
Abel dan Kayla sudah tiba salah satu cafe yang tak jauh dari kantor WPH. Keduanya turun dari mobil menuju kafe masalah Italia. Kayla dan Abel memilih duduk di pojok dekat jendela kaca. Pelayan cafe langsung menyambut dengan menyerahkan daftar menu dalam buku. Keduanya memesan makanan pilihan masing-masing.
Keduanya kini berkesempatan berbicara sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
"Ada apa Kay?" tanya Abel membuka pembicaraan.
"Abel, sepertinya aku udah mulai suka calon suamiku, Kak Davin namanya. Dia baik, manis dan pastinya ganteng." Kayla bercerita penuh semangat dengan nada manja.
Abel langsung merubah raut wajahnya, tapi kembali dia harus bersikap normal. Sekarang dia harus bisa menerima kenyataan kalau sebentar lagi Kayla akan bersanding dengan Davin.
"Bagus dong Kay, mudahan dengan begitu kamu bisa saling melengkapi nantinya ketika berumah tangga." Balas Abel bersikap seperti biasa.
"Aku denger dari Papa, Kamu tanda tangan kontak kerjasama dengan Kak Davin, kamu udah tahu 'kan calon tunanganku." Kata Kayla lagi.
"Iya Kay, aku udah tahu Bang Davin lama." Balas Abel keluar begitu saja.
"What!" Kayla mengeryitkan dahinya merasa heran.
Abel jadi salah tingkah mendengar tatapan Kayla mendengar ucapannya yang keceplosan. Beruntung ada pramusaji yang mengantarkan pesanan makanan mereka sebelum Abel sempat menjawab pertanyaan Kayla.
"Kay, kita makan dulu yuk, aku lapar." Seru Abel mengalihkan pembicaraan.
"Oke...." Balas Kayla yang merasa Abel sangat jauh berbeda dari biasanya. Abel lebih pendiam, tidak bisa bercanda lepas seperti biasa dan sering merenung. Apa karena sekarang dia juga memikirkan nasib perusahaan sehingga dia lebih tertekan di usianya yang masih muda.
Keduanya kini menikmati makanan yang ada depannya. Tidak ada obrolan yang serius, lebih sering terdengar suara dentingan garpu dan sendok yang menyentuh piring.
"Abel...." Sapa Kayla memecah kebisuan di antara mereka.
"Ya Kay," jawab Abel terbangun dari lamunan.
"Cowok kamu gimana kabarnya, tumben kamu nggak cerita sama aku."
Deg. lagi-lagi Abel terjebak dengan pertanyaan Kayla. Selain sepupu, Kayla juga tempat Abel berbagi cerita, walaupun mereka berbeda karakter dan gaya hidup. Memang tidak sedekat dengan Rena tapi mereka sering berbagi cerita dalam hal apapun. Apa yang dipikirkan Kayla jika tahu kalau calon tunangan yang dijodohkan dengannya adalah mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang meninggalkannya karena perjodohan itu. Lebih baik Abel memilih diam, dia tidak ingin kebahagiaan Kayla redup mengikuti jejak dirinya karena lelaki yang sama.
"Aku udah pisah Kay, kita seperti nggak cocok dan punya jalan hidup masing-masing."
"Serius! kenapa! bukannya kalian saling cinta dan akan segera nikah," ujar Kayla kaget kali ini.
"Kalau takdir nggak buat kita nggak berjodoh semua bisa terjadi Kay." Balas Abel.
"Sorry bel, pantes kamu lebih banyak diam sekarang." Kayla mengengam tangan Abel.
"Ya Kay, tapi udah lah, penduduk di negeri ini lebih dari seratusan juta kan, nggak guna kalau masih ngarepin dia." Canda Abel mencoba menutupi kegalauan hatinya.
"Ya, betul Abel. lagian kamu tuh Cantik, manis, lucu, Sholehah, baik hati, kaya, tidak sombong, hahahaha." Kayla tertawa membalas candaan Abel. Abel pun ikut memaksa tertawa seperti biasanya berpura bahagia dihadapan Kayla.
"Kata Papa mungkin seminggu lagi Aku akan tunangan." Ujar Kayla lagi.
__ADS_1
Brrrrrrt. Abel tersedak hampir menyemburkan minuman yang akan dia telan mendengar perkataan Kayla. Kayla menyerahkan tisu, Abel dengan cepat mengelap mulutnya. Secepat itu mereka akan bertunangan, bisa kah diriku nanti melihat mereka bertunangan. Apakah aku kuat? bangkit Abel tataplah masa depanmu jangan mengharapkan seseorang yang tak pernah mengharapkanmu. Begitu kiranya yang ada di isi pikiran Abel.
"Semoga berjalan lancar ya Kay sampai hari H ya, semoga kalian bisa saling mencintai dan merima kehadiran masing-masing." Kata Abel.
"Aku nggak percaya akan menikah di usiaku yang yang baru dua puluhan tahun, mudahan aku mendapatkan calon suami yang baik seperti Papa dan Om Ervan yang sama-sama menikah karena perjodohan Bisnis keluarga."
"Semangat Kay, kau Wanita yang baik akan mendapatkan suami yang baik juga," ujar Abel berusaha menguatkan Kayla.
"Ya Abel, kamu juga semangat ya, semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada mantan kamu itu."
Keduanya kini menghabiskan makan siangnya sambil bercanda membahas hal lain.
