Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 43 Hotel room


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit sampailah rombongan keluarga dan pengantin baru di hotel As**n tempat yang digunakan untuk acara gala dinner yang direncanakan mamanya. Semua turun dari mobil masing-masing begitu pula dengan pengantin baru yang turun dari mobil Roll R**ce berserta Abel.


"Ayo sayang." Ervan mengandeng Riri usai turun dari mobil.


"Ma Abel mau kesana dulu nanti nyusul ke kamar." kata Abel menunjuk Kayla sepupunya yang melambaikan tangan padanya ketika dia turun dari mobil.


Sana bel pergi kalau bisa yang lama-lama. Ervan


Riri menganguk dan melepaskan tangan Abel yang mengandengnya. Abel berjalan kearah Kayla.


"Mas nanti Abel sekamar sama kita." kata Riri bertanya pada Ervan ketika memasuki lobby hotel.


"Ya nggak lah sayang. dia sekamar sama kayla, kalo dia sekamar sama kita, nggak bisa ngapa-ngapain dong,"


"Mas mesum ah." Balas Riri malu mencubit pinggang suaminya.


Keluarga besar Ervan dan Riri disambut pengawai hotel sebelumnya mereka sudah memesan beberapa kamar untuk keluarga besar. Hari masih sore semua orang memilih istirahat sejenak dikamar untuk acara nanti malam. Pengecualian untuk kamar pengantin yang didekorasi seromantis mungkin dan view yang langsung mengarah ke lautan.


"Sayang kamu duluan aja ke kamar istirahat, mas ada urusan sebentar." Kata Ervan melepas tangan Riri ketika berada didepan pintu kamar.


"Ya udah Riri kekamar dulu mau ganti baju sama bersihkan make up." kata Riri membuka pintu kamar.


Ervan berjalan menuju kamar yang tak jauh dari kamarnya. Mengetuk beberapa kali dan pintu terbuka.


"Devan, om punya tugas buat kamu." kata Ervan pada keponakannya yang lebih tua 3 tahun dari Abel.


"Apaan Om?" Balas Devan.


"Nanti malam setelah dinner jangan biarin Abel deket-deket pintu kamar om apalagi sampa masuk, terserah ajak kemana aja atau kunciin dia dikamar jangan biarin dia keluar, nanti bilang sama kayla juga," kata Ervan.


"Siap om hahahaha." Devan yang sudah remaja lumayan sedikit mengerti masalah orang dewasa.


"Kalau perlu ikat dikursi aja biar dia gak bisa kemana-mana." Lanjut Ervan.


"hahaha yakin kejam banget om." Kata Devan lagi menahan tawa.


"Kamu ada uang jajan nggak." Balas Ervan.


"Wah mau ngasih duit nih, kebetulan gak ada om."


"Minta sama bapak kamu, dia uangnya banyak." Balas Ervan tertawa.


"Om Ervan pelit." Devan kecewa.


"Lakukan dengan baik ya kita kan teman, kamu yang tanggung jawab Van, awas kalau nanti malam Abel lolos." Ervan mengertak Devan.


"Tenang aja om, beres." Balas Devan mengajak pamannya tos.


Setelah menyelesaikan satu masalah Ervan kembali kekamarnya yang tak jauh dari kamarnya sekarang.


Membuka handle pintu dilihatnya seorang wanita dengan rambut lurus sedikit melewati bahu sedang berdiri didepan cermin membersihkannya wajahnya. Ini pertama kalinya Ervan melihat istrinya yang tidak memakai jilbabnya. Dia langsung memeluk istrinya dari belakang hingga membuat Riri tersentak lengan kokoh yang merangkul dirinya karena memang tidak menyadari suaminya yang sudah masuk kamar.


"Mas bikin kaget," Kata Riri yang menyadari keberadaan suaminya yang sekarang mencium bahunya.


"Kamu cantik sayang, mas senang cuma mas aja yang bisa lihat kamu secantik ini." Kata Ervan menyikap rambut istrinya terus mengigit lekuk leher Riri.


"Aahh sakit mas kayak vampir." Riri kaget merasakan geli karena ulah suaminya yang sekarang menyadarkan kepala dibahunya hingga dia bisa merasakan hebusan nafasnya.


"Mas gemes sama kamu sayang rasanya mau digigitin semua." Menunjuk bagian tertentu.

__ADS_1


Ervan membalikkan badan Riri, Riri tidak berani menatap suaminya yang sekarang sangat dekat dengannya bahkan dia Riri bisa merasakan aroma parfum serta detak jantung Ervan karena tubuhnya menempel lengkat dengan suaminya.


Ervan mengangkat dagu Riri dan langsung mencium bibir Riri karena sudah menahan dari tadi. Ia memperdalam ciumannya terus me***at bibir Riri, Riri yang baru pertama kali berciuman hanya diam mematung saja menuruti keinginan bibir suaminya yang terus mencumbu bibirnya hingga terasa bibirnya bengkak. Setelah beberapa detik, Ervan berhenti mengambil nafas.


