
Hari demi hari pun terus berganti. Matahari sudah menyelinap masuk melewati celah-celah disetiap jendela. Mengingat ini hari minggu Riri dan suaminya sengaja merebahkan tubuhnya di tempat tidur usai menjalankan sholat subuh.
"Mas bangun yuk, udah siang." Kata Riri melihat jam dinding di kamarnya pukul 08.00 waktu tengah negeri ini.
"Jam berapa sayang, Mas malas bangun pengennya meluk kamu terus." Balas Ervan yang malah menarik lagi tubuh istrinya.
Riri meronta. "Jam delapan Mas, ayo bangun." Bergegas turun dari tempat tidur.
Riri mengambil handuk bergerak kekamar mandi membersihkan dirinya. Selesai dengan aktivitas mandinya, dia berdandan didepan cermin sambil menunggu suaminya yang sedang mandi untuk turun sarapan bersama.
Sudah hampir sebulan lebih semenjak menikah kenapa aku masih juga belum mendapat menstruasi. Apa jangan-jangan......
Riri merasa geli dan tersenyum-senyum sendiri sambil mengelus perutnya membayangkan jika yang ada dipikirkannya benar.
"Kenapa senyum - senyum sendiri, lagi mikirin siapa?" Tegur Ervan yang baru keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunan istrinya.
"Nggak mikirin siapa-siapa, Mas curigaan terus sama Riri." Gerutu Riri dengan cemberut.
"Oh ya sayang, kita hari ini ke rumah mama, Mas lupa kasih tahu kemarin."
"Ada acara mas dirumah mama." Seru Riri lagi.
"Ada acara arisan keluarga, sekalin meeting sama WO tentang resepsi pernikahan kita." Jawab Ervan.
"Oke." Riri menganguk.
Keduanya pun turun untuk sarapan bersama, sudah menunggu di meja makan Abel dan Bi Mina. Semua yang ada di meja makan menyelesaikan sarapan dengan lahap sesekali mereka bercanda disela waktu makan.
Setelah sarapan, keluarga kecil ini berangkat menuju kediaman keluarga Wijaya. Perjalanan yang ditempuh dari rumah mereka sekitar 50 menit jika lalu lintas lengang.
Riri merasa gugup akan berkumpul dengan keluarga besar suaminya yang pasti sama glamornya dengan keluarga Wijaya. Ini sangat jauh dari hidup Riri sebelumnya dan sifat Riri yang menyukai kesederhanaan. Tapi kenyataannya keluarga Ervan menerima Riri senang hati dengan tangan terbuka dan juga menyayanginya karena Riri gadis manis berakhlak baik.
"Ma, kapan Abel punya Adek bayi." Kata Abel tiba-tiba yang memecah kebisuan selain suata musik dari speaker mobil.
Mendengar pertanyaan anaknya Riri menjadi malu dan senyum - senyum sendiri.
"Insya Allah secepatnya sayang, ini Papa lagi usaha, ya kan Ma?"Jawab Ervan melirik sekilas ke arah istrinya.
"Insya Allah cantik, berdoa ya biar kita nambah anggota keluarga lagi." Seru Riri yang juga mendambakan buah cinta dengan suaminya.
"Amin, Abel sayang Mama." Abel mencium pipi Riri sekilas.
"Mama juga, sayang Abel." Balas Riri.
"Papa nggak ada yang sayang nih." Ujar Ervan.
"Papa kok iri sih, ya udah π΅satu dua tiga sayang semuanyaπ΅." Ucap Abel sambil bertepuk tangan, automatis kedua orangtuanya tertawa melihat anaknya bernyanyi seperti anak-anak.
__ADS_1
"Nanti pulang dari Korea adeknya udah ada belum ma." Kata Abel lagi.
Kayaknya sampai rumah Abel perlu belajar biologi lagi terjadinya pembentukan embrio, disangka adeknya tinggal ngadon apa. Riri
"Cantik, kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, yang memberi dan menentukan amanah adek bayi itu hanya Allah." Jawab Riri.
Abel menadahkan tangan. "Mudahan pulang dari Korea adeknya sudah ada ya Allah. Amin." Kata Abel mengusap wajahnya.
"Amin." Jawab kedua orangtuanya bebarengan.
Tak lama berselang Mereka susah sampai didepan rumah keluarga Wijaya. Satpam membuka pintu gerbang mempersilahkan masuk, sudah nampak berjajar banyak mobil dihalaman rumah.
Riri tidak percaya rumah mertuanya begitu megah karena setelah menikah suaminya belum pernah mengajak kerumah mertuanya. Design rumahnya sangat jauh berbeda dengan rumah tinggalnya sekarang yang berkonsep couple serupa dengan tetangganya, rumah mertuanya berdesain klasik, dengan rumah yang banyak memakai pilar-pilar besar dan halaman rumah yang sangat luas dengan banyak pepohonan yang terlihat sejuk dan rindang.
Rumah sultan ini. Riri menyapu pandangannya ke sekeliling rumah mertuanya.
