Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 57 To Seoul


__ADS_3

Seperti pagi-pagi biasanya, sebelum berangkat nanti sore untuk berlibur keluarga kecil ini menikmati sarapan.


"Bi koper Abel udah siap." Tanya Riri pada Bi Mina yang sebelum acara resepsi membantu anaknya packing.


"Sudah mbak," Jawab Bi Mina.


"Sayang nanti sebelum berangkat kita ke rumah ibu bapak pamit, rumah mereka nggak jauh dari Bandara." Kata Ervan sambil menyendok makanan ke mulutnya.


"Ya mas,"jawab Riri.


Setelah sarapan pagi Riri kembali ke kamar dan mengecek kembali barang-barang didalam koper untuk nanti yang akan dibawa ke Bandara. Mengingat kata suaminya, suhu dinginnya disana bisa mencapai minus derajat. Riri juga menyempatkan ke kamar Abel dan mengecek perlengkapan yang akan dibawa anaknya.


Sore yang dinanti tiba, semua sudah bersiap untuk ke bandara. Ervan memberi tahu Riri kalau Bu Niah yang akan mengantarkan ke bandara, tak lama berselang mobil putih mewah berhenti didepan rumahnya, Udin dengan sigap keluar dari mobil membantu Riri membawa tiga koper ukuran sangat besar dengan warna berbeda.


Ervan, Riri dan Abel masuk ke dalam mobil dan nampak Bu Niah yang berdiam didalam mobil.


"Abel nanti sampai sana kamu tidur sendiri jangan ganggu Mama kamu ya, biar cepat dapat adek." Kata Bu Niah pada Abel yang membuat Riri melotot.


"Tapi Omah, Riri mau tidur sama Mama." Jawab Abel.


"Ma, kasian Abel kalau harus tidur sendiri dinegeri asing." Kata Riri.


"Mama nggak usah kuatir semua udah Ervan atur." Balas Ervan yang santai.


Riri mulai curiga kepada suaminya yang terlihat santai dengan keberadaan Abel di antara mereka, rencana apa yang akan dilakukan suaminya pada anaknya di negeri orang. Begitu sekiranya dipikiran Riri.


Sebelum menuju bandara, Riri mampir ketempat orang tuanya yang memang berlokasi tak jauh dari bandara. Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah Pak Saiful.


Semua orang yang turun dari mobil mendapat sambutan hangat dari Bu Sinta. Bu Niah bercengkrama dengan besannya begitupula Ervan, Riri dan Abel mencium punggung tangan Bu Shinta. Percakapan pun berlanjut ke ruang tamu yang sudah ada pak Saiful dan Angga.


"Bu Pak, saya mau pamitan mau liburan sama Riri dan Abel ke Seoul." Ervan memulai pembicaraan.


"Ya nak, jaga Riri sama Abel ya." Kata Bu Niah.


"Jaga keluarga mu ya nak, Riri baru pertama kali ke luar negeri." Sahut pak Saiful juga.


Ervan menganguk." Ya pak."


" Jangan lupa oleh - oleh mbak." Canda Angga.


"Tenang aja dek," Balas Ervan dan Riri bersamaan.


"Abel jangan lupa pesanan paman." Kata Angga pada Abel dibalas oleh Abel dengan mengangkat jempolan. ok


Mengingat waktu yang terus berjalan semakin sore dan Mereka harus segera ke bandara, Mereka pamit pada keluarga Riri dan bergegas menuju bandara.

__ADS_1


******


Airport.


Bu Niah mencium Abel cucunya sebelum Mereka menuju ruang tunggu usai mengurus chek ini, ke kantor imigrasi dan sebagainya. Berlanjut memeluk Riri dan Ervan bergantian.


"Mudahan pulang dari Korea kamu bawa kan oleh-oleh Mama cucu ya." Kata Bu Niah pada Riri sambil memegangi perutnya.


"Insyaallah Ma." Balas Riri dan Ervan bersahutan.


Mama kita ini liburan keluarga bukan honeymoon, siapa juga yang tega biarin Abel tidur di kamar sendiri di negeri Orang. Riri


Keluarga Ervan melangkah menuju ruang tunggu karena mendengar pengumuman keberangkatan ke Ibukota J. Karena sebelum menuju ke kota Seoul mereka harus transit terlebih dahulu ke ibukota.


Semua bergegas naik ke pesawat melewati pintu sesuai pemberitahuan.


"Mas kita naik kelas bisnis." Kata Riri yang jiwa miskinnya bergetar karena dirinya akan terbang menggunakan kelas bisnis. Ini bukan yang pertama Riri naik pesawat terbang tapi untuk bangku penumpang kelas bisnis ini yang pertama kalinya.


"Ya sayang, Mama yang nyuruh." Balas Ervan.


