
Pagi ini abel bersiap bertolak ke bandara untuk mengunjungi perusahaan dan perkebunannya di Kota T. Ervin Pamannya, sudah menunggu Abel di ruang tunggu bandara untuk berangkat bersama. Beberpa menit dari rumah, mobil yang ditumpanginya Ervan dan Abel sudah tiba di ruang keberangkatan bandara.
"Pa, Abel berangkat ya," Kata Abel mencium punggung tangan Papanya.
"Hati-hati disana sayang, maaf Papa nggak bisa ikut, ingat minta jaga Angga kalau Om Ervin udah pulang kesini," Ujar Ervan.
"Ya Pa," balas Abel lagi pada Papanya, dia melepas seat belt dan bersiap keluar dari mobil.
Tak lama kedatangan Abel, panggilan pesawat akan boarding terdengar. Mereka menggunakan pesawat kecil dengan penerbangan jarak pendek yang hanya berkapasitas puluhan orang. Karena letak kota T yang berada satu pulau dengan Kota B. Menempuh perjalanan udara selama 60 menit, kini pesawat kecil ini sudah mendarat di Bandara kecil disana. Ervin mengandeng tangan Abel menuju pintu kedatangan, nampak beberapa orang mengenali Ervin yang sengaja di perintah untuk menjemput keduanya.
Kedua laki-laki dengan pakaian rapi langsung menyalami tangan Ervin dan yang lain membantu membawakan tasnya. Kini keduanya masuk ke dalam mobil yang disiapkan untuk melesat ke perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Abel. Menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan kondisi jalan kota T yang sangat lenggang berbeda dengan di kota B, mereka sudah memasuki area perusahaan.
Abel diam sejenak melihat bangunan yang ada didepannya. Memang tidak semegah kantor operasional pusat milik opahnya dikota B. Tapi lewat kantor inilah yang menghasilkam pundi uang yang jumlahnya cukup fantastis menurut Abel.
Abel dan Ervin masuk kedalam lobby kantor yang sudah disambut beberapa staff karyawan, semua nampak terkesima dan tak percaya melihat Bos mereka yang sebenarnya masih sangat muda. Dan tak lupa juga menyambut wanita yang selalu berpenampilan cantik dan memukau meski usianya tak lagi muda, Miranda.
"Selamat datang keponakanku, ayo kita keruang rapat." Kata Miranda pada Abel dan Ervin dan mengiring keduanya ke sebuah ruangan.
Miranda Abel dan Ervin kini sudah berada di ruangan meeting, staff yang didominasi laki-laki berumur ini mulai masuk memenuhi kursi kosong didalam ruangan. Nampak seorang lelaki yang sangat dia kenal dari balik pintu, Abel meloncat kegirangan dari kursinya kembali ke sikap aslinya. Karena sejak tadi dia terus saja bersikap formal dihadapan orang-orang yang terus menyambutnya dengan hormat mulai bandara hingga dia tiba dikantor ini.
“Paman….” Sapa Abel pada Angga yang memasuki ruangan dengan gaya lebay. Dengan seketika semua mata memusat melihat Abel yang bertingkah kekanakan berbeda sekali dengan Presdir mereka. Abel yang sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang penting yang ada didalam ruangan ini, merasa malu dan kembali duduk di kursinya dengan memasang wajah datar seperti Omnya Ervin dan Tantenya Miranda.
Angga tersenyum melambaikan tangan pada Abel dari kursinya, kali ini Angga juga bersikap datar tidak seperti biasanya.
Apa semua petinggi perusahaan akan memasang wajah begini terus sepanjang hari, mereka nggak takut akan cepat tua. Sebelum kesini aku harusnya berguru dulu sama tante Tiara bagaiamana caranya pasang muka seram. Batin abel.
Miranda mulai membuka rapat, Miranda membahas laporan perusaahan ini dilayar proyektor. Beberapa menit Miranda menjelaskan pengembangan perusahaan dan sebagainya yang berpuluh-puluh lembar, Abel hanya berpura memperhatikan demi kewibawaann padahal sebenarnya dia sangat bosan dan mengantuk dengan manajement ini, dia lebih tertarik pada ilmu alam dan perhitungan.
“Baik, sebenernya inti dari rapat kita kali ini adalah saya ingin memperkenalkan, owner dari perusahan kita adalah keponakanku, Abelia Amvan Wijaya.” Terang Miranda setelah selesai menjelaskan hal yang ada dilayar.
Abelia berusaha tersenyum diantara anggukan sopan menunjukkan hormat orang-orang didalam ruangan.
"Baiklah, apakah ada pertanyaan." Sambung Miranda lagi.
Abel mengangkat tangan, "Tante Mira bagiamana upah yang diberikan pada pekerja dengan tenaga ekstra seperti buruh panen." Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala Abel.
"Tentu saja kita mengupahnya dengan sangat layak tanyakan saja pada Pak Angga selaku direktur control di perkebunan." Jelas Miranda.
