Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Chating -chatingan


__ADS_3

Siang itu aku merasa tidak enak hati sama bu Retno, tapi yah sudahlah.


Aku rasa ibu Retno paham sih dimanapun juga soal jodoh pasti aja ditanyakan sama orang lain.


Jangankan beliau, aku saja sampai hari ini menyandang gelar gadis Jomblo Keren selalu saja ditanya sama orang lain.


Kapan punya pacar? jangan suka pilih-pilih loh nanti keburu tua.


Apalagi kalau ada pertemuan keluarga besar, wah itu selalu menjadi sarana pertanyaan untukku.


"Ayo Nanan kamu jangan belajar saja harus punya pacar juga biar menambah semangat".


Seringnya aku hanya jawab dengan senyum saja, malas kalau ditanggapi.


Padahal kalau aku lihat teman di kampus yang sudah punya pacar, malah ribet deh.


Ada saja urusan sama pacar tuh, entah ributlah atau apalah.


Lupa menjemput berantem, lupa janjian berantem dan lain sebagainya.


Mending aku, mau kemana saja bebas sendiri, tidak perlu pusing.


Ada sih yang pernah menyatakan perasaan, tapi aku belum minat punya pacar.


Toko tiap hari minggu tutup, biasanya selain pergi ibadah, hari minggu juga hari kuliner bersama papa.


Kalau malas pergi, kami pesan makanan delivery online.


Siang ini perutku masih kenyang karena tadi pulang ibadah makan mie ayam bersama bu Retno.


Rumah sudah rapih juga, apalagi kalau bukan bobo cantik.


Sambil setel musik aku rebahan dan akhirnya menghilang.


Aku terbangun menjelang sore, kulihat jarum jam panjang menunjukan angka 12 lewat 5 dan jarum pendek di angka 3.


Berarti sudah hampir 2 jam aku tidur siang.


Aku dengar di bawah ada suara orang tertawa-tawa, sepertinya suara bu Retno dan suara pria yang asing.


Aku bangun dan melihat ke jendela, ternyata benar Bu Retno dan seseorang sedang berbincang, juga tampak ada mobil minibus kecil warna abu-abu.


Mungkin orang yang mengantarkan mobilnya ibu Retno.


Segera aku keluar kamar, buang air kecil dan mencuci muka.


Lalu aku kembali ke kamar berkaca sambil menyisir rambutku, baru kemudian aku bergerak menuju bawah.


Dari rumahku bila mau ke belakang harus turun tangga dulu melewati toko, dan di bagian belakang toko ada pintu yang menuju halaman belakang tempat kost-kost an.


Ternyata pintu belakang sudah terbuka dan papa rupanya sudah nimbrung dengan ibu Retno dan pria tamunya.


" Nanan sini, ini mobil ibu sudah datang. Besok Nanan yang nebeng saya yah gantian," kata bu Retno seraya menunjukkan mobilnya.


Kalau dilihat mobil itu usianya sudah cukup tua, minibus tapi ukurannya kecil, memang ada type seperti itu di merk mobil tertentu.


Cuma aku heran saja, katanya ketua jurusan tapi kok mobilnya sederhana sekali.


" Wah Bu, kalau besok nebeng ibu nanti Nan pulangnya gimana? Kan Nan pulang jam 3 an, sementara ibu pulangnya selalu malam.. Nan naik motor saja Bu, kecuali diajak jalan-jalan sih mau dong," kataku sambil mengharap diajak jalan.


Tiba-tiba terasa kuping ada yang menjewer, rupanya perbuatan pria yang disebut papa ku.


"Bikin malu daja," katanya.


Aku menunduk sambil menahan tawa.


" Tidak apa-apa pak Yohan, hayuk Nanan, kita keluar sambil menemani ibu ke terminal bis. Ini pak Dirgo , sopirnya keluarga saya minta diantar ke terminal bis. Saya belum hafal jalan, nanti tidak bisa kembali ke sini," ajak Bu Retno padaku.


" Oh oke bu siap, aku gini saja yah. Males tukar baju nih," kataku kegirangan.


" Ya tidak apa-apa, hanya ke terminal bis saja dan kembali lagi. Nanti malam saja jalan-jalan yah sambil cari makan malam," ujar bu Retno lagi.


Aku pamit ke papa, dan diperbolehkan lalu kami bertiga melaju menuju terminal bis.


Kami tiba di terminal bis, namun tidak bisa masuk ke dalam sehingga kami parkir di depan terminal.


Ibu Retno keluar dari mobil begitu juga pak Dirgo, sementara aku disuruh tunggu dalam mobil saja.


Tampak bu Retno memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos bis kembali ke Jakarta dan juga mungkin uang makan.


Lalu beliau kembali ke mobil sementara aku pindah ke kursi depan samping kemudi.


