Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP79-S2// Kapan?


__ADS_3

Keluarga Adiguna memulai sarapan dengan tenang, tidak ada yang banyak di bicarakan di atas meja makan. Sesekali Nolan memandang kearah kakaknya yang terlihat baik saja. Padahal Nolan tidak bisa tidur semalaman memikirkan sikap kakaknya yang berubah.


“Pa, Ma. Setelah makan ada hal yang ingin Davin sampaikan pada kalian.” Davin memecah keheningan di meja makan. Pak Hendrawan dan Bu Mitha mengangguk bersamaan.


Nolan bangkit terlebih dulu usai meyelesaikan sarapannya. “Aku duluan ….”


“Tunggu No, termasuk kamu juga!” titah Davin.


Dengan spotan Nolan langsung duduk lagi ke kursi makannya. “Aku kira kalian membicarakan masalah bisnis.”


Semua kini berkumpul di ruang keluarga termasuk Nolan, keluarga Davin sepertinya sudah siap mendengar apa yang ingin di sampaikan Davin.


“Ada apa Vin?” tanya Pak Hendrawan sambil meneguk cangkir teh di tangannya.


“Pa, Papa sudah tahukan perusahaan kita akan membuka kantor pusat di ibukota,” ujar Davin.


“Ya, Papa sudah dengar. Tapi Papa tak ikut rapat kemarin. Bagaimana kelanjutannya?” seru Pak Hendrawan.


“Davin menerima keputusan Dewan untuk memimpin di sana Pa, sampai kondisi memungkinkan dan ada penganti yang tepat.”


“Wah Vin, pikirkan lagi. Papa setuju saja demi kemajuan perusahaan kita. Tapi masalahnya posisimu sebagai presdir akan semakin tertunda. Dan juga kamu harus pindah kesana,” terang Pak Hendrawan.


“Itu sudah Davin dan Abel pikirkan Pa, kita akan pindah dan menetap di ibukota.” Davin memberi penjelasan pada keluarganya.


“Kalian akan tinggal di ibukota?” tanya Nolan terkejut kali ini.


“Ya No, Abang dan Abel akan segera pindah ke ibukota,” balas Davin.


“Semoga kalian betah di ibukota,” jawab Nolan. Meskipun terbesit dalam pikirannya rasa kecewa karena kepindahan mereka.


Setelah perdebatan panjang dengan keluarganya tentang baik buruknya kepindahannya ke Ibukota. Davin tetap kekeh akan pindah dengan istrinya disana. Keluarga Davin menerima keputusan Davin. Kini keluarga Adiguna sudah berpencar dengan kegiatan masing-masing. Abel dan Davin tinggal memberitahukan keluarga Abel tentang kepindahannya.


Bagi Abel berpindah ke ibukota memang sedikit berat. Disana kota metropolitan yang dikenal dengan berbagai hiruk pikuknya yang sangat jauh dari kotanya yang nyaman. Terlebih dia harus jauh dari keluarga, kerabat dan teman. Meskipun dia tidak tahu sampai berapa lama. Di lain sisi Abel senang bisa hidup mandiri dengan suaminya tanpa ada yang menyenggol kehidupan keluarga kecilnya nanti.


Davin memeluk Abel dari belakang yang melamun di dekat jendela. Abel menjadi geli dan meremang karena sekarang suaminya yang mencium lekuk lehernya dan mehirup aroma tubuhnya di setiap setuhan bibirnya di leherya.


“Bang Davin, masih pagi ….” Protes Abel pada suaminya yang tangannya mulai bergeriliya mencari kesenangan pada tubuh atasnya.


“Sayang, kamu akan selalu bersama Abang, kamu akan selalu disisi Abang dimanapun Abang berada. Kamu nggak keberatan kan kita menetap di ibukota.” Davin menghentikan aktifitasnya dan berbicara serius.

__ADS_1


“Asalkan selalu dengan Bang Davin, Abel rela tinggal dimanapun.”


“Terima kasih sayang. Sekarang kamu list barang-barang yang akan dipacking oleh pelayan. Setelah urusan adminitrasi selesai kita akan langsung berangkat ke Ibukota.”


“Ya, Bang,” balas Abel sambil membelai pipi suaminya. ”Bang Davin.”


“Ya, sayang.”


“Abel sepertinya nggak mau tinggal di apartemen. Abel mau tinggal di perumahan aja tapi jangan terlalu besar asalkan yang halamannya luas, biar Abel bisa nanam banyak tanaman, Bang Davin setuju.” Pinta Abel sambil membayangkan kehidupan mandirinya tanpa embel-embel banyak pelayan seperti di rumah mertuanya.


