
Sore yang cerah dengan semburat cahaya berwarna jingga yang menerangi langit. Abel sudah tiba diruang kedatangan bandara. Abel masih menyapu matanya, tak sabar lagi menunggu seseorang ingin ditemuinya. Tak lama berselang seorang lelaki dengan kemeja biru dan celana jeans melambaikan tangan pada Abel. Abel membalas lambaian tangan dan merasa senang.
“Paman!” seru Abel pada Angga yang mendekatinya.
“Kamu repot-repot jemput paman, jadi nggak enak ini,” balas Angga.
“Kalau nggak enak kasih kucing, udah yuk paman pulang.” Ujar Abel mengandeng tangan Angga.
Kini Keduanya menuju gedung parkir, Abel menaiki kursi kemudi sedangkan Angga menaiki kursi penumpang depan. Mobil Abel pun perlahan keluar meninggalkan bandara. Mereka melintasi jalanan sore yang padat di kota B bersamaan dengan waktu pulang kantor.
“Paman kita ngobrol dulu di kopi shop yuk,” Ajak Abel yang penat dengan jalanan padat. Ia ingin rehat sejenak bersua dengan pamannya.
“Boleh, kamu mirip Papa kamu banget Abel.” Seru Angga menurut saja keinginan Abel.
Abel pun dengan cepat membelokkan mobilnya ke salah satu Mall yang tak jauh dengan bandara untuk menikmati kopi dan ingin banyak mengobrol dengan Angga. Abel memarkirkan mobilnya dan melangkah bersama Angga menuju coffe shop.
Kini keduanya sudah berada diteras outdoor café, memesan beberap minuman dan makanan ringan. Tak lama disela obrolan kopi dan beberapa cake potong di sajikan pramusaji.
“Paman, gimana Rena dari segi foto dulu, cantik kan, sebelum ketemu orangnya langsung.” Goda Abel pada Angga.
“Lumayan, tapi jika kita mencari jodoh jangan lihat dari paras karena itu tidak berlangsung lama semua akan berubah kalau sudah tua. Tapi lihat dari agamanya semakin baik agama semakin baik pula akhlaqnya dan ketaqwaannya. Semoga niat baik kamu memperkenalkan paman dengan sahabat kamu bisa di mudahkan untuk langkah Paman pada kebaikan ke jalan Allah. Sehingga nantinya Paman bisa menyempurnakan setengah ibadah paman,” Ujar Angga yang lebih mirip dengan tausiah.
“Ya Allah, Paman kayak Mama Riri banget. Paman suami sholeh idaman, mudahan paman berjodoh. Jadi nggak kesepian lagi di perkebunan.” Balas Abel.
“Amin, Kalau memang nanti Paman dan Rena nggak ditunjukkan jalan oleh Allah yang artinya kita belum berjodoh. Kamu jangan kecewa, mungkin diluaran sana ada jodoh yang lebih baik untuk Rena begitu juga jodoh untuk Paman.” Seru Angga lagi.
“Ya Paman, Abel berusaha jadi perantara, jodoh tetap ditangan Allah, begitu juga jodoh Abel.” Jawab Abel.
“Gimana hubungan kamu dengan pacar kamu, udah dilamar.” Tanya Angga.
“Bang Davin nunggu persetujuan dari orang tuanya Paman. Abel berharap segera halal dengan Bang Davin. Akhir-akhir ini kita sering berbuat kacau, kalau Papa tahu pasti Abel udah digantung.”
“Kenapa takut Papa, takut pada Allah, makanya jangan sering berduaan dengan yang belum halal atau yang gak mahrom orang ketiganya pasti setan, ingat jodoh itu cerminan diri. Orang yang baik akan medapat jodoh orang yang baik juga.” Papar Angga.
“Ya Paman Angga, terima kasih tausiyah singkatnya. Paman titisan Mama Riri banget yang sedikit-sedikit kasih ceramah agama.” Balas Abel disusul gelak tawa Angga yang lucu mendengar perkataan Abel.
Keduanya kini menghabiskan sore dengan mengobrol dan menikmati kopi. Ketika langit mulai senja Abel dan Angga memutuskan melanjutkan perjalanan menuju rumah Angga di timur kota B sebelum hari gelap.
*****
__ADS_1
Diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda, dua pasangan suami istri paruh baya masuk ke dalam ruangan rawat inap VVIP Nolan. Wajah wanita paruh baya dengan rambut pendek, terlihat anggun dan modern diusianya yang tak lagi muda. Dia nampak panik.
"Davin, gimana No...." Tanya wanita yang bernama Mitha Adiguna ibu dari Davin dan Nolan.
"Its oke Ma, dia sudah dioperasi sebentar lagi pasti pulih." Ujar Davin.
