
*Dia bilang sama Mas kalau perusahaannya bangkrut karena korupsi besar-besaran mantan suaminya yang membuat produksi tidak maksimal...."
"Ini record perusahaan Amanda sesuai penyelidikan....." ujar Ervin menyala layar proyektor.
Ervan dan Riri melihat dengan seksama layar yang ada di depannya. Mendengar penjelasan Ervin.
"Kesimpulan nya bisnis Miranda bangkrut karena cara mereka terburu-buru sedikit kotor, demi mendapatkan keuntungan, bisnis mereka memang mendapat untung besar didepan tapi ketika ada gejolak ekonomi bisnis mereka akan anjlok..."
"Mas Ervin yang paling tahu bisnis ini, aku benar-benar binggung Mas harus ambil keputusan apa..." Kata Ervan.
"Kamu tenang Van, Mas sudah punya rencana yang tidak akan merugikan keponakanku di masa depan, kita tunggu sampai Miranda datang....." Kata Ervin.
Riri dan Ervan hanya berharap semuanya bisa terselesaikan dengan baik**.
"Mas, apa Mas yakin Miranda akan setuju dengan rencana Mas...." Tanya Ervan ketika Ervin menjelaskan rencana dengan rinci tanpa merugikan semua pihak.
"Dia tidak punya pilihan lain Van, karena berdasarkan rekam jejak perusahaannya Miranda tidak akan mendapat pinjaman dari manapun, itu sebabnya dia mengincar hak Abel...."
"Kenapa Miranda berbohong padaku, awalnya aku merasa iba dengan Miranda banyak sekali cobaan hidup yang dialaminya, sebagai teman aku hanya menghiburnya sesekali memberi semangat. Ternyata dia bangkrut karena ulahnya sendiri...." Keluh Ervan.
"Van, hanya pengusaha bodoh yang mengakui bisnis mereka kotor dan banyak melibatkan pejabat pemerintah didaerahnya." Terang Ervin.
Riri yang tak pernah mengerti dengan pembicaraan bisnis antara kedua laki-laki dihadapannya memilih menyimak saja. Riri hanya ingin yang terbaik untuk Abel. Riri dan Ervan sepakat mengikuti langkah yang di ambil Ervin. Tak lama berselang, seorang wanita yang tak lain adalah sekertaris Ervin mengentuk pintu dan masuk.
"Permisi Pak, atas nama Miranda ingin menemui bapak..."
"Suruh Dia masuk..." Balas Ervin.
Ervin menyiapkan file yang akan dipresentasikan dihadapan Miranda. Tak lama Miranda masuk ke dalam ruangan bersama pengacaranya.
"Siang Miranda, duduklah....." Sambut Ervin.
Miranda menyapu matanya dan tersenyum pada Ervan. Riri dengan sigap merangkul tangan suaminya. Miranda duduk disofa yang bersebalahan dengan mereka.
"Oke Miranda, keputusan Ervan dan Riri sebagai wali Abel adalah meminjamkan aset seluruh kepemilikan perusahaan yang menjadi hak Abel untuk membantu perusahaanmu..." Tegas Ervin.
Miranda tersenyum senang, dia tersenyum pada Ervan merasa sangat senang, Ervan hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Ternyata semudah itu membujuk Ervan untuk meminjamkan dana yang dimiliki Abel. Miranda
"Tapi Miranda, ada persyaratan yang harus kau sepakati..." Ujar ervin.
"Kesepakatan.. kenapa harus ada kesepakatan Mas..." Protes Miranda.
"Hanya memastikan apa yang menjadi hak keponakanku tetap aman sampai nanti kuserahkan diusianya yang kedelapan belas tahun..." Sambung Ervin.
"Ini tidak adil Mas, Abel juga keponakanku tapi dulu aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang mengelola haknya..." Nada Miranda mulai keras.