“Apapun yang diinginkan ratuku, nanti kamu bilang sama Amar real estate seperti apa yang kamu inginkan,” balas Davin semakin erat memeluk istrinya.


"Terima kasih Bang Davin ...." balas Abel.


********


Di tempat yang berbeda, Nolan melajukan motorya dengan kecepatan tinggi. Ia hanya berkendara tanpa tahu akan kemana tujuannya. Hatinya di penuhi rasa cemas dan sesak. Hanya melihat wajahnya setiap waktu sudah lebih dari cukup untuknya. Setelah ini untuk sekedar mendengar tawanya saja ia tidak akan bisa. Berulang kali ia mencoba tetap saja ia gagal, cinta terlarangnya pada Abel seolah melekat dalam hatinya.


Sampai kapan? Sampai kapan ia melupakan seorang yang tidak akan bisa jadi miliknya. Hanya itulah pertanyaan yang bisa memenuhi kepalanya. Ia memegang dadanya ditengah laju kendaraan yang berjalan cepat. Untung saja ini weekend jalanan sedikit lenggang hingga Nolan ingin terus melajukan motornya tanpa hambatan.


Terkadang aku berharap, aku tak pernah bertemu denganmu. Karena dengan begitu aku bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa tahu ada orang sepertimu. Aku selalu berharap bisa bangun dan tidak ingat apa-apa tentangmu. KAPANKAH ITU? KAPAN ABELIA! Rasanya Nolan ingin meneriakkan isi hatinya.


Dari balik kaca helmnya, hanya matanya yang berbicara menyuarakan isi hatinya kali ini. Ia tak bisa lagi membendung buliran halus ketika mulut tak sanggup untuk mengucapkan kata dan teriakan hatinya.


Waktu memang tak bisa mengobati luka, tapi jarak mungkin bisa mengurangi sengatannya. Bang Davin benar, menjauhkan diri adalah cara yang terbaik untuk ini semuanya.


Apakah Aku bisa melupakannya? apa aku bisa mencintai seseorang lagi seperti aku mencintainya.


"S*al!" umpat Nolan melihat wanita yang menghalangi jalannya.


Karena menghindari wanita itu, ia terpaksa membelok motornya yang berkecepatan tinggi ke kanan jalan. Untung saja Nolan ahli mengendarai kuda besi ini. Dan lebih beruntung lagi di bisa menghindar dan berpikir jernih meski pikiran sedang kacau. Motornya kini mungkin hanya lecet karena terperosok di semak, ia beruntung kanan jalan adalah semak bukan pagar besi atau penghalang jalan yang keras lainnya. Motornya hanya oleng tak sampai roboh.


"Mas! apa Mas tidak apa-apa?" tanya wanita yang tadi ia hindari datang menghampirinya.


Seperti Nolan tidak asing dengan wajah wanita itu. Ia hanya membuka kaca kecil helmnya yang hanya memperlihatkan matanya.


"Kamu mau mati! berdiri di tengah jalan," kata Nolan kasar.


"Maaf Mas, menganggu pengendara. Saya hanya ingin menyelamatkan kucing ini." Wanita berhijab itu mencoba membela diri sambil mengelus kucing kecil yang ada di tangannya.

__ADS_1


Nolan sedikit merasa simpati, "Lain kali hati-hati."


"Ya Mas, Mas nggak apa-apa kan."


"Ya Nggak apa - apa," balas Nolan.


Wanita itu berbalik ketika sudah berdamai dengan Nolan, dia berjalan menuju mobil Putihnya. Begitu pula dengan Nolan yang kembali menapaki jalan aspal.


Tak dapat dipungkiri, wanita itu mengusik pikirannya di tengah kegundahan. Dia berdiri ditengah jalan membahayakan dirinya untuk mengambil anak kucing. Sekilas Nolan berusaha mengingat wajah itu. Kini Nolan teringat, terakhir bertemu dengannya ketika wanita itu menumpahkan minuman di bajunya saat pernikahan Kakaknya.


Pantas dia tidak mengenalinya di balik helm ini. Mendadak ia menyunggingkan senyum. Merasa sedikit lucu dan simpati melihat aksi wanita yang baru saja di temuinya.


.


.


.


.


.


.


NEXT......


Zen: Untung baca sambil minum Boba rasa semen


Thor : 😲😲😲


Zen : Biar kuat gua Thor liat Bang No🤧


Thor: 😳😳😳😳


Zen : Emot elu Thor, Nggak jadi udahan Thor


Thor : Part Ending othor potong biar nggak kebanyakan nanti kalian eneg😳😳😳


Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa bagi VOTE seikhlas kalian 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2