Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP5-S2// Tempat magang


__ADS_3

"**Nama kamu siapa, lebih enak kalau kita tahu nama masing-masing?" Tanya Mas ganteng.


"Nama Aku Abel Mas, Mas siapa?" Jawab Abel tersenyum memerah merona wajahnya karena kePDAn.


"Nama yang bagus, Aku Davin...." Balas Davin juga tersenyum pada Abel**.


"Ya, Mas Davin salam kenal..." Kata Abel menunduk tanpa mengulurkan tangan.


Aku pasti telat meeting, untung nih cewek cantik. Batin Davin.


"Oh ya, Ngomong-ngomong kamu mau kemana?" Sambung Davin lagi.


"Mau ke PPN Mas, tapi mau gimana lagi, mobil aku mogok..." Balas Abel.


"PPN dekat sama kantor aku, gimana kalau kamu nebeng aku aja," Seru Davin antusias.


Deg. Abel langsung gugup, untuk pertama kalinya dia sedekat ini dengan laki-laki selain keluarganya. Otaknya berpikir sejenak, tenang Abelia jangan semurah itu, punya malulah sedikit meskipun Mas ini tidak ada sama sekali tampang jahat apalagi mesum, dia malah baik, rapi, sopan, tidak sombong mungkin juga rajin menabung, ganteng pula.


"Nggak usah lah Mas, aku pakai taksi online aja, udah banyak ngerepotin," tolak Abel.


"Abel, disini sulit dapat taksi online ataupun kendaraan umum, kalaupun ada akan menunggu lama. Kita harus menunggu dari pusat kota." Jelas Davin.


Abel Melihat sekitar, yang dikatakan Davin memang benar, mobil yang banyak melintas hanya truk pengangkut barang-barang perlengkapan pertambangan. Hanya beberapa saja mobil kota.


"Ya Mas, kalau begitu...." Tungkas Abel menyerah. Daripada dia harus menunggu sampai kering dan lumutan taksi online atau mobil jemputannya.


Tak lama dua orang berboncengan membawa motor datang mendekati keduanya, Davin mendekat menemui mereka dan berbicara dengan orang tersebut sambil menunjuk mobil Abel.


"Abel, berikan kunci mobil pada mereka, mereka yang akan menunggu disini sampai mobil yang narik mobil kamu datang.


Abel mengangguk dan menyerahkan kunci mobil pada Davin.


"Ayo kita jalan..." Ajak Davin.


"Sebentar Mas, Abel ambil tas dulu didalam mobil." Kata Abel. Davin mengangguk mengiyakan.


Abel masuk kedalam mobilnya mengambil tas sambil mencari-cari benda tumpul apapun yang bisa dipakai untuk melindungi diri. Dia membuka laci dashboard mobil, menemukan satu set kunci pas. Abel mengambil kunci pas yang ukuran paling besar, lumayan sakit lah kalau untuk dipukul dikepala minimal benjol syukur-syukur kalau pingsan seperti di sinetron TV.


Sebaik apapun Davin tetep saja dia orang asing yang baru dikenal, jangan lihat dari tampilan luarnya atau Don't judge this cover, dia tetap harus berjaga-jaga. Setelah mengemasi barang dan senjata pelindung dalam tasnya di keluar dari mobil.


"Sudah?" tanya Davin melihat Abel turun dari mobilnya. Abel menganguk sambil tersenyum manis.


Davin berjalan beriringan dengan Abel, Davin membukakan pintu mobil untuk Abel.


"Mas, mobilnya nggak ada bangku belakang," tanya Abel melihat pintu mobil Davin hanya dua.


"Nggak ada, mobil ini hanya bangku depan, kenapa?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mas, mobilnya keren." Balas Abel cepat masuk ke dalam mobil.


Karena dipikiran kini hanya membayangkan bagaimana menempuh perjalanan 20-30 menit ke depan bersama Mas ganteng yang hanya berjarak beberapa centimeter. Dia merasa gugup karena ini pertama kalinya dekat dengan laki-laki lain selain keluarganya.


Abel juga terpesona dengan wangi parfum yang melonggarkan tenggorokan dan rongga diafragmanya yang tentu saja berasal dari Lelaki disampingnya. Entah kenapa mendadak debaran jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.


Tenang Abelia please kamu jangan keGRan dulu. Bantah Abel dalam hati.


"Kamu kerja di PPN?" tanya Davin memecah keheningan.


"Nggak Mas, cuma mau ngajukan magang." Jawab Abel.


"Kamu masih kuliah, jurusan apa?" tanya Davin lagi.


"Ya Mas, bulan depan semester 5, Abel jurusan teknik geologi..."


"Oh ya, Kenapa kamu nggak magang di PT PM lebih bagus loh." Tungkas Davin.


"Nggak Mas, Papa aku, Tante aku kerja disana banyak yang kenal, nggak seru..." Balas Abel.


