
Tiba di Nami Island saat musim dingin membuat suasana indah dengan hamparan putih di permukaan. Disini mereka menemui bola salju dan pastinya pemandangan yang indah yang tidak pernah ditemui di tanah air.
Abel dan Ervira sudah melesat ke segala arah dan mengambil beberapa foto dari Setiap sudut.
"Mas, Riri mau pegang salju." Kata Riri hendak melepaskan sarung tangannya karena penasaran.
Ervan mencegah tangan Riri. "Jangan lepas sarung tangannya, nanti tangan kamu bisa beku Sayang. Pegang aja pakai sarung tangan terus buang, kalau terlalu lama dipegang tanganmu bisa basah.,"
Riri pun menuruti perintah suami mengambil salju tanpa melepaskan sarung tangan dan mengusap-usap butiran salju.
"Kayak es serut ya Mas, tapi ini lebih lembut kayak pasir." Ucap Riri terkekeh dengan wajah bahagia seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Ervan tersenyum senang melihat ekspresi kebahagiaan istrinya yang baru pertama kali memegang salju secara langsung.
Pok Pok Pok bongkahan bola salju seukuran pimpong menghujani tubuh Ervan yang langsung membuyarkan momen indah bersama istrinya.
"Abel, Awas ya!" Ervan Bergegas meraih salju dan membalas melempari anaknya.
Tapi disisi yang lain Riri melempari juga suaminya dengan gumpalan bola salju seperti anaknya.
"Sayang! awas ya," Ervan berlari ke arah Riri dan melempar gumpalan salju ke arahnya bertubi-tubi.
"Ampun mas, ampun." Kata Riri menutupi wajahnya.
Keluarga bahagia ini bermain saling melempar gumpalan salju dengan tawa yang tak lepas dari bibir semuanya mengalahkan dingin cuaca ditempat itu.
Aku pikir kamu akan terus mempertahankan Tiara yang tidak punya sisi kelembutan kak, tapi aku lega Kak, kamu bisa menemukan istri yang baik seperti Riri.
Ervira yang ikut bahagia melihat kebahagiaan keluarga Kakaknya dihadapannya.
"Ma, ayo foto disana sama papa yang romantis." Abel menunjuk arah yang dimaksud.
Riri menganguk mengikuti langkah Abel dan Ervira meninggalkan bola - bola salju. Riri sudah bisa mengontrol dirinya dengan udara dingin karena terselimuti rasa bahagia. Tangannya tak lepas mengandeng tangan suaminya merasa ada aliran kehangatan yang berbeda meski tubuh mereka sama-sama terbalut pakaian tebal.
Keempatnya pergi ke Metasequoia Lane untuk melihat pohon pohon tinggi yang yang ditanam di dua sisi jalan setapak dan menjadi tempat pendaratan sempurna untuk turunya salju. Karena dapat terlihat ranting-ranting pohon yang nampak indah dengan balutan salju.
Abel langsung mengintruksikan kedua orang tuanya berfoto mesra seperti si serial drama Korea.
"Lebih Deket Pa, bagus Pa, tahan ya," Kata Abel yang jadi fotografer selama di Korea.
Beberapa foto indah pun tercipta dengan background yang indah ditaman ini. Puas berfoto ria mereka melanjutkan petualangan mereka sesuai arahan Ervira.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Gongsaengwon yang populer dengan patung ikonik salah satu pemain drama Korea. Melihat patung yang romantis dan suasana taman ini ditambah cuaca yang sangat dingin membuat Riri ingin memeluk terus suaminya meskipun sekarang dia memakai balutan beberapa lapis baju.
Abel langsung mengintruksikan kedua orangtuanya berfoto menyerupai gaya dipatung. Lelah dengan berfoto-foto ria, Ervan dan Riri memutuskan duduk di kursi pinggir danau yang membeku sembari menunggu Abel dan Ervira membeli coklat panas.
Riri menyapu matanya kesekeliling danau nampak beberapa pasangan yang saling berciuman ditepi-tepi danau.
"Mas mereka berciuman di tempat umum." Riri memberitahu suaminya.
