
flashback on
Hari yang mulai akan gelap Ervan segera ingin menemui kakaknya di kantornya. Perusahaan milik keluarganya tak jauh dari rumahnya membutuhkan 40 menit perjalanan. Setelah sampai ditempat tujuan ia langsung bergegas menuju ke ruang presiden direktur pemimpin tertinggi diperusahaan itu. Keadaan kantor cukup sepi karena memang seluruh pekerja sudah melewatkan jam pulang kantor.
"Assalamu'alaikum." Ervan masuk ke ruangan kakaknya Ervin yang memang menunggu kedatangannya.
"Waikumusalam. Gimana Van, cerita semua." Ervin langsung duduk di sofa ruangan bersama adiknya.
Ervan menceritakan semuanya kepada kakaknya tentang kesalahannya teknikal drilling yang membuat kebocoran minyak mentah di pesisir pantai teluk B*******an serta kerugian perusahaan karena masalah itu, karena itulah Tiara selalu mengancam akan mengajukan tuntutan kepadanya, Ervan menceritakan juga kepada Ervin kalau dirinya ingin meninggalkan Tiara untuk mengejar wanita yang dicintainya.
"Mas aku nggak takut kehilangan pekerjaan aku mas, tapi aku takut dipenjara dan jauh dari Abel mas, dia sudah kehilangan ibunya, jangan lagi dia kehilangan ayahnya."
"Kamu tenang Van, kita akan cari pengacara terbaik dikota ini, kalau perlu kita bawa dari ibukota, lagian dinegeri ini hukum bisa dibeli." Lanjut Ervin seorang pengusaha yang sangat familiar masalah suap menyuap.
"Jangan seperti itu Mas, suap itu dosa kita ikuti prosedur aja yang penting kita udah berusaha." balas Ervan terdengar bijak
"Ya Van, kenapa jadi sok alim gini." Balas Ervin terkejut dengan sikap adiknya.
"Bukan sok alim mas, tapi berusaha jadi pribadi yang baik, soalnya aku mau punya pasangan yang baik juga." Balas Ervan kepada kakaknya yang seolah mengiranya akting.
"Ya udah Van kamu tinggalin Tiara dan kejar wanita yang kamu cintai untuk masalah itu nanti kita akan selesaikan"
"Maaf ya mas, sebenarnya nggak mau buat repot mas Ervin sama papa. Udah adzan mas ayo kita sholat dulu dimasjid Dekat dari sini kan." kata Ervan yang tersadar mendengar kumandang adzan magrib bergegas mengajak Ervin keluar ruangan. Karena dipaksa oleh Ervan ia mengikuti langkah adiknya ke masjid yang beberapa meter dari kantornya.
Ervin yang melihat sikap Ervan yang berubah jadi lebih alim merasa kagum dan penasaran dengan Riri wanita yang dicintai adiknya itu. Ervan langsung bergegas menuju apartemen Tiara yang jaraknya tak terlalu jauh dari perusahaan kakaknya.
flashback end
*******
Malam berikutnya setelah menjalankan ibadah sholat magrib, Ervan menyusuri jalanan yang masih ramai kendaraan yang lalu lalang melintas, setelah beberapa menit ia sampai ditujuannya rumah sederhana dikawasan perumahan padat penduduk disebelah timur kota B.
Mengucapkan salam dan beberapa kali megetuk pintu akhirnya pintu terbuka dan orang yang diharapkaannya muncul dibalik pintu.
"Mas Ervan, ada apa ya." Katanya senang tapi kemudian merubah wajahnya menjadi ketus.
"Bisa minta tolong nggak, Abel sakit. dia panggil-panggil kamu terus, aku binggung harus gimana kamu ditelepon nggak bisa di chat nggak bales." kata Ervan lagi yang malah ingin tertawa liat ekspresi Riri sekarang karena tahu kebenarannya.
"Abel sakit apa? tadi baik-baik aja pas lagi chat." kata Riri cemas tapi berpikir menggunakan logikanya karena tadi siang sempat chat menanyakan kabar.
