Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Lebih dekat


__ADS_3

Wanita tinggi, langsing, cantik dan tentu saja muda. Kalau melihat KTP nya berbeda dengan kartu namanya, di kartu namanya tertera Peggy Amelia.


Sementara di copy KTP yang ada di arsip Yohan tercatat bernama Wahyuni asal Purwokerto.


Tapi biarlah mungkin itu sudah menjadi keinginannya, hanya mungkin sikapnya agak menyebalkan bagi kami.


Tapi wajar saja dia terlihat menyebalkan dan sombong, karena dia memiliki semuanya.


Wajah cantik, lekuk badan yang bagus menggoda, tinggi semampai, dan kaya raya.


Sering berganti kendaraan type terbaru lalu memakai pakaian, sepatu high heels dan tas yang branded dengan model paling kekinian.


Entah apa pekerjaannya wanita muda itu, bangun menjelang siang lalu setelah berdandan cantik pergi entah kemana dan pulang malam bahkan terkadang menjelang subuh.


Selalu menggunakan baju, tas dan sepatu dengan warna senada. Bila hari itu memakai baju warna merah, tentu tas dan sepatu nya ada nuansa merahnya juga. Terkadang bingkai kacamata hitam nya juga dia pakai sesuai warna yang sama.


Mobilnya keluaran terkini, handphone nya apalagi, sudah pasti yang tercanggih dan termahal saat ini.


Terkadang wanita itu sering tidak pulang berhari-hari bahkan berminggu-minggu entah kemana dan apa yang dilakukannya.


Terserah yang penting Yohan selalu menerima transferan bayaran sewa kost tepat waktu setiap bulannya.


Kalau pulang dari bepergian pasti bu Yayah kewalahan karena cuciannya banyak sekali dan tidak luput bu Yayah selalu kena omelan kalau barangnya mahal lah, nyuci harus hati-hatilah dan sebagainya.


Menurutnya bu Yayah tidak akan bisa mengganti kalau pakaian atau barangnya rusak


Kalau bukan karena butuh uang, pasti bu Yayah juga malas mendengar dia ngoceh.


Hari sudah menjelang siang hari, dan tampak Peggy sedang berkemas memasukan beberapa pakaiannya ke koper besar.


Dia dibantu bu Yayah yang memang diminta oleh Peggy untuk membantu berkemas.


Akhirnya ada sekitar 2 koper besar dan tas kecil yang siap dimasukan ke dalam bagasi mobilnya.


Bu Yayah tergopoh-gopoh memanggil Wawan anaknya di toko depan.


"Wan!!!! bisa tolong emak sebentar yah... Pak Yohan maaf saya pinjam Wawan sebentar, itu untuk bantu memasukan kopernya mbak Peggy ke bagasi mobil. Berat sekali kopernya, saya tidak kuat mengangkatnya," seru bu Yayah.


Pak Yohan hanya menganggukan kepalanya, lalu Wawan ikut ibunya ke belakang.


"Emang mau kemana dia mak?" tanya Wawan ke ibunya.


"Engga tahu, kayaknya mau keluar negeri," jawab bu Yayah.


Lalu Wawanpun langsung mengangkat koper dan memasukannya ke dalam bagasi mobil milik Peggy.


Setelah itu dia kembali lagi ke toko.


Kaki kirinya disilangkan di atas kaki kanannya, lalu sambil merokok Peggy mulai menghubungi seseorang.


Tak lama yang setelah yang di sana terdengar menyahut teleponnya Peggy pun berkata,


"Sayang, jadinya gimana? aku sudah siap berangkat ini".


Yang dihubunginya menjawab, "Jam 2 siang nanti kamu ke Jakarta dulu yah, nanti langsung check in di hotel HT. Aku sudah reservasi atas namaku. Besok baru kita terbang ke Swiss".


" Oke sayang, aku berangkat sekarang. Aku dari sini nyetir sendiri loh, nanti malam sayang pijat kaki aku yah," ujarnya dengan manja kepada orang diseberang sana.


