
Raffa
Pertama kalinya selama saya bekerja disini, ponsel tak pernah lepas dari pandangan saya. Hal seperti itu sangatlah bukan Haidar Raffa Siddiq Wijaya yang selalu bisa fokus berkerja dalam keadaan apapun.
Sumpah! Saya menyesal menyuruh Aline memberi laporan setiap satu jam sekali. Saya jadi tidak bisa berkonsentrasi bekerja, saya selalu penasaran dan lebih memilih membalas puluhan pesan berserta foto-foto tidak berfaedah kegiatan di rumah yang dikirim Aline.
Ini yang namanya kena batunya sendiri, tadinya saya mau mengoda istri saya agar merasa selalu di awasi. Jadi dia tidak bisa seenaknya di rumah. Eh, malah saya yang kecanduan untuk menunggu setiap pesan kejutan yang di kirim Aline. Mau cabut perintah, nggak mungkin! Bisa jatuh harga diri saya.
Bahkan saat rapat saja, saya tidak bisa konsentrasi memperhatikan bahasan rapat. Saya malah sibuk sendiri menyelaraskan kebenaran rekeman CCTV rumah dan laporan yang di berikan Aline. Untungnya, ini perusahaan milik kakak saya, jika tidak, orang yang berkelakuan seperti saya ini pasti akan di pecat. Sungguh saya banyak melakukan hal konyol hari ini. Saya bersumpah besok tidak akan membuat perintah laporan setiap satu jam.
Ting ... tangan saya seperti langsung refleks memegang ponsel setelah bunyi. Sudah dipastikan itu adalah pesan laporan dari Aline. Padahal waktu belum genap satu jam, istriku terlalu bersemangat.
Istri Asli
Sebelum ditagih, Permaisuri inisiatif Lapor duluan. Kakanda, cumi yang udah di eksekusi jadi asam Manis semanis permaisuri tapi asemnya kayak hidup kita, sudah siap. Lengkap dengan plating cantik ala Cef Juna di luperware baru yang dipaksa kredit sama tetangga.
Saya hanya geleng-geleng kepala, beginilah Aline, kenapa hal yang tidak sepenting itu harus di laporkan pada saya. Bodohnya lagi, saya gemas mau membalas. Aline tolong! kalau mau gila jangan ajak-ajak suami.
Raffa
Oke! kenapa kredit sama tetangga, nggak beli cash aja, uang belanja 30juta kurang?
Istri Asli
Kata Ibu RTnya, ibu-ibu di kompleks tidak lengkap hidupnya tanpa kredit di Ce odah. Istri baru ini nurut aja daripada di julitin.
Ternyata ibu-ibu kompleks nggak kalah aneh dari Aline.
Raffa
Terserah, sebelum makan siang asisten saya ambil.
Istri Asli
Siap! waktunya princess bisa lenyeh-lenyeh cantik. Sorry, rasanya nggak seenak buatan Ibu Ratu, tapi aku jamin yummy kok, cuma selisih satu level. Selamat makan dan sampai jumpa nanti di rumah dengan kebab saus keju!
Akhirnya, rapat yang belum masuk di kepala saya ini selesai. Saya ingin beristirahat di ruangan saya. Kenapa saya jadi lapar dan tak sabar makan masakan buatan Aline yang masih diragukan rasanya.
"Raf!"
Saya menoleh karena tidak asing dengan suaranya. Itu Farrel, kenapa anak itu disini? Farrel datang menghampiri saya. Sepertinya ingin mengajak makan siang bersama nih orang. Roman wajahnya kayak orang minta traktiran.
"Hai," saya menepuk lengangnya.
__ADS_1
"Udah istirahat, ayo makan siang bareng sama yang lain."
Tuh, Farel ajak saya ngumpul sama teman yang lain. Sorry! Saya mau menikmati makanan buatan istri.
"Bilang yang lain Rel, saya nggak ikut. Saya sudah dapat kiriman makanan dari istri." Saya menekan kata istri, saya bukan pria single sekarang.
"Eh ya lupa udah ada ehem Istri, Aline, apa kabar?"
Entah manusia jomblo ini nanya basa-basi atau modus untuk pamer kedekatan dengan Aline.
"Baik!"
"Sekarang, tanya lewat suaminya dulu," jawab Farel menekan kata suami, entah apa maksud laki-laki ini.
