
Aline POV
"Aline!" "Ini sudah jam berapa?" suara bising yang selalu membuat gendang telingaku hampir kehilangan frekuensi suara.
"Makanya kamu tuh cari kerja yang benar, biar nggak jadi pemalas!"
Aku semakin menutup tubuhku dengan selimut, sudah di pastikan itu adalah suara ibu suri yang selalu menyuruh anaknya bangun pagi.
Semenjak lulus kuliah jurusan arsitektur, aku memang belum tertarik untuk berkerja di kantor. Sedangkan Mami semakin sering mengomel sekarang, karena lebih sering di rumah usai di pensiunkan dari perusahaannya.
Aku Caroline Shania Bagaskoro, tapi biasa disapa Aline. Usiaku sekarang menginjak 22 tahun. Baru beberapa bulan lulus kuliah dan menginjak kaki di kota kelahiran, mami sama papi sudah heboh nyuruh aku cari kesibukan supaya enggak di rumah terus.
Mami terus nyuruh aku kerja supaya jadi wanita yang mandiri secara finansial, aku nafas dulu boleh nggak sih!
Sedangkan Papi nyuruh aku cepat-cepat daftar melanjutkan S2. Please deh Papi, S1 aja masih anget di kepalaku malah di suruh kuliah lagi. Sekalian aja aku jadi mahasiswa abadi.
Aku lagi berusaha meyakinkan kedua orangtua aku kalau aku ini pengangguran yang berpenghasilan. Aku cukup kerja pake iPad aja di tanganku.
Aku bekerjasama jadi freelancer desain interior untuk beberapa developer perumahan dan perusahaan interior desain. Hasilnya sih lumayan, satu gambar bisa buat aku jajan satu Minggu. Kadang seminggu aku bisa layani empat gambar. Enak kan Bun kerja aku, hanya perlu di rumah main iPad jadi duit. Sekarang era digital kita cukup kerja dari rumah klien datang sendiri tanpa harus keluar rumah.
Apalagi aku anak rumahan, sudah dipastikan ini pekerjaan yang cocok.
Kembali ke mami yang tiap hari kerjanya hanya omelin aku karena anggapan wanita karir itu harus aktif di luar rumah. Aku sudah berbusa jelaskan kalau sekarang wanita berkerja nggak harus diluar rumah.
Jangan salah bun, Meksipun aku anak tunggal, aku jauh dari kata di manja. Uang jajan aku selama kuliah saja sangat minim. Tujuan mami sih baik, agar aku bisa mengelola keuangan dengan baik meskipun jumlahnya sedikit. Untungnya tangan lentikku lihai dalam urusan padu padan suatu ruangan. Alhamdulillah aku di beri bakat alami bisa mengambar yang bisa di jadikan ladang rejeki.
Kadang juga kalau sudah kelamaan di rumah, aku sempat mikirnya pengen nikah aja. Ada pengeran yang datang meminang dan membawaku terbebas dari Omelan ibu suri. Aku bukan anak durjana sih yang nggak mau denger nasehatin orang tua terutama ibu suri aku mami. Tapi kadang omelan mami tuh pedes banget kayak seblak.
Tapi gimana mau nikah, pacaran saja dari dulu dilarang sama papi. Di umur aku yang menjelang uzur ini alias cukup untuk nikah, aku belum pernah tuh namanya merasakan di panggil sama 'sayang' sama kaum berjakun.
Apa itu keinginan Papi? Aku jadi jomblo sampai batas waktu yang belum ditentukan! Ya sih, Papi mau aku jaga diri sebagai perempuan manis berwajah cantik. Tapi kalau papi terus - terusan ancam cowok yang dekat sama aku. Bisa bayangin kan, siapa yang mau melirik wajah jelita ini.
"Aline!" panggil Mami yang tiba-tiba duduk di tepi ranjang.
Aku langsung mendongak dong, tumben nih ibu suri bangunin aku dengan cara baik-baik.
"Iya ki, aku masih ngantuk!" jawabku sambil mencepon ke atas rambut yang acak-acakan.
__ADS_1
"Memang kamu tidur jam berapa?" tanya Mami.