******
Malam hari keluarga Ervan menikmati waktu bersama di depan ruang TV usai makan malam. Abel tidak lagi terlihat murung seperti hari-hari yang lalu. Dia menikmatinya mengajari adik-adiknya pelajaran sekolah seperti biasanya. Hal sederhana ini membuatnya terhibur. Adik- adik yang mulai mengantuk usai mengerjakannya tugasnya langsung bergegas ke atas menuju kamar masing-masing.
Tinggallah tiga orang dewasa yang berada di ruangan favorit keluarga ini.
"Sayang, gimana tadi di kantor tentang masalah kontrak." Ervan membuka
pembicaraan merangkul pundak Abel.
"Alhamdulillah semuanya lancar aja Pa."
"Kamu ketemu sama Davin," ujar Ervan. Abel menggangguk diselingi senyum memaksa di bibirnya.
"Ya Pa, Abel professional kok." Seru Abel di susul kecupan sayang dan bangga dari sang Papa di pelipisnya. Abel membalas memeluk papanya.
"Untuk ke depannya, Papa akan bilang sama Tante Miranda dan Om Ervin agar tidak terlalu sering melibatkan kamu dalam masalah perusahaan, biarkan kamu fokus selesaikan kuliah kamu dulu."
"Ya Pa, tapi Abel cuma di minta persetujuan aja kok!" Balas Abel bangkit dari pelukan sang Ayah.
"Oh ya Mas tadi sore Riri dapat kabar dari keluarga besar, Minggu depan akan ada acara pertunangan Kayla sebelum dia kembali ke Singapura menyelesaikan urusannya di sana dan menetap disini ." Kata Riri.
"Oh ya! kenapa Mas belum diberitahu, jadi Kayla benar-benar akan bertunangan dengan laki-laki itu." Kata Ervan yang tak bisa berbuat banyak dengan keputusan keluarga besarnya.
"Papa jangan cerita apapun Pa, karena Kayla juga bahagia dengan perjodohan ini." Kata Abel pada Papanya.
"Abel tahu tenang pertunangan ini, Kayla sendiri yang bilang." Seru Abel masih berpura senyum meskipun hatinya masih terasa sakit.
"Berarti bersamaan acara lamaran Angga." Ujar Ervan.
"Lamaran Angga mungkin di undur kalau memang acaranya bersamaan dengan Kayla." Seru Riri lagi.
Riri yang tahu kalau Abel menyembunyikan semua guratan kesedihan. Riri mengelus pundak Abel. Abel berpamitan ke kamarnya berlari menaiki tangga. Riri tahu kalau Abel sengaja menyembunyikan kesedihannya di depan Papanya. Dia berpamitan pada suaminya ke atas terlebih dahulu, sebenarnya di ingin menyusul Abel.
Riri membuka pintu kamar Abel yang tidak terkunci. Abel meringkuk di sofa dekat jendela.
__ADS_1
"Kakak!" Suara Riri yang mengagetkan Abel, dengan cepat ia menepis cairan bening yang keluar dari matanya.
Riri langsung mendekat, Abel langsung sigap memeluk tubuh mungil Mamanya ingin mendapatkan kekuatan.
"Ma, sepertinya Abel nggak akan datang ke pertunangan Kayla, Abel akan mencari alasan untuk menjauh saat itu." Desis Abel lirih.
"Kenapa kakak begitu, kakak kuat, Mama yakin," seru Riri.
"Nggak Ma...."
"Kakak, Mama tahu kakak masih cinta sama Davin, memang cinta pertama susah dilupakan sama seperti mama dulu, tapi masalah kita berbeda. Cinta pertama Mama berjuang memiliki Mama sedangkan cinta pertama Kakak sudah akan bertunangan." Riri hanya bisa menenangkan Abel.
"Kakak itu cantik, baik, Sholeha di luar sana banyak lelaki yang menunggu kakak, kakak mau punya suami CEO muda seperti di Drakor tinggal minta Carikan Opah, atau mau dosen ganteng tinggal bilang Om Adrian, atau mau Bos-bos minyak yang kaya raya tujuh tanjakan tinggal bilang sama Tante Tiara atau Papa." Canda Riri pada Abel, seketika Abel menyunggingkan bibirnya tertawa kecil.
"Ya Ma, Abel baik-baik aja kok, mungkin Abel hanya kebawa perasaan." Abel bangkit dari pelukan ibunya mulai tersenyum pada Riri mengisyaratkan keadaannya lebih baik.
Riri pun meninggalkan Abel didalam kamarnya melihat kini keadaannya mulai baik.
Ponsel Abel berdering tanda pesan yang masuk. Abel mengambil ponsel di atas nakas, memeriksanya.
Nolan : Malam Abel, aku mau tepati janji, kalau kamu mau lihat hasil jepretan aku besok datang ke CFD. Kebetulan juga mau ada lomba komunitas.
.
.
.
.
.
.
Next .....
Sori ya reader terloph2 babnya author gabung lagi, bab 41 bersama Kayla akan terhapus otomatis karena kependekan dan bisa menurunkan level karya author yang sudah naik ke tingkat dengan sudah payah 🤧🤧🤧 tadi terlanjur ke Up
Zen : Lebay lo Thor 🙄
Thor : Jangan sampai level turun sakitnya tuh kayak gendang telinga yang tak sekalipun mendengar kabar darinya.
Zen : 🤔🤔🤔 Lo sehat Thor
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author 🙏🙏🙏
Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Selalu loph U ❤️
__ADS_1