Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Isi Hati Raffa


__ADS_3

Saya tidak terpikirkan, Aline bisa buat syarat secerdas itu. Entah apa yang ada di pikiran Aline, bagaimana bisa dia membuat sanksi syarat perjanjian yang dendanya setara dengan anggaran belanja negara. Bukanya hanya perusahaan kakak saya saja yang akan bangkrut. Perusahaan yang terlibat dengan saya pun pasti akan bangkrut.


Saya jadi menyesal menyuruh Alien membuat syarat sesuai keinginannya. Harusnya saya sebagai calon suami yang bisa mengambil alih seluruh masalah rumah tangga.


Tapi entah kenapa, semenjak saya membicarakan masalah perjanjian pranikah, Aline menjadi lebih diam. Tepatnya sangat diam. Saya sampai lupa kalau ada orang di samping saya. Biasanya kalau saya dekat Aline saya lebih banyak istighfar.


Dia sama sekali tidak berbicara seperti biasanya. Padahal setelah keluar dari toko perhiasan wajahnya sudah berseri-seri bahagia seperti dipenuhi bunga-bunga.


Saya lirik gadis itu sekilas, dia hanya melihat ke arah luar jendela dan nggak ada kegiatan lain selain melamun, tanpa suara keributan yang ia timbulkan seperti biasa, saya jadi merasa aneh. Bukannya apa! Saya takut dia kemasukan dedemit atau sejenisnya saat saya parkir di bawah pohon tadi. Tentu tidak! Saya serius, Aline diam tak bersemangat seperti tadi sore.


Apa orang seperti dia bisa juga diam seperti ini?


"Lin," panggil saya lirih.


"Ya Raf," jawabnya pelan.


"Kamu kenapa? Nahan pipis!" tanya saya bermaksud bercanda.


"Nggak apa-apa Raf." Aline menunduk dan melihat lagi ke arah jendela.


Tak beberapa lama, terdengar suara isakan yang tertahan.


Saya kaget dong! Kenapa dengan Alien? Dari tadi saya tidak berbuat apapun sama dia, apalagi berbuat tak senonoh. Tapi kenapa dia tiba-tiba menangis tiba-tiba tanpa sebab dan akibat.


Saya menepikan mobil di pinggir jalan yang kebetulan pas untuk berhenti.


"Lin, kamu kenapa? Ada masalah dengan saya?" tanya saya sedikit panik. Masalahnya dia bukan Aline yang seperti saya tahu.


Mendengar pertanyaan saya, bukannya menjawab Aline malah semakin keras sesegukan menahan tangis yang ingin ia keluarkan.


Saya hanya bisa menyodorkan dua tisu untuk menyeka ingusnya yang ia tutupi dengan tangan.


"Kamu kenapa Lin, kalau ada masalah dengan saya. Kamu ngomong jangan gitu dong." Sumpah kali ini saya panik, Aline semakin tak bisa menahan tangisnya.


Aline menggelengkan kepalanya, saya tak mengerti apa maksudnya. Aline masih saja bungkam dengan nafasnya masih sesegukan karena mencoba tak menangis tapi tetap saja menangis.


"Lin, kamu jangan bikin saya binggung, kamu ngomong, kamu kenapa? Jika itu karena saya, mungkin saya bisa memperbaiki jika memang perbuatan saya salah." Usaha terakhir saya membuat Aline bicara. Jika dia masih tutup mulut sayang menyerah dan menganggap dia baik-baik saja. Saya akan menjalankan mobil kembali.

__ADS_1


Saya menatap Aline, "Lin, apa kamu keberatan dengan perjanjian pranikah yang kita sepakati."


Aline mengangguk, "Aku selalu percaya jodoh pilihan papi adalah yang terbaik. Tapi kalau kita menikah dengan janji, apakah itu terbaik Raff."


Tumben si Aline berkata dengan seirus


"Lin, saya sudah pernah bilang sama kamu. Perjanjian ini demi kebaikan kita berdua."


"Ya Raff Aku tahu,"


"Please Lin, kamu jangan nangis lagi, jangan buat saya merasa bersalah dengan kesepakatan pernikahan yang kita buat bersama."


Aline hanya mengangguk kaku tanpa membantah.


Seperti yang saya lihat, Aline sudah kembali tenang.