"Bukannya kalian suka komunikasi di belakang saya." Saya bersikap ketus sama Farel. Saya sering awasi Aline berbalas pesan dengan Farel, Aline juga nggak pernah nutupi sering membalas pesan dari Farel.
Farel malah cekikikan enggak jelas, "Ya ampun Raf, jangan galak bro, kamu cemburu! Aku sama Aline tuh teman rasa saudara."
Tetap saya tidak suka mau rasa saudara, atau rasa capuccino sekalipun, kalau saya cemburu ya cemburu!
"Kali aja, ada maksud lain kita nggak tahu kan!"
Farel ketawa lagi, apa lucunya lihat orang cemburu. "Kamu masih berpikir aku bakalan rebut istri kamu Raf, kurang laki banget sob!"
Saya cuma angkat bahu, tidak mudah percaya begitu saja. Kenapa saya jadi seudzon Farel, sahabat sekaligus teman satu gedung.
Meskipun Farel bercanda tapi saya tidak suka. Di icip aja belum masa sumpahin istri orang jadi janda. Saya kenal Farel cukup lama, kita saling mengerti satu sama lain. Saya tahu Farel ragu saya bisa bahagia bersama Aline, karena Aline bukanlah tipe istri harapan saya.
Saya akan buktikan itu!
Sial! Farel bikin mood makan siang saya hilang! Saya membuka pintu kasar.
"Ray? Kamu ngapain kesini?" saya kaget Raydan yang sudah duduk di sofa ruangan dengan rantang makanan seperti foto yang dikirim Aline.
"Biasa, cari sponsor untuk kegiatan kampus, sekalian mau nengokin pengantin baru!" Goda Ray menyenggol lengan saya.
Saya pun langsung ngajak Raydan duduk lagi!
"Kenapa Kak? Muka berkerut kayak pengantin baru kurang jatah!" canda Raydan dengan tawa meledek.
"Ya memang kurang jatah!" jawab saya kasar sekalian.
"Udah mulai cocok sama Aline," tanya Ray.
__ADS_1
"Cocok nggak cocok, di cocokan saja."
"Berarti beneran udah bercocok untuk buat ponakan? baru dong."
Saya langsung melempar Ray dengan bantal sofa. Ini bahasan orang yang sudah menikah.
"Serius Kak! aku pikir Aline masih marah gara-gara kakak tinggal lihatin Alesa malam itu," seru Ray.
Ya memang dia masih marah dan nggak mau kasih jatah, tapi biarlah itu jadi rahasia rumah tangga kita.
"Ya, dia memang awalnya marah, tapi ya bagaimana lagi. Paling juga baik sendiri," jawab saya.
"Siapa suruh datangi cewek lain di malam pengantin!" Raydan meledek saya lagi.
"Karena terpaksa! Kakak jujur sama kamu ya, sebelum akad nikah Alesa telpon kakak nangis-nangis nggak karuan sambil mengemudi, wajarlah kakak panik dan merasa bersalah waktu denger dia kecelakaan."
"Ya jangan di ulangi lagi! repot sendiri kan. Sekarang waktunya manjakan istri beneran biar nggak ngambek lagi," seru Raydan.
"Iya, kenapa kamu jadi nasehati Kakak!" saya menatap heran.
"Sharing Kak," balasnya terkekeh. "Aku sih nggak pernah pacaran, coba ajak kencan kak Aline, kan seru tuh kencan sama pacar label halal," seru Ray.
Saya terdiam sejenak, selama menikah memang kita hanya dirumah selama masa cuti karena kita menunda honeymoon. Saya bahkan tidak pernah menanyakan apa keinginan Aline, malah saya yang selalu menuntut agar Aline memenuhi keinginan saya. Aline selalu patuh.
Egois sekali.
Menikah, bukan hanya sekedar menyalurkan hasrat saja, tapi juga saling memahami satu sama lain, bukan. Oke, Saya akan coba ide Ray untuk berkencan. Mungkin dengan begitu akan membuat hubungan kita jauh lebih membaik. Terlebih masa saling mengenal satu sama lain kita sangatlah singkat.
Saya mengakhiri obrolan dengan Raydan karena tak sabar mencoba masakan buatan Aline.
Hari ini harus pulang lebih awal. Saya juga siap mengantri kebab pesanan Aline karena hari ini dia cukup bekerja keras di rumah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......