Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP39-S2// Toko Buku


__ADS_3

Waktu menunjukkan sore hari karena siang yang terik berubah menjadi langit sore yang teduh dan hangat. Abel sengaja pulang lebih awal hari ini. Sesuai janjinya, Abel melajukan kendaraannya ke panti asuhan menemui anak-anak usai dari tempat magang. Anak-anak berkerumun melihat kedatangan Abel merasa senang. Seperti biasa anak-anak langsung membongkar isi mobil Abel yang penuh dengan makanan ringan.


Setelah membongkar mobil Abel mengiring anak-anak ke gazebo untuk belajar matematika. Bertemu anak-anak, mengajar, berbaur dengan mereka membuat Abel melupakan semuanya kegalauannya.


Beberapa menit belajar serta bercanda dengan anak-anak, seseorang tiba-tiba muncul mendatanginya.


"Bang Nolan," kata anak-anak heboh. Nolan melambaikan tangan tersenyum menyapa anak-anak.


"Nolan sejak kapan disini," Kata Abel. Dia terkejut melihat kedatangan Nolan karena ketika dia pulang dari kantor Nolan masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Barusan, kamu udah selesai kasih bimbel ke anak-anak," seru Nolan.


"Sudah,"


"Bisa minta tolong nggak," pinta Nolan.


"Apaan?" tanya Abel.


"Temanin beli buku bacaan baru buat anak-anak, sebentar lagi kita masuk semester akhir."


"Bisa, sekarang ya." Abel antusias dan mulai mengemasi barang-barangnya.


Nolan menganguk, tersenyum saat berpamitan pada anak-anak.



Begitu pula dengan Abel, usai berpamitan dia mengikuti langkah Nolan dibelakangnya. Nolan bersiap menaiki motornya. Abel juga bersiap menaiki mobilnya. Tapi tunggu, jam segini waktunya macet-macetnya jalanan kota. Sepertinya lebih seru dan praktis kalau naik motor terkena angin, siapa tahu dengan begitu pikiran tentang Davin ikut sejenak terbawa angin. Kebetulan lama sekali dia tidak pernah naik motor lagi.


Abel turun dari mobilnya, mendatangi Nolan. "Nolan, aku ikut kamu naik motor ya."


Nolan melihat heran ke arah Abel. "Sebentar lagi senja nanti kamu kedinginan, naik mobil aja."


"Please, nggak apa-apa aku kuat kok." Abel menyatukan kedua tangan.


Nolan menganguk dan menyuruh salah satu anak mengambil helm untuk Abel. Abel kini sudah berada di atas motor bersiap untuk melanjutkan perjalanan bersama Nolan.


Nolan melepaskan jaket denimnya. "Pakai!" titahnya pada Abel singkat.


"Enggak perlu No, aku orangnya kuat sama dingin," balas Abel.


"Aku cuma nggak mau di salahkan kalau kamu kena hipotermia, udah pakai!" Kata Nolan ketus. Abel langsung meraih jaket Nolan dan memakainya meskipun kebesaran di badannya.


Kini keduanya melanjutkan perjalanan ke kios - kios buku yang berada di tengah kota. Jalanan di jam pulang kantor memang sangat padat dan ramai.

__ADS_1


Disisi yang berbeda mobil yang ditumpangi Davin berbenti di lampu merah. Tepat di belakang sebuah motor warna biru yang sangat dikenalinya.


"Pak didepan kita sepertinya Nolan, dia sedang berboncengan dengan Wanita." Seru Amar dari kursi kemudi menunjuk ke arah depan.


Davin dari kursi penumpang belakang langsung menengok ke arah yang ditunjuk Amar.


"Sepertinya, wanita itu adalah Abel Pak." Seru Amar.


Davin memperhatikan dengan seksama yang ditunjuk oleh Amar. Didepan mobilnya memang adiknya dan Abel terlihat akrab diatas motor. Perasaan senang bercampur sakit, akankah perasaan adiknya terbalaskan. Apakah sekarang Abel sudah mulai berlahan-lahan melupakannya dan mencoba bangkit. Bukankah itu yang diharapkannya, melihat adiknya bahagia dan perasaan terbalaskan. Davin kembali menguatkan hatinya mencoba tegar melihat apa yang di harapkannya mulai terjadi berlahan.


"Mau kemana mereka," ucap Davin.


"Pak, apa perlu kita ikuti mereka?" tanya Amar.


"Ikuti saja," balas Davin. Amar mengangguk mengikuti perintah bosnya.


