Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Bertemu sahabat lama


__ADS_3

Pagi ini saat Nancy hendak ke kampus dia bertemu papanya di tangga.


Papanya terlihat lemas tidak bergairah.


Lalu dia bertanya," Papa sakit kah?"


Papanya hanya menggeleng terlihat lemas sekali.


Dipegangnya wajah papanya, dan bertanya lagi," Papa kalau sakit bilang sih".


"Papa hanya sedang kurang enak badan, tidak apa-apa mungkin masuk angin semalam ngobrol di pos depan," jawab papanya.


Lalu Nancy turun ke bawah dan ternyata toko belum buka.


"Pa..tumben sih toko belum dibuka.. Nancy saja yang buka yah...!!!!" Nancy kaget melihat toko masih tutup.


Tidak biasanya sama sekali jam segini toko masih tutup, Papa pasti beneran sakit pikirnya.


"Sudah nanti sebentar lagi, kamu kalau mau ke kampus pergi saja nanti terlambat," Kata Papanya sambil terdengar lemas.


Nancy kemudian ke halaman belakang hendak menyalakan motornya.


Seketika dia baru sadar penyebab sang papa lemas.


Mobil imut warna abu-abu sudah tidak tampak disana berikut pemiliknya.


Rupanya itu dia penyebab pria setengah tua menjadi galau.


Bukan tidak enak badan tapi tidak enak hati.


Semalam dicuekin, sekarang pagi-pagi sudah menghilang.


Ampun DJ....!!!!!


Benar dugaan Retno keempat mahasiswa sudah hadir di depan gedung.


Dan ada tambahan si pemabuk juga ada disana.


Retno melangkah memasuki gedung tanpa menghiraukan mereka


Dia langsung saja memasuki ruangannya.


Tak lama Husnapun datang, dan Retno segera memanggilnya.


"Ya bu Neno, itu mereka sudah datang," kata Husna.


"Sttt..sini...duduk dulu sini".


Lalu Husna segera duduk di samping Retno.


"Na, semalam aku berpikir memang yang 3 anak tidak tahu apa-apa yah..cuma 1 anak yang namanya Nico itu yang tahu sebenarnya ada apa sama si Randi itu, bener tidak?" Retno mencoba menyampaikan analisanya kepada Husna.


"Iya Bu Neno, saya berpikiran sama dengan ibu".


"Saya dengar Nico dan Randi itu dekat sekali, mereka sudah bersahabat sejak SMA katanya," Husna melanjutkan menyampaikan apa yang diketahuinya.


"Kalau begitu, yang 3 orang kita panggil dulu bersama saja yah, kata kamu gimana Na?"


Retno coba minta pendapat Husna.


" Iya sih, soalnya percuma nanya lama-lama juga karena memang yang 3 orang itu tidak mengetahui apapun," pendapat Husnapun demikian.


"Bener juga yah, oke deh tolong dong panggilkan mereka yang bertiga itu".


"Siap Bu!"


" Anwar, Sapta dan Anton, silahkan kemari, duduk disebelah sini," kata Retno kepada mereka.


Lalu ketiganya duduk sambil menunduk.


"Sekarang tolong salah satu dari kalian jelaskan kronologis kejadian kemarin yang kalian ketahui, ayo siapa yang mau menjelaskan?" lanjut Retno.


Lalu mereka saling pandang, dan akhirnya Anwar yang menjelaskan.


Dari hasil penjelasannya, memang terlihat kejujuran bahwa mereka benar-benar tidak paham masalah Randi.


Karena Retno sudah diberi mandat oleh Rektor untuk membuat kebijakan sendiri di fakultas, maka dia memutuskan membebaskan ketiganya dari sanksi skorsing.


Dan mereka tampak lega, dan ketiganya sangat berterima kasih kepada Retno sambil pamit meninggalkan ruangan.


Kemudian Retno kembali minta tolong Husna untuk memanggil Nico dan Randi.


Ketika masuk ruangan, Randi langsung jongkok minta maaf kepada Retno.


Tapi Retno meminta dia berdiri dan duduk di kursi.


Randi menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Setelah reda, disuruhnya minum dan duduk tenang.


Tak lama dia sudah bisa tenang, lalu Retno bertanya,


" Mengapa kamu menangis... kamu kan lelaki loh".


"Maaf bu, saya mohon maaf, saya salah besar kepada ibu. Jangan keluarkan saya dari kampus bu. Saya masih mau kuliah di sini bu, saya mengakui bodoh telah melakukan hal buruk sama ibu," katanya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Emangnya kamu sadar kemarin... kan kamu sedang mabuk berat" Retno terdengar sinis.


