
Raffa
Saya melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Tak terasa sampai selarut ini saya menunggu Alesa mendapat penanganan selanjutnya. Alesa sudah di pindah dari ruang UGD ke ruang perawatan menjelang operasi esok hari.
Akhirnya saya bisa pergi dari rumah sakit, Alesa sudah bersama para perawat yang akan memenuhi seluruh kebutuhannya.
Semalaman saya terus terbayang wajah Aline meskipun kita berjauhan, saya merindukan dia, saya ingin peluk dia, merasakan lagi manis bibirnya dan melakukan selayaknya suami istri.
Bagaimana dengan Aline sekarang? Hampir setengah jam lalu ia berhenti mengirim pesan. Saya hanya membalas pesan singkat karena tidak mungkin berkata saya bersama Alesa.
Apa dia tertidur? Atau ia masih menunggu?
Saya berpamitan pada perawat yang berjaga agar menyampaikan pada Alesa kalau saya pulang.
Mendadak perasaan saya jadi tak tenang memikirkan Aline. Saya menelfon beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban. Kenapa lagi dengan Aline? Mungkin dia sudah tidur? Apakah dia marah? Kejam sekali saya meninggalkan Aline semalaman.
Belum terlambat. Saya harus kembali ke hotel sebelum waktu subuh.
Menempuh perjalanan beberapa menit, saya tiba di hotel. Saya segera bergegas menuju kamar, beruntung saya juga pegang kuncinya.
"Lin, Aline!" saya berteriak dan tak juga mendapat balasan dari Aline.
Saya menyalakan lampu, kondisi kamar masih sama dengan sebelum saya pergi. Lilin masih menyala dan kelopak mawar bertebaran di lantai. Saya mendekati ranjang besar di tengah. Nihil! Aline juga tidak ada?
Kemana dia? Saya berlari melihat di kamar mandi! Berkeliling? Dia juga tidak ada? Kamu dimana Lin? Saya panik! Kemana Aline, nggak mungkin kan dia nekat pergi ke rumahnya? Saya mengacak rambut saya kesal. Atau lebih parah lagi dia pergi ke rumah di Citraland. Jika memang iya, saya harus siap dipecat jadi anak sama Mama dan Papa.
Saya menghempas tubuh saya di sofa frustrasi.
"Kamu dimana Lin!" Saya beteriak keras kehilangan arah.
Seperti mendapat angin segar, saya melihat seseorang tertidur di pojokan kamar.
Saya langsung mendekat dan saya akhirnya bisa bernafas lega melihat Aline yang tertidur di atas sajadah dan masih menggunakan mukena. Mungkin karena terlalu lama menunggu, dia bosan dan sholat malam untuk menenangkan diri.
Saya jadi salut sama si Alien. Sial! Kenapa saya jadi merasa bersalah pada Aline! Kenapa saya jadi takut kehilangan Aline? Kenapa saya jadi merasa suami yang jahat!
Saya mengangkat pelan tubuh Aline yang tertidur di bawah. Dia hanya bergerak-gerak sedikit tapi tidak terbangun.
Saya membaringkan tubuhnya pelan, saya ikut merebahkan diri di sebelah Aline. Tapi kenapa saya lebih suka memandang wajah Aline. Saya berbalik melihat wajahnya begitu tenang jika tidur. Saya meraba pipinya pelan, merasa lebih tenang seperti daripada bersama Alesa.
Terdengar kumandang adzan subuh, dari luar dan alarm ponsel Aline. Aline membuka mata dan dengan spontan menepis tangan saya.
"Lin, sorry," kataku lirih.
Tanpa membalas apa-apa, istri saya langsung bangun tanpa bersuara menuju kamar mandi.
Drama apalagi ini? Kita baru menikah satu hari! Saya mengetuk pintu kamar mandi dan Aline tak menjawab.
__ADS_1
"Kamu nggak dengar Raf! Udah adzan subuh waktunya untuk sholat!" Sentak Aline keluar dari kamar mandi.
Fine! Kamu marah, mengabaikan saya dan berani membentak suamimu!
"Lin, saya mau bicara!" Saya menarik tangan Aline.
"Aku mau sholat," jawab Aline.
"Kita sholat sama-sama," sahut saya.
Aline tidak protes, meskipun Aline istriku yang sekarang bukanlah seperti Aline biasanya.
Setelah sholat bersama kita bersiap berkemas ke bawah dan sarapan.
