
Setelah tiba di rumah sakit, Nolan mendapatkan perawatan yang lebih layak dan canggih sebelum menjalankan operasi. Abel menceritakan semua detail kejadian Pada Davin saat tiba di rumah sakit, tapi dia mensensor cerita saat tubuhnya menimpa tubuh Nolan. Sekarang Nolan dalam tahapan observasi sebelum besok pagi menjalani operasi pemasangan pen di tulang bahunya yang patah.
Keesokan paginya di rumah Abel. Abel merapikan mukena usai digunakan sholat Subuh. Dia masih belum beranjak dari tempat sholatnya. Dia merebahkan tubuh di atas sajadah, dalam pikirannya masih terbayang kejadian kemarin pagi. Meskipun Nolan sudah mengungkap secara gamblang tentang alasannya menolong dirinya karena jiwa kemanusiaan. Abel merasa apa yang dilakukan Nolan benar-benar sangat heroik, Abel hampir terkesima ada seseorang yang rela mengorbankan dan membahayakan keselamatannya demi dirinya. Tapi cepat-cepat dia menggeleng kepalanya dan menyakini pernyataan Nolan. Tidak ada maksud apapun Nolan menyelamatkan dirinya kecuali karena kemanusiaan.
Pagi ini Abel berencana menjeguk Nolan yang mungkin sedang menjalani operasi. Dia mendapatkan ijin cuti tiga hari karena kecelakaan itu ditempat magang. Abel berpamitan pada Papa dan Mamanya usai sarapan bersama.
Menempuh perjalanan sepuluh menit dengan mobil hitamnya, Abel sudah tiba di rumah sakit. Dia memasuki ruang rawat inap VVIP tempat Nolan di rawat.
Nampak Davin merebahkan dirinya di sofa sambil memainkan ponsel.
"Assalamu'alaikum," Sapa Abel pada Davin.
"Wa'alaikumsalam sayang." Jawab Davin senang dengan kedatangan Abel.
"Bagiamana Nolan, Bang...." Tanya Abel penasaran, karena ranjangnya tertutup Tirai.
"Nolan sedang istirahat pengaruh obat bius usai operasi, mungkin sebentar lagi dia bangun."
"Bang Davin belum sarapan, Abel bawakan sarapan." Kata Abel sambil menyerahkan bungkusan plastik paper bowl yang berisi bubur ayam.
Davin mengambil plastik dari tangan Abel. Davin mengajak Abel duduk di sofa.
"Sayang, kamu bisa masak?" tanya Davin di sela ia menikmati buburnya.
Abel mengeryitkan dahinya mendengar pertanyaan Davin. "Bisa dong Bang, Abel anak kos, kenapa nanya gitu." Bela Abel.
"Syukur, Abang seneng nanti punya istri yang bisa masak, jadi nggak sabar mau cepat ngelamar kamu sayang." Goda Davin.
Muka Abel langsung mendadak merah mendorong lengan Davin, Bagaimana disaat seperti ini Davin masih bisa mengodanya.
"Kapan orang tua Bang Davin datang." Seru Abel.
"Harusnya pagi ini, tapi sepertinya sore, mungkin ada kendala disana." Seru Davin.
"Coba buburnya enak sayang, kamu beli dimana?" Kata Davin sambil menyodorkan sendok ke mulut Abel.
Abel dengan binggung langsung saja melahap tanpa pikir panjang suapan bubur dari sendok yang sama yang digunakan Davin. Davin mengusap sisa bubur yang sedikit belepotan di bibir Abel. Sembari mengelus bibirnya seolah ingin ikut dimakan saja.
Abel sangat canggung dengan kondisi ini, dia merasa apa yang akan dilakukan Davin padanya dengan tatapan itu dengan tangan yang terus mengelus bibirnya, apakah perbuatannya sudah melewati batas? kenapa tangannya sangat kaku untuk bisa berontak. Kini wajah Davin semakin mendekat kearah Abel.
Drrrrrrrtttttttt. Suara ponsel. Davin langsung menoleh ke sumber suara. Dering ponsel yang membuyarkan situasi penuh godaan setan itu. Abel langsung bernafas lega memegangi dada yang berdegup kencang. Kenapa sekarang dia jadi kaku begini, apakah ini yang namanya cinta yang bisa membutakan semuanya? lawan Abel lawan kemaksiatan. Berikan ciuman pertama untuk suamimu, hanya kalau bang Davin sudah sah menjadi suamimu. Lagi pula, tahulah tempat sedikit Bang Davin ini rumah sakit. Ada adikmu yang terbaring didepan kita. Isi pikiran Abel yang negatif berperang dengan kata hatinya.
"Sayang, aku angkat telepon dulu." Ujar Davin, Abel hanya mengangguk.
Davin melangkah kearah dekat jendela sambil berbicara serius dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
Terdengar suara erangan dari balik tirai.
"Bang Davin..." Guman Nolan pelan.
Abel yang mendengar langsung berdiri menemui Nolan karena kakaknya sibuk menerima telpon.
"Nolan, apa kau butuh sesuatu," kata Abel sambil membuka tirai penghalang.
"Abelia, kau kah itu?" tanya Nolan lirih dan lembut tidak seperti biasanya.
"Ya, Nolan kau mau apa biar aku bantu." Ujar Abel pada Nolan yang masih belum membuka mata tapi mulutnya berbicara.
"Bisa kah kau pergi dari pikiranku, kenapa aku tidak bisa melupakanmu sedetikpun." Kata Nolan sambil masih terpejam.
