
Y : Neno sayang, nanti kerja pulang jam berapa kira-kira?
R: Wah belum tahu mas sayang. Why?
Y: Hmmm...Ada yang mau dibicarakan sama kamu. Tapi enaknya sih sambil ketemu.
R: Jadi gimana? ketemu di luar saja atau aku pulang dulu?
Y: Ya pulang dulu sajalah, lihat nanti kalau belum terlalu malam kita keluar, tapi kalau sudah terlalu malam di rumah saja deh
R: Oke sayang. sampai nanti. I love U.
Y : I love U too.
Akhirnya malamnya mereka jadi keluar berdua karena Retno sengaja pulang tidak terlalu malam.
Nancy tidak mau ikut karena ada tugas juga harus belajar menjelang ujian tengah semester hanya pulangnya saja titip martabak.
Mereka akhirnya makan di suatu cafe yang setiap malam ada "live music" nya.
Lalu memilih posisi meja yang terbaik untuk bisa berduaan sambil makan diiringi nyanyian yang merdu.
Setelah makan mereka sengaja memesan jus lagi untuk dinikmati sedikit demi sedikit sambil menikmati alunan musik.
" Neno, kemarin kan kamu bilang kalau aku juga diundang untuk hadir di acara pertunangan keponakanmu akhir bulan nanti, apa kamu yakin mau mengajakku?" tanya Yohan kepada Retno.
Lalu Retno menatap Yohan dan keluar ketusnya," kenapa harus tidak yakin sih, atau jangan-jangan mas tuh engga serius sama aku yah".
Melihat kekasihnya mulai keluar aura galaknya Yohanpun memenangkannya,
"Bukan begitu sayang..aku justru cuma merasa takut kalau kamu malu mengajak aku bertemu dengan keluarga mu".
Dan Retno menjadi kesal," Mas itu aneh yah, kenapa belum percaya sama aku sih, atau memang sebenarnya mas yang malu punya pacar perawan tua seperti aku begini".
Serba salah Yohan namun dia tetap berusaha tenang dan kembali mengajak kekasihnya bicara," Tenang sayang, bukan seperti itu maksudku. Masalahnya dari sisi aku. Dengar dulu, jujur aku saat ini hanya sedang merasa kecil hati saja".
"Mungkin juga ini hanya ketakutan yang tidak jelas saja. Bagaimana tidak nanti di sana aku akan bertemu dengan hampir seluruh keluarga besarmu".
"Dan menurut ceritamu kebanyakan mereka dosen, bahkan ada yang profesor, selain itu juga ada pengusaha terkenal. Sedangkan aku hanya seperti ini, aku justru takut kamu malu dengan keadaanku".
Retno memejamkan mata, dan saat membukanya terlihat memerah dan mulai berair ,
"Mas, kamu cinta tidak sih sama aku? Jawab yang jujur, apakah kamu benar mencintai aku".
Yohan menggenggam tangannya dan berkata ," Tentu Neno aku sangat mencintaimu, bahkan aku takut kehilanganmu, jujur aku sayang kepadamu".
Retno menghela nafas dalam ,
"Kalau benar sayang dan cinta kepadaku mengapa masalah seperti harus mas pertanyakan kepadaku, itu sama artinya mas masih ragu kepadaku".
"Untuk apa aku selama ini aku selalu berusaha membelamu mas, untuk apa kalau toh hal begini masih mas pikirkan, takutkan... Untuk apa coba!!!"
Suara Retno kian meninggi, beberapa orang di meja lain ada yang menengok ke arah mereka.
Lalu mereka berdua terdiam, Retno sangat kesal dan kecewa sekali, sementara Yohan jadi merasa bersalah.
Retno bangkit dan menuju keluar cafe, Yohan cepat-cepat membayar ke kasir dan segera mengejar Retno.
Sampai di depan Cafe ternyata tidak tampak Retno dan Yohanpun mulai panik.
Segera masuk mobil dan berusaha mengejar Retno namun entah kemana.
Dia menyusuri sepanjang jalan dan ternyata dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang berjalan sendiri sambil melipat tangannya di depan dadanya.
Yohan segera menghentikan mobil dan mengejar Retno, tangan Yohan dikibaskan saat mencoba meraih tangan Retno.
Tapi Yohan berusaha memeluknya dan Retno mencoba meronta tapi Yohan terus memeluknya sambil menariknya masuk mobil.
Di dalam mobil Retno diam, sambil terus meneteskan air mata.
