
Tibalah hari minggu untuk sebagian orang menghabiskan waktu bersama keluarga adalah solusi yang tepat. Bi Mina sudah memasukkan semua makanan dan minuman ke dalam mobil. Abel sudah sangat siap dari tadi dengan pakaian santai dan sepatu yang sama dengan Riri. Abel dan Rena masuk ke dalam mobil disusul Bi Mina yang sengaja ikut untuk membantu keperluan disana, mereka duduk dikursi belakang, mereka bertiga sengaja mengosongkan kursi depan untuk Riri. Tidak berapa lama setelah menerima telepon, Ervan masuk ke dalam mobil dan semua bersemangat pergi outbond.
Di tempat yang berbeda, Riri yang juga memakai baju santai lengkap juga dengan sepatu yang sama seperti Abel. Dia sedang menunggu Abel yang akan menjemputnya. Dia menunggu di depan rumah karena Abel memberi instruksi kalau dia sudah dekat dengan rumahnya. Beberapa menit yang di tunggu datang di hadapan Riri.
"Ayo bu, masuk - masuk di depan." kata Abel membuka jendela kaca mobil.
Riri berpamitan pada ayah dan ibunya dan langsung masuk kedalam mobil disamping Ervan yang berada di kursi kemudi.
"Ada bi Mina sama Rena juga, Abel makasih ya cantik sepatunya." Sapa Riri ketika didalam mobil. Abel tersenyum mengangguk.
"Mas. Bu Tiara nggak ikut." Tanya Riri pada Ervan menyapa.
"Nggak Ri, dia nggak suka kegiatan diluar ruangan. Teman kamu nggak jadi ikut" Balas Ervan sambil memutar kemudi.
"Nggak mas, dia ada kegiatan lain." Balas Riri.
Semua didalam mobil antusias. Tidak ada perbincangan serius mereka hanya bercanda karena di dalam mobil kedua bocah terus saja ribut bernyanyi mengikuti setiap lantunan Lagu yang dinyalakan. Menempuh perjalanan 1,5 jam mereka tiba di bukit bengki*ai.
Udara disini memang terasa sangat sejuk, dingin dan alami, turun dari mobil semua bersemangat sambil mngirup udara yang kaya akan oksigen yang masih sangat asri.
Bukit ini merupakan kawasan wisata konservasi hutan tropis yang hanya ada di pulau-pulau tertentu. Disini banyak kegiatan ektrim yang bisa dilakukan.
Bi Mina memilih tinggal di pedepokan yang sudah disewa untuk nanti mereka beristirahat.
Abel dan Rena mengandeng Riri yang sudah tidak sabar berjalan dengan cepat menaiki anak tangga untuk menuju kawasan hutan. Di sekeliling anak tangga terdapat banyak pohon-pohon bengkirai berukuran sangat besar yang berumur ratusan tahun dilihat dari papan tulisan di depan pohonnya.
__ADS_1
"Pa ayo cepat," gerutu Abel yang melihat papa nya di belakang. Dari kejauhan Ervan mengangguk.
Riri merasa canggung berjalan beringingan dengan Ervan, sebab itu dia memilih berjalan dengan bocah-bocah. Dari tadi jantung nya berdengup kencang terbawa suasana alam ini sepi segar sunyi.
Setelah berjalan beberapa saat tiba mereka di wahana pertama yang paling ekstrim yaitu berjalan diatas jembatan tali yang diikat kan dengan satu pohon raksasa ke pohon raksasa yang lain. Untuk naik ke wahana mereka harus menaiki anak tangga yang sudah dipasang di pohon. Untuk kegiatan ektrim menyebrang ke jembatan ini harus 2 orang minimal dan maksimal. Abel sudah siap dengan perlengkapan keamanan berdua bersama Rena dan satu instruktur.
Pelan-pelan mereka berjalan menyusuri tali jembatan-jembatan untuk menyebrang, Abel dan rena terus berteriak semakin kencang ketika akan di tengah seperti ada terpaan angin yang seolah-olah akan membuat mereka jatuh, Tali yang mereka tumpangi semakin bergetar mengikuti arah angin mereka berdua berpelukan erat didampingi sang instruktur. Akhir nya Mereka berdua sampai dipohon satunya dan melambaikan tangan ke arah Ervan dan Riri.
