Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP62-S2 // SAH


__ADS_3

Malam ini mungkin malam yang menegangkan bagi setiap gadis yang keesokan harinya akan menikah. Tak terkecuali Rena. Abel sengaja menginap di rumah sahabatnya yang akan menikah besok dengan pamannya. Sama- sama menjadi calon pengantin tapi Rena lebih dulu yang kan merasakan ketegangan mejelang pernikahan. Ya, acara pernikahan Rena dan Angga dilaksanakan empat hari sebelum acara pernikahan Davin dan Abel.


Di dalam ruang kamar sederhana, Keduanya membaring tubuhnya berhadapan saling berbagi cerita perihal calon suami masing-masing. Kedua juga menonton drama romantis sambil saling sindir untuk mempraktekkan bersama suami nanti.


“Masih nggak percaya Abelong besok aku jadi istri.” Rena tersenyum-senyum malu.


“Beruntung kamu dapat calon suami kayak Paman Angga. Baik, sholeh, ganteng, pekerja keras lagi,” terang Abel.


“Ya Abelong. Syukur Alhamdulillah banget aku. Besok aku nggak tidur sendirian lagi,” ujar Rena sambil cekikikan menutup wajahnya.


“Ya ampun Rena.” Abel melempar Rena bantal. ”Kenapa itu aja yang dipikirin,” ucap Abel geli.


“Nggak usah sok jaim Abelong, kamu juga mikirin itu kan ehem-ehem,” balas Rena.


“Ya juga sih, tapi dikit,” balas Abel cekikikan. Rena langsung melempar balik Abel dengan bantal.


“Aku deg-deg kan lagi bayangin kita akan di sentuh sama orang yang baru dalam kehidupan kita,” seru Rena.


“Ya sama Ren, aku juga merinding bayanginnya. Gimana ya rasanya dicium, di ….” Abel tidak melanjutkan perkataannya. Ia malah menutup wajahnya dengan guling.


“Tuh kan Abelong kamu juga penasaran otak kamu mulai mesum mikirin Davin kan, sabar aku dulu.” Ucap Rena. Abel menoyor kepala Rena merasa malu di sindir.


“Ingat kita polos bukan bod*h, kita tahu teorinya tapi belum tahu parkteknya, nanti cerita ya.” canda Abel sambil mengangkat alisnya.


“Nggak, dosa tahu cerita masalah ehem-ehem ke orang lain, nanti juga ngerasin sendiri Abelong cuma selisih berapa hari.”


“Berbagi pengalaman, garis besarnya aja,” goda Abel. Rena menggelengkan kepala.


“Terus gimana kabar calon Adek ipar? Udah bisa move on? Miris banget aku, ribet kisah cinta elu,” tanya Rena.


“Sepertinya sudah sih. Kita udah bersikap biasa,” balas Abel. Sebenarnya Abel tidak ingin membahas Nolan yang akan membuatnya merasa bersalah. Bahagia di atas luka orang lain.


“Udah tidur yuk, besok kamu mau jadi pengantin loh.” Abel menarik selimut. Rena pun mengikuti jejak sahabatnya yang sudah memejamkan mata.


*******


Pagi yang cerah diselimuti awan biru yang indah. Seperti halnya suasana indah saat ini, suasana bahagia pun nampak di dalam salah satu masjid. Akad nikah Rena dan Angga dilaksanakan pagi hari dan melanjutkan resepsi malam hari. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar merdu lewat suara sang mempelai laki-laki yang membacakan hapalan surat An-Nisa.


Tamu undangan yang hadir meyaksikan ikatan janji pernikahan Rena dan Angga mulai memenuhi masjid. Penghulu sudah tiba bersama beberapa orang menuju barisan paling depan yang sudah disiapkan meja kecil untuk prosesi ijab Qabul.


