Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 81 Masa Lalu


__ADS_3

Minggu pagi ini, keluarga Ervan sudah sampai didepan rumah keluarga Wijaya setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari rumah mereka.


Ketiganya melangkah masuk kedalam rumah besar keluarga Wijaya. Sedangkan Abel seperti biasa langsung naik ke tangga ke kamar Kayla.


"Assalamu'alaikum Ma... Pa." Sapa Ervan pada kedua orangtuanya yang menunggu di ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam...." Sahut Bu Niah dan Pak Toni bersamaan. Riri dan Ervan mencium punggung tangan Bu Niah dan lanjut tangan Pak Toni.


"Datang juga yang ditunggu-tunggu." Kata Bu Niah.


"Udah gede, cucu Papa..." Tanya Pak Toni.


''Ya Pa, InsyaAllah dua bulan lagi Riri melahirkan...." Jawan Ervan.


" Alhamdulillah, Oh ya Ri, Mama juga udah booking instruktur senam hamil, yoga, praktisi penyeimbang gizi, nanti dia setiap hari datang ke rumah kalian untuk cek kesehatan Riri..." Kata Bu Niah.


"Apa..." Kata Riri kaget. "Maaf Ma, Maksud Riri, apa nggak berlebihan Ma, harus punya instruktur pribadi..." Lanjut Riri merasa terlalu berlebihan harus punya instruktur pribadi, Riri sebenarnya lebih senang pergi ke tempat yoga beramai-ramai dengan sesama ibu hamil supaya bisa sambil saling berbagi pengalaman selama kehamilan.


"Ya, nggak apa-apa sayang, biar kamu lebih fokus nanti kalau sendiri...."Ujar Ervan merangkul dan mengelus perut Riri.


"Ya Ma, terima kasih Ma, Mama udah repot-repot ikut ngurusin Riri..." Jawab Riri.


"Ri, Mama itu Ibu kamu juga jangan gitu, ayo ikut Mama, Mama mau kasih kamu sesuatu...." Ujar Bu Niah mengandeng tangan Riri.


Ervan yang penasaran minta ijin ke pada Pak Toni untuk mengikuti istri dan Ibunya itu kelantai dua.


Bu Niah mengajak ke bekas kamar Ervan yang biasa Riri dan Ervan pakai untuk beristirahat ketika berada dirumah keluarga Wijaya. Riri terkejut dengan semua benda yang ada dikamar tersebut.


Ya Allah ini Babyshop pindah tempat. Riri.


"Ma, ini semua buat baby Riri..." Riri melihat perlengkapan bayi yang begitu lengkap berada dikamar.


Riri melihat ada box bayi lengkap dengan perlengkapan tidur bayi, ada bouncer seat, stolleer bayi, ayunan bayi serta 3 lemari dengan berbagai ukuran. Bu Niah membuka satu persatu lemari, lemari pertama berisi baju bayi, yang kedua perlengkapan bayi, yang ketiga accecoris bayi.


"Ma ini semua buat anak Riri...." kata Riri Masih tidak percaya seperti melihat baby shop pindah.


"Ya Ri buat siapa lagi, buat cucu Mama, kalau masih ada yg kurang kamu ngomong sama Mama..." Sahut Bu Niah.


"Nggak Ma, ini malah sudah sangat lengkap Ma, Makasih Ma...." jawab Riri.


"Alhamdulillah sayang, rejeki anak kita..." Ervan yang muncul tiba-tiba merangkul pundak Riri.

__ADS_1


Riri tersenyum senang sambil tangannya memegang gemas baju bayi lucu.


"Mama juga udah sewa design interior untuk dekorasi kamar kosong kamu di lantai dua buat kamar bayi, kalau udah selesai perlengkapan bayinya akan mama pindah kesana." Ucap Bu Niah lagi.


Riri terharu betapa baiknya mertuanya sampai kamar bayi saja di perhatikan.


"Terima kasih loh Ma, jadi repotin Mama..." Kata Ervan.


"Ya... Mama bantu Riri, biar Riri fokus sama kehamilan aja, nggak mikirin kuliah atau kerepotan mengurus perlengkapan bayi." Jawab Bu Niah.


Setelah melihat perlengkapan bayi, Ervan pun meminta pamit menemui Papanya lagi. Bu Niah mengajak Riri duduk di sofa disebelah ranjang. Bu Niah memgambil dari laci meja sofa sebuah album foto. Bu Niah menyerahkan pada Riri.