Yohan dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Retno segera turun dan berlari mencoba masuk ke kamar kostnya.
Tapi karena sambil kesal jadi susah memasukan anak kunci, lalu Yohan membukanya dan ikut masuk ke dalam.
Dari atas seperti biasa ada sepasang mata membelalak,
"Kok ikut masuk coy.. bahaya nih..."
"Ngapain kamu masuk mas!!!?" hardik Retno.
Yohan tetap tenang ," Boleh kan aku masuk".
Retno masih kesal lalu dia duduk di tepi ranjang sambil menangis lagi.
Yohan mendekatinya, lalu Retno berkata dengan kencang ," Mas... salah yah aku ini dosen? salah yah keluargaku memang orang berada? salah yah kalau keluargaku juga banyak yang dosen dan pengusaha? salah yah mas... semua salah kan mas..!!!
Jawab mas..jawab!!!"
(#tampaknyaYohanbelumhafalceweknyagalak)
Hampir semua lelaki dimanapun juga di seluruh dunia pasti serba salah bila menghadapi kekasih yang sedang marah dan menangis.
__ADS_1
Hampir semua lelaki dimanapun juga di seluruh dunia pasti memilih solusi terbaiknya adalah diam sambil memeluk kekasihnya dan membiarkannya marah, memukuli, mencakar bahkan meraung-raung tapi akan terus memeluk sampai wanita tercintanya reda amarahnya.
Lama kelamaan tangisnya mulai mereda, namun Yohan masih tetap memeluknya dan akhirnya berkata,"Sayang maafkan aku, maafkan aku sebesar-besarnya, maafkan kebodohanku, maafkan kenaifanku, aku mencintaimu".
Lalu Retno melepaskan pelukan Yohan dan duduk sambil dengan wajah berantakan, dan berkata,
" Waktu itu kan aku pernah tanya kan mas... berani tidak menghadapi rintangan, dan mas jawab berani. Bahkan kita berpelukan dalam keadaan dirimu masih bau keringat, lalu apakah aku melepaskan pelukanmu... tidak kan mas.. walau saat itu mas bau tapi aku tetap memelukmu. Apakah itu tidak berarti buatmu mas, jawab mas".
Lalu Yohan menatapnya dan berkata ," maafkan aku sayang, maafkan aku, maafkan yah sayang. Aku bodoh terlalu bodoh, seharusnya aku yakin akan kebesaran cintamu padaku".
Sambil memegang cuping hidung Retno, dia berkata lagi,
"Jangan marah lagi yah sayang, kamu kalau marah memang tampang antagonis sekali".
Lalu Retnopun tersenyum, dan berkata," Jadi maksudnya antagonis itu sesuai dengan julukanku di kampus, gitu maksudnya kan".
Yohan mencubit pipi nya Retno," Nah gitu dong senyum, jangan marah lagi yah. Pantas semua mahasiswa takut".
Retno mencibirkan bibirnya lalu berkata," Kamu juga takut yah mas... Kalau takut makanya jangan bikin aku marah dong".
Jadi gemas rasanya kalau fase berbaikan dengan kekasih sehabis berantem, tanpa babibu lagi Yohan menarik Retno dan mencium bibirnya dengan sepenuh rasa.
Retno yang tiba-tiba terciumpun kaget dan berusaha meronta tapi Yohan tidak melepaskan ciumannya bahkan terus ******* bibir Retno dan semakin lama semakin bergairah.
Dan Retnopun lama-lama menikmatinya dan membalas ciumannya tak kalah penuh rasa.
Bahkan Yohan saat ini sudah membaringkan Retno di bawah tubuhnya, sambil terus memeluk dan berciuman semakin mesra.
Tiba-tiba...tok tok tok....
"Pa !!!...Papa !!! Papa dimana???
Papa di dalam kah???!!! Mana martabaknya Pa!!!???".
Sontak keduanya menghentikan ciuman yang saat itu sedang panas-panasnya.
Lalu mereka tertawa kecil cekikikan dan Yohan segera menuju pintu sementara Retno merapihkan rambutnya.
Dasar tupai kecil mengganggu saja orang tua lagi enak-enaknya.
Setelah kejadian marah-marahan beberapa hari yang lalu, maka mulai ada kebiasaan baru yang terjadi.
Yaitu Yohan suka tiba-tiba hilang dan saat dicari anaknya pasti ada di suatu kamar kost.
Anaknya sore ini akan dijemput teman-temannya seperti biasa menginap ke Villa di bukit.
