
Raffa
Aline sudah benar-benar keterlaluan jadi istri. Dia sudah merasa berhasil menguasai rumah dan rajanya.
Bisa-bisanya dia ngancam enggak kasih jatah malam pertama untuk suaminya. Kalau begini, saya bisa kaku tak tersampaikan dong.
Saya jadi menyesal kemarin ninggalkan Aline tanpa icip sedikit dulu. Ya, saya merasa sangat bersalah pada Alesa, jadi ada kejadian buruk menimpanya, saya langsung bergerak. Setidaknya itu mengurang rasa bersalah saya pada Alesa.
Fine! Kita lihat saja nanti siapa yang akan bertahan, saya atau si Alien.
Semenjak kepulangan Mama, Mami dan Raydan tadi sore, Aline mengunci diri dalam kamar dan sama sekali belum keluar. Istri itu menelantarkan suaminya yang butuh makan malam. Entah apa yang dilakukan di dalam kamar, saya tidak bisa pantau karena belum pasang CCTV di dalam kamar. Setelah sholat Magrib saya memilih merebahkan diri di ruang tengah.
Saya enggan masuk ke kamar, saya juga mau gencatan senjata, mogok makan sebelum dapat jatah malam pertama yang tertunda. Nekat ya! Namanya juga laki-laki normal, masa seranjang sama istri yang sudah halal cuma lihat-lihatan. Dia kira saya patung selamat datang. Keterlaluan kamu Caroline!
...****************...
Suara mengelagar khas si Alien membangunkan tidur nyenyak saya bersama mimpi indah. Ya ampun! Karena menahan lapar saya sampai ketiduran di sofa.
"Raf, ayo bangun!" Aline menggoyang tangan saya.
"Apa sih, saya masih ngantuk!" Saya menepis tangan Aline yang kini mencubiti perut saya.
Bukannya menyerah Aline malah semakin bertubi-tubi mencubiti perut saya. "Bangun nggak! Kamu belum makan Raf."
Saya geli, akhirnya menyerah dan bangun Meskipun marah, ternyata Aline masih ingat kalau punya suami yang kelaparan. Saya sempat berburuk sangka.
"Iya, tapi saya lagi mogok makan!"
"Kamu nggak usah mogok makan segala deh Raf. Kalau kamu sakit, aku yang repot! Aku juga yang kena omelan mama di sangka nggak bisa ngurusin suami, padahal kamunya yang susah mau diurusin. Kamu nggak malu apa, masa baru nikah beberapa hari udah sakit, nanti kamu dikira pria nggak bertenaga!" Aline menarik-narik tangan.
"Enak aja! Kita buktikan malam ini gimana?" saya mengoda Aline. Usaha boleh kan kali aja berhasil dan luluh.... berharap boleh saja kan, terlebih saya selalu terbayang tekstur lembut bibir istri.
"No, Raf. Jangan coba curi-curi kesempatan, aku siap aduin Mama!" tangan Aline berganti mengepal ke arah saya.
Meskipun sedikit kesal, tapi saya lega bisa mendengar lagi Aline yang berisik seperti biasa. Saya pun menurut membututi Aline ke meja makan, kini duduk dengan tenang.
"Lin, kalau di rumah, saya nggak bisa makan masakannya luar, saya harus makan masakan yang dimasak di rumah."
"Ya Raf aku tahu kamu nggak bisa makanan luar, makanya aku udah masak buat kamu," Aline menyajikan mie goreng tanpa topping sayuran atau apapun itu.
"Lin! saya menikah mau memperbaiki gizi bukan malah kembali jadi anak kos!"
__ADS_1
"Raf, kita baru sehari di rumah ini, aku belum sempat belanja bahan makanan. kulkas kita masih kosong, sisa makan siang habis Ini aja mie yang nyasar di koper aku dari rumah. Jadi aku masak yang ada, yang penting suamiku makan masakan rumah," jelas Aline tanpa jeda.
Alasan yang masuk akal. Saya jadi batal marahin Aline. Malah semakin lega Alien kembali berisik seperti biasanya.
Mie buatan Aline lebih baik daripada saya kelaparan atau makan makanan yang di pesan via online, saya nggak bisa makan makanan yang tak saya lihat langsung. Saya langsung eksekusi, enak sekali meskipun hanya mie instan yang mengandung banyak MSG yang tidak sehat. Apa karena ini buatan Aline, rasanya jadi beda. Tapi jangan dipuji, itu hanya akan membuat Aline melambung ke atas pohon. Tapi apa salahnya puji istri, kali aja luluh, malam ini bisa mendaki gunung, si Juni bisa masuk ke dalam jurang seperti amanat Papi.