Polos banget istriku pasti ini ciuman pertamanya ciumannya payah. Ervan


"Sayang kalo mas cium, kamu balas cium mas juga ya biar hot." kata Ervan seolah memberi instruksi. Riri mencubit lagi pinggang suaminya kali ini wajahnya memerah. Ervan langsung mengambil tangan Riri yang tadi mencubitnya dan mencium tangan istrinya.


"Tadi katanya mau ganti baju, kenapa sampai sekarang belum dilepas, perlu bantuan mas ya." Ervan mulai meraba kancing baju dipunggung istrinya. Jantung Riri Semakin dah Dig dug.


"Mas bantu buka kancing belakang, agak susah." kata Riri seperti keceplosan karena memang dari tadi dia tidak bisa membuka bajunya.


"Kamu malu sayang, muka kamu kayak tomat." kata Ervan membalikkan badan istrinya memunggunginya.


Ervan membuang jasnya ke sembarang tempat dan membuka beberapa kancing kemejanya asal karena merasa hawa tubuhnya panas meskipun ruangannya berAC.


"Sayang apa nggak kurang banyak kancingnya." Ervan terkejut melihat kancing baju Riri dari tengkuk leher hingga punggung bawah.


sial. Harapan tak sesuai realita bisa nggak digunting aja bajunya. Ervan


"Ini baju pilihan mama mas, makanya dari tadi Riri nggak bisa buka, mbaknya MUA yang bantu buka belum datang ." Riri ingin menahan tawa melihat suara kesal suaminya.


Ervan dengan telaten membuka kancing gaun istrinya satu demi satu dan mulai terlihat atas punggung Riri yang putih dan halus karena sesekali ia merabanya. Kali ini Ervan menelan ludah melihat punggung Riri mulai terbuka separuh.


"Mas mau ngapain, nanti mama nungguin kita untuk nanti malam." Kata Riri yang sadar bukan tangan yang membuka kancing gaunnya, tapi bibir suaminya yang menciumi punggungnya.


"Mas nanti aja ya, sebentar lagi Riri mau dirias." kata Riri mencoba melangkah maju menjauhi suaminya tapi dengan cepat tangan kokoh menarik tubuh Riri untuk merapat padanya.


"Sebentar aja sayang." kata Ervan yang kali ini meraba punggung istrinya dan akan menyusup ke depan.


TOK TOK TOK TOK


"Mas ada yang ketok pintu, mas buka dulu siapa tahu penting." Kata Riri yang berhasil menghentikan aktivitas suaminya dan menaikkan bajunya kebahu setelah berhasil terbuka setengah.


SIAPA!" Kata Ervan berteriak bangkit menghentikan aktivitasnya.


"ABEL buka pa pintunya CEPAT." teriaknya dari balik pintu.


Ya ampun bocah ini lagi masih berkeliaran. Ervan bergegas membuka pintu.


"Kenapa lagi sih sayang, bisa nggak biarin papa seneng sebentar aja." Kata Ervan menahan kesal pada Abel.


"Mama udah mandi belum, tuh MUA nya udah datang mau rias mama, kata omah papa sama mama foto dulu di taman waktu senja mau tenggelam matahari biar keren." Sahut Abel polos tidak melihat kekesalan dimata papanya.


"Bilang sama omah buka baju mama kamu aja butuh waktu setengah hari." Jawab Ervan.


Ervan langsung menyuruh asisten MUA masuk ke kamarnya, membantu Riri membuka gaunnya dan bersiap. Sedangkan dia memilih mandi karena sudah merasa panas.


Berada di walking closet Riri yang mengunakan handuk kimono mondar mandir menunggu suaminya yang belum keluar dari kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka Ervan hanya mengenakan handuk sampai sepinggang melihat suaminya yang bertelanjang dada dia langsung membalikkan badan memegang dadanya yang berdetak kencang. Ervan yang melihat istrinya seperti itu menjadi gemas, dia mengoda mendekati Riri dan membalikkan Badannya kearahnya. langsung dengan cepat ia mengecup singkat bibir Riri.


"Ya udah mandi sana kasian MUAnya nunggu kelamaan," kata Ervan pada Riri masih bengong melihat suaminya.


"Kenapa diam? mau mas mandiin." Mendengar ucapan Ervan, Riri mengelengkan kepala langsung berlari kekamar mandi dan cepat mengunci pintu kamar mandi agar tidak ada yang masuk.


Mas Ervan suamiku kamu seksi banget sumpah. Riri


Ya ampun Riri kenapa sekarang pikiran kamu jadi mesum. Riri memukul kepalanya ditengah guyuran shower.


************

__ADS_1


Tamu sudah berada di satu ballroom hotel yang merupakan anggota keluarganya dan kerabat yang lebih didominasi dari keluarga mempelai laki-laki.


Setelah sesi foto Riri dan Ervan memasuki ballroom hotel yang penuh Bunga nuansa hijau dan putih, mereka datang bergandeng tangan, Riri memakai gaun model duyung warna abu perak lebih elegan dibandingkan gaun akadnya sedangkan Ervan memakai tuxedo warna hitam. keduanya masuk disambut tepukan tangan seisi ballroom.