Riri pun akhirnya mengalah ikut menemui Abel setelah selesai berdebat dengan Ervan, karena Ervan tahu kelemahan Riri adalah Abel. Riri keluar dari kamar setelah mengganti baju menggunakan blouse Salem sepaha dan celana kulot hitam memakai kerudung senada warna baju.
"Ayo mas, tapi Riri bawa motor aja, mas duluan aja." Kata Riri masih ekpresi ketus.
" Jangan dong Ri, kita satu mobil aja, kan aku yang ngerepotin kamu, please kali ini aja." balas Ervan memohon. Riri menggelengkan kepala dan memakai helm siap memutar motornya.
"Kalau gitu, aku naik ojol juga."
"kok gitu, mas kan bawa mobi, ya naik aja mobil." Riri masih menjawab ketus.
__ADS_1
"Kan nggak lucu Ri kalau aku ikutin kamu dari belakang naik mobil, nanti dikira aku mau culik kamu."
Kalah berdebat lagi dengan Ervan, Riri akhirnya ikut satu mobil dengannya. Dia pamit kepada kedua orang tuanya dan pergi berlalu meninggalkan rumah. Diperjalanan hanya ada kebisuan dari keduanya, Riri terus saja berpaling menoleh kearah jendela, merasa senang bisa sedekat ini lagi tapi ia harus tetap bersikap jutek agar Ervan tidak mengganggunya lagi seperti kemauan Tiara begitulah yang ada dipikiran Riri. Berbeda dengan Ervan yang rasanya senang debaran jantungnya terasa lebih kencang ketika dekat dengan Riri sesekali ia melihat Riri dengan wajah anehnya itu yang terlihat olehnya semakin manis.
"Udah nggak usah pura-pura lagi, kamu nggak pantes jutek begitu, kamu jadi nggak cantik kayak biasanya." Kata Ervan membangunkan kediaman Riri.
JLEB. dari mana mas Ervan tahu aku pura-pura, ekpresi aku kurang garang kali ya. Riri
Riri hanya diam dan merasa tersipu dibilang cantik oleh Ervan, ia langsung celingukan mau bales apa, ia memilih menegakkan pandangannya.
"Jangan menghindari aku lagi sekarang, aku udah tahu semuanya, berapa minggu udah kamu kayak gini."
Deg. Riri semakin mengerti dan mulai melunakkan wajahnya setelah tahu bahwa Ervan mengetahui fakta kalau dirinya di ancam Tiara.
"Mas tahu kalau Riri di ancam sama Bu Tiara, pacar mas itu." Kata Riri menghadap ke arah Ervan.
"Ya tahu, maka nya Sekarang dia bukan pacar aku lagi, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi."
Deg. Riri merasa sangat terkejut dengan jawaban Ervan. " Nggak mungkin mas, itu nggak akan baik untuk mas sama Abel."
"Memang begitu Ri dan aku udah siap semua resiko nya, aku nggak bisa bohongi perasaan aku sendiri."
"Kenapa mas begitu yakin, nanti kalau bener dia melakukannya hal yang buruk gimana." kata Riri merasa kuatir.
"Udah resiko, kita akan hadapin, tadi sih aku udah nggak boleh masuk kerja dua hari padahal proyek lagi banyak. kita liat aja nanti gimana kedepannya." Kata Ervan menghadap Riri.
Riri merasa iba dengan keadaan Ervan, dia juga menceritakan tentang semua kejadian yang membuat ia dibawah tekanan Tiara.
"Kita memang nggak kerumah, aku mau ketemu aja sama kamu, kalau nggak begini kamu pasti menghindar lagi."
"Jadi mas bohong sama Riri, Riri paling nggak suka sama kebohongan." Balas Riri melipat tangannya, merasa dibodohi meskipun sekarang ia sudah bersikap biasa pada Ervan.
