
Aline
Dua hari setelah kesepakatan, Raffa ngajak aku ketemuan lagi. Sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, aku enggak ingin ada perjanjian pernikahan seperti ini.
Bayangankan saja pemirsa. Dua hari ini princess nggak bisa konsetrasi untuk gambar, tadinya princess mau kerjakan desain cafe untuk rooftop hotel, eh malah yang princess gambar muka Raffa sama princess pegang buku nikah dari KUA. Aw ... aw ...
Sebenarnya princess dengan suka rela menerima pernikahan ini. Tapi sepertinnya berbanding terbalik dengan Raffa. Kalau begini princess jadi merasa bertepuk sebelah tangan.
Apakah seperti ini pernikahan indah yang selalu aku bayangkan? Tapi yang namanya hati, kita nggak tahu kapan dan dengan siapa akan jatuh cinta.
Awalnya aku hanya ingin memenuhinya tugasku sebagai anak berbakti dengan menerima perjodohan ini. Satu lagi, princess juga lelah jadi jomblo penganguran yang jadi sasaran empuk omelan ibu suri.
Princess tuh ingin menikah selayaknya pasangan pada umumnya, meskipun kita pasangan yang akan menikah karena perjodohan. Tapi princess yakin seiring berjalannya waktu kita akan bisa saling memahami dan menerima satu sama lain.
Apakah mungkin Raffa mikir seperti yang princess rasakan? Seperti nggak! Raffa cuma mau menggugurkan kewajiban sebagai anak yang berbakti pada orang tua. Sekarang Raffa malah sibuk dan terus ingetin princess tiap menit tentang perjanjian pranikah. Entah apa isi perjanjian yang Raffa buat! Yang pasti Princess juga udah Mateng sama syarat yang udah princess buat.
"Lin," suara ibu suri membangunkan lamunan princess.
"Ya Mi," jawab princess ambil tas, bersiap keluar.
"Raffa udah nunggu," ucap Mami. Mami kelihatan bahagia princessnya akhir-akhir ini sering pergi keluar rumah dengan Raffa.
Princess hanya mengangguk, berpamitan pada mami lalu menuju ruang tamu. Princess lihat Raffa yang masih pakai pakaian kemeja resmi. Sepertinya Raffa dari kantor langsung menuju ke rumah ini untuk jemput princess.
"Hai Raf," sapaku.
Raffa berdiri mendekat ke arahku. "Kita pergi sekarang."
"Raf, kenapa buru-buru banget, kita ngopi dulu." Princess nunjuk cangkir kopi di meja.
"Semakin cepat semakin baik, pernikahan kita sudah semakin dekat."
Princess mengalah dan mengekor di belakang Raffa menuju mobilnya.
Mobil Lamborghitu Raffa mulai perlahan meninggalkan rumah princess. Diperjalanan kita berdua hanya diam menikmati music yang di putar asal oleh Raffa. Princess menurunkan volume stereo.
"Raf kita mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Nanti juga kamu tahu, kamu udah pikirankan syarat dari kamu untuk perjanjian kita," jawab Raffa.
"Udah!" balasku ketus.
"Good girl, nanti kita bahas," ucap Raffa.
Aku diam lagi, kenapa yang dipikirkan Raffa hanya perjanjian-perjanjian itu terus, princess jadi kesel deh lama-lama! Seandainya kedua orang tua kita tahu, mereka pasti kecewa sama kita karena tak menjalankan amanah dengan tulus. Sorry! princess tulus menerima perjodohan ini, tapi Raffa yang masih setengah hati, dia nggak percaya pilihan orang tuanya.
Tak lama mobil masuk ke dalam sebuah deretan kawasan pertokoan yang ada di tengah kota. Raffa menghentikan mobilnya di salah satu toko perhiasan berlantai tiga.
"Ayo turun!"
Princess melepaskan seatbell yang membelit. Princess sempat specless kita berhenti di salah satu toko perhiasan ternama di kota ini.
"Raf, kita ke toko perhiasan!" tanyaku dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Nggak usah terkesima dulu, mama yang suruh saya cobain cincin pernikahan kita, pas atau nggak ditangan kamu!"
Raffa mah selalu gitu, apa - apa harus nunggu kode dari Mama Riri. Bisa nggak sih dia bohong sekali aja, buat hati adek senang Bang.
"Kamu mau matung disini jadi tukang parkir, atau cobain cincin di dalam." Raffa selalu aja ngegas kalau lagi ngomong sama princess.
