
Raffa POV
Ternyata membuat perjanjian pranikah nggak semudah yang saya bayangkan. Saya tak yakin Aline akan setuju dengan syarat yang saya buat.
Semenjak tahu perjodohan dengan Aline, hidup saya jadi tak tenang, makan tak enak, tidur tak nyenyak, bahkan mandi saja, saya tak segar.
Ya ampun! Belum jadi istri saja sudah membuat hidup saya rumit, apalagi nanti jadi istri.
Jujur, waktu kemarin makan siang bersama, ada saja tingkah Aline yang membuat saya tertawa. Ya, saya nyaman sama dia, dia lucu dan buat saya kadang gregetan sendiri. Tapi saya nggak mau menunjuk rasa senang saya, tetap saya harus bisa menjaga image, itu adalah pilihan yang terbaik.
"Misi Pak, saya boleh masuk," suara voice note dari meja kerja saya.
"Ya masuk aja!" jawab saya tersenyum pada Alesa.
Alesa dan Aline seperti ibarat air dan api, Alesa selalu menyejukkan hati saya, sedangkan Aline selalu membuat saya jadi emosian, habisnya sob, Aline tuh nggak bisa sama sekali malu-malu, suka ya suka saja gitu.
"Mas, kok melamun sih!"
Suara Alesa membangunkan lamunan saya tentang manusia berisik itu.
"Ya Sa, ada apa?"
"Minta tanda tangan laporan rapat kemarin Mas." Alesa menyerahkan map pada saya.
Saya mengambil laporan itu, membaca sebentar dan menandatangani berkas yang di berikan Alesa.
"Sudah," jawab saya tersenyum pada Alesa yang terlihat cantik memakai pasmina merah. Tapi senyumnya yang tipis kalah dengan senyuman lebar Aline yang selalu bisa memancing simpati saya.
Eh ... kenapa jadi mikirin wanita jadi-jadian itu.
"Sa, nanti siang temani saya makan siang!"
"Boleh Mas, tapi bagian devisi udah pada gosipin kita loh Mas kalau kita sering dekat gini."
"Ya nggak apa-apa Sa, mereka nggak ada kerjaan kali," candaku menenangkan Alesa.
"Ih Mas," sahut Alesa dengan gaya malu-malunya.
"Ya udah, kamu balik ke ruangan kamu, jangan lupa nanti siang," balas saya.
Alesa menganggukan kepala hormat dan berpamitan akan keluar.
Akhir-akhir ini saya merasa bersalah pada Alesa, saya seperti memberinya harapan palsu. Tadinya tahun ini, saya berencana ingin menjalani hubungan yang serius dengan Alesa. Tapi karena pasukan avatar yang turun ke bumi untuk ingin memusnahkan negara api. Jadilah saya harus menerima kenyataan yang tak seindah impian. Alien memang bukan jodoh impian, tapi dia jodoh pilihan.
Bagaimana kalau Alesa sampai tahu kalau saya akan menikah. Meskipun saya juga tidak tahu bagaimana perasaan Alesa pada saya. Tapi dilihat dari gestur tubuh, sikap dan perhatiannya, Alesa juga mempunyai perasaan yang sama dengan saya.
"Maaf Pak," lagi-lagi voice note di layar meja berbunyi. Itu adalah Sandra sekretaris pribadi saya.
"Ya!"
"Ada yang ingin bertemu bapak?"
"Sudah buat janji?"
"Belum Pak, tapi dia ngaku calon istri bapak!"
Mendengar nama calon istri saya terpelojak kaget dan berdiri dari kursi. Panjang umur sekali si Alien, baru saja dipikirkan wujudnya udah langsung menampakan diri kayak bang Jay, datang tak di jemput pulang tak diantar.
"Siapa namanya," tanyaku berharap salah orang.
__ADS_1
"Caroline Pak."
Omega! Apa motif dan tujuan hidup manusia berisik datang ke kantor saya.
"Suruh dia masuk!" Saya segera mengamankan Aline dari peradaban kantor.
Tak lama saya melihat wanita memakai blouse biru dan rambut di ikat ke atas. Saya langsung datang menghampiri Aline yang tanpa kabar dan berita datang ke kantor saya.
"Lin, ngapain kamu kesini?" tanya saya pada Aline yang santai tanpa dosa.
"Ya nemuin kamu lah Raf."
"Kenapa harus di kantor Lin? Kan bisa di tempat yang lain," tanyaku agak galak kali ini.
"Kalau bukan karena calon mama mertua yang nyuruh ke kantor kamu, aku juga maunya ketemu di pelaminan aja Raf."
"Nggak usah bercanda Lin, aku lagi serius?"
Aline kasih paper bag berisi kotak yang entah itu isinya apa?
"Tadi calon mama mertua minta tolong aku antar aku itu untuk kamu, sebagai calon menantu yang baik aku nurut dong," jawab Aline.
