Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 74 Kenapa??


__ADS_3

Riri masih sibuk dengan laptopnya, besok dia sudah harus melaporkan hasil penelitian pada dosen pembimbingnya. Ditemani biskuit dan buah, malam ini dia terlihat sangat serius duduk bersila di sofa melihat kertas bergantian dengan laptop.


Ervan yang melihat istrinya sibuk dengan kegiatannya merasa kwartir dengan kehamilannya.


"Sayang, udah tidur dulu ya, kasian anak kamu, nanti biar Mas yang bantu print." Kata Ervan yang duduk di samping istrinya sambil mengelus perut buncitnya yang berusia 6 bulan.


"Dikit lagi Mas, Riri denger dari group chat, kalau Riri yang masih jadi kandidat lulusan terbaik prodi tahun ini, Riri nggak nyangka."


"Sayang, besok masih ada waktu." Bujuk Ervan lagi yang tidak menyerah.


"Besok Riri mau siapin buat lampirannya Mas."


"Sayang, ayo tidur dulu," ajak Ervan tapi Riri masih tidak bergeming.


"Sebantar lagi Mas, janji." Balas Riri.


Ervan akhirnya mengalah menemani istrinya diruang TV menyelesaikan pekerjaannya. Hampir 2 jam dan waktu menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Ervan terbangun yang sedari tadi tertidur disofa, dilihat jam dinding menunjukkan malam yang sudah larut. Ervan masih saja mendapati istrinya berjibaku dengan kertas dan laptop.


"Sayang, kamu belum selesai juga." Kata Ervan sekarang menjadi marah pada istrinya.


"Mas bangun, udah sebentar lagi." Kata Riri masih tidak bergeming dan tak menyadari waktu yang larut.


Ervan yang kesal melihat istrinya yang sibuk hingga larut malam, menutup paksa laptop Riri.


"Mas, Riri belum selesai.." Riri protes meraih laptop yang dirampas suaminya.


"Sekarang tidur sayang, masih ada esok, kamu lagi hamil harus banyak istirahat." Kata Ervan semakin kesal Riri yang masih bergeming meneruskan kegiatannya.


Riri juga sempat marah melihat suaminya yang dianggapnya egois tidak mengerti keadaannya yang harus mengejar skripsinya agar selesai tepat waktu.


Ervan meletakan laptop ke meja. " Ayo tidur.." Ervan meraih tubuh istrinya mengendong dengan gaya bridal. Riri terpaksa melingkarkan tangan ke leher suaminya mengikuti arahannya dengan wajah cemberut dan ikut naik ke lantai atas digendongan suaminya.


Keduanya di atas tempat tidur tanpa sepatah kata pun yang terdengar hanya suara detikan jarum jam yang berputar. Riri pun perlahan terlelap tanpa pelukan dari suaminya yang memilih menoleh ke arah yang berlawanan.


"Pagi.... ayo sholat subuh." Kata Ervan memandangi istrinya yang baru bangun dari tidurnya.


Riri membelalakan matanya, terkejut melihat suaminya memandanginya dan tidak seperti biasanya bangun terlebih dulu. Riri mengingat kejadian semalaman yang membuatnya kesal tapi tidak bisa marah melihat wajah suaminya yang terlihat manis.


"Sayang, Mas bukan mau ngelarang kamu untuk menyelesaikan skripsimu, tapi Mas hanya nggak mau, kamu sibuk sendiri sampai larut malam, Mas kuatir sama kamu dan bayi kita." Kata Ervan, perlahan Riri menyadari kesalahannya.


"Mas sadar kalau sudah salah, entah kenapa tanpa memeluk kamu semalam, Mas kayak nggak berarti, jangan hukum Mas lagi pagi ini tanpa lihat senyum kamu." Sambung Ervan lagi, Riri langsung mengembangkan senyum di bibirnya.


Mimpi apa kamu Mas tadi malam, kenapa mendadak manis. Riri


Riri memeluk suaminya, membenamkan tubuhnya dalam dekapan suaminya.


"Riri yang salah Mas, seharusnya Riri dengarin apa kata Mas, Riri sekarang nggak sendirian ada nyawa lain dalam tubuh Riri yang juga harus Riri pikirkan, maafin keegoisan Riri ya Mas."


"Ya sayang, sholat dulu yuk, setelah sholat tidur lagi kamu begadang tadi malam, nanti nggak usah antar Mas kerja,"


"Satu lagi, nanti sore, Mas yang antar ke kampus, tunggu Mas pulang kerja." Sambung Ervan lagi.

__ADS_1


keduanya menjalankan kewajiban mereka sebelum Riri beristirahat kembali.


*****


Menempuh beberapa menit dari rumah, Sore ini Riri sampai di depan gerbang kampus. Ervan memilih menunggu istrinya di coffe shop seberang kampusnya.


Riri menyusun kembali ratusan lembar kertas yang ada ditangannya memastikan semuanya sempurna. Berdoa agar tidak ada revisi lagi karena Riri merasa hasil skripsinya kali ini sudah sangat matang.