Daripada kesel hadapi calon suami, princess langsung melangkah duluan ke dalam toko. Raffa mengekor di belakang princess. Padahal princess pengennya gandengan tangan. Eh... tapi lupa belum akad.
"Selamat datang di toko kami, sudah ada janji," sapa ramah mbak-mbak karyawan toko.
"Sudah! Atas nama Rinjani Ana lita," sahut calon suami.
Mbak-mbak itu langsung bawa princess sama Raffa duduk di sofa. Tak lama mbak-mbak yang lain bawa kotak perhiasan datangi kita.
"Atas nama Rinjani Analita," ucap Mbak yang bawa kotak.
"Betul," sahut Raffa.
Mbak-mbak langsung duduk dan bukakan kita kotak biru yang isinya empat cincin.
Sumpah, cincin bagus-bagus banget, maklum selama ini princess jarang beli perhiasan. Princess lebih suka inves penghasilan di reksa dana.
"Kamu pilih yang mana Lin," ucap Raffa.
"Kamu suka yang mana Raff," princess mulai coba satu persatu cincin bertahta berlian itu.
"Terserah kamu aja," balas Raffa sok cool.
"Tunggu Lin," cegah Raffa sama princess yang akan balikin cincin.
"Coba lihat tangan kamu."
Princess refleks menunjukkan tangan kanan princess yang lentik dengan jari telunjuk yang terhiasi cincin berlian itu.
"Itu aja bagus," puji Raffa terus melenggos sok ganteng. Tapi memang ganteng sih calon suami Princess.
Princess lihat lagi cincin yang ketiga, bentuknya menurutku terlalu sederhana. Tapi berliannya hampir berputar mengelilingi permukaan cincin perak itu. Mevah sahabat yang budiman.
Akhirnya pilihan princess jatuh pada cincin yang di pilih calon suami.
Mbak-mbak itu cekatan bungkusin cincin itu, karena Raffa haram pakai emas. Toko sudah siapkan cincin pernikahan couple berbahan titanium.
Princess udah pegang cincin kawin buat pernikahan nanti. Ya ampun rasanya nggak percaya ya sebentar lagi bisa aw ... aw sama calom suami, eh maksudnya sudah halal ya Bun.
Hari udah menjelang senja. Calon suami dari tadi lempeng aja mukanya berbeda dengan princess yang tak henti ngukir senyum. d
Dia ngajakin princess pulang usai terima bungkusan perhiasan.
"Lin," tegur Raffa ketika kita berada di dalam mobil.
"Ya," jawab princess terbangun dari kehaluan bayangin penikahan nanti sambil lihatin bungkusan cincin.
"Apa syarat kamu untuk perjanjian pranikah kita!"
__ADS_1
Itu lagi, itu lagi.
"Aku nanti ngomong langsung sama pengacara kamu," balas princess.
"Saya mau tahu, bilang nggak!"
"Ih Raffa kamu kok maksa sih!"
"Saya yang buat perjanjian, saya juga harus tahu lebih dulu!" Ih Raffa kepo.
"Ya, ya, aku mau nanti selama kita masih ada ikatan pernikahan, kamu nggak boleh nikah lagi!"
Muka Raffa langsung aneh melotot ke arah princess. "Kok gitu! suami tuh jatah menikah lagi boleh empat kali!" Raffa ngeyel.
"Coba aja kalau berani melanggar, aku udah buat sanksinya!"
"Apa memang sanksinya!" Raffa ngotot lagi, kan nggak Suprise kalau princess buka sekarang.
"Denda satu milyar!" balas princess kencang.
Raffa ketawa renyah, "Satu Milyar doang dendanya," sahut Raffa enteng.
"Ya, calon suamiku, satu Milyar DO-LLAR!" Balas princess menekan kata dollar.
Raffa langsung melotot ke arah princess, "Gila kamu Lin! Kamu mau buat perusahaan kakakku bangkrut!" bentak Raffa. Kali ini siapa yang berani lawan princess.
"Kan kamu sendiri yang bilang aku boleh buat syarat apa aja yang nggak merugikan. Aku cuma buat satu syarat!" ucap princess dengan wajah imut.
"Syarat kamu perlu di revisi Lin, itu merugikan negara!" balas Raffa.
"Whatever," sahut princess.
Ia menyalakan mesin mobil, kita pun akhirnya pergi meninggalkan toko perhiasan. Princess puas banget deh Raffa kayak kesel gitu dengar syarat perjanjian yang aku ajukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Bersambung ......
__ADS_1