
Keesokan malamnya tepatnya malam minggu. Abel bersiap mengenakan dress warna navy dengan bawahan celana kain warna hitam lengkap dengan prasmina warna coklat juga. Memberi sedikit sentuhan dandanan natural di wajahnnya. Dia bolak – balik berputar didepan kaca memastikan tampilannya sudah cantik dan elengan untuk kencan pertamanya dengan Davin. Setelah memastikan semuanya sempurna, dia segera keluar dari kamar untuk menunggu diruang tamu.
“Mau kemana nih, Kakak cantik banget,” sindir Riri dari ruang tv, melihat Abel yang tersenyum-senyum sendiri.
“Dia mau jalan sama Davin sama Raydan juga,” balas Ervan.
“Apa! Tunggu, kenapa sama Raydan juga Pa. Becanda nih pasti.” Tanya Abel kaget, binggung, kesal melebur menjadi satu.
“Papa udah bilang kok sama Davin, dia setuju aja, kenapa kamu yang kaget.” Ujar Ervan santai, yang membuat Abel semakin kesal.
Kenapa harapan tak sesuai dengan kenyataan, makan malam romantis, kencan berdua dengan orang yang di sukainya langsung buyar bersama sayap kabur ke langit, harapan lenyap dari pikiran Abel. Abel saja sudah malas membayangkan harus ada Raydan ditengah dirinya dan Davin. Tidak ada pilihan lain dia terpaksa harus mengajak Raydan yang merenggek minta ikut karena janji Papanya yang membolehkan Raydan pergi bersama Abel.
Papa sebel! Memang Papa enggak pernah muda karena korban nikah paksa diusia muda. Tapi jangan juga balas dendam ke anakmu ini. Pasti papa sengaja nggak biarkan aku berdua Bang Davin, pantas saja gampang banget di ijinkan untuk jalan malam minggu sama bang davin. Batin Abel kesal.
Tak lama berselang suara mobil terdengar dari ruang TV. Abel memegangi dadanya, belum ketemu saja debaran jantung Abel sudah kencang seperti dangdutan. Seseorang yang diharapkan muncul dari pintu utama. Ervan segera keluar pasang badan menemui Davin.
“Vin jangan malam-malam pulangnya, Raydan gampang ngantuk.” Seru Ervan.
“Apa! Raydan?” jawab Davin kaget.
“Kan waktu itu sudah bilang, kalau mau jalan sama Abel ajak Raydan,” balas Ervan.
Davin berpikir sejenak, mengingat ucapan Ervan tempo hari itu, Ia pikir itu hanya gurauan.
“Ya Mas, tenang aja,” balas Davin pasrah.
“Ingat Vin. Habis makan langsung pulang.” Oceh Ervan lagi. Davin mengganguk mengiyakan.
Tak lama berselang Abel muncul mengandeng tangan Raydan siap untuk berangkat. Davin seolah melupakan kekesalan setelah Abel hadir dihadapannya, Ia selalu terkesima melihat Abel yang nampak cantik alami. Begitu halnya dengan Abel yang merasa kagum dan terpesona dengan Davin juga, dia melemparkan senyum malu pada Davin.
“Pa, Ma, Abel jalan,” kata abel sambil meraih punggung tangan Papanya. Disusul Davin yang melakukan hal yang sama seperti Abel.
Kini ketiganya masuk ke dalam mobil, mobil pun berlahan-lahan meninggalkan rumah Abel.
“Kita kemana nih, abang nggak mungkin ajak kamu ke tempat tujuan awal, tempatnya nggak cocok untuk Raydan.” Ujar davin yang juga pasrah kencan romantismya gagal total.
“Kakak, mau makan ayam goyeng," Kata Raydan dari kursi belakang mendekati Abel.
__ADS_1
"Ya dek nanti kita makan ayam goreng." Seru Abel menepuk pipi adiknya.
"Maaf ya Bang, Abel juga nggak tahu kalau Papa ngijinkan Abel jalan sama Raydan." Ucap Abel yang merasa bersalah pada Davin.
"Nggak apa-apa cantik, malah rame kalau ada Raydan, gimana kalau kita ke resto cepat saji aja disana ada play ground dan ayam goreng kesukaan Raydan." Seru Davin menenangkan Abel.
"Ya Bang boleh." Balas Abel.
Davin mengeluarkan ponselnya terlihat menghubungi seseorang.