Rena meremas tangan Abel yang berada disampingnya bersama keluarga dari rena. Bacaan lantunan ayat suci Al-Quran di akhiri. Penghulu mulai memberikan nasehat pernikahan. Acara ijab qobul pun dimulai.


Angga sudah mejabat tangan Penghulu sebagai wali Rena. Suasana menjadi hening dan syakral, seisi masjid menjadi tegang.


“Saya terima nikah dan kawinnya Renata Syahrani dengan Mas kawin tersebut, tunai!” dengan satu tarikan nafas, Angga sudah menyelesaikan kalimat ijab Qabulnya.


“Saksi sah!” tanya penghulu pada saksi.


“Sah!” jawab Ervan salah satu saksi dari pihak perempuan.


“SAH!” jawab penghuni masjid yang bersorak.


Abel memeluk Rena, begitu pula dengan yang lain ikut berhambur memeluk Rena. Abel tanpa sengaja meneteskan airmata merasa bahagia dan terharu. Abel membayangkan esok dirinya akan seperti ini bersama Davin.

__ADS_1


“Barakallahu lakuma wa baa raka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiir ….”


Penghulu membacakan doa setelah pembacaan akad. Penghulu meminta pengantin wanita ke depan menghadap suaminya. Riri dan Bu Sintha mengantar mempelai wanita, Rena yang terlihat anggun menggunakan kebaya putih dengan hiasan mahkota kecil di kepala.


Kini Rena sudah berada di samping suaminya. Rena mencium tangan laki-laki yang sekarang sah menjadi suaminya. Angga mencium kening Rena yang sekarang sah menjadi istrinya.


Angga menaruh tangannya di atas kepala tepatnya di ubun-ubun. Angga menyuruh Rena menadahkan tangan mengaminkan doa suaminya.


“Allahumma Inni As’aluka Min Khairiha Wa Khairi Ma Jabaltaha ‘Alaihi. Wa a’udzubika Min Syarriha Wa Syarri Ma Jabaltaha ‘Alaihi.” Angga melafalkan doa disusul wajah bahagia semua mata yang memenuhi Masjid.


Abel yang menyaksikan sahabatnya mendadak melow dan membayangkan hari bahagianya nanti bersama Davin. Mendadak dia merindukan calon suaminya karena sudah lima hari tak bertemu. Mereka hanya berkirim kabar dan saling betemu lewat ponsel.


Tapi nanti malam, resepsi pernikahan Abel dan Rena, Davin pasti datang. Itu menjadi kesempatan keduanya untuk mencuri waktu untuk bertemu. Abel jadi tidak sabar ingin bertemu Davin.


"Abel, sini!" Mama Riri heboh memanggil Abel untuk berfoto. Abel terbangun dari lamunannya dan bergegas menghampiri keluarganya.


******


Malam hari acara resepsi pernikahan Rena dan Angga di gelar disebuah gedung. Tamu-tamu mulai berdatangan memenuhi gedung.


Abel terus melihat jam tangannya berharap seseorang yang ditunggunya muncul dari balik pintu. Karena cacing dalam perutnya tak bisa di ajak nego, Abel terpaksa mengambil piring. Dia akan makan terlebih dulu tanpa menunggu Davin.


"Katanya mau nunggu Abang, ternyata disini." Davin berbisik pelan di belakang Abel.


Abel yang mendengar ada suara yang sangat dikenalnya, tersontak kaget hingga akan menjatuhkan piringnya.


Abel refleks memukul lengan Davin, "Bang Davin nyebelin, bikin Abel kaget."


"Bang Davin lama," seru Abel mulai malu-malu


"Sayang, kesitu yuk. Abang kangen banget sama kamu nggak ketemu berapa hari!" ajak Davin menunjuk kursi luar gedung.


Meskipun takut ketahuan papanya, tapi Abel juga tidak mau menolak. Jadi kesimpulannya dia mengangguk, Abel meletakkan piring membatalkan niatnya untuk makan dan mengikuti langkah Davin.


