Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Ada Dia


__ADS_3

Raffa


Saya sudah selesai mandi dan menganti baju usai pulang dari kantor. Melihat bayangan di cermin dengan sedikit mengulas senyum. Terlihat rapi, bersih dan tampan seperti biasa.


Sebelum makan malam seperti biasa, saya dan keluarga sholat Magrib berjamaah di rumah kali ini, karena kita kedatangan tamu. Sebenarnya, saya jadi sangat lapar melihat ayam panggang rempah itu. Aroma masakan yang 'terklaim' dibuat oleh Aline, sedikit banyak membuat saya melupakan masalah Alesa yang memenuhi kepala saya seharian bahkan sejak tadi malam.


Ya, ayam panggang rempah makanan yang paling saya sukai dari masakan Mama sejak kecil.


Ada hal yang menarik lagi, kedatangan Aline di rumah cukup membuat saya terhibur hari ini. Membuat dia kesal membawa kepuasan tersendiri untuk saya. Memang saya jahat ya, raut wajahnya yang tak pernah bisa memendam apapun, membuat ada hal yang mengemaskan dari dia untuk saya


Sudah terdengar adzan magrib berkumandang, saatnya turun untuk menjalankan kewajiban. Saya langsung saja pergi ke mushola dalam rumah. Ternyata sudah ada, saya dehem dulu, ca-lon is-tri dan Mama.


"Papa mana ma?"


"Tadi katanya ke rumah omah, sebelum magrib Papa usahakan mau sampai rumah. Tapi ini belum balik juga. Tunggu saja lima menit lagi, kalau papa belum datang kita sholat saja duluan."


"its Oke." Sambil mata saya melirik ke arah si Alien yang sedang jual mahal tak mau melihat ke arah saya.


Dia sepertinya masih kesal, saya jadi malah mau ketawa ya lihatnya. Belum jadi istri saja sudah bawa perasaan duluan, gimana kita nanti jadi pasangan suami istri, kuat nggak kamu hadapi Avatar yang akan mengendalikan dan menguasai negara api.


Tak kunjung mendapat kepastian kedatangan Papa, kita akhirnya memilih untuk sholat terlebih dulu. Saya yang mengimami sholat kali ini.


Setelah selesai sholat saya berbalik mencium tangan mama. Saya menyodorkan tangan ke arah Aline yang sepertinya sudah mulai hilang aura gelapnya setelah sholat.


Mama langsung menepis tangan saya yang hampir secara refleks di raih Aline.


"Raffa! Belum halal, sebentar lagi," omel Mama.


"Bercanda aja Ma," balas saya. Sedangkan Aline menunduk malu-maluin.


"Sebentar, mama mau telepon Papa dulu," mama berdiri pergi meninggalkan kami berdua di tempat sholat.


Sedangkan Aline pura- pura sibuk melipat mukenah yang usai di kenakan.


"Makanya, jadi cewek jangan terlalu agresif!" seru saya pada Aline.


Aline menatap saya lekat-lekat. "Ini belum seberapa Raf, nanti kalau kita sudah nikah kamu akan tahu seagresif apa calon istrimu!"


Wih! Nantangin nih!


"Oh ya! Tapi nanti kalau malam pertama, saya tetap akan buat kamu tak bergerak," ucap saya dengan nada menggoda.


Bukk.


Aline lagi-lagi menutup wajah saya dengan lipatan mukena. Saya heran, dia suka sekali refleks melempar benda apapun didepannya ke wajah orang kalau sedang malu-malu. Bagaimana kalau di depannya ada buah durian, tamat wajah saya!


"Kamu Omes Raff!" teriak Aline yang terdengar arah derap kakinya melangkah keluar.

__ADS_1


Saya yakin sekarang dia pasti sedang malu-malu meong. Aline, kenapa saya jadi suka sekali mengoda kamu.


Saya pun menyusul keluar Mama dan Aline yang sedang menyiapkan makan malam.


"Ma, Papa belum pulang juga?" saya duduk di kursi meja makan.


"Tadi kata Papa sudah di jalan tapi masih ada urusan, kita suruh makan duluan, kebetulan Mama sudah lapar," balas Mama.


"Ray mana?"