"Lin, masih ada waktu. Kamu bisa membatalkan perjodohan ini." Entah kenapa saya merasa berat mengatakan ini. Jika Aline setuju untuk membatalkan perjodohan ini, kenapa saya merasa gelisah.


"Nggak Raf, aku nggak mungkin membatalkan pernikahan kita. Itu sama halnya aku akan menyakiti Papi sama mami."


"Saya juga berharap pernikahan kita segera dilaksanakan. Dengan begitu aku sudah memenuhi keinginan Mama sama Papa, Kita berdua sebenarnya sama-sama berjuang untuk memenuhi keinginan orang tua kita. Itu sebabnya saya buat perjanjian pranikah agar di antara kita tidak ada yang merasa di rugikan," seruku. Aline masih diam, entah apa dia mengerti apa yang saya maksud. Tapi setidaknya Aline sudah berhenti menangis.


Aline menggelengkan kepalanya. Saya menyalakan mesin mobil dan kembali ke jalan raya melanjutkan perjalanan.


Kenapa Aline menunjukkan reaksi berbeda dari sebelumnya dengan perjanjian pranikah yang kita sepakati bersama. Saya sangat panik melihat Aline yang menangis karena masalah ini. Sebegitu berharapkan dia pada pernikahan ini. Sejahat itukah saya dengan saya dengan Aline sampai harus membuat perjanjian untuk menikahinya. Berapa lama nanti Aline akan bertahan dalam pernikahan kita yang tanpa dilandasi cinta?


Saya melihat Aline lagi sekilas, kita berdua sama-sama diam. Tidak ada perdebatan hal sepele seperti biasanya.


Salahkah saya yang membuat kesepakatan untuk perjodohan kita berdua? Salahkah saya yang berusaha mencari keadilan untuk kita berdua yang di jodohkan tanpa dasar cinta? Salahkah saya masih belum bisa menerima sepenuhnya keputusan orang tua saya?


Tak selang beberapa waktu mobil sudah berhenti di depan pagar rumah Aline. Saya menoleh ke arah Aline yang terlihat tenang sejak tadi, tertidur. Mungkin dia bosan tak banyak bicara hingga akhirnya tertidur.


Saya memperhatikan Aline yang sedang memejamkan mata. Dia sangat manis ketika begini. Saya bisa melihat wajahnya sedikit sembab karena menangisi perjanjian yang seharusnya tak perlu di tangisi.


Saya masih tidak menyangka tak lama lagi kita berdua akan menikah. Wajah inilah yang nantinya akan menemani hari-hari saya. Benar-benar di luar harapan saya sebelumnya.


Saya tidak tahu, apakah sekarang Aline sudah punya perasaan dengan saya atau belum? Yang saya tahu dia begitu berlapang dada menerima perjodohan ini.

__ADS_1


Tapi kenapa tidak dengan saya, apakah itu adil untuk Aline, Calon suaminya masih berharap bisa bersama wanita impiannya.


"Lin, bangun!" saya mencoba membangun Aline. Saya takut khilaf kalau terlalu lama memandangi wajah tenang Aline ketika tidur.


Aline menggeliat mengucek matanya, "Maaf Raff aku ketiduran."


"Ya nggak apa-apa, sekarang kamu turun. Sudah sampai depan rumah kamu."


"Aku nggak ngorok kan waktu ketiduran," ucap Aline mengelap mulutnya.


Hal itu menbuat saya terkekeh. Aline sepertinya sudah pulih setelah ketiduran. Tapi hati saya masih di selimuti rasa bersalah.


"Nggak, cuma kamu ngiler!" balas saya.


Aline refleks memegang mulutnya. "Kamu seirus Raff, Aku kan malu," seru Aline.


"Nggak! Sekarang kamu turun udah malam, besok kita masih harus ukur baju pengantin."


"Ya Raff, iya, nggak usah ngegas, aku juga akan keluar sendiri." Aline melepas seatbell.


"Besok saya jemput lagi untuk ukur baju!"


Alien mengangguk mengiyakan.


"Saya langsung pulang, salam saja buat mami papi kamu." seru saya pada Aline yang sudah turun dari mobil.


Saya pun pergi meninggalkan Aline masih membawa rasa bersalah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


. Bersambung .......


Haloyy eid Mubarak, mohon maaf lahir dan batin. 🙏🙏


__ADS_2