"Aku nggak bohong kok Ri, Abel memang sakit dia panggil nama kamu terus, dia sakit gigi, sekarang udah baikan, kalau kamu nggak percaya aku telpon ya." Riri mengelengkan kepala menandakan percaya.
"kita cari makan aja ya, ada yang mau aku omongin sama kamu." Tungkasnya lagi.
"Karena Riri laper, kali ini Riri nggak marah sama mas." Riri merasa seolah semua kembali seperti semula, tapi hatinya tetap mencemaskan Ervan dan Abel.
Tadinya Ervan ingin mengajak ke resto western yang tempatnya sangat nyaman untuk mengobrol dan suasana disana sangat teduh dengan pencahayaan serta tata ruang yang bagus dan elegan. Tapi bayangan mengobrol santai sambil menikmati malam bersama orang yang di cintainya buyar begitu saja karena Riri menolak dan memilih membeli siomay kaki lima di deretan kuliner malam sepanjang jalan kawasan taman Kota yang sangat ramai dengan pengunjung yang Rata-rata mahasiswa.
Biasanya penikmat kuliner duduk didalam taman untuk menunggu makanan yang Mereka pesan. Riri yang sudah biasa dengan makan ditempat ini langsung memilih duduk dipinggiran joging track yang sama dengan pengujung lain.
"Yakin kita duduk dan makam disini." kata Ervan yang dari tadi mengekor Riri karena memang pertama kalinya dia makan ditempat ini dan duduk di joging track seperti yang dilakukan Riri.
"Kenapa? mas nggak mau? ya udah tunggu dimobil Riri mau makan dulu." kata Riri santai dan senang melihat Ervan yang terlihat binggung dan ragu melakukan hal yang sama dengan Riri.
"Mau dong Ri, memang kamu aja yang lapar." kata Ervan yang mulai duduk disamping Riri berjarak beberapa centimeter. Riri tersenyum pada orang disampingnya.
Ervan bukannya tidak mau makan dipinggir jalan seperti Riri tapi ia memang terbiasanya menjaga kebersihan dan kesehatan pola makannya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan karyawan makan makanan yang berkualitas.
__ADS_1
Karena terbawa suasana taman yang pencahayaan redup dengan beratap langit dengan angin yang semikir sesekali, keduanya jadi saling diam seolah menikmati debaran jantung dan kebahagiaan masing-masing setelah beberapa Minggu kemarin menghadapi hari-hari yang sulit. Riri seolah melupakan sejenak kecemasannya tentang nasib Ervan dan Abel nanti, dia hanya ingin menikmati malam ini dengan orang yang dicintainya karena dia tidak tahu ini akan berlanjut seperti ini atau malah hanya malam ini dia merasakan hal seperti ini.
Begitu pula dengan Ervan yang tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang, melewati hari-hari sulit kemarin, ia sekarang malah berdua dengan orang yang dicintainya. la ingin meluapkan sejenak masalahnya saat ini yang ingin ia nikmati sekarang adalah waktu bersama dengan Riri. Sesekali dia menatap Riri yang terlihat menikmati jus mangga yang didepannya kemudian Riri menoleh, merasa malu diperhatikan wajahnya memerah dia menundukkan wajahnya.
"Kamu sering kesini." kata Ervan yang membuka pembicaraan pada Riri karena ketahuan memperhatikannya tadi.
"Sering mas, tempat nya enak, rame, pas di kantong aja, oh ya tadi katanya mas mau ngomong, mau ngomong apa?" kata Riri yang mengingatkan tujuan mereka makan.
"Hampir lupa Ri, aku mau minta maaf sama kamu atas semua yang dilakukan Tiara ataupun Abel sama kamu, aku ngerti Gimana rasanya jadi tertekan, sekarang udah nggak usah kamu pikirkan lagi, kamu harus kembali jadi Riri yang dulu lagi." Balas Ervan pada Riri.
"Aku udah maafin kok mas, mas berhenti nyalahin diri sendiri ya, cuma itu aja mas yang mau diomongin." kata Riri sudah sangat antusias ternyata tidak sesuai harapan.