"Davin, bagaimana bisa terjadi kecelakaan harusnya kamu segera tuntut pihak perusahaan atau penjarakan sopirnya akibat lalai dalam bekerja." Ujar penuh emosi Pria paruh baya, yang tak lain adalah Hendrawan Adiguna ayah Davin dan Nolan.
"Pa, Nolan pasti tidak setuju, Papa 'kan tahu sebaik apa hati anak Papa, lagi pula kata Nolan, kondisi medan jalan memang rusak." Ujar Davin lagi. Pak Hendrawan pun mengangguk setuju sambil menepuk punggung Davin meredakan emosinya.
"Ma, Pa, Kalian sudah datang." Seru Nolan terbangun dan langsung menegakkan ranjang.
"No, Apa kau baik-baik saja," Kata Bu Mitha mendekat memegangi bahu Nolan.
"Aku baik, mungkin dua tiga hari sudah boleh pulang." Ujar Nolan.
"Pa, Ma, Davin senang Papa sama Mama pulang lebih cepat, ada yang ingin Davin bicarakan sama kalian setelah Nolan sembuh dan kita semua dirumah," ungkap Davin, Nolan dengan terpaksa tersenyum pada Davin mencoba memberi semangat pada kakaknya karena mengerti hal apa yang ingin di bicarakan oleh kakaknya.
"Oke, Papa juga ada hal penting yang ingin Papa bicarakan dengan kamu tapi setelah kita semua dirumah." Balas Pak Hendrawan tersenyum penuh arti pada Davin.
Keluarga ini pun saling berbagi cerita tentang bagaimana insiden kecelakaan itu terjadi. Serta membicarakan perjalanan bisnis Pak Hendrawan di luar negeri.
Dikamar Abel.
Rena dan Abel saling berbagi cerita tentang aktivitas masing-masing. Rena semangat bercerita tentang si sekretaris, partner kerjanya yang semakin berbuat semena-mena padanya. Sedangkan Abel menceritakan tentang aksi heroik Nolan yang membahayakan dengan detail tanpa ada adegan yang dia sensor. Hingga tercipta canda tawa kedua sahabat yang cukup lama tidak tidur berdua seperti malam ini.
Sekarang keduanya Menganti topik tentang calon pasangan masing-masing.
"Mudahan kamu jodoh ya sama Paman Angga, orangnya ganteng, baik, Sholeh, rajin, pokonya calon imam banget lah." Puji Abel pada pamannya.
"Ya mudahan, aku jadi penasaran sama Paman Anggamu yang sekarang kayak apa? ganteng beneran nggak kayak fotonya." Seru Rena.
Abel langsung melempar bantal pada Rena yang di berada di sampingnya.
"Gaya betul, sok jual mahal, biasa kambing pakai kacamata aja kamu bilang keren." Canda Abel.
Rena membalas melempar bantal ke arah Abel. "Lucu nih Bu Dirut, Sekali-kali jual mahal Abelong, masa jual murah terus jadi murahan nanti." Balas canda Rena.
"Besok, dandan yang cantik, pura-pura kalem dulu didepan Paman Angga, biar muncul nanti dalam istikharah Paman Angga." Ujar Abel.
__ADS_1
"Ya bawel,"
"Siapa tahu nanti Paman Angga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, kayak aku sama Bang Davin." Ujar Abel dengan menampakan wajah manis.
"Kalau elu sama Bang Davin itu sama-sama bucin, terus elu gimana, Bang Davin kapan ngelamarnya?" tanya Rena.
"Nunggu orang tuanya datang dari luar negeri, Akhir-akhir ini perasaan aku nggak tenang."
"Kenapa lagi."
"Kenapa semakin sering Bang Davin mengungkapkan cinta, semakin aku ngerasa takut sekali kehilangan." Ujar Abel.
"Abelong aku no komentar, soalnya aku belum pernah jatuh cinta, aku seringnya jatuh miskin." Canda Rena. Abel memukul Rena dengan bantal lagi.
"Ya udah tidur besok aku magang pagi-pagi." Kata Abel menarik selimut dan mematikan lampu.
drrrrrrrtttttttt. Getar ponsel Abel di atas nakas .menandakan ada pesan yang masuk. Abel dengan cepat meraih ponselnya berharap itu dari Davin untuk yang kesekian kalinya. Tapi ternyata harapannya Buyar melihat pesan yang masuk dari sepupunya Kayla.
Kayla : Abel, lusa aku balik ke tanah air, aku mau curhat, ada yang mau aku ceritakan sama kamu.
Abel mengeryitkan dahinya, kenapa Kayla mendadak pulang dari Singapura, pasti ada sesuatu yang penting. Usai membalas pesan Kayla, dia langsung ikut menyusul Rena yang sudah terlebih dahulu ke pulau kapuk.
.
.
.
.
.
.
Next....
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author.😍🙏
Beri semangat Thormu ini pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bagi VOTE seikhlas kalian. loph U ❤️
__ADS_1