Raffa kurang lebih satu setengah bulan lagi. Memangnya omah mau pergi ke Belanda kapan?" tanya Mama Riri.
"Sekitar dua mingguan lagi sayang mama operasi, kita tinggal pilih mempercepat pernikahan Raffa atau mengundur beberapa bulan sampai omahnya kembali."
Riri jadi diam, mempercepat pernikahan tidak mungkin, jika menunda itu masih terlalu lama. Sedangkan Aline sudah sering bolak-balik bersama Raffa. Bukankah itu tidak baik untuk dua insan yang belum halal.
"Kalau Papa setuju pernikahan mereka di percepat. Membiarkan Raffa dan Aline terlalu lama tanpa ikatan pernikahan akibatnya bisa tidak baik," ucap Ervan.
"Mama satu pemikiran dengan Papa," balas Riri.
"Menurut kamu gimana Raf! kamu mau dipercepat dua Minggu lagi atau di tunda tiga sampai lima bulan sampai omah kamu kembali?"
__ADS_1
Raffa hanya mengacak kepala pusing. Ia memang sudah pasrah akan menikah dengan Aline, tapi waktu mendadak untuk jadi pengantin. Apakah dia siap? Sedangkan masih banyak hal yang belum ia selesaikan terutama masalah Alisa. Tapi kalau di tunda, akan muncul lagi masalah-masalah baru.
"Menurut baiknya Papa dan Mama aja gimana?" jawab Raffa pasrah.
"Pa, kalau menurut Mama, bagaimana kalau mereka kita nikah kan saja dulu, biar mereka sah dulu, untuk masalah pesta atau resepsi kita adakan setelah omahnya pulang. Lagipula Mama yakin WO akan menolak acara di percepat mendadak." Usulan Mama Riri.
"Setuju sayang, tapi masalahnya, apa keluarga Adrian setuju kita membuat acara sederhana tanpa resepsi. Lagi pula dengan kondisi Omah Raffa yang seperti ini, kita tidak mungkin mengadakan acara besar-besaran."
"Mama yakin mereka bisa maklum Pa. Nanti kita tanya mereka, mereka ingin penikahan di percepat atau di undur," balas Riri.
"Papa harap mereka mau pernikahan Aline dan Raffa di percepat dan dilangsungkan secara sederhana dulu, karena keadaan omah Raffa yang tidak memungkinkan."
"Mudahan Pa, kamu siap kan Raf," Mama Riri menepuk pundak Raffa.
"Insyaallah siap Ma," jawab Raffa. Harus siap tidak siap, yang ia yakini adalah pilihan orang tuanya yang terbaik.
...****************...
Keesokan malamnya, keluarga Raffa berkunjung ke rumah Keluarga Aline. Papa Ervan sudah menjelaskan duduk perkaranya pada Papi Adrian.
Kedua keluarga berkumpul di ruang tamu rumah Aline. Suasana nampak sedikit tegang karena rencana semula yang sudah tersusun rapi, harus di musyawarahkan lagi untuk kebaikan dua keluarga calon pengantin.
"Jadi menurut kamu gimana Ndri?" tanya Ervan pada Adrian.
Pasalnya keluarga besarnya sudah berencana mengadakan pesta yang besar dan mewah karena ini pernikahan pertama cucu keluarga Bagaskoro.
"Kalau menunda rasanya akan terlalu lama Van, kalau aku bisa ngerti tapi keluarga ayah pasti kecewa karena pernikahan cucu pertamanya di adakan secara sederhana," sahut Tiara.
"Mengadakan pesta mewah di tengah kondisi Tante Niah yang sakit memang tidak pantas. Tapi jika mereka terlalu kama menunggu tidak baik juga," balas Adrian.
"Ndri, keluarga kita cuma punya satu solusi, kita sah kan saja dulu kita jaga anak kita terhindar dari perbuatan maksiat, terus kita tunda resepsinya. Lagipula WO tidak bisa menerima acara pernikahan mewah yang di selenggarakan mendadak." Lanjut Ervan.
