
Malam yang cukup teduh di kota T yang tidak terlalu ramai seperti kota – kota besar lain, mobil yang dikendarai Miranda dan Abel sudah tiba didepan sebuah hotel terbaik di kota ini. Sopir membuka pintu mobil untuk keduanya. Abel terpaksa menerima ajakan Miranda untuk memenuhi undangan makan malam bersama rekan bisnis mereka Karel. Padahal tujuan Abel pergi ke kota sunyi ini untuk menenangkan diri dari masalahnya.
Semuanya jadi terbalik sekarang, dari ia betemu dengan Davin dan sekarang malah menghadiri makan malam dengan laki-laki yang selalu di puji-puji oleh tantenya.
Abel dan Miranda di arahkan Pramusaji ke meja yang sudah di reservasi. Keduanya menikmati makanan pembuka berupa kudapan ringan sambil menunggu kedatangan Pak Karel. Selang beberapa saat seseorang yang ditunggu datang dengan menggunakan pakaian sweater rapi, segar dan tampan.
“Maaf menunggu,” sapa Karel yang langsung meraih kursi untuk ikut bergabung.
“Tidak Pak Karel kita baru saja tiba,” balas Miranda dengan senyum manis yang terus mengembang di bibirnya.
“Bu Abelia, apa kabar?” tanya Karel dengan tatapan penuh arti pada Abel.
“Seperti yang Anda lihat Pak Karel, saya baik.” Balas Abel tesingkat dan jelas.
“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Karel.
“Tentu saja kita akan datang, Anda saja datang juh-jauh ke kota kami,” seru Miranda.
“Kedatanganku kesini ternyata tidak sia-sia, bisa bertemu dengan Bu Abelia yang cantik,” Karel seperti kelepasan bicara. Abel dan Miranda memandang aneh ke arah Karel mendengar perkatanya.
“Maksud saya Ibu Abelia selaku pemilik perusahaan," jawab Karel membela diri.
"Mari kita lanjutkan makan malamnya.” Karel menunjuk beberapa makanan yang sudah di hidangkan dimeja. Miranda dan Abel mengangguk ikut memegang pisau dan garpu untuk mulai memakan steak.
Tidak ada perbincangan yang serius, Miranda dan Karel yang lebih banyak bicara masalah bisnis. Abel memilih diam karena dia belum terlalu tahu menahu tentang bisnis perkebunan kelapa sawit. Abel kini lebih memilih sibuk dengan makanannya ingin segera mengakhiri drama makan malam ini dan pulang.
Ponsel Miranda berdering di tengah waktu makan, dia berpamitan akan mengangkat telepon di luar. Karel dan Abel hanya berdua sekarang, agak merasa canggung memang terutama Abel yang harus duduk berdua dengan laki-laki yang baru dikenal. Karel sesekali memperhatikan Abel merasa tambah kagum tanpa menghiraukan intruksi menjauh dari temannya Davin. Terjadi kebisuan di meja itu, keduanya saling sibuk dengan piring di hadapannya sesekali saling melempar senyum.
“Maaf Pak Karel, saya ada urusan mendadak. Saya harus pulang terlebih dulu.” Miranda tiba-tiba datang nampak terburu-buru mengemasi tasnya.
“Tidak apa-apa Bu Wilson,” jawab Karel.
Abel yang belum menyelesaikan makananya menjadi dilema antara mubazir tidak menghabiskan makanannya atau mengikuti langkah tantenya yang sangat buru-buru.
“Abel, tolong tetaplah disini bersama Pak Karel yang sudah jauh-jauh datang dari ibukota dan mengundang kita.” Titah Miranda asal keluar saja tanpa persetujuan Abel.
Abel terpaksa mengiyakan demi rasa hormat meskipun tak suka dengan ide Miranda yang seolah seenaknya dan sengaja membuat dia supaya bisa berdua dengan Pak Karel. Miranda pun dengan langkah cepat meninggalkan keduanya.
__ADS_1
Abel merasa sangat aneh sekarang, ini pertama kalinya dia menghadiri makan malam dengan rekan bisnis laki-laki. Dia bersumpah dalam hati, tidak akan mau lagi menemani Miranda menghadiri undangan makan malam dengan rekan bisnisnya. Kalau ujungnya seperti dijebak akan ditinggal begini. Meskipun keadaan resto ramai tetap saja bagi Abel berdua dengan laki-laki yang baru dikenal dalam satu meja sangatlah tak nyaman. Tidak mungkin juga Abel menelpon Paman Angga yang harus menempuh perjalanan lebih kurang 2 jam dari perkantoran di perkebunan untuk sampai ke kota.
“Terima kasih Bu Abelia, sudah meyempatkan waktunya untuk makan malam ini,” ucap Karel yang bersikap formal.
