
**Pak banting aja skripsiku kalau nggak lulus hanya karena pertanyaan aneh itu. gerutu Riri dalam hati.
"Mau Pak..." Jawab Riri geram tapi tetap tenang.
"Oke saya lanjutkan prof....itu salah satu dari dua puluh pertanyaan saya." Kata Adrian, mengoda dengan gertakan ke Riri.
Pak Adrian!!!! Mudahan pertanyaan berikutnya wajar dan nggak lebih aneh dari pertanyaan pertama tadi. Riri**
Adrian membolak-balikkan copy skripsi Riri.
"Kenapa kamu pakai variabel X ....." Ujar Adrian lagi.
Riri bernafas lega pertanyaan ilmiah kali ini akan bisa dijawab dengan mudah. Riri menjelaskan dengan semangat perihal variabel X serta mengutarakan dengan berbagai macam teori-teori yang sudah dihafalnya.
"Oh gitu..." Sahut Adrian.
Begitu aja Pak tanggapannya ???perasaanku jadi nggak enak. Riri
Riri mencoba tenang di detik ini sebelum kembali di hujani pertanyaan. Dia kembali bernafas lega seolah langkah selanjutnya akan lebih baik.
"Tapi saudari Rinjani, bukan itu maksud pertanyaan saya." Ujar Adrian.
Jleb. Riri menelan salivanya sudah menduga tidak akan semudah itu lolos dari pertanyaan Adrian.
"Pertanyaan saya, apa warna cover buku Arikunto yang kamu jadikan referensi untuk teori tersebut...." Tanya Adrian.
Deg. lagi-lagi pertanyaan aneh, warna cover buku, Warna apa ya, aku lupa buku referensiku kan banyak pak Adrian nggak kepikiran hapalin warna covernya!! Cap cip cup Ri. Riri dalam hati.
"InsyaAllah biru Pak..." Jawab Riri hanya menerka-nerka.
"Yakin warna biru, saya punya semua seri bukunya loh ...." Tanya Adrian dengan mimik wajah manis tapi seolah mengancam
Jleb. "Yakin Pak..." Jawab Riri terpaksa meyakinkan diri.
Adrian tertawa ringan. "Apa memang warnanya Pak...." Tanya Penguji Bu Wid yang penasaran.
"Biru tapi perpaduan dominan merah Bu,..." seluruh dosen penguji yang tegang menjadi cair.
Alhamdulillah ada benarnya padahal aku asal sebut. Riri.
Suasana menjadi lebih santai keempat dosen penguji berdiskusi menunjukkan keahlian argument masing-masing tentang teori di buku yang dibahas Adrian. Riri mencoba tetap tenang mengambil kesempatan ini untuk menenangkan diri menghadapi pertanyaan berikutnya. Beberapa saat kemudian suasana menjadi tegang kembali. Mata dosen penguji kembali tertuju ke arah Riri.
"Silahkan Pak Adrian dilanjut....." Kata Pak Hadi kepada Adrian.
"Terima kasih Prof..." Balas Adrian.
Adrian kali ini memberikan beberapa pertanyaan ilmiah, yang dijawab dengan baik oleh Riri, meskipun ada beberapa sanggahan dari Adrian yang membuat Riri terpojok. Tapi tetap dia jawab semampunya daripada tidak menjawab, itu bisa mengurangi nilainya, pikirnya.
"Baik, pertanyaan terakhir dari saya, tolong buka lembar persembahan ...."
__ADS_1
Dengan cepat Riri membuka halaman lembar persembahan. Kenapa lagi ini dengan lembar persembahan yang tidak ada hubungan sama sekali dengan skripsi. Riri.
"Coba jelaskan pada saya, kenapa kamu membuang energi menyebutkan banyak nama di lembar ini....dan kenapa ada satu nama dengan tipe text nya berbeda dari yang lain." Tanya Adrian yang sebenarnya menahan tawa menunjukkan ke dosen lain lembar yang dimaksud.
Riri menelan salivanya, tidak menduga kalau lembar persembahan sebagai lembar hak kebebasan untuk penulis, tak luput menjadi sasaran pertanyaan Adrian. Dia juga sangat hapal hanya nama suaminya yang dibuat dengan tulisan text lucu.
Pak Adrian!!! cermat banget sih Pak. Apa aku harus jawab pertanyaan yang sangat tidak penting ini. Riri.
"Saya merasa kalau lembar persembahan itu lembar kebebasan untuk penulis tanpa perlu mengikuti kaidah penulisan ilmiah Pak, dan juga tidak perlu mendapat arahan atau persetujuan dari dosen pembimbing." Jawab Riri merasa menemukan jawaban yang tepat.
"Oke saya setuju, tapi kenapa harus ada satu nama dengan text berbeda dari nama yang lain."
Riri langsung salah tingkah merasa malu harus menjawab Jujur. "Ka-re-na itu nama suami saya Pak, jadi saya kasih bentuk text berbeda...." Jawab Riri sebenarnya merasa malu tapi mencoba tetep tenang dan tersenyum manis.
"Oke, sementara dari saya cukup Prof......" Adrian menyunggingkan bibir tak bisa lagi menahan tawa melihat ekspresi Riri.