Deg. Abel sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar apa yang dikatakan Nolan. Dia sangat syok hingga terpaku tak bisa bergerak. Apa maksud Nolan berkata seperti itu, ia berkata dibawah alam sadarnya Abelia, tenang. Orang yang tidak sadar bisa berbicara apapun sesuai kehendaknya. Pikir Abel yang mencoba memahami sendiri maksud Nolan.
"Sayang, Nolan sudah sadar?" tanya Davin tiba-tiba berada di samping Abel.
"Ta-di dia mengi-gau." Jawab Abel terbata karena masih memikirkan perkataan Nolan.
Davin menekan tombol merah diatas tiang infus. Tak lama beberapa perawat datang memeriksa keadaan Nolan.
"Pengaruh biusnya udah mulai hilang, sebentar lagi mungkin pasien akan sadar, tolong beri makan, setelah itu minum kan obatnya. mari." Kata perawat sopan. disusul anggukan dari Abel dan Davin. Perawat pun pergi.
"Abel, bisakah kau jaga Nolan dulu sebentar. Abang akan ke kafe bawah menemui asistenku menandatangani dokumen penting." Ujar Davin.
"Terima kasih sayang, Nanti bantu dia makan kalau sadar, Abang akan segera kembali." Kata Davin. Abel menganguk. Davin pun keluar meninggalkan ruangan.
Abel masih belum tenang mengingat perkataan Nolan, dia bertekad akan menanyakan pada Nolan maksud perkataannya tadi ketika Davin pergi.
Tapi apakah aku berani, apa ada kemungkinan si songong akan jinak setelah pengaruh obat bius hilang, kita lihat saja nanti. Gerutu Abel dalam hati sambil memperhatikan Nolan yang mulai bergerak.
"Abelia apa itu kau." Kaya Nolan dengan keras dari balik selimut dan ia menaikan brankarnya dengan remote hingga setengah tegak.
Abel langsung membulatkan matanya. Berdiri mendekati Nolan, si songong sudah sadar sepertinya dia kembali seperti semula.
"Kau butuh sesuatu," tanya Abel
"Dimana bang Davin, kenapa kau disini!" Tanya Nolan dengan wajah kakunya meskipun sedang sakit.
"Dia ada urusan dibawah, aku kesini ingin tahu keadaanmu, orang yang udah nolong aku, apa salah?" Jawab Abel.
"hmmmm, Abel, tolong ambilkan aku minum, aku sangat haus." Kata Nolan.
Dengan sigap Abel menuangkan air dari dispenser ke dalam gelas. Abel menyerahkan pada Nolan. Nolan berusaha sekuat negara meraih gelas dari tangan Abel dengan tangannya yang terpasang banyak alat
__ADS_1
"Nolan, tenanglah aku akan membantumu minum." Kata Abel yang tidak tega melihat Nolan berusaha keras.
Abel membantu Nolan mengangkat bahunya pelan dan dia menyodorkan gelas dimulut Nolan. Nolan sempat canggung dengan keadaan ini. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang seolah sakitnya hilang. Tapi dengan cepat ia menepiskan pikirannya dan menyadari bahwa Abel adalah calon istri Kakaknya. Ia kembali memasang wajah sanggar dan memundurkan badan menandakan kalau sudah selesai minum. Abel pun mundur dan menaruh gelas di meja.
"Nolan, aku ingin bertanya sesuatu...." Kata Abel.
"hmmmm..."
"Tadi saat kau tidak sadar, kau bilang, kau tidak bisa melupakan Abelia, apa maksudnya? apa itu aku?" kata Abel penasaran, mudahan nekatnya ini tidak membangunkan macan yang jinak.
"Abel, dikota yang seluas ini apa hanya kau yang bernama Abelia, tolong jangan kege'eran dan sok cantik!" Balas Nolan lagi.
Sial, apa aku berkata begitu ketika tidak sadar, untung saja Abel yang mendengar, bagaimana kalau Bang Davin dia pasti curiga. Nolan
Abel lagi-lagi mendengus, sudah menduga jawaban pedas yang akan dia dapat.
"Ya kau benar ada ribuan Abelia di kota ini, maaf harusnya aku tidak bertanya pertanyaan konyol itu." Balas Abel lega rasa penasaran terjawab.
Tak lama handle pintu terbuka, Davin masuk kedalam ruangan.
"Bang Davin, kau terus disini menjagaku sejak kemarin, bang Davin sebaiknya pulang dan istirahatlah di rumah." Seru Nolan melihat Davin yang masuk ruangan.
"Aku akan terus disini sampai mama datang." Ujar Davin.
"Bang Davin, Abel mau pulang tapi sore atau besok Abel akan kesini lagi, Abel udah janji mau jemput Paman Abel di bandara nanti siang ini." Ujar Abel pada Davin.
"Ya sayang, ayo Abang antar ke tempat parkir." Balas Davin.
"Nolan terima kasih dan cepatlah sembuh." Kata Abel pada Nolan.
"Terima kasih Abelia." Kata Nolan lembut, ia sebenarnya masih ingin Abel disini bersamanya.
Abel dan Davin pun keluar ruangan menuju gedung parkir.
.
.
.
.
.
Next...
__ADS_1
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author smpai sekarang.... author tanpa kalian hanya butiran kerikil.🤗🤗🤗
Beri author semangat Thor mu pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas Kalian. Loph loph U ❤️