"Batalkan semuanya, aku pindah tempat." Ucap Davin pada seseorang dibalik ponsel.
Abel melirik ke arah Davin yang terlihat biasa saja sih, tapi Abel yakin ia pasti kesal sekesal dirinya, Dia berpikir pasti malam ini Davin punya rencana indah untuk kencan pertama kita, tapi harus gagal karena Papanya mengutus Raydan sebagai pengawal kecil. Dia mendengus kesal lagi, sia-sia dandan berjam-jam kalau hanya makan malam di resto cepat saji ayam goreng.
Beberapa menit mereka sudah tiba di resto ayam goreng. Raydan langsung berlari senang. Abel dan Davin segera ke meja kasir untuk memilih menu yang lumayan mengantri ketika malam minggu.
"Bang Davin, Abel aja yang antri, Bang Davin duduk aja." Seru Abel yang tidak enak hati melihat raut wajah Davin.
"Nggak apa-apa cantik, sebentar lagi juga giliran kita." Balas Davin tersenyum.
Sumpah ini pertama kalinya aku mengantri hanya untuk makanan kalau bukan karena Abel, ingin aku borong saja semua isi resto ini biar semua orang pergi. Gerutu Davin dalam hati.
Raydan nampak semangat memakan ayam goreng yang memang bocah ini inginkan sejak tadi. Usai memakan ayam goreng kesukaannya Raydan heboh ingin ke play ground. Abel pun mengijinkan Raydan ke area playground dekat kursi mereka.
Kini akhirnya ada waktu Abel dan Davin untuk mengobrol berdua sambil menikmati makanan yang mereka pesan.
"Adik kamu lucu...." Ujar Davin.
"Kalau Raydan lebih diam dibanding Raffa, kalau adik Bang Davin gimana." Tanya Abel.
"Nanti Abang kenalin sama kamu, tapi kamu jangan kaget ya, dia nggak banyak ngomong tapi sekali ngomong dia kasar kalau orang yang nggak kenal mungkin bilang dia arogan, tapi sebenarnya dia baik banget, dia hanya mengalami trauma di masa lalu," Cerita Davin.
"Beda banget sama Bang Davin dong," kata Abel malah mengoda Davin.
"Ya, beda-beda tipis, lebih ganteng Abang lah..." Goda Davin. Abel tertawa kecil sambil mendorong lengan Davin.
Kedua kini sudah bisa menyesuaikan diri dengan sikap canggung masing-masing, Abel dan Davin menikmati waktu berdua mereka meskipun kencan ini diluar rencana dan ditengah keramaian.
__ADS_1
Ponsel Abel berdering menganggu saat bersama mereka.
"Huh..." Dengus Abel melihat nama Papanya dilayar ponsel.
"Kenapa? angkat." Seru Davin melihat ekspresi wajah bahagia Abel berubah.
"Sebentar Bang." Abel mengeser tombol ponsel.
Ervan : Pulang, udah malam adek kamu ngantuk!!
"Baru satu jam Pa, Abel aja belum selesai makan."
Ervan : Selesai makan, sepuluh menit lagi pulang, kalau Davin nggak mau antar, Papa yang jemput kamu. Telepon terputus.
Abel menutup wajahnya prustasi, Papa sangat posesif padanya seperti dirinya masih anak-anak saja.
"Bang Davin maaf, Papa suruh kita pulang." Seru Abel merasa tidak enak.
"Ya nggak apa-apa kita pulang," Balas Davin pasrah dengan kencannya yang berantakan.
Abel memanggilnya Raydan, Raydan terlihat letih usai bermain-main diplayground, dia meringsuk minta digendong seperti anak kecil. Davin dengan sigap menawarkan diri mengendong Raydan. Karena mengantuk dan terlalu lelah Raydan menerima ajakan Davin. Kini Raydan langsung tertidur dalam gendongan Davin.
Davin meletakkan dengan pelan Raydan di kursi penumpang belakang. Ia dan Abel juga segera masuk ke dalam mobil.
.
.
.
.
.
NEXT....
Thor potong ya, InsyaAllah lanjutannya hari ini ....
__ADS_1
Terima kasih udah sabar nunggu Up dari author.🙏🙏🙏🙏
Beri semangat Thor mu pencet LIKE, koment, yang punya poin bagi VOTE nya. Loph U 🙏🙏🙏🙏