
15 tahun kemudian
Raffa POV
Sejak kecil, saya di didik dalam keluarga harus jadi anak yang penurut dan berbakti kepada kedua orang tua. Ya, buktinya dari kecil saya selalu menurut saja jika Mama menyuruh pergi mengaji, pergi les bahasa Inggris, dan kadang juga khursus masak. Maaf! yang terakhir enggak ya, saya cuma ikut Mama saja demo masak sama ibu-ibu PKK.
Perkenalkan nama saya Haidar Raffa Siddiq Wijaya, nama saya keren kan. Kata mama itu nama pemberian dari papa yang artinya anak yang sholeh, pemberani, baik akhlaknya dan juga jujur. Berat banget ya arti nama saya, tapi nama adalah doa Sob. Buktinya sekarang saya termasuk anak yang sholeh dan pemberani. Bukan kepedean ya, tapi ini Mama dan Papa yang selalu bilang saya anak Sholeh.
Saya biasa di panggil Raffa dari bayi. Sekarang saya berusia 23 tahun. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya punya satu kakak perempuan yang cantik dan Adek laki-laki yang gantengnya di bawah saya.
Dari kami berempat baru kakak kami yang sudah berkeluarga. Mungkin sebentar lagi saya nyusul. Eh....
Raydan adik saya sekarang masih menempuh kuliah semester tujuh jurusan teknik. Adik saya bercita-cita menjadi seperti papa yang mencari titik pada inti bumi yang mengandung minyak. Saya hanya bisa doakan semoga cita-citanya bisa terwujud.
Sedangkan saya, harus mengubur dalam cita-cita saya sebagai seorang dokter. Selain saya yang tak tahan melihat darah, saya juga nggak terlalu pandai ilmu biologi.
Jadilah saya mengambil kuliah ilmu bisnis dan manajemen untuk membantu mengelola perusahaan Kakak saya yang bergerak di bidang agrobisnis. Tepatnya bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kepala Sawit. Perkembangan bisnis ini cukup menjanjikan, karena di masa depan minyak dari kepala sawit masih diteliti menjadi bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil. Cukup penjelasan masalah pekerjaan yang membuat saya sibuk dan cukup menguras emosi. Jangan salah ketika di kantor sebagia atasan saya sedikit keras dengan bawahan saya. Itu untuk melatih kedisiplinan mereka juga, saya akan jadi pribadi yang berbeda ketika di kantor dan di rumah.
Jabatan saya di perusahaan cukup keren, tapi saya bukan CEO seperti di drama - drama koreya yang jatuh cinta dengan sekertarisnya. Eits, saya nggak suka nonton drama koreya ya. Bisa di pastikan saya pria tulen. Saya malah tidak suka dengan manusia berwajah plastik itu. Saya hanya tahu dari cerita Mama yang suka baper setelah live streaming.
Tapi saya direktur pengembangan di perusahaan kakak saya. Lumayan sibuk di kantor dari pagi sampai sore cuma ngurusin berkas di komputer. Tapi Salah satu tugas yang paling saya sukai dari pekerjaan saya adalah memarahi bawahan. Jahat ya saya, dari situlah saya belajar menjadi jiwa pemimpin dan membuat karyawan disiplin. Jadi saya tak perlu ragu lagi untuk nanti memimpin rumah tangga. Ups ....
Tapi jujur saya sekarang memang sudah siap untuk menikah. Di usia saya sekarang, saya merasa sudah cukup matang secara finansial maupun batin. Jadi apalagi yang ditunggu...
Bukan, saya bukan cowok nggak laku sob, sudah banyak sih cewek-cewek cantik yang berurutan cari perhatian saya.
__ADS_1
Tapi Mama tuh selalu ngasih ultimatum, kalau mama punya calon yang cocok buat Saya. Saya nggak keberatan sih di jodohkan asalkan calonnya cantik, bahenol, lembut, Sholehah sesuai tipe saya. Tapi kalau kebalikannya saya kena zonk, saya pertimbangkan lagi dong jodoh pilihan orang tua. Tapi saya yakin kok, pilihan orang tua selalu yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat berharap begitu.