Ervan sudah bersiap memakai pengaman begitu pula dengan Riri. Karena masuk katagori dewasa Mereka tidak didampingi instruktur.
"Ri, kamu pucat, nggak usah main kalau memang nggak berani." Tanya Ervan melihat wajah Riri lebih putih.
"Ayo mas jalan." Kata Riri mereka berjalan berurutan.
"mas aku takut." kata Riri pada Ervan yang sekarang sangat dekat, bahkan Riri bisa merasakan hangat pelukan tubuhnya dan aroma parfum di tubuh Ervan yang harum.
"Kamu peluk aja yang erat kita jalan sama-sama." Riri berbalik arah memegang erat tangan Ervan yang melingkar di pinggang nya.
Beberapa menit menyusuri jembatan yang menggantung di antara 2 pohon Mereka tiba di tepi pohon yang lainnya. huh Riri merasa sangat lega karena terlalu lega dia memeluk Ervan erat lagi. Ervan mengangkat dan memandangi wajah Riri entah kenapa wajahnya sangat manis ketika sedang ketakutan sehingga membuatnya tidak tahan melihat bibir nya yang merah semu dan langsung menempel kan bibirnya ke bibir Riri. Ervan menciumi bibir Riri tanpa ada penolakan dari Riri.
"MAS! MAS! masih mau melamun atau jalan." teriak Riri yang melihat Ervan masih diam dan tersenyum-senyum.
Ervan langsung terbangun dari lamunannya. sial. ternyata aku hanya mengakhayal Riri bukan gadis yang mau aku peluk dan cium seenaknya.
"Ya Ri, ayo jalan. kamu nggak takut, kalau takut aku peluk kamu ya." balas Ervan berteriak karena suaranya samar terdengar di atas pohon.
__ADS_1
mereka mulai melangkah ke tali. Riri berada didepan.
"Takut? Riri nggak takut sama sekali malahan udah nggak sabar mau coba yang disana." jawab Riri menunjuk lintasan yang lebih tinggi dan panjang dari sekarang.
"Kamu perempuan bukan sih Ri, masa nggak takut sama sekali." Ervan heran, kenyataan tak sesuai harapannya.
"Awas aja. kalau mas sampai pegang Riri, nanti Riri dorong dari sini." teriak Riri sambil tertawa terus berjalan melintasi tali dengan terpaan angin yang makin ketengah makin kencang disusul Ervan dibelakang nya beberapa meter.
"Jangan ri, kamu jahat banget." kata Ervan melihat dari atas ke bawa, yang malah semakin gemas dengan sikap Riri.
Beberapa menit kemudian mereka sampai ke pohon yang lain. Riri terdiam sebentar menikmati pemandangan ciptaan yang maha kuasa, amat menakjubkan dari atas pohon nampak perataran hijau di sepanjang mata memandang. Riri pun tak menyerahkan dia mengobati rasa penasarannya menaiki lintasan satunya yang lebih tinggi dan panjang dari sebelumnya.
"Ri, kamu yakin mau lanjut." tanya Ervan melihat Riri bersiap menaiki tangga lagi ke arah lebih tinggi.
"Ya mas, kenapa mas takut." ejek Riri terus naik ke atas pohon hingga akhirnya sampai ditujuan. Karena tidak suka Riri di dampingi instruktur Ervan mengikuti Riri.
Kegiatan diakhiri dengan flying fox dari atas pohon berketinggian 50 meter ke tanah. Meraka berempat sudah menaiki banyak wahana ektrim. Banyak mengambil foto-foto kebersamaan mereka, terutama Abel yang selalu berfoto bertiga dengan papanya dan juga Riri. Merasa sangat lelah memutuskan istirahat siang di pendopo yang tadi disewa, disambut bi Mina yang sudah menyiapkan semua makanan untuk makan siang.
Waktu menunjukkan sore waktunya kembali lagi ke kota untuk besok menjalani aktivitas normal.
"Makasih ya Ri, udah nemanin Abel." kata Ervan sebelum Riri turun dari mobil menuju rumahnya.
"Ya mas. sama-sama Riri senang juga." Balas Riri tersenyum dan turun menuju rumahnya. Tak lama mobil Ervan berlalu dan tak nampak dari pandangannya Riri.
next....
__ADS_1