"Ya bu, saya sedang mabuk, saya tidak sadar sudah berbuat dan berkata kasar kepada ibu," jawab Randi lagi.


"Kamu tahu tidak sanksinya apa, apabila ada seorang mahasiswa sampai ketahuan mabuk di lingkungan kampus?".


"Dan bahkan sekuriti kemarin menemukan pecahan botol minuman di belakang laboratorium biologi , ini buktinya".


"Apakah benar ini botol minumanmu?" tanya Retno lagi sambil memperlihatkan bukti pecahan botol dalam plastik.


"Benar bu, itu kemarin saya yang minum dibelakang laboratorium, lalu botolnya saya pecahkan," jawabnya jujur.


"Sekarang jelaskan pada saya, apa penyebab kamu melakukan semua itu?".

__ADS_1


Randi dan Nico berpandangan, kemudian Nico menganggukan kepalanya mungkin tanda kalau Randi harus terbuka kepada ibu Retno.


Sambil memandang ibu Retno kemudian dia berkata,


"Bu Retno, saya ada masalah besar dengan ayah saya. Kami ribut besar bu, tapi maaf saya tidak bisa menyampaikan masalahnya di sini".


Lalu Retno mencondongkan badannya ke depan sambil berkata,


" Kamu ada masalah dengan ayahmu itu urusan kalian. Hanya kamu mabuk di kampus sanksinya dikeluarkan dari kampus. Apakah ada solusi yang baik dengan kamu mabuk kemarin?".


Dia menggelengkan kepalanya sambil berkata," iya Bu Maaf, tidak ada solusi sama sekali".


Lalu Retno menasihatinya dengan panjang lebar bahwa walaupun mereka muda usia tapi tidak usah mengambil jalan bodoh ketika ada masalah besar datang.


Berusaha untuk bijak dan tenang dalam menghadapi masalah.


Jangan menyalahkan orang lain dan juga jangan menyalahkan diri sendiri.


Selalu berusaha berpikiran positif, dan bila memang tidak bisa menanganinya sendiri carilah seseorang yang dianggap paling tepat untuk menyelesaikan masalah.


Merekapun paham, dan Retno juga memaafkan perbuatan Randi kemarin karena memang dia sedang tidak sadar.


Nico bebas skorsing, tapi Randi tetap mendapatkan skorsing 2 minggu.


Dan harapan Retno selama 2 minggu ke depan dia harus bisa evaluasi dan koreksi diri.


Dia juga meminta agar orang tua Randi bisa menemuinya nanti.


Randipun bersedia nanti 2 minggu mendatang akan meminta ibunya untuk bertemu ibu Retno.


Toko sudah tutup sebelum jam 7 malam karena katanya papa ada perlu jadi harus pergi.


Padahal tadi pagi tampak lemas, sekarang malah seperti semangat mau pergi.


Nancy melihat papanya tampak berdandan rapih sekali dan wangi.


"Papa mau kemana sih?"tanya Nancy tampak aneh melihatnya.


"Ada perlu sebentar menemui teman," jawab papanya.


"Mengapa pesan ojek online.. biasa bawa motor sendiri," selidik Nancy.


"Tidak apa-apa nanti diantar teman pulangnya," jawab papanya.


"Hati-hati sih Pa... tadi pagi kan katanya tidak enak badan, sekarang keluyuran," Nancy merepet, dia khawatir kepada papanya.


Ojek Online yang membonceng Yohan berhenti di depan satu rumah makan padang.


Lalu dia masuk dan dilihatnya sudah ada Retno disana.


Diapun menghampiri dan duduk bersamanya.


Retno makan dengan lahap sambil menceritakan kejadian kemarin.


Selama dua hari ini Retno kehilangan selera makan, sekarang saat masalah selesai dia kelaparan.


Yohan tersenyum sendiri melihat wanita dihadapannya makan tanpa malu-malu.


Retno juga minta maaf tidak membalas chat nya Yohan, karena dia kemarin juga sedang kesal sekali.


Setelah makan mereka kembali ke mobil dan Yohan yang mengemudi.


Sambil mobil berjalan tiba-tiba Retno menyandarkan kepalanya di bahu Yohan.


Tampaknya dia lelah dan juga kekenyangan.


Lalu ada sepasang tangan halus juga memegang lengan Yohan. Saat Yohan melirik sang pemilik tangan memejamkan matanya.


Merasakan tangan halus seperti itu membuat seluruh tubuhnya gemetar, jantung bergejolak dan ada anggota tubuh yang lain juga ikut bergerak mencoba bangkit.


"Duh sialan", batin Yohan.


Dari atas jendela terlihat sepasang mata mengintip dua orang yang baru pulang entah darimana..."Oh pantesan..".