"Makasih Istriku, mienya enak," ucap saya mencoba bersikap manis pada Aline.
Sepertinya berhasil Aline jadi senyum-senyum ditutupi tangan.
"Kamu nggak usah lebay Raf, itu cuma mie rebus!"
Ternyata saya salah, nada suaranya masih ketus.
"Raf, setelah ini kita tidur," ucap Aline agak sedikit melembut.
Apa maksud Aline? Mau ngajak tidur tapi nggak ngapa-ngapain, dia sengaja mau bunuh saya pelan-pelan nahan gairah.
"Kamu tidur duluan, saya masih ada kerjaan," ucap saya memperlama menyuap mie agar tak cepat habis.
"Jangan lama-lama ya Raf, aku nggak mau di kamar sendirian lagi."
Deg. Nih orang cepat sekali berubahnya sudah mau di unboxing mancing tidur berdua.
Saya mencuci piring bekas makan di wastafel. Sebenarnya, saya tidak ada pekerjaan. Saya hanya alasan saja supaya Aline tidur lebih dulu dan saya tidak tergoda.
Tapi hari ini saya lelah, saya ke kamar saja mau istirahat.
Ceklek. Kamar masih terang, ternyata Aline masih belum juga tidur. Lihat apa yang di lakukan si Alien. Dia mengolesi kakinya entah dengan apa, yang jelas kulitnya semakin kelihatan putih mengkilat. Ditambah lagi baju tidur yang di kenakannya, apakah tidak ada yang lebih pendek? Aline sepertinya sengaja memakai baju sependek itu untuk membuat suaminya panas dingin begini.
Saya melihat sesuatu bagian atas tubuhnya yang mengintip dari balik baju warna biru mini itu. Jika sudah seperti ini, darah laki-laki normal mana yang tidak mendidih.
"Raf, kamu mau tidur sekarang?" tanya Aline membangunkan pikirkan kotor saya.
"Ya lah, kamu pikir, mau apalagi suami ke kamar!" kata saya menekan kata suami, saya harap dia sadar tidak baik terlalu lama membiarkan suaminya menahan diri.
Aline langsung sibuk menyusun guling untuk pembatas kutub utara dan kutub selatan.
"Saya tidur disofa! Kamu tidur aja di ranjang, saya mau nonton bola," saya jadi pinter ngeles kan, biar enggak terlalu kelihatan mesum.
"Oke," jawabnya.
__ADS_1
Aline menarik selimut menutupi tubuhnya. Lampu kamar sudah gelap, berganti cahaya lampu tidur yang remang-remang. Saya mulai merebahkan diri di sofa. Saya hanya bolak balik posisi tidur, tentu saja tidak bisa tidur tenang. Pengantin baru yang nasibnya miris harus tidur di sofa. Saya melirik ke arah Aline yang sepertinya sudah memejamkan mata.
Naluri sebagai suami baru yang butuh kehangatan muncul dalam diri saya. Saya berjalan menuju tempat tidur, menyibakkan selimut Aline dan ikut bergabung bersamanya. Saya langsung melingkarkan tangan di perut Aline. Lumayan hangat, saatnya memejamkan mata.
"Siapa kamu! Jangan berani pegang macam-macam!" Aline terpelojak menendang. Aline sukses membuat saya terjungkal dan hampir membuat wajah tampan ini mencium lantai kamar.
Begini banget ya nasib saya punya istri ugal-ugalan.
"Durhaka kamu sama suami Lin, belum juga di unboxing!" saya mencoba bangun.
"Sorry, sorry Raff, kamu bikin aku kaget. Main peluk-peluk." Aline membantu saya bangun.
"Kamu kan istri saya! Amnesia!"
Saya menarik tangan Aline agar merebahkan diri, saya kembali memeluknya dari belakang meskipun dia sedikit berontak.
"Raf!" Aline pura-pura memberontak.
"Biarkan begini Lin, saya sudah sepakat tidak akan macem-macem sebelum dapat ijin dari kamu. Saya nggak akan berbuat lebih." Saya semakin mengeratkan tangan di perut Aline.
Sepertinya Aline mulai tenang karena tidak ada perlawanan. Akhirnya Istri saya jinak juga, mudahaan saya bisa tidur nyenyak malam ini.
Saya berharap ini awal yang baik untuk hubungan kita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .......
Sorry baru Up.....ππβΊοΈ Ei usahakan Up lagi untuk tebus 2 hari kmrin.