Riri mengetuk pintu ruang dosen, nampak dari dalam seseorang mempersilahkan masuk.


"Ri, bagaimana udah selesai semua." Kata Adrian melihat Riri yang masuk ke ruangannya.


"Sudah Pak, mudahan nggak ada revisi Pak." Kata Riri menyerahkan Bundelan kertas pada Adrian.


Adrian mulai membaca dan membolak-balikkan kertas. Riri menunggu di hadapan Adrian merasa heran dengan sikap Adrian yang tidak seperti biasanya, dosenya itu terlihat lebih diam dan tak seceria biasanya.


Riri ingin menegur menanyakan perihal apa yang terjadi, menjadi urung karena melihat ekspresi dosennya sangat serius dan berkonsentrasi melihat skripsinya.


Pak Adrian kenapa ya?? jadi diem gini apa mungkin dia mau konsentrasi kali ya. Riri.


"Ini datanya saya lihat failed, saya lanjutankan ke hasil penelitian kamu ya." Kata Adrian disela kebisuan yang sempat beberapa menit terjadi.


"Pak boleh tanya nggak,"


"Apa..." Balas Adrian.


"Bedanya gula sama saya apa pak..." Kata Riri mencoba mencairkan suasana dengan candaan garingnya.


Riri yang mendengar jawaban Adrian merasa terkejut ternyata usahanya tidak berhasil. Malah dia menjadi malu Adrian tidak menanggapi balik candaan garingnya.


kayaknya kesambet jin iprit Nih orang!, apa diancam sama Bu Tiara kayak mas Ervan dulu. Riri.


Adrian mendongak melepas kacamata," Ri, saya lanjutkan dirumah ya, ini saya bawa pulang, besok kamu kembali lagi, saya pastikan udah selesai saya koreksi."


"Ya Pak, kalau begitu saya pulang Pak....." Tanya Riri.


"Ya, kamu pulang saja dulu, besok saya hubungi kamu kalau sudah selesai, oh ya kamu sama Ervan atau sama Udin..." Balas Adrian.


"Sama Mas Ervan Pak, Bapak lagi sakit...." Tanya Riri memberanikan diri.


"Sakit hati Ri.... maksud saya nggak Ri, saya nggak apa-apa, saya hanya mau pulang cepat." Ujar Adrian.


Riri pun keluar dari gedung fakultas masih bertanya-tanya menuju seberang kampus sambil memegangi perutnya berjalan menyusul suaminya. Nampak di depan matanya suaminya yang duduk dengan dua wanita terlihat seperti mahasiswa terlihat seru.


"Hmmm..." dehem Riri membuat semua mata fokus ke arahnya.


"Sayang, udah selesai.." Kata Ervan bangkit dan membuka kan kursi untuk Riri.


Riri menatap dua wanita yang memang mahasiswi, entah semester berapa.


"Ini istri saya,..." Kata Ervan memperkenalkan Riri yang bermuka jutek.

__ADS_1


Kedua mahasiswi menganguk sopan pada Riri. "Ya udah Pak, kita balik dulu.." Kata salah satu mahasiswa. kemudian keduanya berlalu meninggalkan Ervan dan Riri.


"Mas kenal, siapa?" Kata Riri ketus.


"Mereka dulu mahasiswa Mas, waktu jadi dosen tamu, mereka juga kemarin ngajukan mangang di perusahaan."


"Pantesan senang antar Riri ke kampus, senang kan di dekati mahasiswi cantik." Riri ketus.


"Ya Allah sayang, mereka negur duluan, cuma kamu mahasiswa yang paling cantik di mata Mas, cemburu ya.. tambah cantik loh kalau cemburu gitu." Seru Ervan mengoda istrinya.


Riri mencubit perut suaminya kesal, Ervan meraih tangan istrinya dan menciumnya dalam genggaman.


"Kok cepat, Adrian nggak ada di Kampus.." tanya Ervan.


"Ada Mas, cuma tadi bilang mau pulang cepat..." Balas Riri.


"Tapi Pak Adrian hari ini aneh Mas, nggak kayak biasanya, kayak ada masalah gitu." Ujar Riri.


"Perasaan kamu aja Sayang, dia pasti baik-baik aja..." Ujar Ervan lagi.


Ervan menghabiskan sisa kopinya dan makan beberapa makanan di coffe shop, Ervan mengajak Riri pulang sebelum hari menjadi gelap.


Ponsel Ervan berdering di perjalanan, nampak dilayar nama Tiara yang muncul.


"Mas, Kak Tiara..." ujar Riri mengambil ponsel Ervan di dushboard mobil.


"Angkat nyalakan speakernya." Kata Ervan.


Riri mengikuti arahan suaminya.


Tiara : Van... Bisa ketemu sebentar.


.


.


.


.


.


.


Next......


sabar Zen sambungan akan di up......


Makasih udah sabar nunggu up dari author...


Jangan lupa Like koment dan vote yang mengubah langkahku 😍😍😍🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2