Dua minggu berlalu sejak kejadian kemarin, pagi itu tampak ada seorang wanita meminta ijin menemui ibu Retno.


"Bu Neno, di depan ada orang tuanya Randi yang mabuk itu," Kata Husna padaku.


"Ya boleh dipersilahkan masuk saja kemari yah, terima kasih," ucap Retno kepada Husna.


Kemudian masuklah seorang wanita yang katanya ibunya Randi dan mata Retno membulat ketika melihat sosok tamunya.


Begitu juga dengan wanita itu


sama-sama terkejut melihat Retno.


" Stella?".


" Ya ampun Retno?".


Deg kembali terlintas bahwa wanita inilah yang dulu merebut kekasihnya, wanita inilah yang membuat Hendrico meninggalkannya 2 minggu menjelang pernikahan.


Dan wanita ini juga adalah ibu dari mahasiswa mabuk yang memaki-maki dirinya waktu itu.


Setelah bertahun-tahun tak bertemu sejak kejadian dulu, kini mereka berhadapan lagi dengan posisi berbeda.


Retno adalah dosen yang mengajar anaknya Stella, sedangkan Stella adalah orang tua mahasiswanya.


Dulu mereka adalah sahabat yang sangat erat, saat kuliah kemanapun selalu bersama tak terpisahkan sampai akhirnya ada khianat diantara mereka.


Lalu Retno menghampirinya, berjabat tangan lalu secara reflek berpelukan.


Dan tanpa sadar kami berdua meneteskan air mata, entah apalah itu tanda bahagia bertemu sahabat lama, atau tanda membencinya karena ada khianat diantara mereka.


Stella dulu sudah merebut kekasihnya calon suaminya Retno. Kemarin ini anaknya Stella mabuk dan memaki dirinya.


Semua rasa menyatu bercampur aduk di dalam hatinya, namun berakhir dengan rasa rindu karena lama tak bertemu.


"Astaga Stella.... sudah lama sekali kita tak bertemu yah," kata Retno kepadanya.

__ADS_1


"Neno...oh Neno...maafkan aku Neno,"Katanya.


Tapi Retno memasang telunjuk di depan mulutnya sebagai tanda tidak perlu membahas masa lalu.


Lalu mereka duduk di sofa yang ada diruangan dan meminta tolong Husna untuk mengambil minuman dingin untuk mereka berdua.


"Neno, maafkan yah anakku sudah berlaku buruk kepadamu," kata Stella pada Retno.


"Maafkan segalanya Neno, aku banyak salah padamu," lanjutnya.


"Sudah Stella, masa lalu jangan diingat kita sudah bahagia masing-masing kan sekarang," kata Retno pada Stella.


"Tadi saat masuk ruangan dan aku melihat kamu No, aku sungguh nista. Betapa jahatnya aku kepadamu. Banyak dosaku sama kamu entah bagaimana aku bisa memohon ampun padamu No," Stella berkata sambil kembali berurai air mata.


Lalu Retno kembali memeluk Stella dan berkata," Caranya mudah Stella, kita makan gado-gado yuk disini enak juga loh gado-gadonya.. mau di kantin atau aku suruh staff ku pesankan nanti dikirim ke sini gado-gadonya".


Mendengar itu Stella tambah sesegukan," Kamu ternyata tidak berubah yah No, masih tetap pemaaf dan juga suka makan gado-gado.. Sialnya kamu tetap langsing".


Lalu mereka berdua saling menatap dan tertawa sambil sama-sama berurai air mata lalu kembali berpelukan.


Akhirnya berdua memutuskan makan di kantin setelah air mata mereda, dan berdua berjalan bergandengan.


Melihat itu membuat semua mata terbelalak keheranan, Husna dan beberapa orang lainnya, termasuk Randi dan juga Nico yang duduk di ruang tunggu.


Mereka berdua berjalan ke kantin sambil tertawa-tawa tanpa menghiraukan orang lain yang melihat, sama seperti bertahun-tahun lalu saat mereka kuliah.


Mereka pesan dua porsi gado- gado dan teh es tawar, itu adalah makanan dan minuman favorit mereka sejak jaman dulu.


Mereka makan sambil mengenang masa lalu ketika sama-sama kuliah, mengenang teman-teman kuliahnya dulu, ada yang sudah sukses, ada yang masih merintis jalan hidup dan ada juga yang sudah berpulang mendahului.


Bahkan mereka bertukar nomor kontak masing- masing.


Selain itu bertukar info nomor kontak kawan lama juga, dan bertukar info media sosial baik pribadi atau teman yang mereka ketahui.