"Di negara ini hal seperi itu sudah biasa sayang, sini maju." Ervan mengerakkan tangannya, Riri mengikuti gerakan tangan suaminya.
Ervan dengan cepat menempel bibirnya ke bibir istrinya, Ervan ******* bibir Riri tanpa ada perlawanan meskipun terkejut dengan serangan mendadak, Riri malah menikmati kecupan singkat suaminya.
Ervan melepas kecupanya. "itu sebabnya mereka ciuman sayang menghangatkan diri."
Muka Riri memerah untuk pertama kalinya bermesraan ditempat umum dengan kekasih halalnya.
Untung ini diluar negeri kalau di negara kita, pasti Mas udah Aku timpukin pakai tas main cium sembarangan. Riri
__ADS_1
Usai menjelajahi Nami island kurang lebih 3 jam dan menikmati makanan lokal khas Korea. Sop Gingseng, shabu-shabu, teobokki dan berbagai makanan lain. Setelah mengobati perut yang lapar mereka memutuskan melanjutkan perjalanan ke Itaewon.
**********
Beberapa jam berkendara mereka sampai di Itaewon. Mereka melaksanakan kewajiban di masjid Seoul central. Dan berjalan-jalan disekitar masjid yang dipenuhi toko-toko dengan pernak-pernik.
Lelah seharian beraktivitas mereka kembali ke hotel untuk beristirahat melanjutkan perjalanan esok hari ke Nansam tower dan Myeongdong.
*****
Keesokan paginya mereka usai beristirahat dan sarapan pagi, mereka bergegas ke Nansam tower untuk melihat kota Seoul dari ketinggian.
Sesampai disana Ervira bergandeng dengan Abel menaiki tangga menuju menara yang disuguhkan pemandangan taman terbalut putih dan beberapa gazebo khas arsitektur China.
Ervan mengandeng tangan Riri hingga sampai di dasar menara yang merupakan pusat pertokoan seperti mall.
Tanpa membuang waktu mereka naik ke atas menara dan disambut dengam pemandangan kota Seoul yang nampak kecil dan indah dari atas menara tak lupa mereka membeli beberapa permen bentuk lucu yang dijajakan.
"Kak, setelah ini kakak sama mbak Riri ke terrace roof disana pasang gembok cinta." Kata Ervira menunjuk yang dimaksud.
"Nggak usah pasang gembok cinta, hatinya Kakak udah terkunci sama hati Riri." Balas Ervan. Riri hanya tersenyum malu mendengar perkataan suaminya.
"Iya tahu kak yang lagi mabuk cinta, Vira sama Abel mau istana boneka bear. Nanti ketemu dibawa." Ervira mengandeng tangan Abel menuju tempat yang dimaksud.
Riri dan Ervan menuju tempat yang ditunjukkan Ervira. Disetiap pagar berjajar banyak gembok disetiap sisi dan gundukan menyerupai pohon cemara yang dipenuhi gembok pula.
"Coba pasang gembok juga Mas buat lucu-lucuan aja di foto." Kata Riri, Ervan langsung singgap mengambil gambar istrinya dengan kamera ponsel bersama jejeran gembok.
Ervan mendekati Riri. "Sayang tanpa perlu gembok, hati mas ini sudah terkunci rapat sama namamu."
"Mas gombal." Riri tersenyum malu.
Sesampai di Myeongdong sebelum memasuki aktivitas berbelanja keempat nya menikmati dulu santapan makanan disana dan menghangatkan tubuh.
"Mbak disini surganya kosmetik korea." Kata Ervira pada Riri.
"Ya Vir ayo, beli oleh-oleh buat dirumah." Kata Riri antusias.
ketiganya langsung menuju Beberapa toko kosmetik. sedangkan Ervan menyaksikan dari belakang para wanita yang sibuk berbelanja.
Riri sudah memborong beberapa kosmetik Korea yang biasa dia beli lewat online dengan harga lebih murah disini.
Menyerahkan semua belanjaan pada meja kasir. Ervan hendak mengeluarkan kartu tapi Riri mengeluarkan kartu terlebih dahulu.
"Sayang kamu punya kredit card? Dapat darimana?, mas cuma kasih ATM." Tanya Ervan.
