
Kayla memang sangat cantik, jangkung dan anggun dari segi fisik. Berbeda dengan Kayla yang menaruh hati pada Davin ketika pertama bertemu. Davin sama sekali belum bisa menggeser nama Abel dalam hati dan pikirannya. Entah bagaimana nanti hidupnya dalam pernikahan, harus bersama dengan seseorang yang sama sekali tak ia cintai.
Keluarga Ervin dan Pak Hendrawan membahas keunggulan anak mereka masing - masing yaitu Davin dan Kayla. Sedangkan yang dibicarakannya memilih tidak bersuara sibuk dengan makanannya.
"Baiklah, kita sudah merembukan masalah ini. Kayla menerima dengan tangan terbuka perjodohan ini, untuk pertunangan kita akan kabari tanggalnya secepatnya." Seru Ervin.
"Baiklah Pak Ervin, selain menjadi rekan bisnis kita akan menjadi besan." Balas Pak Hendrawan merasa senang tujuannya tercapai.
"Kita akan buat pesta pertunangan yang besar hingga pengusaha di kota ini akan membicarakan pertunangan putra Adiguna dan putri seorang Wijaya." Seru Ervin senang yang memang satu otak bisinis dengan Pak Hendrawan.
Davin tidak berselera untuk bicara, ia hanya pasrah saja tidak ingin berkomentar sama sekali. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah apakah dia sanggup melewati semua ini. Davin menatap ke arah Kayla yang terlihat juga ikut bahagia, entah tulus dari hati atau dia juga terpaksa menerima perjodohan ini.
Semua orang sudah menyelesaikan makan malam ini. Keluarga Pak Hendrawan dan Ervin bangkit dari kursi. Hendak menuju kendaraan masing-masing.
"Davin, kau pulanglah dengan Kayla, supaya kalian bisa saling mengenal lebih jauh." Ujar Pak Hendrawan.
"Itu benar, Kay. Davin yang akan mengantarmu pulang." Seru Ervin. Kayla hanya mengangguk merasa senang bisa pulang berdua dengan Davin.
Semua sudah masuk kendaraan masing-masing. Dan mulai menjauh meninggalkan restoran. Tersisa Davin dan Kayla menunggu kendaraan mereka datang. Mobil Davin tiba di depan lobby, seseorang menyerahkan kunci mobil. Davin membuka pintu untuk Kayla di kursi penumpang depan.
Keduanya kini melesat meninggalkan restoran. Diperjalanan hanya ada kebisuan antara Kayla dan Davin.
"Kak Davin boleh tanya sesuatu?" Kayla memecah keheningan, memberanikan diri bertanya.
"Tanyalah," jawab Davin sambil melempar senyum.
"Kenapa Kakak menerima perjodohan ini?" tanya Kayla.
Davin berpikir sejenak. "Kay, aku hanya mengikuti keinginan orang tuaku, bagiamana denganmu."
"Aku juga Kak, perjodohan kita sudah lama menjadi harapan orang tuaku," balas Kayla yang sudah tahu sejak lama tentang perjodohannya.
"Apa sebelum tahu tentang perjodohan kita, Kak Davin sudah punya pacar." Sambung Kayla mengeluarkan rasa penasarannya.
"Kay, kau ingin aku jujur atau tidak."
"Tentu saja Kakak harus jujur."
"Aku mencintai seseorang, tapi aku harus meninggalkannya karena sesuatu yang aku tidak bisa jelaskan padamu," tutur Davin.
__ADS_1
"Kak Davin masih mencintainya?" tanya Kayla sedikit kecewa.
Davin tersudut dengan pertanyaan Kayla. "Kayla, itu adalah masa lalu, sekarang masa depanku adalah kita 'kan."
Entah Kay, kapan aku bisa berhenti mencintai Abel. Davin.
Kayla tersenyum malu, sepertinya bunga cinta sudah mulai tumbuh di hatinya. Sejenak kebisuan terjadi lagi didalam mobil hanya ada suara musik yang diputar Davin. Hingga mereka tiba di kediaman Wijaya yang ditempati kekuatan Kayla. Kayla turun dari mobil disusul lambaian tangannya hingga mobil Davin perlahan menjauh.
Kayla cepat masuk ke dalam rumahya. Dia sudah tidak sabar menceritakan kejadian malam ini pada Abel.