Ada dua kursi dan disini tidak terlalu banyak tamu yang melewati tempat mereka duduki sekarang.


Abel mendadak malu dan berdebar, kenapa rasanya seperti mojok dan menjauhi kerumunan. Padahal di dalam sangat ramai.


"Kamu kangen nggak Sayang sama Abang?" tanya Davin menatap lekat Abel yang duduk disampingnya.


Abel tersenyum malu kenapa kalau dekat Davin dia selalu jadi kaku. Bagaimana nanti jadi suami, bisa pasrah mau di apain saja.


"Sama kayak Bang Davin," balas Abel.


"Harusnya, Abang bilang seminggu aja ya, Abang udah nggak sabar pengen selalu sama kamu terus."


"Ih ...Bang Davin kan tinggal tiga hari lagi." Abel mengingatkan dengan jarinya.


"Iya Sayang. Oh ya Sayang, Abang udah pilih tempat bulan madu kita."


"Curang. Kenapa nggak diskusi dengan Abel dulu," ujar Abel melipat tangannya ke dada cemberut.


"Kejutan dong Sayang. Sehari nggak ketemu kamu kepala Abang pusing, bawaannya kangen terus."

__ADS_1


"Bang Davin mulaikan gombal ah," balas Abel sambil masih cemberut.


Melihat Abel seperti itu Davin rasanya sangat gemas ingin mencium Abel tapi untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apapun kecuali mengobrol. Davin harus menunggu saat itu ketika halal pastinya.


"Kalian ngapain nyempil disini." Tegur Ervan tiba-tiba datang entah darimana, menghentikan keseruan keduanya.


"Ki-ta mau makan Pa," balas Abel terbata langsung berdiri panik.


"Ya Mas benar, ini kita udah mau masuk kok," jawab Davin ikut menjawab ngelagapan.


"Udah masuk gabung sama yang lain, bikin salah paham orang aja!" gertak Ervan.


Abel masuk ke dalam gedung mengandeng tangan Ervan disusul Davin yang mengekor di belakang ayah dan anak ini.


Di dalam gedung, Abel mengambil beberapa kudapan untuk mengisi perutnya sebelum bergabung dengan keluarganya menikmati pesta.


"Ka Abel," seru wanita tiba-tiba muncul.


"Hai ...," balas Abel. Abel mengingat wanita ini yang ia temui di kafe waktu itu tapi dirinya sungguh lupa siapa namanya.


"Aku Nesya kak masih Ingat, kakak pacarnya bang Nolan kan," tanyanya lagi.


"Ya Nesya aku Inget, tapi aku bukan pacar Nolan. Aku calon kakak iparnya, itu calon suamiku." Abel menunjuk ke arah Davin yang duduk bersama keluarganya.


"Owh calon suami Kak Abel ganteng ...." balas Nesya mendadak senang fakta tak sesuai ekspektasinya. Abel bukan pacar Bang Nolan.


"Makasih Nesya, Kamu kenal dengan pengantinnya?" tanya Abel.


"Nggak Kak, aku cuma temenin Kakak aku, istrinya keluar kota." Nesya menunjuk ke arah orang yang sangat dikenal dan di sayangi Abel.


"Kamu adeknya Om Adrian?" Abel kaget kebetulan yang menyenangkan dan ia belum pernah tahu kalau Omnya punya adik perempuan.


"Adek angkat Kak, aku di adopsi orang tuanya." Balas Nesya.


Nesya dan Abel meneruskan mengobrol karena merasa ada kecocokan di antara keduanya.


.


.


.


.


.


Next......


Thor : Mo'on map pendukung bang No, Thor ngerti kalian pasti pengen banget kan lemparin Thor pake botol aqoa 😬😬😬 tolong jangan! lemparin saja thor dengan Poin 🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️


Visual Paman Angga dan Rena Thor masih belum Nemu yg cocok


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian.

__ADS_1


__ADS_2