Lalu terdengar dia terbahak-bahak setelah mendengar entah apa yang diucapkan orang di seberang sana.


Tak lama dia menutup telepon genggamnya.


Sambil menghisap rokoknya, dia berkata kepada bu Yayah,


"Bu Yayah, saya mau keluar negeri cukup lama yah sekitar satu bulanan. Nanti kunci kamar saya titip ke Ibu yah, tolong kamar ini dibersihkan seminggu sekali. Ini uangnya buat sebulan, dan ingat tidak boleh ada yang masuk orang lain kecuali bu Yayah".

__ADS_1


Bu Yayah menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Kemudian tak lama Peggy beranjak dari duduknya dan menuju ke mobilnya.


Bu Yayah berdiri di pintu setengah menunduk, karena tidak berani menatap Peggy lama-lama.


Dulu pernah dibentak oleh Peggy ketika tak sengaja menatapnya.


Mobil jeep hitam besar keluaran terbarupun keluar meninggalkan kost milik pak Yohan.


Mobilnya melaju menuju jalan tol untuk menuju ibu kota ke kota Jakarta.


Setelah hampir 3 jam menyetir mobil, tibalah di kota Jakarta dan langsung menuju hotel HT sesuai pesan dari orang yang tadi dia telepon.


Dia turun dari mobil di depan lobby hotel, menyerahkan kunci ke pegawai hotel untuk vallet parking.


Setiba di front office, dia berkata,


" Tolong kunci kamar 578 atas nama bapak Hendrico Angkasa".


Setelah kejadian kemarin, walau tidak ada Peggy, pasti Retno memarkirkan mobilnya sebelah pick up tuanya papa.


Semenjak ada mobil, Nancy dan ibu Retno setiap pagi pergi terpisah.


Nancy dengan motor matic kesayangannya dan Retno dengan mobil abu-abu kecilnya.


Dipikir Nancy setelah ada mobil dan sudah banyak mengetahui jalan di kota ini, mungkin ibu Retno tidak akan ingat kepadanya.


Tapi ternyata sebaliknya, malam hari sering mereka jalan bersama entah makan di luar atau sekedar belanja ke supermarket.


Dan yang tidak disangka lagi, pria yang dipanggil Papa oleh Nancy selalu terlibat dalam perjalanan itu untuk mengemudi.


Bahkan sekarang setiap hari minggu bila mereka pergi ibadah pasti bersama-sama naik mobil Retno.


Tapi kenyataannya Retnolah yang selalu menunggu dan mengajak mereka untuk bersama.


Retno juga sering mengajak Nancy mengobrol di kamarnya sambil nonton drakor atau sekedar ngobrol di teras depan kamarnya.


Malam ini malam sabtu, besok hari sabtu libur.


Nancy sedang nonton di kamar Retno sambil makan pop corn, tadi sore Retno membuat pop corn.


Memang di kost ini memiliki dapur kecil yang bisa digunakan bersama-sama oleh penyewa kost.


"Nan, kamu memang tidak suka memasak? karena saya lihat kamu dan papa seringnya beli makan di luar ," tanya Retno pada Nancy.


"Kadang suka bu, masak air, masak mie instant, masak nasi goreng atau ceplok telor...hahahah," jawab Nancy sekenanya.


"Yaelah itu sih bukan masakan dong tapi ganjel perut," tukasnya sambil tertawa.


" Nah itu dia bu, kami cuma berdua, males lah masak. Beli lebih praktis, tidak repot masak dan bersih-bersih".


" Hmm iya sih, cuma saya rasa jadi kurang sehat juga yah. Kurang makanan berserat, ini terasa sama saya karena sering makan bareng kalian,"kata Retno menjelaskan sambil tertawa ringan.


Nancy diam saja tidak bisa menjawab, selintas terpikir dibenaknya mungkin ibu Retno mulai bosan bersama.


