Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 77 Sidang Akhir


__ADS_3

Seminggu berlalu. Di atas tempat tidur, Riri membaca tumpukan kertas satu persatu untuk mempersiapkan sidang skripsi besok siang. Ervan muncul dari balik pintu seperti biasa setiap hari membawa segelas susu untuk istrinya.


Naik ke tempat tidur. "Minum dulu sayang..." Ervan menyodorkan gelas pada Riri.


"Terima kasih Mas.." Balas Riri meminum habis satu segelas susu itu.


"Masih lama belajarnya..." Tanya Ervan.


"Sudah hapal sih Mas, Riri coba baca dari awal aja biar persiapnya matang." Balas Riri.


Ervan mengelus perut buncit istrinya, "Berat nggak sayang."


"Punggung Riri aja pegel Mas.."


Ervan langsung refleks memegang punggung istrinya. "Mas pijitin ya. kalau udah capek istirahat dulu sayang..." tangannya terus bergerak memijat punggung istrinya.


"Ya Mas, ini Riri juga mau tidur..." Balas Riri.


"Semoga besok sukses sayang, kamu bisa lulus terus fokus sama anak kita."


"Amin...Mas, Makasih ya Mas ...." Balas Riri berbalik merebah tubuh dalam pelukan suaminya.


"Maaf ya sayang, setelah kamu lulus nanti, Mas nggak ngijinin kamu kerja.."


"Mas, mas udah ijinin Riri nerusin skripsi dengan keadaan hamil hingga lulus aja Riri senang banget...."


"Mas takut kamu kecewa sayang, nggak bisa mewujudkan cita-cita kamu..." Ervan mencium puncak kepala Riri dipelukannya.


"Mas, Riri malah lebih takut lagi kalau Mas nggak ridha Riri kembali ke sekolah, dan nggak nurut sama Mas untuk jadi ibu rumah tangga yang baik, merawat dan menjaga anak-anak kita nanti."


"Makasih ya sayang, kamu sudah jadi istri yang pengertian dan nurut banget sama suami."


"Ya Mas, puasa Sunnah aja kita harus ijin dan minta ridha suami apa lagi yang lain. InsyaAllah Riri akan selalu ta'at sama Mas selama perintahnya tidak maksiat."


"Mas makin cinta banget sama kamu Sayang."


"Auuhh......" Riri bangkit dari pelukan suaminya, merasa ada tendangan lagi dari jagoannya.


"Kenapa sayang...." Kata Ervan, Riri menunjuk ke perutnya, Ervan mengerti kalau anaknya sedang bermain bola dalam perut Ibunya.


"Anak sholeh, jangan kenceng-kenceng nendang Mama, kasihan Mama...." Kata Ervan bicara pada perut Riri sambil merasakan ditangannya gerakan bayinya dalam perut.


"Ya...Papa." Balas Riri menirukan suara anak kecil.


Keduanya kini beristirahat melewati malam ini dengan mimpi indah.


******


Riri lahap menyantap makan siang buatan ibunya. Sebelum Ervan berangkat kerja, Riri ingin diantar ke rumah ibunya untuk meminta doa sebelum sidang. Keinginan terbesar orang tua Riri adalah melihat kedua anaknya jadi sarjana yang juga faham agamanya.


"Nanti setelah lulus rencana kamu apa Ri....." Tanya Bu Sinta pada Riri.


"Mas Ervan sih nyuruhnya di rumah aja Bu, jaga anak-anak.."


"Ya kamu turuti perintah suamimu, lagian kamu juga ngapain repot kerja kalau gaji suamimu sudah banyak... "

__ADS_1


"Ya alhamdulilah... tapi bukan begitu alasannya Bu, Riri cuma mau berbakti sama suami seperti ajaran Ibu kan..."


"Iya Ri, ya udah cepat makannya nanti kamu telat loh."


Riri menyelesaikan makan siangnya, berpamitan dan meminta doa pada Ibu dan Bapaknya sebelum berangkat ke kampus.


Riri berangkat menuju kampus bersama Udin yang diperintahkan Ervan mengantarnya siang ini. Menempuh 30 menit perjalanan, dia sudah sampai di depan kampus. Dia langsung ke gedung fakultas menuju ruang sidang.


Riri mendapatkan selembar kertas dari administrasi fakultas untuk dosen penguji siang ini.


Dosen penguji :


DR. firman, M.Pd (Dekan FKIP)


DR. Hadi, S.Si M.Pd (Kepala Prodi)


Adrian Bagaskoro, S.T M.Si (Dosen Mata kuliah Eksak)


Widya, S.Kom M.Pd (Dosen Mata kuliah Ilmiah)


Debaran jantungnya semakin kuat mengetahui nama-nama pengujiannya. Dia tidak menyangka dosen pembimbingnya Adrian juga akan menjadi pengujinya.


Riri bergabung dengan 3 Mahasiswa lain yang akan menjalani sidang. Mendekati waktu sidang rasa gugupnya semakin meningkat. Beruntung menurut undian random dia berada di urutan ketiga.


Riri meraih ponselnya membaca beberapa pesan penyemangat yang masuk. Dari sekian pesan tetep saja pesan dari Adrian yang menarik perhatiannya membuat kesal.


