Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP9-S2// Kesempatan


__ADS_3

***BUKKKKK**. Dari arah samping Bola Voli atau apakah itu menimpa kepalanya, Abel seperti melihat banyak bintang berkeliling dan gelap. S*al rasanya hampir seperti ditimpa lima buah kelapa.


Bruukkkkkk. Akhirnya, dia pun ambruk.


"Mbak Abel....." Teriak Bu Tari*.


Semua orang berkerumun melihat Abel pingsan, anak-anak yang di gazebo juga ikut bubar melihat keramaian. Bu Tari kini yang menopang kepala Abel dengan kedua pahanya. Nolan membelah puluhan anak, terkejut siapa yang pingsan.


"Astagfirullahaladzim...." Dengan cepat Nolan mengangkat tubuh Abel yang tergeletak. Ia mengendong dan membaringkan ke sofa panjang yang ada diteras diikuti Bu Tari dan anak-anak.


"Ini Bang kasih minyak kayu putih." Salah seorang anak memberi minyak kayu putih.


Nolan mengoleskan minyak kayu putih di hidung Abel. Sedangkan Bu Tari sibuk mencari dan bertanya pada anak-anak, siapa yang bermain bola sembarangan hingga mengenai kepala Abel.


Perlahan-lahan Abel membuka matanya meskipun masih terasa berat. Dia langsung membelalakan matanya melihat siapa yang ada dihadapannya.


"Kamu!" Abel tersontak dan bangun.


Auww, Abel memegang kepalanya yang terasa sakit, Ia mengingat kembali kejadian sebelum tergeletak dan dikerumuni puluhan anak-anak ini. Ingatannya mulai pulih beberapa detik kemudian.


"Berapa lama aku pingsan?" tanya Abel polos.


"Aku nggak liat jam, mungkin sekitar lima menitan, kamu udah nggak apa-apa?" tanya Nolan kali ini sedikit lebih jinak, membuyarkan lamunan Abel.


"Aku nggak apa-apa kok." Balas Abel masih memegangi kepalanya.


"Alhamdulillah kalau gitu, hati-hati makanya, kamu hobi banget sih bikin drama." Ujar Nolan yang kembali membuat Abel kesal.


Bukan drama, aku yang selalu sial kalau ketemu kamu dan kenapa juga orang ini yang jadi superheronya. Guman Abel


Tapi Abel memilih diam lebih baik daripada menanggapi si songong, Bu Tari menyelinap di antara anak-anak membawa dua anak laki-laki sekitar 12 tahunan menunduk seperti merasa takut.


"Sudah yang lain Bubar...." Seru Bu Tari. Anak-anak sekejap bubar dari kerumunan menyebar di area panti.


"Mbak, Mbak udah nggak apa-apa." Tanya Bu Tari panik.


Abel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menandakan dia baik-baik saja. Bu Tari menyodorkan dua anak laki-laki pada Abel.


"Kak, kita mau minta maaf, kita beneran nggak sengaja nendang sampai kena kakak." Kata salah satu anak.


"Adik-adik nggak apa-apa kok, Kakak udah maafin kalian kok, lagipula kalian juga nggak sengaja." Balas Abel.


"Makasih Ka," keduanya berlari usai mencium punggung tangan Abel.


Astagfirullahaladzim, Bang Davin, dia pasti nunggu dirumah. Abel baru ingat kalau Davin pergi kerumahnya.


Abel bergegas bangun, tapi kenapa kepala ini tidak bisa berkompromi disaat krusial seperti ini, dia berusaha tidak merasakan sakit tapi kepala sampingnya seperti dipalu bergantian.


"Terima kasih, aku harus pulang secepatnya." Kata Abel pada Nolan dan BuTari. Dalam hatinya dia ragu, apakah bisa menyetir dalam keadaan seperti ini.


"Kamu nggak boleh nyetir sendiri, kamu masih sempoyongan gini," seru Nolan.


"Nggak apa-apa aku bisa kok." Balas Abel lagi, yang juga sebenarnya ragu.


"Aku antar kamu pulang, aku yang bawa mobilnya." Seru Nolan.


Abel langsung membulatkan matanya, jangan mimpi! siapa yang Sudi satu atap mobil dengan laki-laki bengis dan songong ini. Tapi otaknya kembali berpikir jernih, kondisi seperti ini dia harus berpikir dua kali untuk menolak, tidak ada pilihan lain. Jalan kaki saja rasanya masih sempoyongan. Dia masih pengen hidup dan bertemu Abang Davin secepatnya.

__ADS_1


Abel menyerahkan kunci mobilnya pada Nolan adalah jalan satu-satunya. Dia berjalan pelan menuju mobilnya yang tak jauh dari posisinya sekarang. Masuk kedalam mobil langsung menyadarkan kepalanya di bantalan empuk kursi mobil di bangku penumpang depan.


Nolan mulai menyalakan mesin mobil dan mobil pun berlahan meninggalkan panti.


"Makasih dan maaf udah ngerepotin..." Ujar Abel membuka keheningan.


"Ya." balas Nolan.


"Nama kamu Nolan kan." Seru Abel lagi.


"Ya."


"Nama aku Abel." Oceh Abel lagi


"Tahu."


Abel binggung mau bicara apalagi karena jawaban singkat Nolan yang membuatnya malas bertanya lagi. Tapi mulutnya gatal kalau tidak mengoceh.


"Kamu kuliah dimana." Tanya Abel lagi.


"Universitas B," jawab Nolan lagi-lagi singkat jelas dan menyebalkan untuk Abel.