Saya mencoba melihat isi paper pemberian mama. Ya ampun, ini cuma sus kering buatan mama yang selalu saya bawa ke kantor untuk camilan. Kenapa mama harus repot-repot nyuruh Aline datang ke kantor. Bisa saja saya menyuruh sopir atau ojek online untuk jemput.
"Tadi calon mama mertua juga bilang Raff, sekalian aku ke kantor kamu, supaya tahu kegiatan kamu seperti apa di kantor?"
Saya sudah menduga, pasti ini hanya rencana mama untuk mendekat saya dengan wanita ini.
"Tapi ini kantor Lin, bukan tempat untuk kencan kayak di mall. Disini orang seirus mencari rejeki!"
"Ya Raf aku tahu, kamu jangan ngegas dong! Mama kamu loh yang suruh!"
"Lin, amanah dari mama kan sudah kamu sampaikan, sekarang lebih baik kamu pulang," pinta saya pada Aline.
"Bentar lagi boleh nggak sih Raff, aku masih mau dekat - dekat sama kamu," seru Aline dengan wajahnya polos dan matanya memancarkan kejujuran.
Tumben nih cewek jadi kalem gini, kalau begini kejadiannya jantung saya yang nggak baik - baik saja.
"Lin, mending kamu tunggu di caffe di bawah deh. Nggak enak kalau kita berduan gini," seruku pada Aline yang membuat suasana hati saya jadi canggung.
"Ya udah, aku tunggu di bawah ya," Aline berbalik kali ini dia kembali ceria.
"Lin tunggu!" Aline langsung berbalik ke arah saya
"Lin, tolong untuk sementara jangan ada yang tahu tentang kita dulu di kantor, untuk sementara anggap kita nggak saling kenal," seru saya.
Aline mengeryitkan dahi. "Kok gitu sih Raf, justru kamu harus perkenalkan aku dong sama orang kantor kalau aku calon istri kamu!" seru Aline.
Wajahnya langsung berubah jadi melas seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Tapi kenapa sangat mengemaskan kalau dia mode begitu.
"Itu biar jadi urusan saya nanti, sekarang kamu pergi dulu ke bawah," ucap saya.
"Ya udah Raf, kalau itu mau kamu!" Aline berbalik menuju pintu dan keluar dari ruangan saya.
Kenapa Aline penurut sekali ya? Saya jadi merasa bersalah kan sama dia? pasti ini modus baru Aline nih untuk membuat saya serba salah begini. Saya hanya tidak ingin orang kantor dan teman-teman saya tahu, terutama Alesa biarkan nanti saya yang akan memberi pengertian.
...****************...
Saya jadi serba salah sekarang, menemui Aline atau makan siang dengan Alesa. Demi asas keadilan, saya memilih makan siang dengan Alesa karena dia yang membuat janji terlebih dahulu. Saya berharap Aline sudah pergi dan tak berkeliaran di kantor.
__ADS_1
Kita berdua makan di caffe di bawah kantor, kantor kami punya beberapa cabang kafe. Karena arena food court di bawah juga melayani makan siang untuk karyawan perusahaan lain.
Saya memilih di sudut kaca kafe tempat biasa saya dan Alesa makan di tempat ini. Tapi tidak sepertinya makan siang saya akan terganggu dengan kali ini.
Sahabat saya yang berkerja di kantor sebelah juga makan di tempat yang sama.
"Raffa!" tegurnya, ketika melihat saya. Meskipun saya sudah pura-pura menutup wajah.
Otomatis dia langsung bergabung di meja saya. Untungnya Alesa merasa tidak keberatan, karena dia tahu Farel adalah sahabat saya yang sering juga ikut rapat. Satu meja berisi empat kursi single sofa.
"Gabung ya!" ucap Farel dengan santainya duduk di kursi kami.
"Gabung aja Rel, kamu sendirian?"
"Jomblo mah begini, makan sendiri, tidur sendiri, jalan juga sendiri," jawab Farel.
Farel kayak kaget melihat derap kaki yang melangkah dari belakang saya. Entah siapa yang dilihat, Farel kayak terkesima gitu.
"Caroline!" Seru Farel menunjuk belakang saya.
Secara otomatis mendengar nama itu saya langsung menoleh ke belakang. Benar dugaan saya siapa yang dimaksud oleh Farel.
"Farel!" Muka Aline kayak kaget atau terkesima gitu saya tidak bisa menerawang.
"Caroline!"
"Farel?"
"ALINE!"
"FAREL!"
Mereka terus sahut sahutan menyebutkan nama. Hingga akhirnya. Tunggu! Kenapa Farel membentangkan tangan.
Apa dia mau BERPELUKAN?
Enak saja!
Ini tak bisa di biarkan!
Saya langsung berdiri ketika Aline hampir lepas kendali menuju ke arah Farel. Saya membalas rentangan tangan Farel untuk memeluknya. Farel melihat saya aneh dan saya tidak peduli, sedangkan Aline sepertinya mulai sadar ke jalan yang benar! Ada calon suamimu di sini.
Enak saja Farel! Mau peluk calon istri saya! Eh ... kenapa saya jadi panas?
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....