
“Abel, ayo Abang yang akan mengantarmu pulang,” Davin menatap Abel. Abel masih diam belum mengiyakan ajakan Davin.
Abel jadi dilema sekarang, antara pulang Bersama Pak Karel atau Bang Davin. Disisi lain dia ingin menghormati Pak Karel dan di sisi lain dia juga baru mengenal Pak karel pasti aneh harus berdua beberapa menit kedepan dengannya. Abel tidak ada pilihan lain sekarang, coba di kota ini ada taksi online dia tidak perlu repot-repot pulang dengan kedua orang ini.
“Maaf Pak Karel sebaiknya saya pulang dengan Bang Davin, Bang Davin teman Papa saya.” Abel menemukan alasan yang tepat. Senyum tipis nampak mengembang di bibir Davin merasa sangat Bahagia, ia seolah tak percaya kalau Abel akan pulang Bersama dengannya.
“Baiklah, saya akan tunggu sampai kalian pergi,” balas Karel berbesar hati menerima keputusan Abel.
Abel terpaksa memilih pulang dengan Davin karena merasa lebih nyaman jika bersama orang yang dia kenal terlepas dari masalah konflik hati yang di alami keduanya. Abel juga malu kepada Karel jika Davin terus saja berbuat hal yang memancing keributan jika dia tidak pulang bersamanya. Entah nanti apa yang akan terjadi setelah keduanya berada dalam satu mobil setelah masalah yang terjadi.
Davin nampak menghubungi seseorang. Selang beberapa menit, Mobil hitam berhenti di depan lobby. Sopir membuka pintu mobil untuk Abel kemudian untuk Davin. Abel dan Davin sama-sama duduk di bangku penumpang. Abel membuka kaca jendela akan berpamitan dengan Karel.
“Pak Karel terima kasih, sampai jumpa lagi,” sapa Abel. Di susul anggukan dan senyuman dari Karel, Davin yang mulai kesal melihat sikap manis Abel pada Karel langsung menyuruh sopir untuk jalan. Mobil pun perlahan berjalan meniggalkan hotel.
Malam yang cukup sunyi diluar mobil, begitu pula di barisan kursi penumpang belakang. Abel tidak mengeluarkan sepatah katapun karena tak bernafsu untuk bicara. Dia lebih memilih mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Abel tidak menyangka beberapa waktu lalu dia menjatuhkan ribuan butiran airmata untuk orang yang ada disebelahnya dan sekarang ia berada disampingnya lagi seperti dulu.
Sedangkan Davin sesekali memandangi seseorang di sampingnya, meskipun dia sedikit kesal melihat Abel yang Bersama Karel malam ini. Tapi ia merasa sangat senang setelah apa yang terjadi sekarang dirinya begitu dekat lagi dengan Abel meskipun jarak duduk mereka berjauhan. Dalam hatinya sekarang selalu berharap dan berdoa agar Abel bisa membuka hatinya lagi, memberinya kesempatan untuk membuat dia bahagia dalam balutan cinta yang halal. Hanya itu sekarang tujuan Davin, dalam pikirannya seolah tidak bisa memikirkan hal lain setelah apa yang terjadi selain mndapatkan Abel kembali.
“Abel, apa yang kau lakukan Bersama Karel,” Davin membuka kebisuan tak tahan harus berdiam diri.
“Hanya makan malam bersama rekan bisnis dan itu bukan urusan Bang Davin,” jawab Abel sedikit ketus menutupi sisi lemahnya.
“Ya, benar itu memang bukan urusan Abang.” Balas Davin masih belum menemukan sisi Abel yang dulu. Abel kembali sibuk melihat pemandangan darin luar jendela.
Kebisuan terjadi lagi beberapa saat, semua memang tidak lagi seperti dulu. Davin sadar sesuatu yang telah retak akan sulit kembali seperti semula meskipun sudah disatukan.
“Abel, maaf Abang terlalu emosi sama Karel. Abang nggak bisa lihat kamu dekat dengan laki-laki lain,” ujar Davin.
__ADS_1
Sebenarnya Abel merasa senang melihat rasa cemburu Davin, tapi di sisi yang lain Abel harus tetap bersikap dingin sebelum menentukan keputusannya untuk Davin. Meskipun di dalam hatinya cintanya tetep untuk Davin.
“hmmmm…,” balas Abel. Davin mencoba memahami sikap Abel yang masih sakit hati.
Menempuh perjalanan beberapa menit penuh kebisuan, kini mobil mereka sudah sampai didepan rumah Miranda. Sopir akan membukakan pintu untuk Abel.
“Terima kasih banyak Bang Davin, sudah antar Abel pulang.” Seru Abel masih dengan nada kaku.
