Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Nasehat Dari Mama


__ADS_3

Raffa


Siapa yang sangka akan secepat ini saya akan menikah. Seperti biasa, saya selalu mengikuti arahan dari keluarga besar untuk mempercepat waktu pernikahan. Acara dimajukan dua bulan lebih cepat dari rencana awal. Ya, semua karena omah yang harus segera menjalani operasi penyakit jantungnya di Belanda esok hari.


Demi omah yang ingin melihat cucu menikah, saya terpaksa rela mempercepat hidup saya untuk bersama wanita berisik itu.


Itulah jodoh kita tidak akan tahu dengan siapa akan berakhir. Tadinya saya mendambakan istri yang lemah lembut, santun, sholehah dan baik akhlaknya. Tapi ya, siapa sangka saya akan di jodohkan dengan si Alien, wanita yang nada suaranya setara dengan soundsystem.


Mungkin bisa jadi, karena dia terlalu lama tinggal di luar negeri adab ketimuran pudar perlahan-lahan.


Tapi saya heran, apa keunikan si Alien, dia bisa membuat hati siapa saja luluh, salah satunya Mama dan Papa. Mereka sudah sangat amat yakin, Aline jodoh yang tepat untuk saya. Padahal mereka tahu, satu hal saja dalam diri Aline bukan tipe saya. Tapi ada satu hal saja yang sama, dia wanita tulen yang bisa di ajak ehem - ehem nantinya.


Jika ditanya bagaimana perasaan saya? Saya menjawab satu kata 'gugup', walaupun kita menikah karena perjodohan, tetap saja pernikahan itu hal yang sangat sakral dan pencapaian tertinggi dalam hidup seseorang. Berani menikah, berani mengambil langkah untuk salah atau benar ke depannya.


Bagi saya, menikah bukan hanya sekedar menumpahkan hasrat saja, tapi menyempurnakan setengah agama kita, menguji kesabaran kita, menyatukan dua hati yang saling berlawanan agar bisa saling terikat. Bukan hanya Ego dan emosi satu orang, tapi ego dua manusia yang sudah hidup bersama dalam satu atap.


Dengan siapapun saya menikah. Saya sebagai suami, akan tetap menjadi pemimpin bagi keluarga kecil saya. Saya lah kelak yang dimintai pertanggungjawaban atas baik buruknya keluarga saya di akhirat.


Saya memang tidak menikahi dengan wanita pilihan saya. Tapi wanita yang akan menikah dengan saya itu mungkin jodoh terbaik.


Meskipun melihat kenyataan yang ada, saya belum sepenuhnya merasakan yang namanya cinta. Tapi biarlah itu menjadi rencana Allah untuk rumah tangga saya kedepannya.


"Raf, " Mama muncul dari balik pintu. Mama mendekat ke arah saya yang berada di sofa dekat jendela.


"Anak Mama udah ganteng banget, kamu kelihatan cerah Raf, aura pengantin kamu keluar," Mama memegang pipi saya seperti anak kecil.


"Mama bisa aja." Saya meraih tangan Mama dan mencubit pipi saya. "Raffa udah mau ijab qobul masa di cubit-cubit kayak anak TK."


Mama terkekeh, tapi ia masih saja memegangi pipi saya.


"Raf, sebenarnya mama kepikiran."


"Mama kepikiran apa sih?" saya genggam tangan Mama yang terlihat seirus.

__ADS_1


"Mama kepikiran tentang perjodohan kamu, apa Papa sama Mama terlalu memaksa kehendak kamu?"


Tolong sekarang siapa saja benturkan kepala saya ketembok. Kenapa nggak waktu awal saya nolak, mama bilang gini? Kalau sekarang saya nggak mungkin lari meninggalkan Aline di pelaminan. Saya mendapat kemantapan hati melalui istikharah dengan siap lahir batin bersanding dengan Aline.


"Ma. Raffa selalu yakin, Mama sama Papa pasti punya pilihan yang terbaik,"


"Mama hanya takut karena kamu merasa terpaksa, kamu akan mengabaikan istri sebaik Aline," ucap Mama.


"Itu nggak mungkin Ma, Raffa tahu apa yang harus dilakukan seorang suami kepada istrinya."


"Kalo begini mama jadi lega, penampilan Aline memang belum terlihat Solehah, tugas kamu sebagai suami meluruskan dan membimbing menuju lebih baik ke jalan Allah," ucap Mama lagi yang membuat saya jadi deg degan.


"Ya Ma,"


"Raf, nanti ketika Aline sudah jadi istrimu, itu artinya dia adalah tulang rusukmu yang sudah kamu temukan. Seperti halnya tulang yang membangun badanmu. Lindungi dia dengan darah dan dagingmu."


"Pasti Ma," balasku lirih.


"Raf, sebagai seorang suami, kamu adalah tulang punggung untuk keluargamu. Jangan pernah mengeluh didepan istrimu nak, hal itu hanya akan membuatnya sedih. Suami dan seorang ayah harus rela menderita demi keluarganya."


"Satu lagi, Mama mau minta satu hal ?"


Mama menatap tajam ke arah saya, seolah saya akan menganiaya Aline saja setelah menikah. Ya, menganiaya di atas ranjang mungkin iya. Eh ....


"Apa itu Ma, apapun akan Raffa berikan pada Mama selama Raffa mampu," balasku.


Mama genggam erat tangan saya, melihat saya penuh pengharapan. Sebenarnya Apa mau Mama.


"Raf, Selama ini Mama tidak pernah menuntut apapun dari kamu. Sekarang Mama hanya minta satu hal sama kamu, perlakukan istrimu seperti kamu memperlakukan Mama selama ini. Karena Istrimu nanti, juga akan menjadi ibu dari anak-anakmu."


Baru kali ini saya bicara dengan mama sedalam ini. Sampai saya pura-pura kelilipan untuk menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.


"InsyaAllah Ma, Raffa akan tanam dan jalankan semua nasehat dari Mama."

__ADS_1


"Alhamdulillah Raf, mama jadi tenang. Mama nggak perlu takut sekarang jika nanti di mintai pertanggung jawaban di akhirat, karena mama yakin bisa mendidik anak Mama jadi imam yang baik untuk keluarganya." Ucap Mama dengan matanya yang mulai mengeluarkan bulir-bulir bening.


Saya memeluk Mama dengan bangga, begitu besarkah harapan Mama dengan pernikahan ini? Kenapa ada rasa sesak di dada ini? Adakah imam yang baik membuat perjanjian pranikah untuk istrinya? Mendadak saya jadi lebih gugup lagi menjelang pernikahan. Saya merasa tanggung jawab besar menunggu saya sebentar lagi.


Bisakah penikahan kita bertahan, sedangkan tidak ada rasa cinta tulus di antara kita?


"Kak!" Ray masuk ke dalam kamar.


Saya melepaskan pelukan karena akan merusak dandanan Mama yang sudah cetar seperti gadis umur 30an.


"Mobil udah siap, kita berangkat sekarang," sambung Raydan.


"Ya Ray, sebentar lagi Kakak turun," balas saya. Ray langsung lenyap dari pandangan kita.


Aku menyeka air mata Mama yang mengalir di pipi. "Udah, mama nggak boleh nangis, udah cantik begini nanti makeup-nya luntur loh!" canda saya.


Mama berbalik melihat ke arah kaca. "Kamu Raf, ya udah kita berangkat sekarang, sebelum kita terlambat menunggu mama makeup lagi."


Mama mengandeng lenganku keluar kamar. Beberapa jam lagi Avatar akan menaklukan negara api.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2