*A*ku kira mas mau bilang l love you atau apa lah lagi lagi harapan tak sesuai realita, ngarep kamu ri. Riri sedikit kecewa
Tak lama kemudian siomay yang ditunggu datang. Riri dengan sigap melahap makanan dengan bumbu kacang itu. Ervan yang tadinya sedikitnya ragu karena kualitas kebersihan makanannya ikut melahap juga karena melihat Riri yang semangat makan.
Kamu manis banget sih Ri, bisa nggak malam ini kamu aku culik terus bawa ke KUA Secepatnya. Ervan yang terus memperhatikan segala gerak gerik Riri.
"Malu ah mas diliatin terus." kata Riri yang melihat Ervan lagi-lagi memperhatikannya.
"Habisnya kamu yang paling cantik." Kata Ervan yang membuat Riri menunduk lagi karena wajahnya entah Semerah apa.
"Oh ya Ri, habis Masalah aku selesai aku mau ngelamar wanita yang aku cintai."
JLEB. seolah senyum Riri hilang. Lagi-lagi harapannya pupus. Kenapa selalu kenyataan tak sesuai dengan realita.
"Secepat itu mas jatuh cinta lagi, mas kan Bru aja putus sama Bu Tiara. Jadi karena itu mas rela menanggung konsekuensi dari Bu Tiara." nada Riri meninggi terdengar kesal.
"Ya Ri. aku ingin dia jadi milikku seutuhnya."
Jawaban Ervan santai.
Tadi bilang aku cantik sekarang bilang mau ngelamar wanita yang dicintai, kenapa nggak sekalian tusuk aja aku mas. Riri yang enggan lagi makan siomay yang tinggal beberapa sendok.
"Gimana sama Abel mas, mas tahu dia sayang sama Abel apa nggak? terus Abel gimana sayang nggak sama dia?." Kata Riri yang mulai kesal dengan Ervan yang belum berubah seolah seperti bujangan yang tidak memikirkan anaknya.
"Mereka dekat dan saling menyayangi. Aku juga senang lihat Mereka bersama."
*S*epertinya nggak ada deh mas yang jauh lebih dekat dari Abel kecuali aku, buktinya sakit gigi aja dia panggil nama aku, jadi gitu mas kamu ngajak aku ngobrol cuma mau pamer wanita. Riri semakin kesal mendengar ucapan Ervan.
"Ayo pulang mas, aku udah nggak nafsu makan, lagian udah malam." Riri beranjak dari duduknya dan meninggalkan Ervan yang masih duduk dan belum menghabiskan siomanya. Ervan yang melihat ekspresi cemburu Riri merasa malah semakin gemas dan cinta dengan Riri.
Dengan cepat Ervan mengikuti langkah Riri yang berjalan lebih sangat cepat dari biasanya. Tapi sebelumnya dia membayar makanan yang disantap nya tadi.
Di dalam mobil yang menyusuri jalalan malam, Riri hanya diam tanpa sepatah kata pun. Dia juga terus menatap keluar jendela mobil. mendengar lagu tema melow yang diputar diradio Riri langsung refleks menambah volumenya.
"Ini lagu broken heart Ri, kamu suka?." Riri hanya mengangguk tidak menjawab pertanyaan Ervan.
Ya ampun ri kalau kamu cemburu gini, kamu buat aku makin gila. Sabar ya Ri setelah masalah aku Selesai aku akan ungkapan semua perasaan aku ke kamu dan mendapatkan cinta kamu. Ervan yang merasa kasian juga melihat Riri tapi dia ingin memberi kejutan ke Riri, dia harus bisa menahannya.
__ADS_1
NEXT,...............
TERIMAKASIH PEMBACA ATAS DUKUNGAN NYA JANGAN LUPA LIKE KOMENT APALAGI VOTE VOTE BIKIN SEMANGAT AUTHOR 🙏🙏🙏