Dan sebelum pergi sang anak ngomel dan mewanti- wanti kepada papanya.
Ayahnya mendengarkan dan bilang berjanji tidak akan sampai macam-macam.
Dunia kok terbalik yah, ini anak yang merasa was-was takut ayahnya sampai macam-macam sama perempuan.
Sementara ayahnya merasa sebel sekali dengan ocehan anaknya, seakan-akan dianggap anak remaja saja.
Lalu anaknya berangkat dan ayahnya juga mengingatkan hati-hati di jalan, lalu kembali anaknya juga mengingatkan agar ayahnya jangan macam-macam di rumah.
Teman-temannya menjadi aneh dan merasa geli mendengar percakapan ayah dan anak itu.
Malamnya Retno tampak duduk bersila di atas kasur sambil memegang pensil dan mengetuk-ngetukan ke kepalanya.
Sementara Yohan berbaring di kasur yang sama sambil melihat TV dan sesekali menatap kekasihnya yang tampak sedang berpikir.
"Apakah harus ya mas? Penting kah menurut mas? aku jadi bingung," Kata Retno sambil berpikir.
"Dibilang penting, ya tidak penting tapi kalau dibilang tidak penting ya bagaimana yah.... aku juga bingung mengapa memberikan ide begini yah," Jawab Yohan sambil bingung sendiri juga.
"Jujur seharusnya sebagai perempuan aku bahagia dong setidaknya diberi keuntungan ganda, tapi kalau dipikir secara mendalam lagi untuk apa sih kita melakukannya, aku rasa tidak perlu sampai seperti ini juga lah mas," Retno menyampaikan pemikirannya.
"Aku malah berpikir ini lanjutan kebodohan mas kemarin deh, ayo, jujur sama aku mas. Pasti mas itu termakan omongan Sanjaya, aku yakin 100 persen pasti mas kepikiran sama omongan Sanjaya".
Dan Yohanpun terdiam, tidak berani melanjutkan pembicaraan karena takut kejadian seperti kemarin ini singa betina ngamuk.
Pasalnya Yohan memberikan ide kepada Retno, karena kebetulan Yohan baru mendapatkan sedikit uang lebih hasil pembagian penjualan tanah keluarganya kemarin.
Dan setelah sebagian diberikan kepada keluarga Lembong, ternyata masih lumayan jumlahnya.
Maka dia mengajukan kepada Retno untuk membeli mobilnya Retno secara nyata jual beli, namun Retno tetap mempergunakannya hanya bedanya sekarang menjadi miliknya.
Memang benar dalam hati Yohan masih terselip rasa ingin mempertahankan harga diri setelah selama ini Sanjaya serasa merendahkan dirinya.
Namun memang Retno bukan wanita materialistis yang mengutamakan harta di atas segalanya.
Dan diapun menolaknya, untuk apa harus melakukan seperti itu pikirnya, kalau mau nanti saja ketika saatnya tiba ganti dengan kendaraan baru.
Saat ini kendaraannya juga termasuk tua sudah lebih dari 5 tahun dia memakainya sejak pertama membeli.
" Kalau begitu bagaimana kalau dijual saja dan beli baru, nanti aku tambahkan uangnya," lanjut Yohan hati-hati sekali.
Tapi tetap Retno tidak setuju, bukan saatnya menurutnya karena terasa Yohan memaksakan akhirnya dia bertanya dengan cukup keras dan tegas," Sepertinya aku mencium bau-bau kalau mas itu takut ke rumah keluargaku. Mas merasa takut akan dihina oleh yang lainnya juga selain Sanjaya, benar tidak mas!! Ayo jawab mas!!".
Mulai garangnya muncul lagi, dan Yohanpun setelah menghela nafas membenarkannya.
Sambil yakin pasti sebentar lagi akan ada yang meledak dan benar saja.
__ADS_1
"Ooohhh ternyata masih saja mas begitu yah. Sumpah mas aku sebel sekali, aku benci sama pemikiranmu".
"Dengar mas...!!! tidak usah dengan harta untuk meyakinkan keluargaku kalau mas benar mencintaiku".
Lalu dengan geram Retno kembali berkata," Jangan sampai aku merasa salah menilai mas selama ini. Aku selalu berpikir mas bukan lelaki yang mudah patah semangat".
"Kalau memang mas merasa diri tidak pantas untukku, baiklah aku yang akan pergi biar mas tidak terbebani olehku".
Sambil mulai menangisRetno kembali melanjutkan ,"Mas, kasus seperti kita saat ini bukankah pernah terjadi jaman dahulu dalam hidup mas.