"Oh, kamu kenal Om Adrian dong, dia pembantu rektor 3 loh, dia om aku." Tanya Abel antusias.


"Kenal, dia dosen aneh." Jawab Nolan.


Abel mengeryitkan dahinya, setidaknya sudah lebih dari satu kata dia bicara. Tunggu kamu bilang om aku aneh. Abel rasanya ingin mencabut kaca spion dan menaruh dihadapan Nolan sambil berkata tidak ada yang lebih aneh dari kamu.


"Kamu ada kegiatan kalau sore?" Tanya Nolan.


Abel langsung menoleh ke arah laki-laki disampingnya yang mulai berbicara seperti orang normal.


"Ada waktu nggak? bantu anak-anak di panti bimbel pelajaran matematika, sejam aja nggak lama seminggu dua kali. Rumah kamu juga nggak jauh dari panti." Tanya Nolan.


"Ya InsyaAlloh bisa." Balas Abel.


"Terima kasih ya." Ujar Nolan. Abel menganguk tersenyum, dia melihat sisi lembut dari si songong.


Mobil Abel sudah memasuki gerbang Citra*and komplek perumahan tempat dia tinggal. Dia mengarahkan Nolan menuju gang ke rumahnya.


********


Ditempat yang berbeda waktu yang sama, Ervan dan Davin berkendara sambil berbincang masalah kerusakan mobil yang sudah diperbaiki, dilanjutkan membicarakan masalah mobil, perusahaan, pekerjaan dan banyak lagi pembicaraan masalah laki-laki.


"Mas, kayaknya Mas Ervan dekat banget sama Abel." Kata Davin menganti topik pembicaraan.


"Itu harus vin, biar dia selalu merasa ada Papanya yang melindungi dan menjaganya," jawab Ervan.


"Mas, aku boleh minta ijin sama mas Ervan." Tanya Davin lagi.


"Minta ijin apa Vin...."


"Sabtu malam nanti, boleh nggak ajak Abel makan diluar," Tanya Davin.


"Boleh, tapi nanti ajak adiknya juga ya Raydan. Soalnya kalau Abel pergi pasti selalu minta ikut." Jawab Ervan.


Davin mengeryitkan dahinya, Astaga begini banget mau dapat cewek bener masa mau kencan aja suruh bawa adeknya. Mas Ervan pernah muda nggak sih, begitu sekiranya yang ada dipikiran Davin.

__ADS_1


"Mas, emang adeknya nggak ngantuk, aku perginya malem loh." Dalih Davin lagi.


"Berarti kamu pulangnya jangan malam-malam, selesai makan pulang." Seru Ervan lagi.


"Ya, Mas...." Balas Davin sudah kehabisan sanggahan.


"Memang kamu nggak jalan sama pacar kamu, kenapa jalan sama Abel?"


"Aku nggak punya pacar Mas,"


"Bercanda kamu Vin, mana mungkin kamu nggak punya pacar." Sindir Ervan yang tahu bagaimana kehidupan petinggi perusahaan.


"Mas, bagi aku kencan dengan wanita hanya untuk kesepakatan bisnis demi Papa, tidak ada yang serius apalagi pakai hati." Ujar Davin.


Ervan berpikir sejenak mendengar perkataan Davin, mungkin Davin tipe pengusaha seperti kakaknya dulu yang melakukan semua hanya demi bisnis dan reputasi keluarga.


"Tapi Mas, kali ini kalau Mas ijinkan, Aku ingin bisa lebih dekat dengan Abel untuk bisa menjalin hubungan yang lebih serius." Ungkap Davin.


Ervan kaget. "Dia masih kuliah Vin, jalannya ke jenjang lebih serius masih panjang."


"Apa salahnya Mas, lagipula banyak sekarang mahasiswa yang sudah berumah tangga."


Ervan berfikir sejenak, apa salahnya memberi kesempatan pada Davin, lagipula Davin memang orang yang bertanggung jawab. Mungkin kabar buruk tentang Davin hanya untuk persaingan bisnis semata.


Tidak ada salahnya juga memberi kesempatan pada Abel, dia juga menunjukkan ketertarikan pada Davin. Lagipula kalau memang mereka berjodoh, akan lebih baik jika dia menikah muda daripada terjerumus hal yang tidak baik karena terpengaruh jaman sekarang.


"Baik Vin, kalau memang nantinya Abel punya keinginan yang sama kayak kamu." Kata Ervan.


"Beneran Mas? makasih Mas," Tanya Davin senang.


"Tapi Inget Vin, kamu jangan pernah nyakitin Abel, kalau memamg itu terjadi, aku orang pertama yang akan bikin kamu sakit melebihi apa yang dirasakan Abel." Ancam Ervan.


"Nggak akan Mas, aku janji...." Balas Davin beruntung dan bahagia mendapatkan lampu hijau dari Ervan untuk mendapatkan hati Abel.


Tanpa terasa mobil mereka sudah memasuki kawasan gerbang Citral*nd. Mobil Abel nampak belum terlihat di garasi.


"Abel belum sampai...." Tanya Davin.


"Mungkin dia mampir membeli sesuatu, ayo kita masuk duluan aja sebentar lagi Magrib." Kata Ervan berjalan masuk bersama Davin kerumahnya.


.


.


.


.


.


Next.....


udah ada gambaran belum sampai disini, siapa yang akan sama Abel.😁😁😁


Zen: Hobby banget sih Thor bikin orang penasaran 😤


Terima kasih udah sabar nunggu up dari author. Lop Uā¤ļø

__ADS_1


Beri semangat Thor pencet LIKE, KOMMENT yang punya poin bisa bagi buat VOTE.šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2