Dan ketika kembali ke rumah, ibu Retno mengajak aku dan papa untuk makan malam di luar nanti malam.


Aku setuju sekali, cuma tinggal mikirin gimana cara ngajak papa.

__ADS_1


" Pa... tadi bu Retno bilang mau ngajak kita makan malam di luar, nanti pergi bersama pakai mobilnya. Papa mau engga pa... ayo pa mau lah yuk," aku merajuk mengajak papa.


Tapi papa diam saja tidak menjawab, dan aku terus merengek seperti anak kecil.


Akhirnya papa menatap aku, lalu bilang "jam berapa?".


Sontak aku membulatkan mataku, terkejut sekali papa bersedia ikut.


" Jam 7 malam, tempatnya terserah papa katanya, aku mandi dulu," kucium pipi papa, lalu sambil meloncat-loncat aku menuju kamar mandi.


Habis mandi aku kirim chat ke Ibu Retno


N: Bu, Papa mau ikut, boleh kan bu?


R: Oke dong, jam brp nanti?


N: Kan tadi jam 7 Yah bu.


R: Oke siap, sebentar lagi yah. Nanti saya tunggu di depan kamar saya yah.


N: Oke siap bu.


Tak lama aku keluar kamar, dan wow pria bernama papa juga sudah siap dan tumben wangi....hihihihi... kayaknya nih cowok ini naksir ibu Retno deh.


Tapi aku tidak berkomentar, takut papa membatalkan perginya.


Di belakang ternyata bu Retno juga sudah siap, dandan casual sederhana tapi tampak manis sekali.


Duh semoga saja bisa jadi jodoh papa.


Dan kami akhirnya pergi bertiga, Papa yang menyetir, kami makan di warung sate langganan papa.


Dan kembali bu Retno merasa bahagia menemukan makanan enak lagi malam itu.


Sekitar jam 10 malam kami kembali, dan papa sudah memarkirkan mobil bu Retno tepat di depan kamarnya.


Tiba-tiba dari arah pagar ada mobil jenis jeep besar masuk, dan mengklakson kami.


Lalu orangnya turun, dia mbak Peggy yang tinggal di kamar sebelah ibu Retno.


"Pak Yohan, gimana sih, ini mobil siapa sih. Kan biasanya saya yang parkir di sini. Kok jadi mobil ini sekarang?" tanya mbak Peggy kasar.


Lalu ibu Retno menjelaskan itu mobil miliknya.


"Mbak Peggy bisa parkir di sebelah sini saja loh," kata papaku.


"Mobil ini parkir di sana saja sebelah mobil bututnya pak Yohan, biar engga repotin saya!"


"Ok, ya sudah saya pindahkan, sebentar yah mbak," kata papa sambil langsung memindahkan mobilnya bu Retno.


Kata-kata mbak Peggy menusuk telinga sekali, ibu Retno sampai beberapa kali minta maaf kepada papa.


Dan papa bilang sudah biasa seperti itu jangan diambil hati.


Memang mbak Peggy itu dari awal masuk selalu sombong, entah apa pekerjaannya. 3 tahun menyewa kost ditempat kami, 3 kali juga ganti mobil.


Lima belas menit Yohan memandangi handphone nya. Dia mencoba mengirim chat kepada Retno.


Y: Malam bu, maaf mengganggu. Saya minta maaf atas kejadian barusan yah.


(.....Hening..... chat tidak dibaca oleh penerima, tak lama tanda notifikasi berubah biru.... Tapi setelah itu hening lagi... hampir 10 menit baru dijawab.)


R: Iya pak, tidak apa-apa. Saya maklum kok, kejadian seperti itu selalu ada saja kok.


Dalam hati Yohan berkata,"Mengapa aku serasa bahagia sekali mendapat jawaban chat dari nya yah.. sampai gemetar tangan ini".


Y: Syukur deh kalau ibu tidak apa-apa sih, jangan dimasukan hati yah bu. Memang orang kamar sebelah ibu seperti itulah.


R: Ya kalem saja pak, saya tidak pernah ambil pusing urusan seperti itu.


Y: Baik bu, maaf yah mengganggu istirahat nya. Btw (By the way)..


terima kasih yah sudah ajak saya dan anak saya jalan-jalan.


R: Ah tidak pak, santai saja, saya juga belum mau tidur kok.....masih nonton....eh...harusnya saya yang terima kasih udah ditraktir makan sate.


Y: Ah ibu bisa saja, tidak apa-apa sekali -kali traktir ibu.


R: Hahahah... oke makasih pak...


Y: Met Istirahat yah bu


R: Oke pak, sama-sama.


Lemas badan Yohan dari tadi sudah berkali-kali mencoba ingin chat menyampaikan maaf pada Retno.