Ngomong-ngomong soal jodoh sebenarnya saya sudah punya calon incaran saya. Dia karyawan di bagian devisi keuangan. Dia cantik, lembut, cekatan, yang pasti pakai jilbab, dia tipe saya banget lah. Kita juga sudah dekat, cuma belum mengungkapkan rasa saling suka saja.
Tapi masalah saya sekarang. Mama dan Papa dua hari ini lagi gencar ngomongin masalah perjodohan saya dengan anak temannya. Saya juga penasaran siapa sebenernya anak teman Papa itu.
Sebagai anak yang baik, penurut dan berbakti pada kedua orang tua. Mungkin sebagian orang merasa hidup saya kenapa mau di atur kedua orang tua saya. Sebenarnya saya nggak pernah merasa seperti itu. Saya hanya merasa hidup saya di arahkan oleh orang tua saya. Mudahan mereka mengarahkan saya ke jalan yang benar ya.
Oke sob, Saya terpaksa menerima tawaran mama untuk dipertemukan dengan calon istri pilihan mereka. Saya nggak mau mereka kecewa, setidaknya mengugurkan kewajiban sebagai anak berbakti.
Tapi kalau memang calon istri pilihan mereka nggak lulus dengan standar Nasional, maksud saya nggak lulus kriteria idaman saya. Saya bisa juga dong protes dan ngajukan calon saya.
Tapi Mama sama Papa sudah kasih warning kalau calon istri pilihan mereka itu cantik, seperti artis-artis koreya dengan segudang prestasi semasa sekolah. Okelah! tapi tetap kriteria cantik orang tua dan anak berbeda ya.
Tenang, saya sudah punya calon cadangan wanita Sholehah yang pasti enggak akan membuat mereka kecewa. Saya hanya berharap calon pilihan Mama dan Papa menolak saya, sehingga bukan saya yang menyakiti dan mengecewakan orang tua.
"Raf, nanti jangan lupa jangan pulang lama-lama. Malam ini kita akan ke rumah calon pilihan kita," ucap Mama sambil naruh ayam goreng di piring saya
"Ya Ma, memang siapa sih Ma Pa." Sumpah aku penasaran mereka pakai acara teka-teki segala.
"Nanti juga tahu Raf, siapkan saja diri kamu," balas Papa tak jauh beda dari Mama.
Saya pasrah sajalah, lagipula nanti juga akan tahu sendiri. Kalau ada Raydan di rumah, dia pasti sudah mengoda saya habis-habisan.
"Dia anak sahabat baik Papa, kita sudah seperti saudara. Anaknya sudah Papa anggap seperti anak Papa sendiri. Papa harap kamu nggak akan mengecewakan kita Raf," ungkap Papa yang malah terdengar seperti ancaman untuk saya.
__ADS_1
Tapi siapa? Sahabat papa banyak loh? Apa perlu saya buka buku foto lama list teman Papa. Sungguh itu kurang kerjaan.
"Ya Pa, tapi jodoh, maut, rejeki tetap di tangan Allah." Saya hanya bisa mengeluarkan kalimat pamungkas.
"Ya betul sayang, perantara kita," sambung Mama yang keliatan paling bersemangat dengan perjodohan ini.
"Ya Ma iya, udah boleh makan ya sekarang." Serius boleh, tapi saya bisa terlambat jika tidak segera sarapan hanya mendengar mereka terus membahas masalah ini.
"Iya Nak, kamu sudah terlambat kan."
Tuh Mama tahu saya yang selalu disiplin waktu.
"Tapi jangan lupa nanti malam ya," peringatan Mama yang ke empat kali. Saya hanya senyum mengangguk, sekali lagi mama ingatkan saya, saya akan beri hadiah motor listrik.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....