
Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk melalui sela-sela jendela. Tirai yang tebal pun tak bisa menahan cahaya yang akan masuk kedalam ruangan. Ervan berdiri didekat jendela sambil menikmat kopi terlihat memikirkan sesuatu. Riri yang keluar dari kamar mandi mendekat menghampiri suaminya.
“Mas, masih kepikiran Abel semalam.” Kata Riri sambil memeluk suaminya dari belakang.
“Ya Sayang, Mas jadi binggung, sepertinya Mas nggak akan beri ijin mereka jalan berdua lagi sampai Davin datang melamar Abel dengan orang tuanya.” Ujar Ervan. Kini dia berbalik badan melingkarkan tangan di pinggang Riri.
“Mas nanti Abel jadi marah gimana? Riri yakin kok Mas, anak kita bisa jaga diri dan tahu batasan.”
“Sudah nanti kita pikirkan lagi, ayo kita sarapan nanti Mas telat.” Balas Ervan melepaskan pelukakanya.
Kini keduanya keluar dari kamar menuruni tangga menuju meja makan. Keluarga bahagia ini menikmati sarapan mereka sebelum melakukan aktifitas masing-masing.
“Kamu hati-hati sayang kalau memang nanti survei ke job site perusahaan.” Kata Ervan disela menikmati sarapan.
“Ya, Pa….” Jawab Abel.
Abel berpamitan terlebih dahulu kepada semuanya karena ini hari ada pengenalan lokasi kerja ditempat magang. Abel mencium punggung tangan Papa dan Mamanya, menciumi kepala adik-adiknya.
“Abel berangkat duluan, assalamualaikum,” seru Abel.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati kakak.” Seru Riri.
Dengan langkah cepat Abel menuju halaman dan bergegas masuk kedalam mobil. Kini dia bersiap ke perusahaan PPN tempat dia magang untuk pembagian tim dan mengunjungi lokasi kerja perusahaan. Menyusuri jalan raya pagi Di kota B yang padat dipenuhi pengendara roda dua anak-anak berseragam sekolah dan juga para perkerja. Beberapa menit berjibaku dengan pengendara lain dijalan raya, dia sudah tiba kawasan industry kota B tepatnnya perusahaan PPN. Bergegas menuju lobby menunjukkkan ID card kepada keamanan yang telah dikirim administrasi perusahaan melalui email.
Salah satu pegawai mengarahkan ke sebuah ruangan yang mirip dengan aula, disana sudah berkumpul puluhan orang yang didominasi laki-laki memakai seragam yang sama dengan Abel. Abel cepat bergabung duduk dengan yang lain. Mata Abel melirik kekanan ke kiri terus menoleh lagi kebelakang, tapi nihil dia tidak menemukan sosok yang dia cari. Setelah beberapa saat kecewa, akhirnya orang yang dia cari muncul dari pintu, entah kenapa sekarang Abel jadi senang melihat kemunculan Nolan. Abel melambaikan tangan pelan sambil tersenyum dengan maksud menyambut baik calon adik iparnya. Bukannya menyambut lambaian tangannya, Nolan hanya menatap dengan wajah datar dan dengan santai melewati Abel memilih duduk dibelakangnya. Abel yang tadinya kesal sekarang lebih menenangkan diri setelah tahu sebab kesongongan Nolan.
Tak lama ruangan penuh dengan anak magang dari berbagai universitas, beberapa Pembina pun mulai masuk ke dalam aula. Salah satu Pembina mulai membuka meeting pagi. Mereka memberi pengarahan tentang perusahaan PPN. Dilanjutkan sedikit kelas tentang keselamatan kerja dilapangan, terus berlanjut materi-materi lain yang berhubungan dengan system kerja diperusahaan. Tibalah saatnya pengumuman pembagian tim magang yang akan dibagi pada beberapa lokasi kerja PT.PPN.
Abel yang tadinya berharap tidak satu tim dengan Nolan, malah sekarang berharap sebaliknya. Dia mencermati namanya dengan baik dilayar proyektor, betapa senangnya Abel melihat namanya yang satu tim dengan Nolan. Sungguh kebetulan yang menyenangkan untuk Abel, tapi tidak untuk Nolan. Nolan berharap tidak satu tim dengan Abel untuk mengobati sedikit rasa sakitnya. Padahal tanpa sepengetahuan keduanya Davin sudah menghubungi pihak PPN agar adiknya dan Abel dijadikan satu team selama magang.
“Oke, setelah ini kumpul dengan tim masing-masing. Kita akan melihat lokasi kerja kita.” Kata salah satu bapak-bapak anggota Pembina.
Setelah safety meeting mahasiswa langsung berhamburan mencari tim masing-masing. Akhirnya semua berpencar bersama tim masing -masing menuju ke workshop.
__ADS_1
“Hai No, nggak nyaka kita satu tim,” sapa Abel pada Nolan dengan wajah ceria.