Ervan mengandeng tangan Riri dan Abel masuk kedalam rumah masa kecilnya. Kedatangan Ervan dan keluarganya disambut hangat keluarganya yang sudah berkumpul.
Bu Niah menghampiri Riri, Riri mencium puncak tangan ibunya.
"Mantuku yang kalem." Bu Niah langsung menarik Riri duduk di sofa yang berisikan anggota keluarga perempuan.
Sedangkan Ervan di Sofa yang lain bersama keluarga laki-laki. Abel anaknya sudah menghilang entah kemana, bersama Kayla sepupunya.
Riri merasa seperti asing dengan pembicaraan keluarga kaya ini, dia hanya memilih diam dan sesekali tersenyum berpura-pura mengerti.
Semua wanita yang berada di sofa langsung menatap ke arah Riri. Riri hanya tersenyum tidak ingin menjawab yang hanya akan mengungkap mantan kekasih suaminya.
"Sama jeng, tadinya aku pikir Ervan beneran jadi sama Tiara nggak tahu nya sama daun muda yang masih kuliah." Sahut salah satu wanita lagi.
"Padahal kalau dipikir Tiara itu wanita sukses dan hebat Lo, kata suami e'ke dia kan punya posisi penting di PT. PM." Sahut wanita yang lain.
Ya Allah udah kaya cabe aja, pedes banget nih mulutnya orang-orang kaya. Riri merasa kesal hampir semua omongan memuji mantan kekasih suaminya.
"Jeng Ratih dan semua denger ya, percuma punya istri jabatan bagus atau direktur sekalipun kalau nggak bisa ngurus suami sama anaknya, yang dia tahu marah-marah terus karena sudah stress dikantor. Mending anak saya punya istri yang masih ABG tapi keibuan bisa ngurus suami sama anaknya dengan baik." Kata Bu Niah yang membuat wanita seisi ruangan diam dan tak ada yang membahas Tiara lagi.
Mama pembelaku , mama memang mertua idolaku I love u full ma. Riri
Tak lama berselang orang-orang dari wedding organizer datang. Mereka menyiapkan layar proyektor. Semua keluarga berkumpul di satu tempat yang sama mendengarkan penjelasan WO tentang konsep resepsi pernikahan.
Riri yang mendengarkan dengan seksama sama sekali tidak menyangka dalam hidupnya resepsi pernikahannya beberapa Minggu lagi akan semewah itu bak negeri dongeng. Sesekali dia mencubit pipinya apa ini mimpi atau ide mertuanya yang terlalu berlebihan.
"Mas apa itu nggak terlalu berlebihan." bisik Riri pada suaminya.
"Mas juga nggak tau sayang, ini semua yang atur Mama. Kita terima aja, namanya juga acara Toni Wijaya pengusaha besar dikota ini mereka pengennya yang bergensi." Jawab Ervan.
Setelah mendengarkan semua penjelasan WO, dilanjutkan acara berikutnya, menyantap hidangan yang tersedia.
__ADS_1
Hari semakin sore rumah keluarga Wijaya sudah nampak sepi dari beberapa orang. Semua keluarga besar berangsur-angsur meninggalkan rumah Wijaya.
Begitu pula Ervan dan Riri yang juga akan pamit pulang pada keluarganya. Riri dan Ervan mencium tangan Pak Toni, Bu Niah dan bersalaman dengan kakak-kakak iparnya Ervin dan Vina.
"Mudahan cepat isi ya." Kata Vina memengangi perut Riri.
"Amin, makasih mbak." Jawab Riri semangat.
Keluarga kecil Ervan masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkan rumah megah keluarga Wijaya. Tanpa terasa hari menjadi gelap dan mendengarkan kumandang adzan magrib. Mereka memilih menepikan mobilnya disalah satu masjid samping jalan raya untuk menunaikan kewajiban.
Ervan melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit lagi untuk sampai ke rumah. Abel sudah terlelap dikursi belakang penumpang.
"Mas nanti mampir ke apotek ya, Riri mau beli sesuatu." Ucap Riri.
"Mau beli apa? kamu sakit sayang." Jawab Ervan mendadak cemas.
"Bukan mas, Riri mau beli testpack, soalnya bulan ini Riri telat, belum menstruasi." kata Riri wajahnya merah karena malu.
"Oh, mudahan jadi ya sayang." Balas Ervan senang. Riri menganguk malu.
Tak lama berselang Ervan berhenti di sebuah apotek. Riri turun dari mobil membeli sesuatu yang diinginkan.
Usai membeli beberapa alat tes kehamilan. Mereka melanjutkan lagi perjalanan pulang.
.
.
.
.
.
.
.
--Next---........
**Terima kasih readers tolong tinggalkan jejak ya..
Like π
komen π
Rate 5 π
__ADS_1
keikhlasan readers memberi VOTE VOTE VOTE author yang sebanyak-banyaknya.(Ngarep)ππππππ biar semangat Up up**.