Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 89 Gusar


__ADS_3

Ervan seperti mendengar suara jejak kaki dari atas. Ia melihat jam dinding Menunjukkan pukul 01.00, Ia teringat Riri yang mungkin kehausan di jam segini.


"Miranda, maaf sebaiknya kita Akhiri percakapan ini. Kita bisa lanjutkan nanti, ini sudah malam...." Kata Ervan memotong pembicaraan Miranda yang tadinya serius.


"Ya Van tentu saja, istirahat lah, aku juga akan beristirahat...." Jawab Miranda.


Keduanya bubar menuju kamar masing-masing.


Riri yang mendengar suara handle pintu langsung menghapus air matanya dan menarik selimut menutupi tubuhnya berpura memejamkan matanya sambil menahan isakan tangisannya. Dia tidak ingin membahas masalah ini dimalam hari, dia ingin meminta penjelasan suaminya besok pagi.


Ervan memperhatikan Riri yang sudah terlihat tertidur, Ia menaruh Tumbler yang berisi air di atas nakas dan langsung merebahkan diri di samping istrinya. Ervan mendekatkan tubuhnya memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus perutnya yang buncit. Perlahan-lahan Ia menempelkan kepalanya ke rambut istrinya sesekali mecium puncak kepalanya, lama-lama matanya terpejam merasakan nyaman bila dekat dengan istrinya.


Riri membuka matanya setelah merasakan nafas suaminya yang sudah terlelap. Dia masih belum bisa tenang melihat kejadian malam ini. Dia mencoba menenangkan hatinya agar tidak berpikir buruk kepada suaminya. Kini dia merasa nyaman sudah dalam dekapan suaminya yang lebih hangat daripada selimut, matanya mulai dia tutup perlahan sampai akhirnya terlelap.


*****


Riri membantu suaminya berkemas untuk persiapan kerja, Riri merapikan barang yang akan dibawa suaminya ke dalam tas masih dengan perasaan kesal. Ervan meraih tubuh Riri dan mencium aroma tubuh istrinya yang selalu membuatnya candu.


"Kamu kenapa sayang, dari pagi Mas nggak denger ocehan kamu..."


Waktu nya Riri meminta penjelasan suaminya, "Tadi malam Mas nggak kemana-mana kan, Mas tidur terus disamping Riri..."


Deg. Ervan sudah menduga suara jejak kaki yang samar didengarnya adalah suara Riri yang mencari keberadaannya.


"Mas keluar ambil minum buat kamu, terus ketemu Miranda dan dia ngajak ngobrol..." Balas Ervan


Riri merasa lega setidaknya suaminya berkata jujur. "Lama, kenapa waktu kembali nggak bangunan Riri."


"Sampai jam satu sayang, Mas lihat kamu tidur nyenyak nggak tega mau bangunin..." Balas Ervan lagi.


Riri kembali merasa lega dengan jawaban suaminya, kini kedua menuruni tangga bergandengan tangan bersiap sarapan sebelum melakukan aktifitas keseharian.


Dimeja makan Abel dan Miranda sudah menunggu kedatangan keduanya.


"Van, Ri..." Sapa Miranda.


Ervan tersenyum kepada Miranda begitu pula dengan Riri.


"Oh ya Van, aku buatkan kamu kopi sekalian..." Kata Miranda menyodorkan secangkir kopi.


"Terima kasih Miranda, kenapa harus repot..."


Balas Ervan.

__ADS_1


Hati Riri gusar lagi melihat sikap Miranda kepada suaminya, dia mencoba tenang dan berpikir positif.


"Ri, maaf ya, aku nggak buatkan kamu Kopi, ibu hamil tidak baik minum kopi..." Ujar Miranda.


Riri hanya tersenyum. Kini keempatnya kembali menikmati sarapan pagi. Riri mengantar kepergian suami dan anaknya kedepan rumah hingga mobil mereka perlahan meninggalkan rumah.


"Ri, keponakku bahagia sekali sekarang..." Sapa Miranda melihat Riri masuk kedalam rumah.


"Ya Kak Alhamdulillah..." Jawab Riri.


"Oh ya, mungkin Aku mau keluar hari ini, mudahan masalah aku cepat selesai..." Ijin Miranda.


"Ya kak, jika kakak butuh sesuatu, beri tahu aja Riri.."


"Oke..." Balas Miranda.


Miranda menganguk, kini keduanya berpencar melaksanakan aktivitas masing-masing.


****


Riri teringat belum mengambil multivitamin kehamilan yang dia pesan dari Momycare tempat spa khusus ibu hamil, dia berinisiatif pergi mengambilnya sendiri pesanannya sekaligus melakukan spa kehamilan sekaligus rileksasi agar tubuh dan pikiran lebih rileks. Dia mengenakan blus biru dengan kulot hitam dengan kerudung warna senada bajunya, merias wajahnya natural dan bergegas keluar kamar. Tidak lupa Riri mengirim pesan pada suaminya meminta ijin akan ke tempat Spa ibu hamil.