"Itu album foto acara tujuh bulanan ibu Abel, dan foto bayi Abel..." Kata Bu Niah.


Riri yang penasaran langsung membuka foto album, Riri melihat dari foto betapa mewah dan meriahnya acara tujuh bulanan Amanda almarhum istri suaminya, dilihat lagi beberapa foto suaminya yang berbeda dengan sekarang.


"Ma...Ini Mas Ervan, Mas Ervan muda banget Ma, kayak masih anak SMA...."


"Iya itu suamimu, gimana nggak muda Ri, suamimu belum lama lulus SMA, baru beberapa bulan kuliah udah dipaksa nikah Papanya sama Amanda...." Cerita Bu Niah.


"Ya Ma, Mas Ervan pernah cerita sama Riri...."


"Sekarang Mama lega, Ervan punya istri pilihannya sendiri yang baik, pengertian, bisa ngurus suami sama anaknya seperti kamu, nggak seperti Amanda mata duitan yang ada di pikiran karir terus, jarang ngurusin keluarganya sama kayak Tiara....." Cerita Bu Niah.


"Ya, Mama percaya sama kamu...." Jawab Bu Niah.


Riri membuka lagi Album selanjutnya melihat foto Abel yang nampak lucu ketika masih bayi. Karena ibu abel Amanda masih berdarah Turki, Abel baby nampak lucu seperti bayi blasteran. Riri tersenyum sendiri membayangkan nanti wajah bayinya mirip dengan siapa.


"Ini siapa Ma...kenapa dia mirip sekali dengan ibunya Abel..." Tanya Riri pada buat Niah melihat foto wanita membawa bayi Abel dengan wajah yang mirip dengan Amanda.


"Itu Miranda adeknya Amanda, waktu itu setelah kepergian Amanda, Ervan juga disuruh nikah sama Miranda, tapi Mama nggak setuju, Mama nggak mau Ervan hidupnya diatur-atur lagi, hanya demi bisnis keluarga, Mama mau anak Mama memilih pilihan hatinya sendiri..."


"Ya Ma, Riri sangat bersyukur bisa punya suami yang mencintai Riri dengan tulus seperti Mas Ervan..."


"Mama juga terima kasih ya, kamu udah jaga Ervan dan cucu Mama.."


Riri dan Bu Niah menghabiskan waktu bersama dikamar bernostalgia menanyakan masa lalu Ervan yang sedikit demi sedikit terungkap.


Handle pintu terbuka, Ervan nampak kembali ke kamar setelah beberapa jam berada di lantai bawah.


"Ya udah Mama mau keluar dulu. Kalian istirahat saja..." Kata Bu Niah bangkit, Riri mengangguk kepalanya dan menunduk.

__ADS_1


Setelah Bu Niah pergi meninggalkan kamar, Ervan langsung memeluk istrinya dari belakang yang masih asik melihat album foto.


"Mama cerita apa aja sayang..." tanya Ervan.


"Banyak Mas. Tentang Abel, tentang Mas..." Jawab Riri.


"Sayang, kamu capek nggak, kita Olahraga yuk, tadi malam kita nggak sempat..." Kata Ervan yang mulai mencium pundak Riri.


Terdengar suara hadle pintu terbuka Ervan langsung melepas pelukannya, Abel dan Kayla masuk dengan semangat.


"Kenapa kalian kesini..." Tanya Ervan pada dua bocah.


"Abel sama Kayla mau liat baju adek Pa..." Jawab Abel.


Ervan pun mengalah dan tak bisa mengusir kedua bocah karena mereka nampak semangat melihat-lihat perlengkapan dan baju -baju bayi yang disiapkan Bu Niah.


Riri berdiri mendekati suaminya, dia mendekat wajahnya berbisik pada suaminya. "Mas, Nanti malam aja ya dirumah..."


"Ya sayang terpaksa, tapi janji ya nanti jatahnya doubel ya..." balik Ervan berbisik di telinga istrinya.


Riri mencubit perut suaminya. "Mas nakal banget sih....."


"Sakit sayang...." keluh Ervan memegangi perutnya.


.


.


.


.


.


.


.


Next....


(next part gantian Tiara mengungkapkan masa lalunya...Adrian bisa terima nggak ya ...mau digabung takut kepanjangan😁😁😁😁)

__ADS_1


Terimakasih sudah sabar nunggu up dari author.


jangan lupa ya like koment vote bikin author semangat upπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2