****
Matahari pagi mulai masuk di celah-celah jendela kamar Abel. Mendapat kabar dari Miranda sejak malam, jika hari ini dia harus ke kantor WPH. Abel izin tidak mengikuti magang hari ini. Dia sudah rapi sejak tadi, dia masih gugup bagaimana harus bersikap nanti dihadapan rekan bisnisnya. Untuk pertama kalinya menandatangani persetujuan perpanjangan kontrak kerjasama, terlebih lagi dengan Adiguna group.
"Kakak, sudah ada Tante Mira di bawah." Riri mengetuk pintu kamar Abel.
Abel langsung mengambil perlengkapannya, membuka pintu dan ikut turun bersama Riri. Semua orang sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas masing-masing.
Kini Abel dan Miranda berada di teras. Abel berpamitan pada Papa Ervan dan Mama Riri. Mengambil punggung tangan Mama Papanya.
"Van, aku berangkat dulu sama Abel." Miranda berpamitan pada Ervan dengan senyum manis.
"Tante tolong matanya di kondisikan kalau lihat Papa," seru Abel sambil bercanda karena tidak suka tatapan Tantenya.
Miranda langsung menyenggol Abel. "Ya Bu Bos bawel."
Keduanya kini masuk ke dalam mobil berlogo WPH. Berlahan-lahan mobil pun menjauh meninggalkan rumah dan menuju kawasan industri kantor WPH.
"Abel Ingat! nanti siapapun perwakilan Adiguna kamu harus bersikap profesional." Miranda memberi petuah pada Abel.
"Ya Tante," balas Abel.
"Kalau nanti yang mewakili Adiguna adalah mantan pacarmu yang playboy itu, jangan panggil, panggilan manja Bang Davin." Seru Miranda meniru suara manja pada kata Bang Davin. Abel menggangguk, ternyata susah juga jadi petinggi perusahaan yang harus berpura-pura tegas.
"Panggil dia, Pak Adiguna! dengan lantang jangan kebawa emosi anggap aja dia orang yang baru kamu kenal sebagai mitra."
"Ya Tante," jawab Abel hanya menurut.
"Kamu harus tegas contoh Amanda Mama mu yang sudah mewariskan semua kerja kerasnya untuk kamu, jangan contoh Ibu tiri kamu yang lembek itu," terang Miranda.
__ADS_1
Abel mengangguk mengiyakan, sedikit kesal juga dengan Tantenya membawa-bawa Mama Amanda dan Mama Riri. Mereka dua Wanita yang berbeda karakter dari segi apapun.
Mobil pun berhenti di depan lobby kantor WPH. Miranda meminta Abel menunggu di ruang dewan direktur, sementara dirinya akan mengurus beberapa file dengan dewan direktur lain.
Bersamaan Abel menaiki lift, Angga juga sudah tiba tepat waktu dan bertemu di lobby. Abel membuka kembali pintu lift untuk Pamannya senang. Sesuai permintaan Abel, Angga di minta menemaninya selama penyerahan kesepakatan kontrak. Memang sedikit tidak masuk akal direktur internal control perkebunan mendampingi Owner yang seharusnya menjadi tugas dewan direktur atau petinggi perusahaan(sekelas CEO). Tapi perusahaan punya Abel, ya terserah Abel ingin ditemani siapa. Begitu pikir Abel.
Abel yang ditemani Angga masuk ke dalam ruang dewan direktur yang juga ada beberapa orang menunggu. Mendadak jantung berdegup kencang siapa kah nanti yang akan mewakili Adiguna grup untuk bertemu dengannya.
Ceklek....
Pintu terbuka nampak beberapa orang masuk mengiring perwakilan dari Adiguna group.
"Pak Adiguna, silahkan." Suara Miranda.
"Terima kasih...."
Abel yang mendengar nama dan suara yang tak asing ditelinganya, yakin siapa yang ada di belakangnya. Abel meremas tangan Angga untuk merendam sejenak perasaannya menahan emosi.
"Perkenalkan pemilik perusahaan kami." Miranda mendekati Abel. Abel bangkit dari kursi berbalik mencoba tetap bersikap profesional sesuai ajaran tantenya.
"Selamat Pagi Pak Adiguna." Abel mengucap dengan lantang seolah tidak ada lagi kesedihan yang tertutupi sikap profesionalnya.
Deg. Tubuhnya mendadak kaku, kedua mata yang tak lain adalah punya Davin langsung membelalak melihat siapa seseorang yang ada di hadapannya.
.
.
.
.
.
NEXT......
Sabar ya Zen nanti dilanjutin soalnya aku tahu sakitnya di gantungin๐๐๐
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author ๐๐
__ADS_1
beri semangat author pencet LIKE ketik KOMMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph U โค๏ธ