“Ya Pak Karel sama-sama,” balas Abel sedikit kesal dengan Miranda, tapi semua sudah terjadi. Sekarang yang dipikiran Abel, ingin menghabiskan makananya dan segera pulang.
“Anda lama di kota ini,” tanya Karel.
“Tidak Pak Karel, saya hanya sementara di kota ini, saya tinggal di kota B.” Jawab Abel.
“Oh, perusahaan Anda cukup maju tiga tahun terakhir,” balas Karel yang membahas perusahaan. Ia tak ingin jauh-jauh dari tema makan malam agar tidak terlalu terlihat mencolok kalau ia sangat senang bisa dekat dengan Abel.
“Alhamdulillah, karena pengelolaan yang baik dari orang-orang kompeten dan saya percaya,” jawab Abel.
"luar biasa ...." balas Karel. Karel merasa tertarik dengan Abel karena menurutnya dia wanita yang berbeda.
Beberapa menit mengobrol santai, tahapan makanan di meja yang dikeluarkan pramusaji nampak usai. Memang masih ada sebagian makanan yang tersisa, bukan maksud Abel jaga image tapi makanan eropa seperti ini memang dia tidak terlalu suka.
“Pak Karel sepertinya saya harus pamit pulang," seru Abel. Dia bersiap mengemasi tasnya dan akan bangkit.
"Ya Bu Abelia, saya akan antar Anda ke depan." Karel ikut bangkit mengikuti apa yang dilakukan Abel.
Abel menepuk jidatnya bertambah kesal dengan Miranda.
"Bu Abelia, ayo," tegur Karel yang membangunkan lamunan Abel yang mogok melangkah.
"Ya Pak Karel, saya akan ke repsionis sebentar untuk memesan mobil, mobil yang saya kendarai pergi bersama Tante saya."
"Tidak perlu Bu Abelia, saya bisa mengantar Anda pulang." Karel menjadi bersemangat.
"Tidak perlu pak Karel, saya akan memesan mobil dari hotel." Abel bersikeras.
"Pasti akan lama mobil di hotel ini banyak yang dipesan oleh tamu perusahaan, biar saya antar Anda pulang, saya akan menghubungi sopir saya." Karel memaksa dengan sopan, ia meraih ponsel dari sakunya celananya. Abel terpaksa menurut daripada dia harus pulang larut karena menunggu mobil hotel ataupun tantenya.
Sementara disisi yang lain, Davin akan mengisi perutnya yang keroncong di resto hotel usai memeriksa laporan kerjanya. Tapi langkahnya terhenti melihat wanita pujaannya bersama seorang yang dikenalnya keluar dari restoran hotel seperti usai melakukan dinner berdua.
Dengan perasaan kesal dan menahan rasa cemburunya yang berkobar ia mengekor mengikuti Abel dan Karel yang akan menuju lobby hotel. Nampak seorang sopir yang menunggu di depan lobby membuka pintu mobil untuk Abel.
__ADS_1
"Abel tunggu!" Davin memanggil dengan suara keras yang membuat Abel dan Karel batal masuk mobil dan menoleh ke sumber suara.
"Bang Davin," serunya lirih. Abel tidak menyangka kalau Davin masih di kota ini dan menginap di hotel yang sama dengan Karel.
"Kau mau kemana," tanya Davin yang mendekati Abel.
"Aku akan mengantarnya pulang Davin," kata Karel mendekati Abel dan Davin.
"Tidak perlu Karel, aku yang akan mengantarnya pulang," ucap Davin dengan keras.
"Davin, dia adalah tamuku, sudah sepantasnya aku yang akan mengantarnya pulang. Lalu siapa kau menyela-yela di antara kami," ujar Karel memandang kesal Davin.
"Karel dia ...." Kalimat Davin terpotong, Davin binggung menyebutkan apa sebenarnya hubungannya dengan Abel. Kekasih yang masih menggantung, calon istri yang belum menentukan jawabannya, mantan kekasihnya yang akan menunggu jawabannya untuk kembali. Tentu semuanya tidak keren dan hanya jadi lelucon jika di sebutkan dihadapan Karel.
"Apa Davin," Karel seolah menantang, melihat Davin yang tiba-tiba diam.
"Pak Karel, Bang Davin tolong berhentikan berdebat. Semua orang memperhatikan kalian." Abel menyela di antara kedua laki-laki dengan tatapan kaku ini.
Keduanya refleks memperhatikan sekitarnya. Ya benar semua orang memperhatikan mereka.
"Abel, ayo Abang yang akan mengantarmu pulang," Davin menatap Abel. Abel masih diam belum mengiyakan ajakan Davin.
.
.
.
.
.
.
Next.....
Nanti Thor lanjut ya🙏 ....
__ADS_1
Beri semangat author sebagai bentuk apresiasi kalian pada tulisan recehku ini. Pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph U ❤️ selalu