__ADS_1


Tapi dia takut, sampai berpikir keras kalau bicara langsung pasti tambah tidak enak.


Maka dia nekat chat Retno, walau jam sudah menunjukkan jam 11 malam.


Tapi gayung bersambut, dan senang hati rasanya.


Sebelumnya Yohan memang sudah punya nomor telepon dan chatnya Retno, bahkan beberapa bulan kemarin sempat telepon dan chat mengenai kamar yang akan disewanya.


Tapi dia tidak merasakan apapun, sampai setelah Retno disini, bertemu tiap pagi, rasanya selalu ingin mencuri memandangnya dari atas jendela kamarnya.


Retno setiap pagi terlihat membereskan kamarnya, lalu selalu senyum saat bu Yayah mengambil cucian bajunya atau mengantarkan hasil setrikaan.


Dan tiap pagi juga Retno selalu membeli roti coklat, mungkin untuk sarapannya.


Masalahnya Retno selalu meninggalkan senyumannya.


Walau Yohan lebih banyak diam membeku tak membalasnya.


Dan dia bertanya-tanya mengapa juga Retno dekat sekali dengan anaknya.


Walau baru sebentar mengenalnya tapi anaknya bisa begitu dekat dengannya.


Apakah wanita itu yang akan menjadi pengganti Yasinta.


Kadang Yohan merasa senyumnya sama dengan senyum milik almarhum istrinya.


Retno sedang mencuci muka dan gosok gigi saat terdengar bunyi ada chat masuk di telepon genggamnya.


Entah siapa malam begini ada yang chat kepadanya jarang-jarang pikirnya.


"Yah tunggu deh yah, aku belum beres bersih-bersih," katanya bicara sendiri sambil tukar baju dengan baju tidur.


Lalu meletakkan baju kotornya di keranjang cucian agar besok bu Yayah mudah membawanya.


Lalu dia ambil handphonenya, sambil berbaring di kasur dia buka chatnya.


Dan Retno terkejut, ternyata dari papanya Nanan.


Rupanya merasa tidak enak, gara-gara orang kamar sebelah kamarnya marah-marah tidak jelas.


Ya sudah Retno membalas bahwa dia tidak apa-apa.


hal seperti itu sudah biasa, pernah dulu ada orang tua mahasiswa yang memaki-makinya karena anaknya tidak diluluskan.


Seorang anak pejabat tapi malas dan seenaknya membuat tugas.


Tentu tidak akan diluluskan pelajarannya, harus mengulang ikut tutorial lagi di kelas bawahnya dan ujian lagi sampai mendapat nilai yang baik.


Kecongkakan itu ada dimana saja, tak terkecuali di tempat kost juga ada rupanya.


Setidaknya sudah mencoba menenangkan pak Yohan, agar dia juga bisa merasa enak bila besok bertemu dengannya.


Wow, pak Yohan juga mengucapkan terima kasih sudah jalan-jalan bersamanya, padahal tadi makan juga pak Yohan yang bayar.


Yah mungkin basa-basi saja, tapi oke lah, dibalik juteknya kalau sudah kenal cukup dekat ternyata orangnya baik.


Setelah memarkirkan mobil dan memberikan kuncinya kepada bu Retno, Papa bergegas ke masuk rumah dan naik ke atas.


Nancypun masuk, dan mengunci pintu lalu naik ke atas.


Terlihat setelah membuka sepatu langsung masuk kamar dan langsung menutupnya.


Nabcy terdiam sebentar yakin sekali papa sedang marah tapi menahan emosi.


Ingin rasanya mengetuk pintu kamarnya papa, tapi pasti nanti papa marah.


Lalu beranjak ke kamar mandi saja untuk cuci muka, gosok gigi kemudian masuk kamar.


Setelah ganti pakaian dengan baju tidur, ternyata belum bisa memejamkan mata.


Mengintip dari jendela, kamar Ibu Retno juga masih menyala lampunya.


Karena tidak mengantuk, lalu keluar kamar dan menyalakan tv.


Mencoba mencari channel acara yang menarik, tapi tidak ada.


Sampai akhirnya channel musik, lumayan ada "Cold Play" dan menikmati acara itu.


Rebahan di sofa sambil mendengar musik yang enak, lama-lama terasa mulai mengantuk.


Namun Nancy terkejut ketika mendengar papa buka pintu kamarnya.


Sambil mengantuk dilihatnya muka papa.


Tapi luar biasa, dikiranya wajah papa akan merengut cemberut, ternyata malah tersenyum lebar tidak biasanya.

__ADS_1


Sungguh aneh sekali, dan sambil berjalan ke kamar mandi papa berkata " Sana tidur di kamar udah ngantuk gitu juga maksain nonton".


__ADS_2