"Ya benar juga sih, kamu kayak adekku suka yang cari suasana lain...." Cerita Davin.


"Mas Davin punya Adek?" tanya Abel.


"Punya cowok, dia masih kuliah kayak kamu, tapi nggak lulus-lulus, dia di kampus bukannya kuliah malah sibuk demo, protes, baksos, aktivis Mahasiswa, begitulah...." Cerita Davin lagi.


"Tapi kayaknya di juga magang kayak kamu untuk skripsi, tapi aku nggak tahu dimana..."


"Oh.., kantor Mas Davin dimana dekat dengan PPN?" Tanya Abel lagi yang sekarang sudah tak gugup lagi, malah kepo dan cerewet pengen tahu lebih dalam tentang Davin.


"Aku kerja di Adiguna grup..." Balas Davin.


"Oh memang dekat mas dari kantor PPN." Seru Abel yang tahu Adiguna grup juga perusahaan besar di bidang kelengkapan mining.


Pasti Bang Davin bukan pegawai sembarangan, mobil dan tampilan keren. Batin Abel.


Tanpa terasa mobil sudah memasuki area PT. PPN, Davin berhenti di depan lobby. Abel bersiap turun.


"Mas Davin makasih ya untuk semuanya," Kata Abel tersenyum manis.


"Ya sama-sama aku senang bisa bantu kamu, oh ya Abel, bisa minta no Hp kamu..."


"Nomor Hp?" Abel bengong.


"Ya, tolong jangan salah paham, aku hanya mau kasih tahu kamu kalau nanti mobil kamu udah di bengkel." Balas Davin mendadak salah tingkah.


"Oh ya Mas," Kata Abel mengetik nomor Hpnya di ponsel Davin yang disodorkan dan menyerahkan pada Davin. Abel kini bersiap membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Abel." Panggil Davin, yang membuat Abel langsung menoleh.


"Kita pasti ketemu lagi..." Ujar Davin tersenyum. Mendengar ucapan Davin Abel jadi merona malu dan mengangguk tersenyum keluar dari mobil.


Sumpah kamu cantik dan beda. Batin Davin.


Mobil Davin mulai tak terlihat lagi, Abel bergegas masuk ke lobby karena memang sudah terlambat dari janji temu. Abel menemui resepsionis dan menyampaikan maksud dan tujuannya. Resepsionis mengantar menuju ruang devisi khusus Mahasiswa magang, dalam ruangan sudah dipenuhi Mahasiswa magang yang akan interview.


Abel mencari tempat duduk yang kosong, tapi matanya terfokus pada tempat duduk yang kosong dan orang disebelahnya.


Ya ampun, Itu si songong, kenapa dia disini, ya ampun benar-benar merusak hari bahagiaku setelah bertemu Bang Davin. Apa yang harus aku lakukan, pura-pura b*doh tapi tidak etis Abel, walau bagaimanapun si songong adalah superhero tanpa kostum yang sudah menemukan Raydan. Kalau aku negur, apa dia masih Inget wajah cantikku yang dia maki-maki. Begitu yang ada di isi kepala Abel.


Abel memilih diam dan berpura b*doh saja meskipun tidak sopan. Dia dengan cepat duduk di kursi kosong samping si songong.


"Ternyata, selain teledor kamu juga nggak disiplin waktu, sungguh parah!" Kata Nolan ketus menoleh ke arah Abel.


Abel yang mendengar langsung tersentak mendidih ternyata cowok ketus itu mengingat dirinya. "Tolong ya, nggak usah sok tahu kalau kamu nggak tahu masalahnya." Jawab Abel terbawa suasana panas.


"Mau jadi apa perusahaan kalau memperkerjakan orang yang seperti itu, nggak mau denger pendapat orang lain." Balas Nolan garang.


"To...." suara Abel terputus ketika bersamaan dengan suara mbak sekretaris memanggil.


"Nolan putra Adiguna, silakan masuk..."


Nolan berdiri meninggalkan Abel yang belum selesai bicara, memasuki ruangan yang diarahkan mbak sekretaris itu.


Heran deh, suara yang keluar dari mulut tuh cowok pedes banget kayak cabe, pengen aku sumpal pakai es batu aja. Ya ampun, jangan sampai deh aku satu team magang sama tuh manusia cabe. Umpat Abel kesal dalam hati.


.


.


.


Next.....


Zen : Thor Abel sama Nolan atau Davin sih kok dua cowoknya


.


Thor : tunggu aja Zen jatuh cinta ada prosesnya


Zen ; Kan penasaran.


Thor : πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒliat aja nanti cinta Abel berlabuh kemana


udahan dulu ya..

__ADS_1


kasih semangat Thor beri like komen yang punya poin boleh tebar vote πŸ™πŸ™πŸ™ terima kasih lop u ❀️


__ADS_2