Riri menyapu matanya mencari Bi Mina, didapatinya Bi Mina yang sedang berada halaman luar.


"Bi, Riri mau pergi ke Momycare, InsyaAllah sore udah dirumah sebelum Abel pulang..." Ijin Riri pada Bi Mina.


"Mas Ervan sekarang pulangnya malam Bi selama Kak Tiara cuti, lagipula Mas Ervan juga pasti capek, tempat Spanya juga malam tutup Bi..."


"Mbak hati-hati..." Seru Bi Mina.


Riri keluar rumah, nampak Udin sudah bersiap mengantarnya, karena selama hamil Udin memang diperintahkan mertuanya menjadi sopir pribadinya.


Beberapa menit menyusuri jalan siang ini, Riri sampai ditempat spa, Riri mulai memilih vitamin anjuran instrukturnya.


Setelah memilih beberapa vitamin ibu hamil dan persiapan menyusui, Riri mulai melakukan beberapa treatment spa khusus ibu hamil, beberapa treatment membuat Riri lebih rileks dan melupakan sejenak kegundahannya.


Hampir satu jam melakukan rileksasi kini tubuhnya mulai terasa segar, dia bersiap untuk pulang. Tapi sebelumnya ia ingin mampir ke mall membeli beberapa Roti, kue dan donat.


Butuh beberapa menit dari tempat Spa, siang ini dia sudah tiba di salah satu mall di kota B, langsung menuju tempat yang akan disinggahi, memilih beberapa roti kesukaan Abel, kue dan aneka pastri lain.


Tak jauh dari tempat toko roti di salah satu coffe shop deretan ruko mall, pandangannya teralih, Riri tampak tak asing dengan laki-laki yang masih memakai seragam perusahaan warna biru di area outdoor coffe shop.


Ia nampak akrab makan berdua dengan wanita yang memang sangat dikenalnya, mereka memang duduk berhadapan tapi membuat ketenangan Riri terganggu, dia memberanikan diri melangkah ke arah mendatangi keduanya dengan rasa cemburunya yang terkobar lagi.

__ADS_1


"Mas..." Riri menarik pundak lelaki yang tak lain adalah suaminya.


Ervan menoleh dan terkejut Riri yang sudah di hadapannya. Ervan berdiri mengandeng tangan Riri yang bermimik muka tidak senang.


"Sayang, kamu kenapa bisa disini bukannya kamu ditempat spa..."


"Harusnya Riri yang tanya sama Mas, kenapa Mas disini, bukannya Mas harus kerja..." Jawab Riri kesal tapi tetep tidak mengeraskam suaranya di cafe ini.


"Mas mau bertemu orang penting sayang, ada hal penting juga yang ingin kita bicarakan...."


"Oh jadi itu orang pentingnya..." Kata Riri lagi menunjuk ke arah Miranda.


"Sayang ini nggak seperti yang kamu pikir, pasti kamu seudzon sama Mas, nanti Mas jelasin dirumah..."


"Terserah Mas, silahkan dilanjutkan, Riri nggak mau nganggu!" Riri berlepas tangannya, berbalik melangkah meninggalkan suaminya.


Riri berjalan dengan sangat kesal, dia ingin marah dengan suaminya. Riri terus melangkah dengan perasaan semakim kesal karena suaminya bukan menahan untuk makan bersama atau mengejarnya yang sedang marah, Riri berbalik merasa posisinya kini sudah jauh dengan suaminya tapi betapa kecewanya dia, suaminya memang tak mengejarnya seperti yang diharapkan dan entah apa yang dilakukannya disana, Riri bergegas masuk kedalam mobil menumpah kekesalannya dengan cucuran air mata.


Kamu nggak ngejar aku Mas, kamu membiarkan aku pergi begitu aja, kenapa kamu berubah Mas, apa wanita itu jauh lebih penting dari pada istrimu. Riri terus sesegukan sambil mengelus perutnya.


Dia tidak bisa bicara lagi sampai mobil keluar meninggalkan mall.


"Mbak...Kita kemana lagi atau mau pulang." Kata Udin memberanikan diri bertanya pada Riri yang masih meneteskan air mata.


"Din kita nggak pulang, terus saja..." Balas Riri.


Udin mengikuti arahan Riri berjalan terus menuju ke timur kota.


.


.


.


.


.


NEXT.........


Zen tenang ya ini hanya segelintir masalah rumah tangga.... jangan takut ada pelakor.😁😁😁..


**Terima kasih sudah sabar nunggu up dari author yang telat ini....

__ADS_1


mohon maaf kalau masih banyak kekurangan....


Jangan lupa Like komen Vote ya biar semangat Up nya🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2