Meja disusun dua baris memanjang satu garis dengan puluhan Kursi. Sedangkan pengantin di meja depan dengan kursi lebih besar. Semua menikmati makan malam dengan suasana tenang Alunan musik akustik mengema diballroom.


Acara dilanjutkan perwakilan para tamu memberikan ucapan selamat ke podium, ada yang dengan ucapan ada yang dengan menyumbangkan lagu. Riri dan Ervan berkeliling beramah tamah untuk mengucapkan terima kasih kepada para kerabat dan keluarga yang hadir yang memang didominasi rekan bisnis keluarga Ervan.


"Mas, kenapa mas nggak undang atasan mas." tanya Riri yang kini sudah duduk di kursinya.


"Sudah, mungkin lagi keluar kota soalnya mas ambil cuti satu Minggu." Balas Ervan mengerti siapa yang dimaksud Riri.


"Mas Abel mana ya kok tadi habis makan Riri nggak lihat lagi." tanya Riri mengelilingkan matanya mencari sosok itu.


"Udah mas amankan, kamu tenang aja." Jawab Ervan. Riri binggung dengan jawaban suaminya memilih diam.


Malam semakin larut semua terlihat menikmati sajian music dan makanan dalam acara ini. Sebagian tamu juga mulai berkurang. Karena merasa mulai lelah Riri meminta izin kepada Ervan dan keluarga intinya untuk terlebih dulu kembali ke kamar. Vina kakak iparnya mengantar Riri kembali ke kamarnya karena Ervan harus tetapi tinggal dengan Pak Toni sejenak untuk beramah tamah dengan kerabatnya.


"Jangan terlalu tegang ya malam pertamanya. hadiah kamu biar dikamar kita aja dulu kamu nikmati berdua sama suami kamu." Kata Vina menggoda Riri.


"Mbak Vina bisa aja, makasih ya mbak." balas Riri malu-malu masuk kedalam kamar.


Didalam kamar dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sekarang dia memakai baju tidur yang disiapkan dikamarnya lumayan tidak terlalu terbuka dari pada beberapa lingerie yang juga ada disitu entah datang dari mana. Setelah memastikan tubuhnya harum Riri memilih duduk disofa menyisir rambutnya. Sesekali memainkan ponselnya meredam ketenggangannya debaran jantungnya mengingat malam ini malam pertamanya dan dia harus siap melayani suaminya. Dia berdiri melihat dari jendela pemandangan laut yang indah dimalam hari.


Terdengar suara handle pintu, terlihat Ervan yang masuk kedalam kamar. Riri tersenyum pada suaminya. Ervan yang melihat istrinya didekat jendela langsung menghampiri dan memeluknya erat begitu pula Riri yang melingkar tangannya di tubuh suaminya merasakan kehangatan dekapannya. Ervan mencium harum aroma tubuh Riri dan bisa merasakan debaran dada istrinya.


"Sayang akhirnya kita halal juga ya, habis ini kita mau ngapain ya." Kata Ervan kepada Riri sambil menciumi rambut istrinya.


"Nggak tahu mau ngapain." Balas Riri berpura bodoh.


"Bener nggak tau mau ngapain." Ervan mengoda istrinya dengan nada manja.


Ervan melepaskan pelukannya. "Sini sayang." Ervan mengajaknya duduk disofa.


Ervan mengengam tangan Riri. "Sayang kamu tahu kan apa kewajiban kamu sebagai seorang istri. " Riri menganguk.


"Mungkin ini yang pertama buat kamu, tapi kalau memang kamu belum siap, mas siap nunggu kok." Masih mengengam tangan Riri.


"Tapi kalau memang kamu nggak keberatan, Apa Mas bisa minta hak Mas sebagai suamimu malam ini?" Kata Ervan memohon, naluri kelelakiannya sudah tidak bisa ia bendung.


"Ya mas Riri siap, ini akan jadi pahala pertama Riri menjadi istri Mas." Mendengar ucapan Riri, Ervan langsung semangat ******* bibir istrinya. mencium lembut kemudian menjadi ciuman panas, Ervan melepas ciumannya.


"Sayang, ciuman kamu masih payah tapi Mas suka." Ervan tersenyum mengoda istrinya.


"Mas tuh yang main cium sana cium sini." Riri memukul dada suaminya manja.


Ervan membuka jas yang ia kenakan dan langsung menggendong Riri dengan gaya bridal tanpa melepaskan bibirnya dari bibir istrinya, Ia membaringkan tubuh Riri di ranjang.


"Mas, Riri takut ...." Kata Riri sangat gugup masih mengalungkan tangan dileher suaminya.


"Jangan takut Sayang, Mas akan melakukannya pelan...." Seru Ervan meyakinkan istrinya.


Keduanya pun melakukan penyatuan cinta, Malam yang panjang pun berlanjut penuh desahan mengema diruang kamar hotel.


NEXT........


(Maaf kalau ada part vulgar πŸ™πŸ™πŸ™)


**Terimakasih kasih Pembaca masih butuh kritik dan saran.

__ADS_1


Jangan Lupa tinggal kan jejak like koment dan vote vote vote ya please bikin semangat author buat up lagiπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™**


__ADS_2