"Itu dulu Miranda, dulu juga kau terlalu bersemangat untuk melepaskan diri dari perusahaan, dan sekarang apa akibatnya ketika kau berdiri sendiri, perusahaanmu cepat sekali bangkut." terang Ervin.
"Miranda tolong tenanglah dengerkan dulu Mas Ervin...." Sela Ervan.
Miranda merebahkan tubuhnya dengan keras pada sandaran sofa dan mendengus kesal.
"Miranda kita akan membantu menyelesaikan masalah finansial perusahaanmu dengan hak Abel, tapi perusahaanmu harus berada di bawah naungan Wijaya Palm hills." Kata Ervin.
__ADS_1
"Mas, kenapa aku bergabung lagi..."
"Untuk mengantisipasi dan memonitor tidak ada bisnis kotor dalam dana keponakanku, jika ada masalah perusahaanku akan cepat mengambil alih semuanya..." Jelas Ervin.
"Baiklah Mas, aku bisa terima..." Seru Amanda.
Ervin menyuruh semua orang melihat ke layar. "Satu lagi Amanda, pemulihan perusahaanmu sembilan puluh lima persen dari dana keponakanku, jadi aku ingin kepemilikan perusahaan atas nama keponakanku, Abelia Amvan Wijaya...." Jelas Ervin lagi.
Miranda menggelengkan kepala, menunduk memijat keningnya mendengar sesuatu yang didengarnya.
"Apa ini Mas, kenapa harus begitu, bertahun-tahun aku menjadi bayangan Amanda apa aku juga akan jadi bayangan anaknya...." bentak Miranda pada Ervin.
"Tenanglah Miranda, ini cara yang terbaik untuk masalah perusahaan mu..." Ujar Ervan.
"Van kenapa kau jadi tega sekali padaku..." Seru Miranda menatap kesal Ervan.
"Jika kau ingin aset perusahaanmu dilelang, lahanmu terbengkalai, mengantungkan nasib karyawanmu, maka jangan terima kesepakatan ini..." Tegas Ervin.
"Yang dikatakan Pak Ervin benar Bu, kesepakatan ini menguntungkan semua pihak, anda tetap akan menjadi pengelola, hanya kepemilikan saja atas nama Abelia untuk mengamankan investasi." Terang pengacara Miranda.
Miranda masih terdiam sesaat memikirkan apa yang yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi tidak ada pilihan lain, kesepakatan ini juga menguntungkan dirinya dan tidak merugikan siapapun, hanya saja perusahaan yang dia kelola bukan atas nama dirinya dan dia harus berhati-hati dalam bekerja sekali saja dia berbuat kesalahan perusahaan akan diambil alih oleh perusahaan naungannya
"Baiklah Mas kita sepakat..." Tegas Miranda merasa berat.
"Bagus Miranda, keputusan yang tepat, aku akan memanggil pengacara menyelesaikan semua berkas nya." Ervin berdiri menuju meja kerjanya mengajak pengacara Miranda.
"Akhirnya Miranda masalah perusahaanmu bisa selesai..." Kata Ervan yang masih berada di sofa.
"Ya Van, tapi aku marasa sedikit tertekan sekarang..." Protes Miranda.
"Kesepakatan ini akan membuatmu lebih sehat dalam berbisnis Miranda dan semoga perusahaanmu yang sekarang atas nama anakkku akan pulih...." Sindir Ervan.
"Maaf Miranda aku ingin berjalan-jalan berdua dulu dengan istriku, aku tidak ingin terburu-buru pulang ke rumah, aku akan menyuruh sopir disini untuk mengantarmu..." Seru Ervan lagi. Riri yang mendengar perkataan suaminya merasa senang, setelah datang ke kantor ervin, suaminya menjadi dingin kepada Miranda.
"Baiklah Van..." Kata Miranda kesal.
"Oh ya Miranda, setelah sampai rumah, kemasi barang-barangmu karena Mama menyuruhmu untuk tinggal sementara dirumahnya."
"Van kenapa begitu, aku masih ingin tinggal dirumahmu supaya dekat dengan keponakanku...."