“Biasa aja,” Balas Nolan kaku.
Abel memilih diam lagi pada calon adik iparnya yang menyebalkan ini daripada stok kesabarannya menipis.
Lihat saja nanti, bakalan ngaduh sama Bang Davin sikapmu yang nggak sopan sama calon kakak iparmu ini. Batin Abel.
"Pagi semua saya Soni akan jadi pembina kalian, kita sudah dalam satu team dengan tugas masing-masing sesuai keahlian, kita akan menuju ke lokasi kerja di di SBJ anak perusahaan PPN." Kata pembina muda itu yang berprofesi sebagai teknisi control.
Semuanya mendengarkan dengan seksama, anggota tim yang beranggotakan 7 orang dan hanya Abel yang perempuan. Karena dari 40 peserta magang hanya 5 orang saja perempuan.
"Abel, Nolan Lucky kita satu mobil yang lain di mobil yang lain..." Kata Soni. Ketiganya pun mengikuti Langkah Soni usai mendengarkan instruksi.
Kini Nolan dan tim masuk kedalam mobil doubel cabin untuk mengunjungi lokasi kerja pertambangan batubara di anak perusahaan PPN di SBJ yang akan ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Mobil pun keluar perlahan meninggalkan area kantor PPN.
"Abelia, kenapa kamu cantik-cantik ambil jurusan geologi." Tanya Soni tanpa malu memecah keheningan dari kursi penumpang depan.
"Nggak di omelin sama pacar kamu, pasti ada saatnya kamu akan turun ke lapangan berpanas-panasan." Kata Soni lagi.
"Udah resiko pekerjaan kak." Balas Abel lagi.
"Tapi kamu udah punya pacar belum." Seru Soni lagi ceplos.
Sebelum Abel sempat menjawab. "Kak maaf menyela, kapan pertama kali operasi lokasi yang kita kunjungi." Kata Nolan yang tidak suka dengan sikap genit seniornya pada Abel.
Dengan kesal Soni sang senior menjawab pertanyaan Nolan tentang pekerjaan. Beberapa jam melewati perjalanan yang panjang mobil kini memasuki area jalan menuju pertambangan. Medan jalan yang ditempuh pun sangat berat dengan penuh lumpur dan berkelok seperti lubang bekas roda truk-truk besar.
Badan Abel terseok-seok dengan spontan dia berpegangan ke tangan seseorang disebelahnya yang tak lain adalah Nolan.
"Maaf...." Seru Abel yang sadar langsung melepas tangan lelaki songong ini.
"Itu ada fungsinya..." Nolan menunjuk pegangan tangan di atas atap mobil.
__ADS_1
Dengan cepat Abel memindahkan posisi tangannya ke pegangan tangan. Tubuhnya masih bergoyang mengikuti ritme jalan lumpur ini.
Mobil berkelok menghindari lubang besar, entah kenapa setelah kejadian itu mobil menjadi oleng sopir berusaha mengendalikan kemudi di jalanan lumpur ini tapi mobil semakin oleng. Semua yang ada dibelakang mobil panik karena mobil semakin tak terkendali.
"Semuanya keluar sepertinya mobil mau terbalik." Kata sopir panik yang berusaha menghentikan laju mobil.
"Astagfirullahaladzim!!!" Teriak Abel panik yang semakin keras berpegangan dengan pengangan mobil. Dia melihat sekilas seperti ada beberapa orang yang keluar dari mobil tapi posisi Abel tidak memungkinkan untuk keluar dari mobil.
Akhirnya mobil menghantam sesuatu dan seperti akan terperosok, Abel hanya memejamkan matanya pasrah ketika dia merasa tubuhnya terhuyung ke depan dengan keadaan mobil yang seperti akan terbalik. Pikiran buruk langsung merasuki isi kepala Abel, mungkin setelah ini beberapa bagian tubuhnya akan mengalami patah tulang atau tidak menutupi kemungkinan akan cacat. Ia pun iklas tubuhnya akan menghantam keras dashboard mobil setelah mobil berhenti dengan posisi terperosok miring.
Tapi ketakutan Abel tidak terjadi, tubuhnya yang harusnya menghantam dashboard mobil malah seperti jatuh di dada seseorang karena dia merasa ada getaran detak jantung di dadanya.
Siapakah orang yang membahayakan dirinya dan merelakan tubuhnya tersakiti untuk menahan hantamam tubuhku ini. Begitu yang ada dipikiran Abel yang perlahan memberanikan diri membuka mata ketika memastikan mobil benar-benar berhenti di posisi 90 derajat.
.
.
.
.
.
.
Next......
ikut deg deg kan Zen....
Terima kasih sudah sabar menunggu up dari author...🙏🙏🙏🙏
Beri thor mu semangat Pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin Bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U❤️🙏🙏🙏
__ADS_1