Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 100 Perjuangan Melahirkan


__ADS_3

"*Mas, Mas, bangun Mas...." Riri menggoyangkan tubuh suaminya.


"Ya sayang..." Ervan bangun dengan masih keadaan mengantuk.


"Perut Riri sakit banget Mas, kayaknya mau melahirkan..." keluh Riri terbata menahan sakit.


"Mau melahirkan sayang!!! ayo kita ke rumah sakit sayang tenang ya...." Kata Ervan panik langsung meloncat dari tempat tidur melihat istrinya yang meringis kesakitan*.


Dilihat jam menunjukkan pukul 02.00, Ervan mencari kerudung istrinya dilemari, membantu Riri berdiri yang sudah merintis kesakitan.


"Mas ayo, ini sakit kayak ditusuk-tusuk...." Ujar Riri.


"Ya sayang, Mas bangunkan ibu sama bapak dulu..."


Ervan mengambil hospital bag yang sudah disiapkan Riri jauh-jauh hari yang berisi semua keperluan bayi, ibu dan ayahnya. Berjalan pelan menuruni tangga sambil memegangi Riri.


Mengetuk pintu kamar tamu yang ditempati Bu Sinta dan Pak Saiful, dan tak lama mereka keluar, bergegas bersiap mendengar dari Ervan kalau Riri kesakitan seperti akan melahirkan.


Kini semuanya di dalam mobil, Riri duduk di kursi penumpang belakang dengan Bu Sinta mengelus perut Riri, berusaha menenangkan Riri yang mulai menangis.


"Bu, ternyata sakit banget Bu kontraksi...." keluh Riri.


"Sabar Ri..." Seru Bu Sinta terus mengelus perut Riri.


"Maafin Riri ya Bu kalau Riri ada salah sama ibu selama ini, doain Riri ya Bu, supaya lancar nanti pas melahirkan..."


"Ya Nak, pasti...." Kata Bu Sinta merebah kepala Riri di pundaknya sambil terus mengelus perut Riri.


"MAS CEPAT, Perut Riri sakit banget MAS!! ..." Teriak Riri tak terbendung.


"Ya Sayang, tenang ya, Istighfar sayang, Inget pelajaran yoga harus tenang atur nafas..." Ujar Ervan dari kursi kemudi melihat istrinya dari spion tengah.


Lima belas menit kemudian mereka sudah tiba di depan UGD rumah sakit, Ervan mengendong Riri membaringkan istrinya di atas ranjang kemudian di dorong oleh beberapa perawat, melihat kondisi Riri yang mulai kesakitan dan air ketuban yang mulai merembes di kakinya, perawat langsung membawa menuju ruang persalinan.


Diruang persalinan hanya diijinkan satu orang saja yang menemani Bu Sinta dan Pak Saiful menunggu diluar ruangan, Ervan menemani istrinya diruang bersalin.


Beberapa bidan memeriksa pembukaan jalan lahir si bayi.


"Masih pembukaan lima, tunggu ya Bu sampai pembukaan lengkap..." Kata salah satu bidan.


Bidan memiringkan tubuh Riri ke kiri untuk mengurangi rasa nyeri kontraksi. Riri berusaha mengingat pembelajaran dikelas yoga tapi tetap saja kontraksi melahirkan sangat sakit diluar yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Ya Allah sakitnya, Astagfirullahaladzim....." Kata Riri terus merintih ketika kontraksi datang, dia mengengam erat tangan suaminya.


"Tenang sayang, Mas percaya kamu bisa melalui ini dengan baik, Kamu Mama yang hebat dan kuat..." Ervan terus menenangkan Riri mencium rambut yang tak tertutup kerudung lagi.


"Ya Allah Mas, Apa sesakit ini orang mau melahirkan, apa begini juga yang dirasakan ibu kita..." Kata Riri merintih sambil mengatur nafasnya ketika kontraksi datang semakin lama semakin kuat.


"Kamu kuat sayang, Mas akan disini terus disamping kamu..." Kata Ervan ikut merinding melihat istrinya yang terus merintih menangis dan sangat kuat mengengam tangannya.


"Hiks..hiks sakit Mas ini sakit lebih sakit lagi kayak mau ada yang keluar ...." Riri mencengkeram kuat lengan suaminya.


"Semangat sayang, kita berdoa ya, sebentar lagi kita akan lihat senyum anak kita sayang..." Seru Ervan terus menyemangati istrinya merasa ikut kram diperutnya juga melihat Riri yang merintih kesakitan.


Tak lama dokter kandungan yang biasa menangani Riri datang bersama satu bidan lagi, dokter perempuan itu memeriksa lagi jalan lahir bayi.