"Aku tidur jam empat, terus bangun subuh selesai itu tiduran lagi," balasku.
"Kamu makanya kerja yang bener, kalau begini kerja nggak tahu waktu!" omel ini ibu suri lagi.
"Namanya bakat yang menghasilkan duit Mi, inspirasinya datang nggak tahu waktu!"
Desain yang ku buat semalam untuk kokoh Ricard memang membutuhkan waktu berjam-jam. Selain ikuti Feng sui desainnya rumahnya juga sedikit rumit, perlu sedikit perhitungan. Hasilnya aku kerjakan seharian penuh hingga dini hari.
"Mami mau ngomong serius sama kamu, kelamaan kalau nunggu papi kamu," ucap Mami yang keliatan memang lagi serius.
"Apa nih mi, Aline jadi penasaran," aku pasang telinga nih, kali aja mami mau kasih jodoh. Eh...
"Nanti malam, keluraga Om Ervan mau datang kesini untuk ketemu kamu,"
"Lah, kenapa mau ketemu Aline nggak ketemu Papi atau mami!" jawabku. Aku memang lama enggak ketemu sama Om Ervan semenjak kuliah di luar kota.
Mungkin dia kangen kali ya sama keponakan yang jelita ini.
Aku hampir keselek guling mendengar ucapan mami. Secepat itukah Allah mengabulkan doa hamba yang teraniaya ini. Mami beneran mau kasih aku jodoh.
Tapi Raffa, Raffa kan jahilnya minta ampun. Apalagi kita sudah enggak pernah bertemu berabad-abad. Ya kalau dia masih ganteng kayak zaman SD. Lah kalau dia berubah jadi lebih gendut, dekil terus suka ngupil. Pupus dong harapan Cinderella di jemput pangeran tampan dari kastil ibu suri.
"Mi tunggu mi, ini kenapa Papi sama Om Ervan main Jodoh-jodohin aja! Aku memang kenal sama Raffa tapi dulu waktu SD. Mami yakin sekarang Raffa masih oke kayak dulu!" protesku pada mami.
"Mereka berdua tuh udah rencanain udah lama dari kamu masih bocah! Makanya papi melarang laki-laki yang mau dekati kamu!"
"Tapi Mi, mami berani kasih jaminan sama aku kalau Raffa, ganteng, Soleh, baik, suka menolong, nggak pelit, nggak jorok!"
Mami malah tertawa, "Kita lihat aja nanti! kamu juga akan tahu sendiri orangnya," jawab mami.
Aku jadi gemes sendiri kan sama Mami main rahasia-rahasia segala. Apa bener nih dugaaan aku kalau Raffa sudah berubah.
"Ya udah mami mau list dulu daftar masakan yang akan di masak," ucap Mami bangun dari tempat tidur.
"Mi," aku merengek minta kejujuran mami.
__ADS_1
"Nanti juga tahu sendiri, makannya dandan nanti yang paling cantik buat calon suamimu!" balas mami melenggang gitu aja ninggalkan Cinderella.
Aku jadi makin penasaran nih, kalau Raffa nya ganteng terus beda tipis-tipis sama oppa Koreya, aku sih Yes!
Lah kalau nggak sesuai ekspektasi! Okelah, sekarang aku harus susun strategi buat nolak secara halus perjodohan ini jika tak sesuai harapan.
"Aline!" teriak mami mengedorbm pintu, membangunkan pikiranku yang lagu nyusun strategi untuk nanti malam.
Aku keluar kamar nemuin ibu suri.
"Apalagi mami!"
"Kamu cepetan mandi terus kita ke salon, biar muka kamu yang kusam, kucel gitu!" ucap mami langsung cus pergi lagi.
Suka sembarangan nih mami, muka aku butek kan karena begadang gambar rumah koh Ricard, biasanya juga muka aku glowing plus flawless menyinari rumah ini. Iya kalau Raffanya oke! kesalon tiap hari juga rela.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Untuk visual Aline dan Raffa Ei Masih binggung, soalnya keduanya punya wajah lokal...
sabar ya say .....
__ADS_1