"Ini Riri dipinjami mama Mas, katanya pakai kartu ini buat belanja diluar negeri di berbagai negara." Balas Riri.
"Mama Kayaknya sayang banget sama kamu sayang." Balas Ervan merangkul pundak Riri.
"Alhamdulillah Mas," jawab Riri.
Meninggalkan berbelanja kosmetik, saatnya ke toko lain berbelanja pernak-pernik khas Korea untuk untuk oleh-oleh karyawan kru Ervan di kantor.
"Sayang bagus nggak ini buat Tiara?." Kata Ervan pada Riri tanpa sengaja mengambil jam tangan berwarna perak.
"Bagus, perhatian banget." Bales Riri langsung mememanyunkan bibirnya.
"Nggak usah cemberut gitu, dia bosnya Mas sayang, yang memberi izin kita pergi." Balas Ervan mencubit kedua pipi Riri dan mengacak kepala Riri yang tetutup jilbab. Riri menarik bibirnya paksa.
__ADS_1
Setelah membeli 24 buah kaos, beberapa jam tangan serta beberapa oleh-oleh yang lain keempatnya berkumpul kembali setelah berpencar. Membawa ditangan mereka paper bag berisi belanjaan masing-masing.
Menjelajahi jalanan di Myeongdong di malam hari yang padat dengan pejalan kaki dan penikmat kuliner pinggir jalan meski cuaca malam ini sangat dingin. Mampir di salah satu food street khas Korea.
"Ma, mau corn dog sama teobokki." Ujar Abel yang merengek melihat pengunjung lain memakan sesuatu.
"Ya ayo beli." Riri menuju salah satu kios.
Mereka duduk di kursi pinggiran jalanan yang memang disediakan untuk penjajah street food menikmati jajanan khas korea, teobokki dan yang lainnya untuk menghangatkan tubuh.
"Mas coba dikit ya?" Riri menyodorkan satu tusuk taebokki pada Ervan.
"Nggak sayang itu pedas." Balas yang memang tidak bisa memakan makanan pedas.
"Dikit aja ini nggak sepedas sambel kok," Riri memaksa dengan wajah manjanya, Ervan pun menyambar suapan istrinya.
"Puas sayang, Pedes ini." Balas Ervan melihat Riri tertawa puas melihat ekspresi suaminya.
*******
Tiba di hotel menginap.
"Sayang, kamu capek." Tanya Ervan melihat istrinya yang sibuk melihat gambar-gambar mereka hari ini dilayar ponsel.
"Nggak terlalu, kenapa." Riri menaruh ponsel memiringkan badan menghadap suaminya.
Sebenarnya Ervan ingin mengajak istrinya untuk menghangatkan tubuh disuasana dingin ini. Entah kenapa Ervan selalu ngergetan melihat istrinya, mungkin juga karena sebelum menikah dia sudah 4 tahun lamanya tidak menjamah wanita.
Sempat terlintas rasa cemas juga dipikirannya, jika Riri nanti hamil setelah pulang dari Korea pasti akan memberatkan Riri yang masih harus berjuang menyusun tugas akhir kuliah yang pasti tidak mudah yang akan menguras tenaga dan pikiran.
"Mas, malah melamun." Riri memengangi pipi suaminya yang mulai kasar ditumbuhi rambut -rambut halus.
"Nggak apa-apa sayang, lagi mikirin Abel aja yang semakin gede. Ayo istirahat besok hari terakhir di sini, lusa kita kembali ke tanah air." Balas Ervan memeluk Riri.
"Yakin mau tidur aja." Balas Riri.
"Memang kamu mau apa sayang, nakal ya sekarang, suka godain mas." Ervan bangkit dari tidurnya mengelelitikin perut Riri.
"Ampun Mas, kan cuma kasih ide" Balas Riri menahan tangan Suaminya.
Dan selanjutnya dikamar ini hanya mereka yang tahu apa yang harus dilakukan.
.
.
.
.
.
.
.
terima kasih reader masih setia dan sabar nunggu up dari author yang sekarang nggak bisa on time.
.
__ADS_1
Jangan lupa support author like, komen dan vote vote vote author.🙏🙏🙏🙏🙏