Abel memilih bangku tunggal didekat jendela sedangkan Ervan dan Riri berada di dua bangku berdampingan disamping anaknya.


Pesawat take off menuju ke Ibukota J. 2 jam kemudian pesawat landing dari kota B ke Ibukota J.


Hampir satu setengah jam menunggu waktu transit, pukul 21.00 WIB. Pengumuman dari bandara terdengar keberangkatan menuju kota Seoul. Ketiganya langsung bergegas lagi menaiki pesawat menuju kota tujuan.


Seperti posisi saat penerbang pertama, Abel memilih kursi didekat Jendela. Ervan dan Riri berada disampingnya. Pesawat mulai take off di malam hari dan bergerak naik mulai meninggalkan tanah air.


"Mas nanti Kamar hotel nya ada berapa tempat tidur," Tanya Riri memecah keheningan diatas ketinggian yang mulai tenang.


"Satu." Jawab Ervan singkat.


"Kok satu, pasti besar ya ranjangnya kita tidur bertiga satu ranjang."


"Nggak sayang Abel dikamar yang lain." Balas Ervan santai.


"Mas tega banget sama anak sendiri, dia kan masih anak dua belas tahun, masa di negeri orang kita biarin tidur sendiri." Balas Riri menggoyang-goyang tubuh suaminya.


"Udah nggak usah kuatir, liat aja nanti disana, mendingan istrirahat perjalanan kita masih enam jam lagi." Ujar Ervan masih santai ditengah kecemasan Riri.


Mereka menikmati perjalanan diatas ketinggian ini hingga sesekali terlelap mengingat perjalanan yang masih panjang.


Dari atas ketinggian terdengar dipengeras suara, pesawat akan segera landing, dengan suhu saat ini di kota Seoul mencapai -5 derajat.


Ervan langsung menyuruh istri dan anaknya memakai perlengkapan seperti jaket tebal, syal dan sarung tangan yang tersimpan di dalam tas yang berada di cabin. Riri yang tidak pernah merasakan musim dingin di luar negeri menuruti perintah suaminya.

__ADS_1


"Mas sedingin apa sih?" tanya Riri.


"Nanti tahu sendiri, pakai pakaian hangat dulu yang penting." Jawab Ervan.


Seoul Incheon internasional airport, Korea Selatan.


Pesawat mendarat pukul 07.15 waktu setempat di Bandara Incheon, Korea Selatan setelah menempuh perjalanan selama 7 jam lamanya dari tanah air. Matahari pagi pertama di luar negeri untuk keluarga Ervan.


Semua nampak senang terutama Riri yang baru pertama kali ke Korea Selatan. Dia sempat melihat sisa butiran pembersihan salju dari kaca pesawat di landasan pacu bandara, dia jadi ke kanak- kanakan seperti Abel merengek pada suaminya yang tidak sabar ingin melihat dan memegang salju secara langsung yang memang tidak pernah ada di Tanah air yang beriklim tropis.


Hawa dingin belum terlalu terasa di dalam area bandara malah cenderung seperti biasa.


Riri dan Abel duduk sejenak sambil berfoto-foto di dalam bandara saat menunggu Ervan yang menuju kantor imigrasi dan mengantri mengambil bagasi mereka.


Usai menyelesaikan urusan dibandara mulai dari money changer, uang elektronik dan internet di negara ini, Ervan mengajak anak dan istrinya akan keluar dari Bandara. Dia meraih ponselnya menghubungi seseorang.


Ervan dan keluarga mulai melangkah keluar dari bandara disambut dengan terpaan hawa yang sangat dingin. Mengingat ini adalah bulan Desember awal musim dingin di Korea.


Riri yang tidak pernah merasakan tinggal di daerah 4 musim, merasa seperti wajahnya di hadapkan ke dalam freezer. Dingin di negara ini diluar pemikiran Riri.


"Ma, mama kedinginan ya," tegur Abel melihat Riri yang mengerti ini pertama kali untuk ibunya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa." Tanya Ervan pada Riri yang nampak pucat.


"Mas ini dingin banget mas kayak ditusuk es. Apa setiap hari begini?" Jawab Riri bibirnya mulai kering.


"Nanti dimobil hangat kok, sabar ya sayang." Jawab Ervan sambil menyapu matanya mencari seseorang.


Seorang wanita dengan memakai jaket tebal lengkap dengan syal dan penutup kepala melambaikan tangan. Ervan menuntun istri dan anaknya mendekati wanita itu.


"Selamat datang di Korea Selatan." Kata wanita cantik yang sangat dikenal Ervan dan Riri.


.


.


.


.


.Next.......


Terima kasih sudah sabar menunggu up dari author.


Jangan lupa dukung author tinggalkan jejak like komen dan vote terus author ya🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2