"Pasti tidak sopan menolak keinginannya Mama, Kata Mama rumah kecilku tidak baik untuk menjamu tamu, jadi sesampai rumah segera berkemas setelah itu sopir mama akan menjemput..." Kata Ervan.
"Sebaiknya aku pulang dulu, selesaikan urusanmu dulu disini, Riri sudah lelah..." Sela Ervan ketika Miranda akan membuka mulut akan protes lagi.
Ervan segera bangkit dari duduknya mengandeng tangan istrinya meninggalkan Miranda yang masih syok melihat perubahan sikap Ervan padanya, keduanya medatangi Ervin hendak berpamitan.
Kini keduanya keluar ruangan Ervin menuju lift. Riri bergelayut di tangan suaminya merasa sangat senang akhirnya mulai hari ini tidak ada wanita lain dirumahnya.
"Makasih ya Mas udah nepati janji..." Kata Riri.
"Ya Sayang terpaksa Mas pakai cara itu, Mas nggak enak sayang harus langsung menyuruh Miranda pergi bagaimanapun dia adalah adik dari almarhum istri Mas, lagipula Mas juga kecewa dengan Miranda dia sudah berubah...."
TINGG. pintu lift terbuka.
"Ya udah Mas, kita cari makan dulu yuk Riri lapar..."
__ADS_1
"Mas telepon Tiara dulu sayang, mau memberi laporan, kita duduk dulu disitu tidak baik telepon sambil menyetir." Kata Ervan menunjuk sofa dilobby.
Usai merebahkan diri di sofa Ervan meraih ponsel menghubungi Tiara.
"Tiara apa kau sibuk"
Tiara : Tidak Van, aaahhh pelan sedikit sayang.
Ervan menjauhkan ponsel dari telinganya merasa geli. "Apa aku menelepon disaat yang tidak tepat."
Tiara : Tidak Van katakan saja ada apa, aaahhh sayang tahan sebentar Ervan menelpon.
Ervan semakin geli mendengar suara aneh Tiara. "Lanjutkan saja apa yang mau kalian lakukan, aku akan telepon lagi nanti.
Tiara : Tidak Van, ini tidak ..... telepon terputus
Pulau Dewata, Al**h resort
"Ervan menutup telepon, aahhh pelan sayang, sayang cepat selesaikan jangan terlalu basah." Kata Tiara menahan sakit.
"sudah selesai sayang..." Kata Adrian mengelus kaki Tiara usai di olesi minyak kepala.
"Aku sudah bilang tidak suka kegiatan diluar ruangan, apalagi menaiki bebatuan lihat kaki dan tanganku lecet memar semua..." keluh Tiara.
"Manja banget istriku, Kita kan belum bisa berkegiatan didalam ruangan sayang, nanti kalau sudah bisa kita dua puluh empat jam di dalam ruangan." Goda Adrian.
"Sayang kamu mesum, sekarang cepat oles lagi yang di tangan sayang sakit..." Katanya lagi manja.
******
Ervan buru-buru menutup telepon.
"Kenapa nggak jadi Mas," Tanya Riri.
"Mas telepon disaat yang nggak tepat, mereka lagi mesum siang-siang." Jelas Ervan.
"Namanya juga pengantin baru kayak nggak pernah aja." Balas Riri.
Riri tertawa melihat ekspresi geli suaminya. Kini keduanya pergi meninggalkan perusahaan Wijaya, melajukan mobil melintasi jalanan siang kota B.
"Mudahan Miranda sudah pergi dari rumah kita setelah kita sampai dirumah..." Kata Ervan pada Riri. Riri merasa senang melihat suaminya yang mulai menyadari keberadaan Miranda sangat menganggunya.
.
.
.
.
.
. NEXT.....
Maaf kalau telat Up Zen... udah di intipin pengantin baru.
__ADS_1
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author..
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE KOMENT VOTe biar semangat up nya..🙏🙏🙏🙏🙏