Saya juga mendapat pesan pagi - pagi buta dari mama dan mami, kalau mereka menunggu di Lobby untuk mengantar kita ke rumah baru.
Saya memang bersama Aline, tapi saya seperti bersama bayangannya. Aline tidak bersuara sama sekali, ia hanya membalas pertanyaan saya dengan gerakan tubuh.
Menyebalkan memang! Lebih baik dia maki saya sepuasnya, dari pada melihat Aline diam seperti itu! Sumpah! Saya yang ketakutan sendiri!
"Mama, Mami," sapa Aline kembali seperti semula setelah melihat Mama Riri dan Mami Tiara di lobby.
Ketiga perempuan ini saling berpelukan seperti baru berpisah setelah sekian tahun, tapi saya sedikit tenang melihat Aline kembali seperti biasa, seolah tidak ada masalah saja dengan saya.
Aline bersiap masuk ke mobil yang ditumpangi Mama dan Mami. Saya langsung saja menarik tangan Aline.
"Istriku, kamu pergi dengan saya," saya merangkul lengan Aline sambil tersenyum pada Mama dan mami.
Saya mengiring Aline menuju mobil, membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.
Diperjalanan pun ia seperti manekin hidup, Aline tidak berbicara dengan saya sama sekali. Melihat saya saja enggan, ia hanya memandang keluar jendela dan yang dilakukannya hanya bengong. Lakban yang saya siapakan di mobil jadi sia-sia rasanya.
Sungguh suasana yang tenang seperti harapan saya ketika dengan Aline. Tapi kenapa saya tidak suka? Adakah yang bisa kembalikan Alineku seperti biasanya. Sungguh suasana yang saya benci.
Baiklah! Saya juga akan diam, wajar kalau Aline marah dengan saya. Saya akan berikan dia waktu untuk sendiri.
Anggap saja sekarang saya sopir taksi online dan Aline penumpang saya yang sedang galau dengan suaminya.
Kebisuan saya berakhir ketika mobil sudah ada di depan rumah baru yang akan saya tinggali dengan Aline.
Aline keluar dari mobil begitu saja tanpa sepatah katapun. Sekarang dia berdiri di dekat pagar menunggu mobil Mama dan Mami datang.
"Kak!" sapa Raydan yang mengagetkan saya ketika akan keluar dari mobil. Entah sejak kapan anak hutan ini ada di rumah saya.
"Ray, kamu bikin kakak kaget," seru saya kesal.
"Gimana malam pertamanya Kak, sama si Alien?" godanya sambil mengangkat alisnya. Saya tersenyum tak menjawab pertanyaan Ray, karena saya juga belum merasakan malam pertama dengan Alien.
__ADS_1
"Kakak pasti nggak bisa cerita, malam pertamanya nggak di hotel tapi di rumah sakit!" Ray langsung melenggos pergi.
Deg ... Ray, anak itu. Saya langsung keluar dari mobil mengejar Ray, kadang mulut anak itu suka tidak bisa dikontrol. Kalau sampai Mama tahu, tamat saya pagi ini.
"Ray!" Saya berhasil menarik pundak Ray.
"Kenapa kak!"
"Ray, kamu adik kesayangan Kakak kan, jangan cerita apapun sama Mama!" ancam saya pada Ray.
"Ya Kak, tenang aja. Jangan ulangi lagi Kak. Nanti Kakak nyesal sendiri kalau benar-benar jauh dari Alien."
Sejak kapan Ray jadi anak yang bijak begitu dan malah membela Aline di bandingkan kakaknya sendiri.
Mama dan mami sudah tiba di depan rumah, Aline langsung memasang wajah ceria, berbeda sekali dengan sikapnya dengan suaminya.
"Ada Ray juga?" tanya Aline.
"Ya Lin, biar bis bantu-bantu kalian disini," jawab Mama.
" Ayo-ayo masuk," Aline sangat antusias.
Aline membuka pintu dengan facelock. Pintu rumah kita memang di desain facelock wajah kita berdua.
"Assalamu'alaikum," sahut Mama, mami dan Ray masuk bergantian dengan semangat dan ceria.
Giliran saya akan masuk.
Brakkk!
Pintu di banting keras-keras, sampai saya mastikan daun pintunya tidak lepas.
Baik Aline, kita lihat nanti siapa yang berkuasa, baru sehari kita nikah, kamu udah lupa kalau saya suamimu!
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......