__ADS_1
"Upah yang kita berikan sudah sangat layak dan memenuhi standar pasar Bu Abelia." Sambung Angga.
Abel rasanya ingin tertawa geli melihat sikap formal Angga padanya tapi dia menahannya, hanya membalasnya dengan anggukan.
"Bagiamana dengan jaminan kesehatan dan pembekalan keselamatan kerja." Sambung Abel lagi.
"Abelia, hanya pekerja tetap yang mendapat jaminan kesehatan, ketika panen kita akan banyak mendatangkan pekerja dari luar daerah, tapi mereka juga mendapat upah uang layak." Terang Miranda.
Abel sedikit lega setidaknya semua pekerja disini terutama yang dari paling rendah mendapatkan upah yang sesuai.
"Tante aku pengen lihat perkebunan." Seru Abel antusias.
Semua mata melihat Abel heran, untuk pertama kalinya ada Owner perusahaan yang terjun langsung ke perkebunan. Bahkan Miranda saja seorang Presdir bisa dihitung dengan jari kapan dia ke perkebunan lima tahun terakhir. Perkebunan yang panas, lengket, berlumpur dan mungkin kalau kurang beruntung, tidak menutupi kemungkinan akan bertemu hewan-hewan liar, salah satunya adalah ular yang paling umum diperkebunan ini.
"Tapi Abel, Perkebunan sangat ..." Kata Miranda terputus ketika Ervin akan bicara.
"Biarkan Miranda, bawa pemilik perusahaan kita mengunjungi perkebunan." Tegas Ervin.
"Baik Mas." Balas Miranda.
Lagi-lagi aku harus patuh pada orang lain pertama Amanda kedua anaknya, untung anak manja ini tidak segalak ibunya, dia penyabar seperti Ervan. Miranda
"Baik aku akan telepon kantor kita diperkebunan, aku akan menyiapkan semua kendaraannya untuk kita." Balas Miranda.
Rapat pun dibubarkan, beberapa orang dipilih untuk bersiap mengunjungi perkebunan dengan jarak tempuh satu setengah jam karena kondisi jalan perkebunannya sawit yang agak berlumpur.
"Tante, apakah Tante tidak ikut...." Tanya Abel.
Miranda nampak ragu akan menjawab, dia membayangkan betapa becek dan panasnya matahari diperkebunan yang bisa merusak kulitnya.
"Abel, Tante kurang sehat, Angga saja dengan yang lain yang menemanimu dia lebih tahu tentang perkebunan." Jawab Miranda.
"Tante mulai nanti, Tante harus sesekali meluangkan waktu untuk ke perkebunan." Titah Abel. Miranda hanya mengangguk tersenyum masam.
"Ya Bu Abelia, saya akan menemani anda kesana." Jawab Angga mengoda Abel.
"Paman, biasa aja ngomongnya...." Protes Abel meninju lengan Angga.
__ADS_1
Mobil untuk mengantar mereka pun siap didepan halaman kantor. mobil jenis Sta*a doubel cabin yang memang paling cocok di area perkebunan dengan medan jalan berat.
Abel memilih duduk bersama Angga dalam satu mobil di kursi penumpang belakang. Kini 2 mobil berjalan meninggalkan kantor menuju area perkebunan.
"Paman tinggal dimana disini." Kata Abel memecah keheningan.
"Di area perkebunan, ada messnya dengan karyawan yang lain.." Jawab Angga.
"Paman Betah, disana pasti sepi, jauh dari keramaian." Ujar Abel.
"Betah nggak betah tiap hari yang Paman lihat pokok sawit terus, tapi Paman udah janji sama Papa Mama kamu lagian demi perusahaan ponakan Paman juga, paman happy aja." Kata Angga mencubit hidung Abel.
"Paman Makasih ya, paman totalitas banget untung aja Paman jurusan agronomi." Seru Abel yang merasa iba pada wajah ganteng Angga yang harus tersembunyi diperkebunan sawit demi perusahaannya.
"Paman, paman pasti kesepian ya tinggal di sini, kenapa nggak cari istri biar ada yang hibur dan nemenin." Tanya Abel.
Angga tertawa dan lanjut mengelus puncak kepala Abel.
"Abel, cewek jaman sekarang mana mau tinggal di kebun sawit gini, jauh dari keramaian." Seru Angga lagi.
Abel tersenyum sendiri berpikir ada jodoh yang tepat nih untuk pamannya, kebetulan nih ada wanita yang mau tinggal dimana saja.
Menempuh perjalanan beberapa jam dari kota T, mobil memasuki jalanan dengan pemandangan dari sisi kiri dan kanan jalan pokok sawit besar.
.
.
.
.
Next.....
Sorry telat UP...
terimah kasih udah sabar nunggu Up dari author.
__ADS_1
Beri semangat thor pencet LIKE, KOMMENT yang punya poin bisa bagi VOTE. Loph ❤️ U 🙏🙏🙏