Tapi saat itu mas berani memperjuangkan cinta mas walau hinaan dan cacian jauh lebih menyakitkan".
"Walau aku yang hanya mendengarnyapun merasa sangat sakit apalagi mas yang merasakan langsung".
"Tapi mas saat itu berani".
"Mengapa sekarang mas begitu lemah. Apakah aku tidak seberarti Yasinta, apakah karena aku sudah kotor dan tubuhku cacat, begitukah mas? Jawab mas... jawab!!!!"
Dan air mata yang tertahan mengalir deras.
Yohan kembali menghampiri dan memeluk Retno tapi sekarang Retno malah mendorongnya menolaknya.
Yohan berbaring dan dia menerawang menatap langit- langit kamar, sambil memejamkan mata dia berkata,
" Aku merasa aku memang begitu bodoh, jujur aku belakangan ini merasa kecil hati saat kamu berkata ada undangan di keluargamu".
"Aku tidak takut dihina orang, di caci maki orang, tapi yang ku takuti apabila kamu yang dihina mereka karena memilihku".
Sejenak diam dan Yohan melanjutkan," Aku tidak ingin sampai kamu bersedih karena aku. Terlalu berharga cintamu untukku, aku tidak ingin kamu sampai direndahkan orang karena aku".
Entahlah mungkin ini bagian dari trauma kehidupan Yohan, walau sesungguhnya dia tak ingin memikirkannya.
Retno memandang Yohan dan kemudian dia bergerak mendekati Yohan.
Dia duduk dihadapan Yohan yang sedang berbaring dan mengelus kepala Yohan.
"Mas, aku berani melepaskan semua apa yang aku miliki, pekerjaanku, jabatanku, bahkan kalau memang benar terjadi keluargaku mengusirku hanya atas alasan kita berbeda kasta dimata mereka maka aku pasti meninggalkan mereka asal aku bisa bersamamu".
"Aku tak mau sampai cinta ini termakan oleh pemikiran orang, karena cinta hanya kita yang merasakan bukan mereka," Retno meyakinkan Yohan kembali.
Dan Yohan memeluknya dan kembali minta maaf atas kebodohannya lagi.
Karena sesungguhnya dia terlalu takut kehilangan cintanya maka terkadang dia berpikiran pendek.
Untung wanita yang dicintainya adalah seorang Retno yang selalu bijak dalam berpikir dan berlaku.
Mata Retno mengerjap-ngerjap saat sinar matahari menerobos jendela kamarnya.
Rupanya semalam lupa menutup gordennya.
Wajahnya terterpa sinar sang surya yang menerobos masuk melalui kaca jendela kamar.
Dan dia juga kaget karena ada suara dan hembusan nafas lelaki yang tengah memeluknya tapi masih terlelap.
Rupanya semalam mereka ketiduran.
Pelan-pelan Retno membangunkan Yohan
sambil menepuk-nepuk pipinya.
Yohan membuka mata, seketika dia baru sadar semalam ketiduran di sini.
Lalu Yohan duduk di tepi kasur, sambil masih mengantuk dia berkata," Bagaimana caranya keluarnya yah".
Dan Retnopun tertawa,
"Aku engga tahu, itu urusanmu".
Yohan menatap Retno," kita ciuman dulu engga nih?".
Retno membalas dengan menjulurkan lidahnya.
Sambil berdiri Yohan bertanya lagi," kalau semalam aku minta kamu melepas pakaianmu kamu rela engga?".
Dan sebuah bantal melayang ke arahnya.
" Sebenarnya aku sudah tidak tahan ingin menggasakmu loh, pagi begini katanya enak buat perempuan," lanjutnya lagi.
Dan sekarang sandal jepit melayang ke arahnya.
Yohan melihat ke kanan dan ke kiri, takut ada yang memergokinya.
Dia baru berani keluar dari kamar Retno ketika merasa aman.
Dia berjingkat-jingkat pelan-pelan, namun apesnya ternyata ada bu Yayah yang sedang menyapu halaman.
Tadi tidak terlihat olehnya karena bu Yayah sedang menunduk memunguti sampah daun dekat mobilnya Retno.
Saat bu Yayah Yohan berjingkat-jingkat, dengan polisnya dia bertanya , "Darimana pak pagi-pagi?".
Yohan menengok dan wajahnya memerah, lalu tanpa menjawab dia langsung berlari masuk rumah.
Bu Yayah hanya bengong melihatnya.
__ADS_1