Adrian : PERJUANGANKAN SAMPAI AKHIR, KARENA KAMI TIDAK AKAN BERHENTI SEBELUM MAHASISWA BERDARAH-DARAH😈😈😈😈.


Pak Adrian!!!!! bisa nggak sih bikin kata penyemangat yang lebih memotivasi. Batin Riri.


"Siapa penguji yang paling kamu takuti..." Kata salah satu mahasiswa tugas akhir yang berasal dari kakak tingkat.


"Kalau aku Pak Firman, dia kan dosen killer Kak, kalau Kakak siapa...? Tanya Riri.


"Kalau aku...Pak Adrian." Kata kakak tingkat yang membuat Riri tersedak minuman yang diteguknya.


"Pak Adrian kan lucu kak, lagian dia juga orangnya santai...." Tanya Riri.


"Ya kalau dikelas, Kata teman-teman kalau lagi nguji, dia suka kasih pertanyaan menjebak dan nyeleneh buat mahasiswa mati kutu, kalau Pak Firman masih masuk akal pertanyaan-pertanyaannya...."


"Masa sih kak....." Riri kembali menciut, tadinya Adrian tidak masuk kriteria daftar penguji yang harus ditakutinya. Sekarahg Adrian malah menjadi dosen yang bikin Riri was-was meskipun dia pembimbingnya.


Riri meraih ponselnya, ingin mendengar suara suaminya supaya semangatnya menjadi pulih.


Ervan : Ya sayang, udah sidang


"Mas Riri gugup, dosen pengujinya semuanya menakutkan."


Ervan : Kamu tenang sayang, jawab semua pertanyaannya meskipun itu nggak nyambung jawab aja, jangan mau kalah.


"Pak Adrian juga jadi penguji Mas, katanya suka kasih pertanyaan menjebak."


Ervan : Sayang, tahu nggak sih, dulu Adrian dosen kamu itu meskipun dia pinter sempat gagal loh disidang akhir dan akhirnya ngulang lagi. Jadi kamu nggak boleh gugup.


"Masa si Mas... Ya udah Mas,"

__ADS_1


Ervan : Nanti pulang kerja Mas langsung ke kampus, semangat ya sayang. I love you. telepon terputus.


Dosen penguji sudah masuk ke dalam ruang sidang. Riri merasa sedikit bersemangat usai menelpon suaminya, terlebih tahu fakta tentang salah satu dosen pengujinya.


Nama pertama dipanggil menuju ruang pesakitan bagi mahasiswa tugas akhir. Waktu berputar setelah menunggu hampir 3 jam lebih. Nama Riri berurutan nomor 3 dari 4 antrian dipanggil menuju ruang sidang.


Dengan rasa gugup sambil membenahi kerudung dan almamaternya yang sedikit kusut karena lamanya menunggu. Riri membaca doa kemudian melangkah memasuki ruang sidang.


Suasana sangat berbeda dengan sidang pertama, ruangan lebih mencengangkan Riri berhadapan dengan 4 dosen berwajah serius.


Perlahan Riri menjelaskan hasil skripsinya yang terpasang di layar proyektor. Sambil memegang perut buncitnya Riri dengan antusias menjelaskan materi skripsi yang sangat di kuasainya. Beberapa menit menjelaskan panjang lebar hasil skripsinya, Riri diminta duduk kembali menerima pertanyaan dari penguji.


"Baik, sekarang pertanyaan pertama, silakan Pak Firman, silahkan...." Kata Pak Hadi yang berlaku sebagai moderator.


Pak Firman memberi pertanyaan ilmiah yang logis pada Riri, Riri bisa menjawab dengan baik pertanyaan Pak Firman meskipun beberapa kali ada sanggahan dari Pak Firman.


"Pertanyaan selanjutnya, calon doktor muda kita, Pak Adrian silahkan..." Kata Pak Hadi sambil mencandai Pak Adrian.


"Terima kasih Prof......, Oke Rinjani Ana Lita nama yang unik ya." Kata Adrian sambil menatap Riri.


"Pertanyaan pertama saya, ini nama kamu dari lahir...." Kata Adrian.


"Ya Pak...." Balas Riri.


"Apa arti nama kamu...."


Jleb. Pertanyaan macam apa itu PAK ADRIAN? Apa lagi arti namaku, aku nggak tahu juga, penguji mah memang bebas tanya sesuka hatinya. Riri.


"Saya kurang paham Pak, mungkin artinya anak pertama." Riri menjawab asal saja.


"Kamu mau lulus nggak, arti nama sendiri masa nggak tahu....." Kata Adrian yang memang memasang wajah serius sejak tadi.


Pak banting aja skripsiku kalau nggak lulus hanya karena pertanyaan aneh itu. gerutu Riri dalam hati.


"Mau Pak..." Jawab Riri geram tapi tetap tenang.


"Oke saya lanjutkan prof....itu salah satu dari dua puluh pertanyaan saya." Kata Adrian, mengoda dengan gertakan ke Riri.


Pak Adrian!!!! Mudahan pertanyaan berikutnya wajar dan nggak lebih aneh dari pertanyaan pertama tadi. Riri


.


.


.


.


.


Next...........


lanjutannya secepatnya Zen sabar ya......


Terima kasih banyak sudah sabar nunggu up dari author😍😍😍😍😍

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan LIKE KOMENT VOTE yang merubah langkahku πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2