Dosen lain pun ikut mencair bercanda sejenak. Riri kembali mendapat pertanyaan dari penguji lain. Dengan baik Riri menjawab lagi semua pertanyaan dari penguji yang bersifat ilmiah tentang data penelitian berbeda dengan pertanyaan Adrian.
Semua penguji sudah memberikan pertanyaan, Riri dipersilahkan menunggu hasil sidang dengan mahasiswi yang lain.
Riri bernafas lega, pasrah dengan hasil sidang yang berlangsung hampir 2 jam itu.
Setelah semua Mahasiswa usai di uji ke ruang sidang, kini para Mahasiswa menunggu keputusan sidang yang sedang dikaji oleh penguji hingga beberapa jam. Setelah menunggu berjam-jam hingga malam, Mahasiswa yang cemas sejak tadi dipersilakan masuk kembali ke ruang sidang untuk mengetahui hasil keputusan sidang masing-masing mahasiswa.
Malam mulai larut. Usai mengetahui keputusannya sidang, Riri keluar dari gedung fakultas dengan wajah lemas menemui suaminya yang menunggu sejak tadi di tamam fakultas. Sambil membawa secarik kertas, Riri melangkahkan kaki menemui suaminya yang tak jauh dari pandangannya.
Ervan yang melihat wajah Riri yang lemas dengan perut buncitnya merasa tidak tega. Dia langsung bergegas menghampiri istrinya.
"Mas, Riri....." Dengan wajah muram. Ervan semakin cemas melihat istrinya.
"Ya, sayang kenapa...." Ervan panik takut kecemasan istrinya mempengaruhi kehamilannya.
"Mas Ri-ri, Alhamdulillah Riri LULUS dengan NILAI A!" teriak Riri kegirangan, karena merasa puas berhasil menjahili suaminya.
Ervan bernafas lega karena sudah berpikir buruk. Malam yang semakin larut, Ervan melihat sekeliling kampus mulai sepi. Ervan langsung memeluk Riri ditempat umum merasa ikut senang dengan hasil keputusan sidang istrinya.
"Alhamdulillah, selamat ya Sayang, perjuangan kamu nggak sia-sia..." Ervan mengeratkan pelukannya. Begitu pula Riri refleks memeluk suaminya karena senang, tidak peduli dimana mereka berada.
"Udah Sayang, ini dikampus. Nanti dilanjutkan dirumah aja sekalian main yang lain...." Bisik Ervan di telinga istrinya.
Riri refleks melepaskan pelukannya dan mencubit perut suaminya. "Mas Nakal, ya udah Mas kita temui pak Adrian dulu, Riri mau kasih buah tangan sekaligus mengucapkan terima kasih"
"Ya udah, ayo........." Ervan berjalan beriringan dengan Riri menuju gedung fakultas ke ruangan Adrian.
Didalam ruangannya Adrian nampak berkemas untuk pulang.
"Permisi Pak,...." Riri dan Ervan masuk saja ke ruangan Adrian.
"Cieh calon Sarjana,...." goda Adrian melihat Riri yang bersama Ervan.
__ADS_1
"Pak ini sedikit dari saya buat kenang-kenangan." Kata Riri memberi paper bag yang berisi jam tangan pilihan suaminya untuk Adrian.
"Kenapa pakai bawa ini segala Van, Ri, kita ini kan best friend." Balas Adrian.
"Nggak apa-apa Bro. Terima kasih ya udah bimbing Riri sampai lulus dan dapat nilai A."
Seru Ervan.
"Oh ya, besok weekend aku ajak makan malam bareng, acara kecil buat kelulusan Riri. Sekaligus ucapan terima kasih karena udah bimbing Riri......" Sambung Ervan.
"Kalau aku bisa aja Bro, tergantung komandanku bisa apa nggak....." Balas Adrian.
"Tenang aja Bro, aku udah bilang sama Tiara di kantor dan dia setuju aja kok....." Balas Ervan.
Usai berbincang dengan Adrian, ketiganya kini berjalan ke tempat parkir untuk pulang dan beristirahat, mengingat hari ini pasti hari yang melelahkan untuk Riri yang lagi hamil.
Ervan membuka pintu mobil untuk Riri, senyuman terus mengembang dibibir Riri merasa bahagia. Bebannya menuntut ilmu tuntas tinggal menunggu yudisium dan wisudanya nanti.
"Untuk calon Sarjana dan calon Ibu anakku, selamat ya Sayang....." Ervan memberi bucket bunga mawar putih besar untuk Riri.
Riri mencium bucket bunganya. "So sweet, Terima kasih Mas," Riri memeluk suaminya melanjutkan mencium bibir suaminya dengan lembut dibalas oleh Ervan dengan cumbuan yang lembut.
Tok tok tok
suara ketukan jendela di kursi kemudi membuyarkan keseruan Ervan dan Riri. Ervan menurunkan kaca mobil.
"Pulang, Pulang Bro, ini kampus jangan mesum di sini..." Goda Adrian dari luar jendela mobil.
"Sori Bro, kebawa suasana...." Balas Ervan merasa malu.
Riri merasa malu menutupi wajah dengan untaian kerudungnya.
Mobil Ervan dan Adrian yang tadi terparkir bersebalahan pun melaju meninggalkan kampus.
.
.
.
.
.
. NEXT........
Zen sorry telat UP........
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author.😍😍😍😍
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan LIKE KOMENT VOTE ya merubah langkahku......🙏🙏🙏🙏