Sementara Randi dan Nico memperhatikan dua ibu-ibu yang tampak saling kangen itu dari kejauhan sambil bertanya-tanya apa hubungan mereka.


Lalu tibalah ke sesi membahas Randi, Retno mempertanyakan bahwa kemarin Randi mabuk katanya karena ribut dengan ayahnya.


Stella terdiam sejenak, kemudian dia menatap nanar kepada Retno dan mulai bercerita.


Kisah berawal dari bagaimana ketika dulu Retno berpacaran dengan Hendrico.


Dan Hendrico diam-diam menjalin cinta dengan Stella.


Awalnya Stella menolak karena dia juga tak mau mengkhianati sahabatnya.


Tapi Hendrico terus membujuk merayunya sampai akhirnya Stella jatuh dalam pelukannya dan hamil.


Stella mengetahui dirinya hamil ketika sudah ada berita bahwa Retno dan Hendrico akan menikah.


Namun aib tak mungkin ditutupi, maka Stella akhirnya meminta Hendrico pertanggungjawaban.


Akhirnya Hendrico menikahi Stella dan pernikahan mereka tertutup.


Ternyata selama menjalani pernikahan dengan Hendrico, sudah sering Stella dikhianati.


Beberapa kali terbukti Hendrico selingkuh, tapi Stella mencoba bertahan demi Randi anak mereka.


Pernah Stella mengajukan cerai, tetapi Hendrico tak mau menceraikan Stella. Bahkan mengancamannya kalau tetap minta cerai maka Randi tidak akan pernah dibiayai lagi.


Mengingat itu walau pahit dan getir tetap Stella jalani.


Semuanya demi membesarkan dan mengantarkan Randi menggapai cita-citanya.


Dan selama menikah, Stella dan anaknya tidak pernah sekalipun pergi bersama. Stella merasa seperti tidak memiliki suami.


Pasal kemarin Randi ribut dengan ayahnya, karena secara tidak sengaja dia melihat ayahnya sedang bersama wanita lain saat Randi meminta tanda tangan surat pernyataan yang dikeluarkan oleh Universitas.


Waktu Itu Stella sedang menemani mertuanya yaitu ibunya Hendrico berobat di Singapura.


Akhirnya Retno memahami situasinya kehidupan Stella dan anaknya.


Disatu sisi dia merasa bersyukur karena Tuhan tidak menjodohkannya kepada Hendrico.


Namun disisi lain, dia merasa iba saat mendengar kenyataan sahabatnya menderita.


Dia juga jatuh kasihan kepada Randi, betapa anak itu pasti kecewa melihat ayahnya melakukan perbuatan yang sangat nista.


Setelah puas bercerita, mereka kembali ke ruangan kerja Retno.


Setiba di ruangannya dia meminta Stella duduk di sofa, lalu Retno minta tolong Husna untuk memanggil Randi dan Nico.


Kedua pria muda itupun masuk dan duduk di sebelah Stella.


Dengan memasang wajah tegas dia memandangi mereka berdua dan berkata," Randi dengar dan berjanji di depan ibu mu, jangan pernah mengulang lagi hal konyol seperti kemarin".


"Lalu untuk kalian berdua dengarkan, camkan dan laksanakan. Saya menantang kalian berdua mendapatkan nilai yang paling baik selama 2 semester ke depan ini agar kalian bisa mendapatkan beasiswa. Setuju?".


Randi tak kuasa membendung air matanya, ternyata selama ini anggapan buruk tentang ibu Retno itu salah.


Beliau sosok yang baik dan bijaksana, lalu Randi bersujud di hadapan Stella memohon maaf dan berjanji tidak akan berbuat bodoh lagi.


Dan kemudian Randi dan Nico juga berjanji akan berjuang mendapatkan nilai terbaik agar bisa mendapatkan beasiswa.


Sebagai bonus skorsing kemarin akhirnya dicabut.


Randi dan Nico berdua keluar ruangan dengan hati yang senang dan penuh harapan akan menunjukkan prestasi mereka untuk meraih cita-cita mendapatkan beasiswa.


Ketika Stella akan pamit pulang, Retno mengantarnya sampai di depan lobby kampus.


"Stella, aku pengen curhat loh," kata Retno malu-malu.


"Kenapa No, cerita saja," jawab Stella.


Sambil tersenyum malu Retno berbisik,


" Aku punya pacar sekarang".


Stella gembira mendengarnya dan minta Retno bercerita.

__ADS_1


Namun Retno bilang nanti saja kalau santai akan menemui Stella dan akan berjanji bertemu di luar kampus.


Stellapun mengiyakan dan akan menagih cerita Retno.


__ADS_2