“Abel tunggu!” Davin menghalangi langkah Abel. Abel yang akan keluar mobil pun menoleh lagi ke arah Davin.
“Ya,”
“Abel, mungkin kata maaf nggak ada artinya jika dibandingkan semua yang Abang lakukan sama kamu. Tapi tetap saja, Abang tahu kamu memiliki hati yang pemaaf dan pengertian. tolong jika kamu ridho jangan biarkan kebencian yang menghancurkan cinta kita,” ucap Davin dengan melas.
Abel diam sejenak, “Bang Davin jangan lupa makan, tadi Abel dengar perut Bang Davin Bunyi.” Jawab Abel yang tidak sinkron alias tidak nyambung dengan ungkapan Davin yang nampak dalam.
“Ya, Kamu mimpi indah ya cantik,” ujar Davin sedikit kecewa.
Abel benar-benar keluar dari mobil sekarang, dia berpamit masuk ke dalam rumah. Mobil Davin nampak sudah pergi menjauh saat Abel masuk kedalam rumah. Sebenarnya Abel hampir goyang dengan ungkapan Davin tapi Abel berusaha menahan diri karena belum saatnya sekarang dirinya mengambil keputusannya.
Abel segera merebahkan diri sejenak di atas Kasur. Benar-benar hari yang tak terduga hari ini, dia meraih ponselnya yang tidak terjamah sejak tadi. Abel mulai membaca banyaknya pesan yang masuk, tapi satu pesan dari seseorang membuatnya penasaran karena untuk pertama kali ia mengirim pesan Panjang. Dengan gerak cepat Abel membuka isi pesan WA.
Abel, mungkin setelah kamu baca pesan ini, kamu udah tahu semua perasaan aku ke kamu lewat Bang Davin. Ya, diam adalah caraku untuk mencintai kamu. Abel setelah kamu tahu perasaan aku, aku harap kita masih bisa bersahabat, aku harap kita masih seperti dulu, kamu bisa Jahili aku sesuka kamu seperti dulu.
TOLONG jangan pernah ada yang berubah. Jujur akulah orang yang paling tersakiti setelah tahu kakakku melepas cintanya demi aku, jujur akulah orang yang pertama yang terluka melihat orang yang saling mencintai terpisah karena aku, aku merasa, akulah yang paling pantas di hukum karena semua itu. Abel ku pikir mencintaimu adalah kebahagian terbesarku, tapi tidak. Aku akan lebih Bahagia jika melihat kembali senyummu dan juga senyum Kakakku. Jika waktu bisa diputar, aku akan meminta agar kakakku tidak pernah tahu perasaanmu padamu, dengan begitu orang yang aku sayangi tidak akan ada yang terluka. Abel aku hanya berharap seseorang yang saling mencintai harus kembali bersamaan,
yang selalu ingin jadi sahabatmu. Nolan
__ADS_1
Entah kenapa air mata tiba-tiba merembes dari matanya usai membaca pesan Nolan begitu mengharukan. Pantas saja Nolan membahayakan diri demi menyelamatkannya. Entah bagaimana sekarang perasaan Nolan tapi pesannya terdengar tulus.
Tapi tunggu! apa benar itu pesan dari Nolan yang songong, bagaimana bisa dia menulis pesan sepanjang itu. Abel mengecek nama kontak kembali, tidak ada yang salah. Apa dia menyuruh seseorang menulisnya. Begitu pikiran konyol Abel. Tapi dia yakin itu dari Nolan asli.
****
Abel terbangun mendengar alarm ponselnya yang berbunyi. Dia melihat jam menunjukkan waktu yang sesuai dengan sepertiga malam akhir. Dengan masih sedikit mengantuk Abel memaksakan tubuhnya bangun untuk mengambil air wudhu.
Setelah berwudhu, Abel yang sudah lengkap dengan mukenanya menjalani sholat tahajud di sepertiga malam ini. Selanjutnya Abel melaksanakan sholat istikharah. Abel menadahkan tangannya Memanjatkan doa pada Sang Pencipta agar ditunjukkan jalan yang harus dia ambil.
Bila dia memang baik untukku, agamaku, masa depan dunia dan akhiratku, bisa membimbing dan membawaku lebih dekat pada-Mu, maka dekatkanlah diriku dengannya dan satukanlah kami dalam pernikahan yang sakinah mawadah warahmah. Jika di buruk untukku, bisa membawaku jauh dari AgamaMu, mengarahkanku kedalam hal yang maksiat, maka jauhkan aku sejauh-jauhnya hingga diri ini menemukan pengganti yang lebih Engkau ridhoi menuju jalan Mu...
.
.
.
.
.
Next......
nanti lanjut lage... thor mau bocan
terima kasih udah sabar nunggu up dari author 🙏
__ADS_1
Beri semangat author pencet tombol jempol LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selalu loph U