Adrian dan Tiara saling pandang, memang tidak ada pilihan lain, memaksa kemewahan di tengah orang yang sakit tentu tidak akan baik. Kalau berpesta pun rasanya pasti adanya ganjal.
"Ya udah Van, aku tanyakan Aline dulu, dia harus siap menikah dua Minggu lagi. Setelah itu aku akan kasih pengertian kepada keluarga besar," seru Adrian.
Semua keluarga mengangguk menunggu kedatangan Aline. Tak lama, Aline bergabung dengan keluarganya dan keluarga calon suami. Sebenarnya Aline sempat menguping pembicaraan orang- orang dari dapur, tapi karena jauh jarak mendengar dapur dan ruang tamu ia hanya bisa mendengar bisikan-bisikan ghaib saja.
"Sini princess," seru Adrian. Papi tercinta Aline sejak kecil sering memanggil Aline dengan sebutan itu kerena dia anak satu-satunya, dan cucu kesayangan kakeknya.
Wanita paling muda ini melihat wajah-wajah kedua keluarga sangat serius, tidak ada yang mulai bercanda seperti biasanya ketika dia datang.
__ADS_1
"Lin, sesuai kesepakatan keluarga. Rencana pernikahan kamu dan Raffa akan di majukan. Bagaimana menurut kamu?" tanya Adrian.
Aline membulatkan mata, antara senang dan kaget. Ia melihat ke arah calon suaminya yang nampak biasa-biasa saja dengan rencana keluarga yang akan mempercepat pernikahannya.
"Seberapa cepat Pi? Bukan besok atau lusa kan?" jawab Aline belum siap lahir batin harus dipaksa menikah mendadak.
Mendengar ucapan Aline, seluruh keluarga sempat mengulas tawa. Mereka tahu Aline panik sebagai calon pengantin.
"Nggak sayang, tapi pernikahan kamu akan di langsungkan dua minggu ke depan," jawab Adrian.
Alien berpikir sejenak, cepat atau lambat dia bakalan nikah juga kan. Kalau pun dipercepat dua Minggu lagi, tidak masalah. Hitung-hitung mempercepat masa-masa trainee ke dunia rumah tangga yang sesungguhnya.
"Aline siap saja Pi, kalau memang itu pilihan terbaik," ucap Aline.
"Terima kasih Lin, kamu memang anak yang penurut dan pengertian," balas Ervan mendengar jawaban Aline. Aline mengangguk pada calon mertuanya.
"Alhamdulillah kalau seperti, tapi Lin. Pernikahan princess ala negeri dongeng harus di tunda sampai omah Raffa pulang dari pengobatan di Belanda. Kita hanya akan mengadakan akad nikah dan acara keluarga. Bagaimana sayang?" tanya Adrian, sebenarnya tak ingin putrinya kecewa.
Aline diam sejenak, pernikahan bak putri raja yang di inginkannya harus di tunda? Bukankah itu tidak masalah! Yang penting pangerannya bawa princess keluar dari rumah, dan hidup berbahagia.
"Tidak masalah Pi, menikah kan bukan hanya sekedar kemewahan pesta, tapi kehidupan rumah tangga setelah kita menikah kan," ucap Aline.
Semua kembali membaca hamdalah mendengar pernyataan Aline.
"Kamu benar-benar calon kita Lin, mudahan rumah tangga kalian nantinya akan bahagia dunia dan akhirat." Mama Riri mendekat ke arah Aline dan memeluknya.
Aline membalas pelukan Mama Riri, ia juga berharap bisa menjalankan rumah tangga dengan baik seperti orang umumnya. Meskipun sebelumnya ia setuju-setuju saja dengan kesepakatan dengan Raffa membuatnya perjanjian pranikah.
.
.
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1
Sori narasinya agak kaku, soalnya Ei kebiasaan bab sebelumnya memakai dua sudut pandang 😁
.