"Ray tadi ijin sama Mama mau jalan sama teman-teman kampusnya." Saya hanya mengangguk.


Aline datang bersama Bi Ani membawa nampan.


"Lin, duduk di sebelah Raffa. Ayo kita makan dulu."


"Ya Ma," jawab Aline, halus banget kalau dia lagi ngomong sama Mama. Coba di depan saya, kalau gendang telinga saya nggak bergetar, dia nggak akan puas bicara.


Semua sudah mengambil nasi di piring masing-masing. Sedangkan piring saya, saya biarkan kosong. Saya masih menunggu respon Aline. Ya ampun! Ternyata dia nggak peka juga! Gimana nasib saya nanti jadi suami, bisa nggak mendapatkan asupan gizi yang cukup!


Eh, ternyata saya salah sangka! Piring saya langsung terisi ayam panggang. Tadi si Alien ambil ayam dulu.


"Cukup," tanyanya sambil menaruh secentong nasi. Saya hanya bisa mengangguk terkesima, bisa request nggak, Aline sekalem ini meskipun nggak ada mama.


Aduh aroma ayam ini bikin liur saya hampir menetes. Tahan Raffa, tetap ambil sikap cool.


"Nggak ada, hari ini kita akan makan ayam panggang rempah ala calon menantu Mama," kata Mama penuh semangat membela si Alien, sebenarnya yang anaknya itu siapa sih?


"Nggak boleh ngeluh depan rejeki kata Mama Raf, sudah makan aja apa yang ada di hadapan kita," oceh Aline.


"Ya, mau gimana lagi," ucap saya masih tetep cool. Nanti si Alien malah kegeeran dapat pujian dari saya.


Semua menunduk mulai menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Rasa ayam panggangnya enak! Saya nggak bisa menahan diri lagi untuk nambah. Saya ragu ini masakan Aline, pasti ini 80% campur tangan mama.


"Enak kan Raff?" kata Aline tersenyum manis pada saya.


"Lumayan," balas saya singkat. Saya tidak mau calon istri saya ini melayang di atas angin karena pujian. Dia harus bisa belajar dan tidak mudah puas dengan apa yang di dapat.


"Makasih," sambungnya dengan memasang wajah amit andalannya.


"Assalamu'alaikum ...," sapa Papa yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Wa'alaikumusalam," sahut kita bertiga serempak.


"Masak apa nih, kayaknya enak," seru Papa.


"Kita udah selesai makan Pa. Ayo makan Pa, Ayam panggang rempah, ini buatan calon mantu loh," sahut Mama selalu memuji betina cantik itu.

__ADS_1


"Wah, Papa harus coba." seru Papa tak kalah berbinar dengan karya Aline.


Setelah saya selesai makan Aline meraih piring saya dan membawanya ke dapur. Calon istri yang rajin.


"Raf,"


"Ya Pa,"


"Setelah ini ada yang mau papa bicara dengan kamu?" wajah Papa mendadak serius.


Saya menaruh cangkir teh, memperhatikan.


"Masalah pernikahan kamu dengan Aline," balas Papa yang langsung berubah raut wajah seketika menjadi tegang. Saya mengganguk mengiyakan. Sepertinya ada sesuatu, saya akan sabar menanti papa selesai makan.


Aline kembali dari dapur, raut wajah papa kembali ceria sambil makan dan berbincang dengan Aline.


Bertepatan dengan Papa yang selesai makan, Aline berpamitan untuk pulang. Sebagai keluarga calon suami yang baik, kita antar Aline sampai ke mobilnya.


"Lin, mungkin besok malam kita akan pergi ke rumah kamu. Bilang ya sama Papi Mami kamu," ucap Papa.


"Ya Om, nanti Aline sampaikan ke Papi," balas Aline.


"Hati-hati, hari belum malam, jalanan mungkin nggak terlalu ramai," ucap Saya.


"Ya, Raf," balas Aline.


Aline pun masuk mobil dan perlahan bergerak meninggalkan rumah kami. Kami bertiga berbalik akan masuk ke dalam rumah.


"Ayo Raf, Ma kita bicara!" ucap Papa terdengar gusar seperti akan menyampaikan hal yang penting.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2