Mobil Davin terus mengekor motor Nolan usai lampu merah berubah jadi warna hijau. Belum pertengahan perjalanan, kendaraan roda empat sudah padat merayap di jalanan kota hingga motor Nolan yang melesat lincah tidak terkejar lagi oleh mobilnya yang terjebak padatnya kendaraan roda empat.


"Pak sebaiknya kita berputar, Nolan tidak bisa terkejar lagipula hari akan senja. Malam ini Anda harus makan malam dengan keluarga Kayla." Amar mencoba mengingatkan bosnya.


"Ya kita pulang," balas Davin. Dengan seketika Amar memutar balik mobilnya menuju rumah besar Adiguna.


*****


Nolan dan Abel sudah tiba di bangunan ruko yang menjajakan buku-buku terbaru. Di ruko ini juga terkenal dengan kios buku-buku sepanjang deretan ruko.


Abel melihat-melihat rak lagi, setelah selesai urusannya membantu Nolan mencari buku yang dibutuhkan. Abel berjalan-jalan sejenak ke rak buku-buku fiksi. Sedangan Nolan juga mencari buku lainnya tentang otomotif. Mendapat buku pilihan masing-masing kini keduanya berada di rak buku yang sama yaitu potografy.


"No, kapan kamu lihatkan hasil jepretan kamu." Abel menyapa Nolan terlebih dulu.


Nolan mendongak melihat Abel yang berada d lorong rak yang sama. Dipikiran Nolan langsung mengingat akhir-akhir ini objek fotonya adalah Abel dan ia simpan rapat-rapat di bengkelnya.


"Nanti kapan - kapan," elak Nolan.


"Oke. Janji ya," balas Abel sambil memilah-milah buku di rak.


"Kamu udah selesai, ayo kita pulang sebentar lagi Magrib," ujar Nolan.


Abel mengangguk, kini kakinya mengikuti langkah Nolan. Usia mengecek kembali buku yang akan diantar dan menyelesaikan pembayaran. Abel dan Nolan keluar toko menuju tempat parkir.


Abel terus mengekor Nolan yang berjalan cepat didepannya. Ia cukup berjalan santai karena tak bisa mengimbangi langkah Nolan.


__ADS_1


Nolan berbalik melihat Abel yang berada jauh dibelakangnya. "Abel, bisakah kau berjalan lebih cepat, kau berjalan seperti siput."


Abel memandang aneh ke arah Nolan yang berhenti. Sekarang langkahnya sudah mendekat pada Nolan. Sedikit kesal Abel dengan perkataan Nolan.


"Nolan bukan aku yang berjalan seperti siput, tapi kaki jangkungmu yang melangkah terlalu lebar," Balas Abel.


"Ya sudah, kau jalan duluan di depan aku yang di belakang." Seru Nolan.


Huuh. Abel langsung melewati Nolan, kenapa sih tidak jalan beringin saja. Entah kenapa setiap bersama Nolan tidak ada hari tanpa perdebatan meskipun untuk hal yang remeh. Abel jadi berasa seperti anak-anak SMA lagi yang berantem lebay dengan lawan jenis. Tapi hari ini meskipun berjalan santai cukup membuat terhibur dari kegalauannya.


Sementara nolan yang berada di belakang Abel masih saja tak bisa meredam debaran kencang jantungnya. Ia sengaja tadi berjalan terlebih lebih dulu tak beriringan dengan Abel supaya bisa meredam detakan jantungnya setiap kali dekat Abel seperti halnya di atas motor.


Kini keduanya sudah berada di tempat parkir. Nolan menaiki motornya bersiap mengenakan helm. Berbeda dengan Abel yang tiba-tiba langkahnya berhenti menaiki ketika tangan besar menutupi kedua matanya.


"Denger-denger ada yang patah hati, maka nya rajin fitness." katanya didekat telinga Abel.


"Kenapa begitu," jawab Abel tertawa kecil, senang mendengar sumber suara itu.


"Biar kuat lihat mantan bersanding sama yang lain." Balas lelaki yang sangat di kenal Abel itu melepaskan tangannya dari mata Abel.


.


.


.


.


.


NEXT......


Abel udah bisa senyum 😍😍


sumber gambar @ponnawash @ruksanamirror


Zen : Siapa itu Thor, kayak kenal dari nada bicaranyaπŸ€”


Thor : Coba tebak Cogan baru, cogan lama atau tukang parkir iseng 😁


Zen : hmmmmmm...πŸ€”


Thor : Ahhh kelamaan bambang, give away lewatπŸƒπŸΏβ€β™€οΈπŸƒπŸΏβ€β™€οΈ

__ADS_1


Terima kasih udah sabar nunggu up dari author πŸ™πŸ™


beri semangat author pencet LIKE ketik KOMMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph U ❀️


__ADS_2