"Sudah pembukaan lengkap, ayo Bu, kepala bayinya udah mulai nonggol, ambil nafas panjang..."


Para bidan memberi arahan cara mengejan, Riri berusaha sekuat tenaga mengeluarkan sesuatunya yang terasa mendorong ingin keluar.


"Ayo Sayang, sedikit lagi sayang, Mas udah lihat kepalanya" Ervan mendekatkan wajahnya terus memberi semangat Riri, meskipun baju dan rambutnya dijambak oleh istrinya, yang sekarang sekuat tenaga berjuang mengeluarkan bayinya.


"OEE....OEE...OEE..." tangis keras bayi yang keluar dari rahim ibunya.


"Alhamdulillah..." seru Ervan begitu terharu.


Ervan mencium kening Riri lama. "Terima kasih sayang sudah menjadikan Mas seorang ayah lagi, kamu Mama yang luar biasa," Riri tersenyum pada suaminya seperti mendapat semangat karena tubuhnya saat ini sangat lemah.


"Pak bayinya laki-laki, di adzanin dulu." Kata dokter menyerahkan bayinya tertutup kain bedong yang sudah dipotong tali pusarnya dan di bersihkan dari sisa darah.


Ervan menghapus air matanya dan meraih bayi kecilnya dengan gemetar, untuk pertama kalinya memegang bayi yang baru lahir meskipun bukan anak yang pertama.


Ketika itu Ervan tidak sempat menyaksikan kelahiran anak pertama dengan tindakan operasi cesar karena masih berada di kota Y menempuh pendidikan.


Ervan mengadzani telinga kanan bayi laki-laki dan iqomah ditelinga kiri, setalah itu mencium pipi bayinya terus mengeluarkan lidah seperti merasa kehausan. Bidan mengambil lagi bayinya untuk diletakkan didada sang ibu untuk melakukannya Inisiasi menyusui dini (IMD).


Riri tersenyum bahagia mengelus bayi mungil yang diletakkan didadanya mencari-cari sumber minumannya terlihat lucu seolah sakitnya lenyap padahal saat ini dia mendapat penanganan medis dari dokter berupa jahitan akibat robekan pada jalan lahir.


"Ganteng Sayang, Mirip Mas ya sayang...." Seru Ervan yang juga mengelus pipi bayinya yang sedang menyusu pada ibunya.


"Mirip Riri Mas, matanya..." Balas Riri tersenyum bahagia.


"Aduh anak Papa ini, pinter banget nyusunya, haus ya Nak..." Kata Ervan gemas melihat bayinya mengelus pipinya yang gembul.

__ADS_1


"Ini pinter nyusunya mirip Papa..." Canda Riri pada suaminya. Ervan tertawa kecil dan langsung mencium kening Riri merasa bahagia pagi ini.


Usai satu jam melaksanakan IMD dan Riri mendapatkan penanganan medis. Mereka pun keluar dari ruang bersalin dan dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP yang sudah dipesan sebelumnya.


Bu Sinta langsung mengambil cucu pertamanya yang berada di box bayi yang dibawa oleh bidan, Bu Sinta senang melihat cucu pertamanya yang tampan dan menggemaskan. Sedangkan Riri duduk dikursi roda di dorong bidan. Karena suaminya pergi ke masjid melaksanakan sholat subuh yang hampir tertinggal waktu subuh karena menemani Riri diruang bersalin.


Sampai diruang rawat inap Ervan langsung sigap menyuapi Riri untuk memulihkan tenaganya yang masih lemah.


"Mas nama anak kita jadi yang kemarin..." Tanya Riri.


"Ya dong sayang, Haidar Raffa Siddiq Wijaya sesuai namanya semoga anak kita jadi anak yang Sholeh, pemberani, baik akhlaknya dan juga jujur..." Kata Ervan.


"Amin Mas, Halo Baby Raffanya Mama..." Riri tersenyum senang, melihat bayinya tertidur lelap di dalam box.


Bu Sinta dan Pak Saiful yang duduk di sofa menyaksikan ananknya merasa senang melihat Riri yang berbahagia dengan suaminya ditambah lagi dengan kehadiran buah hati mereka.


Ervan meraih ponsel, memberitahukan semua keluarga dan sahabatnya tentang kelahiran anak keduanya yang berjalan lancar, sehat ibu dan bayinya yang montok dengan bobot 3,7kg.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT...........


baby Raffa hayalan author



**Jadi melow deh diriku Zen😭😭


Terimakasih udah sabar nunggu up dari author..

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote yang selalu ditunggu πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


yang mau kasih selamat ke Riri dan Mas Ervan hadiahkan Vote ya πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜†**


__ADS_2