"Saya pengen masak, tapi sarananya di dapur kecil sana tidak memadai. Jadinya bingung juga nih," lanjutnya.


Lalu Nancy berpikir sambil mencoba menawarkan masak di rumah mereka di atas.


" Kalau masak di rumah kami gimana bu... ada sih dapur cuma mungkin tidak banyak juga peralatan masak. Kalau wajan saja sih ada....hihihi".


"Enak engga sama papa mu?" tanya Retno.


" Tenang bu, papa sih apa kata aku," ujar Nancy sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Yuk ibu lihat ke atas yuk, seperti apa dapur dan rumah kami," ajak Nancy pada Retno.


"Duh malu sama papa mu loh Nan, nanti disangka apa lagi," Retno mencoba menolak.


"Udah hayuk, santai saja sih bu.... Terserah orang mau bilang apa. Kan yang tahu cuma aku dan ibu," kata Nancy sambil menarik lengan Retno.


Akhirnya beliau ikut juga ke rumah Nancy.


Toko sudah tutup dari tadi, dan papa pasti ada di atas lagi nonton tv dan biasanya cuma pake kaos singlet dan celana pendek saja.


Biarin deh batin Nancy, biar kaget papanya....hihihihi....


"Papa.!!!!..di atas !!!!?"tanya Nancy sambil berteriak.


" Iya, kenapa?" jawab papanya sambil balik bertanya.


"Engga, cuma kangen aja !!!," teriak Nancy sambil mulai naik tangga.


Papanya diam tak menjawab lagi, mungkin sebel...hihihihi...


Pelan-pelan Nancy mulai menaiki tangga diikuti Retno dibelakangnya.


Diantara papanya dan Retno tidak saling paham.


Papanya tidak paham ada Retno ikut di belakangnya, sementara Retno juga tidak paham kalau papanya Nancy sedang nonton tv dan tampilannya seperti apa.


"Hihihihi...," Nancy senyum-senyum geli sendiri membayangkan papanya pasti akan kaget.


Setelah sampai mereka di atas, nyatalah Yohan sangat terkejut saat melihat ada Retno datang.


"Pa!!! ada bu Retno nih".


Yohan terperanjat dan seketika berdiri dan langsung lari masuk ke kamarnya.


Nancy tertawa sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


Retno hanya geleng-geleng kepala sambil jari telunjuknya diarahkan pada Nancy yang nakal mengerjai papanya sendiri.


Lalu diajaknya Retno melihat dapur mereka yang jarang tersentuh.


Saat melihat isi kulkas, Retno jadi terharu lalu tersenyum menatap Nancy dan akhirnya mereka tertawa bersama.


Pemandangan yang tampak sangat mengenaskan melihat isi kulkas mereka. Hanya ada lampu menyala dan 2 buah botol minum berisi air jernih.


Bukan karena papanya tidak ada uang, tapi karena tidak ada niat belanja dan memasak.


" Pa!!! besok akan ke kota ke pasar induk yah...ini bu Retno mau ikut boleh engga?" tanya Nancy saat melihat sang papa yang baru keluar kamar dan sudah mengenakan kaos polo dan celana panjang.


(sssttt!!!! wangi dong .hihihi..)


"Waduh susah yah, papa kan pake mobil pick up dan papa belanja pasti lama Nan," kata papanya menjelaskan.


" Emang kenapa sih Bu Retno mau ikut?" lanjut papanya.


"Ah pak Yohan, ini dasar saja Nanan dari tadi ngerjain papa nya... hahaha... Saya besok berencana mau masak di sini..bolehkan...".


Yohanpun menganggukan kepalanya menyetujui.


"Besok pagi saya pinjam motor saja buat belanja ke pasar depan,"lanjut Retno lagi.


" Oh gitu, asik dong besok makan enak," kata papanya malu-malu.


" Iya lah kan biar bisa lebih dekat sama bu Retno," sambar Nancy tanpa sungkan lagi.


Langsung papanya dan Retno auto semburat memerah wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2